Membicarakan Masa Depan


Tadi, sekitar pukul 13.30 wib, Cinta terlibat obrolan kecil bareng mba Is, kaka kandung Cinta perihal si centil Risha yang entah kerasukan ilham dari mana, si centil ini ngebet banget pengin mondok aja katanya.

ini loh muka si centil Risha (paling depan). Beginilah muka anak SMP yang jarang sekali dirias terus dirias buat acara Pensi di sekolahnya, cakep kan cakep kan? 😁 cakeplah, siapa dulu tantenya? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

“Cinta, tahu nggak pondok pesantren yang paling bagus itu apa ya?” tanya mba Is serius.

Waduh, nanya ginian sama Cinta? Dengan pengetahuan pas-pasan, Cinta coba jawab, itupun setelah garuk-garuk kepala berkali-kali. ^__^>

“Mmm, setahu Cinta sih Gontor mba, soalnya banyak teman Cinta berhasil setelah dari Gontor, biasanya dapat beasiswa ke Universitas Islam di Timur Tengah lho mba, itu keren menurut Cinta.”

“Iya, kalau Gontor udah tahu, itu di Ponorogo ya, kejauhan dari sini Cinta, cariin yang deket-deket Cikarang, yang bagus ada?”

Halah halah, mikir lagi nih, duuh mana lagi ya? Kan nggak lucu, mahasiswi semester 5 tapi koq ditanyain soal beginian aja nggak bisa jawab. Cinta coba tenang di beberapa menit tadi, dan akhirnya…tadhaaaaa! Cinta inget, ada teman yang super duper cerdas (nggak seumuran sih), biasa dapat penghargaan, udah S2 di usia masih sangat muda dan hafidzoh pula, keren kan? Waktu itu Cinta ingat, Cinta kepo banget sama cewek yang satu ini, eh ternyata Cinta tahu, dulu ia mondok di Pesantren Daar El Qolam di Tangerang, Banten. *the power of kepepet ternyata emang jitu ya? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

“Bentar mba Is, Cinta tunjukin dulu pict-nya ya, siapa tahu saja suka dengan rekomendasi Cinta yang satu ini :

ruang kelas santri
ruang kelas santri dari dekat
saung, tempat para santri berbrowsing ria via wifi, laptop sudah disediakan dari pihak pesantren

Gimana mba Is, suka nggak?”

“Wewh, keren tante, mau dunk ke situ, mau mau mauuuuu…!” Eh, si Risha nyeletuk dari belakang.

“Iya itu bagus sekali tempatnya, tapi sekarang pondok pesantren kan ada yang Islam-nya agak gimana gitu…”dalam tanda kutip”…di situ gimana Cinta?”

Tuh kan tuh kan, Cinta kejebak sama jawaban sendiri, makanya jangan sotoy Cinta! @__@

“Sepertinya sih nggak, mba Is, soalnya teman Cinta sampai sekarang damai-damai saja, udah nikah, dan sekarang tinggal di M****o bareng suaminya, alhamdulillah mereka terlihat bahagia.”

“Oh, syukurlah kalau gitu, nanti aku bicarakan dulu sama kaka iparmu, makasih ya Cinta.”

“Okeh, siap, anytime.”

Tiba-tiba kepikiran nih, bener nggak sih itu pesantren bagus? Gimana nanti kalau ternyata kurang? Ah, daripada Cinta bingung bertanya-tanya nggak jelas, akhirnya Cinta browsing, dan Cinta dapatin ini, guys :

10 Pondok Pesantren Terbaik di Indonesia

*tapi mohon maaf, mungkin versi blog lain akan berbeda di urutannya. 😁

Tapi Cinta udah cukup seneng loh karena jawaban Cinta nggak meleset, Gontor di peringkat 1, Daar El-Qolam di peringkat 3, alhamdulillah. πŸ˜€

“Mba Is, ini hasil browsing Cinta, buat meyakinkan saja, berarti itu pesantren bagus dunk, udah di situ aja mba Is, nanti Cinta tengokin deh sebulan sekali, siapa tahu jodohnya Cinta lagi ngajar di situ, haha πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜”

Si kaka diem aja sambil senyum-senyum liat kelakuan adeknya. 😁

Hmmm, jadi ingat, beberapa tahun lalu sampai sekarang, Cinta pengin ngaku aja. Nggak ada di dunia ini yang membuat Cinta iri, karena Cinta percaya dan yakin, nggak ada yang nggak mungkin, semua bisa dicapai kalau kita mau berusaha dan berdoa.

Tapi…

ternyata ada satu hal yang nggak pernah bisa Cinta capai, “mondok”, Cinta pengin banget mondok setelah lulus SMU, ketahuan telat banget nyadarnya. Dasar Cinta! Cinta ngiri, jealous banget sama mereka yang selalu tentram hatinya, yang bicaranya satu demi satu, pelan dan menentramkan hati, yang sejuk dipandang, yang punya wajah senyum bercahaya, detik itu, saat itu juga, Cinta bertasbih berkali-berkali, Subhanallah, betapa beruntungnya perempuan cantik di depan Cinta ini, pasti Engkau sangat menyayanginya, karena wajahnya begitu bercahaya, kapan giliran Cinta, Tuhanku sayang? Sebelum hamba meninggalkan dunia fana ini, bisakah Engkau berikan juga untuk hamba, sedikit saja dari cahaya-Mu yang indah itu, lalu Cinta pun menangis sejadinya dalam hati. *duh, ketahuan cengengnya ya guys, maaf maaf maaf. πŸ˜…

Hanya orang-orang inilah yang Cinta selalu iri, bukan orang yang sok baik, sok alim tapi di belakang menyindir, mengeluarkan seluruh kemampuan untuk menjatuhkan temannya, bukan juga mereka yang menutup diri dengan hijab namun hati masih belum tertutup dari virus jahat, astaghfirullah, semoga Engkau jauhkan hamba dari sifat-sifat ini Ya Robb, dan semoga Engkau ampuni, Engkau segera sadarkan mereka, betapa Cinta sayang mereka, Cinta tidak akan membalasnya, sungguh Rabb-ku Yang Maha Baik, Cinta anggap mereka tidak mengenal Cinta dengan baik, makanya salah paham, Cinta akan tetap perlakukan mereka dengan baik dengan sayang, karena :

“To know you means to love you”

yang dalam bahasa Indonesianya adalah “tak kenal maka tak sayang”

Wahai sahabatku, jika ada di antara kalian yang begitu pada Cinta, sungguh tak apa, Cinta tidak akan membalasnya, janji, Cinta akan terus berdoa, semoga Allah membuka hatimu untuk bisa menyayangiku, seperti aku menyayangimu, hingga tidak ada lagi sebutan “haters” di dunia ini, aamiin aamiin semoga. πŸ˜‡

Mungkin Cinta nggak akan bisa mondok karena telat, terlebih setelah dekat dengan seseorang, beberapa tahun lalu, semakin kuat keinginan itu, tapi di pikiran Cinta jadi punya alternatif lain, guys. Kelak, saat Cinta menikah, Cinta ingin membicarakan masa depan dengan suami, kira-kira seperti ini :

“Sayang, bolehkah Cinta mengusulkan sesuatu?” Cinta mungkin akan memanggil suami dengan sebutan ini terlebih kalau sedang merajuk, heeee. πŸ˜…

“Boleh, apa itu sayang?” jawab ia kupikir akan begini juga.

“Ayo kita nabung, untuk pendidikan anak kita kelak, Cinta bukan orang yang berpengetahuan agama, Cinta menyesal sayang, bisakah kita tidak membuat anak kita menyesal juga? Bisakah kita membuatnya berpengetahuan agama? Ini hari pertama kita nikah, ayo kita menabung, lalu dari hasil tabungan kita kelak, ayo kita masukkan anak kita itu ke pesantren terbaik, bagaimana sayang, apakah kau setuju?” Cinta akan merajuk sejadinya, dengan pemikiran yang realistis tentunya.

“Aku setuju saja, tapi bagaimana dengan anak kita, jika ia tidak setuju, mungkin ia punya pilihan lain, misalnya”, mungkin jawaban suamiku yang bijak kelak akan seperti ini.

“Iya benar juga sayang, mmm, kalau begitu, kita seleksi dari sejak dini saja, berikan tontonan televisi yang mendidik, dekatkan ia dengan Islam semampu kita, seperti kita yang tidak suka acara gosip dan sinetron, insya Allah anak kita juga tidak akan suka”, Cinta selalu berharap, kelak suami Cinta nggak suka sinetron dan acara gosip, itu benar-benar kurang mendidik menurut Cinta. πŸ˜‘πŸ˜±πŸ˜ž

“Iya baiklah sayang, kita akan coba sebisanya ya, bismillah…” pasti suamiku akan luluh juga, insya Allah.

So guys, bagaimana dengan kalian? Pernahkah membayangkan berdialog dengan suami yang belum ada tentang masa depan anak-anak kalian kelak? 😍

Share dunk, Cinta kepo nih! 😎😎😎

Salam,

Cinta Nungky Lestari

^__*

Note : versi bahasa bakunya bisa dilihat di blog Irofaruk di Blogger.com di sini : Membicarakan Masa Depan

Iklan

18 thoughts on “Membicarakan Masa Depan

    1. hee gtu ya mas? sekali-kali perlu mas dicoba, imajinasi yg indah ttg msa dpan itu menyenangkan, menurut Cinta sih 😁

      Kl Cinta suka mikir jauh ke depan mas, terus kalau kejadian nnt di masa depan, akan terasa seperti dejavu, setlahnya Cinta nyadar, ternyata itu bayangan Cinta sndiri di masa lalu yg jd kenyataan skr. 😁

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s