Sepasang Kaki Diam

Sepasang Kaki Diam, 642 kata

Iklan

 

100 Writing Prompts Challenge

Days #10 – Rich

 

Sepasang Kaki Diam
gambar diunduh dari Google

Genangan air. Ilalang. Jalan setapak. Lampu-lampu jalan. Hiruk-pikuk jam malam. Kemacetan. Spion kaca yang berembun. Tanah basah. Hujan. Angin yang pelan. Kicau burung bersautan. Daun jatuh.

Tanpa kata pamit, mereka pergi. Aku harus rela, ini yang diinginkan Tuhan. Entah sedih atau bahagia, harus kuakui sepasang kaki diam ini telah lama bermasalah. Dengan suara kecil, ia berdebat hampir sepanjang waktu. Mereka tidak mau menyerah kalah satu sama lain. Pernah suatu malam aku diam dan mengintip perdebatan mereka. Continue reading “Sepasang Kaki Diam”

Hari ketiga puluh (Cerpen Fiksi)

Cerpen Hari Ketiga puluh, 852 kata

 

100 Writing Prompts Challenge

Days #9 – Poor

 

diunduh dari Google

 

Note : Nama Cinta di sini dibuat sama dengan penulis dengan harapan penulis lebih bisa menyelami jalan cerita. Penulis, Cinta1668 sama sekali belum pernah mengalami kejadian ini. Terimakasih. πŸ™πŸ™πŸ™


***********************************************

“Indah bukan? Sesuatu yang sering kau katakan serupa ketombe, bercak-bercak putih yang mengaburkan legam dan hitamnya pesona rambutmu. Analogi yang aneh, tapi aku selalu menyukainya. Mungkin agak klise jika aku bilang, setiap melihat bintang, aku selalu mengingat kata-kata itu.”

Aku tergelak, sedikit kaget ketika menoleh, kutemukan lelaki yang tak asing berbaring di sampingku.

“Apakah kau masih suka melihat bintang-bintang?”

Lelaki itu berkata lagi.

“Tidak.” Jawabku singkat.

“Kenapa?”

“Karena bintang-bintang itu terus meneriakkan namamu, aku tidak suka.”

Kali ini, si pemilik mata tajam itu melirikku sambil tersenyum sinis. Aku bisa melihatnya jelas meski dengan ujung mata kananku. Continue reading “Hari ketiga puluh (Cerpen Fiksi)”

Would you dance with me? – Cerpen Fiksi

100 Writing Prompts Challenge

Day #1 – Dance

Note : Nama untuk cerita fiksi ataupun non fiksi, akan kubuat serupa namaku, Cinta. Tujuannya adalah, agar aku lebih mudah bercerita, dengan menggunakan nama sendiri, aku yakin akan lebih mudah berimajinasi dan masuk ke dalam alur cerita. Jadi, sebenarnya nama Cinta di sini hanya fiksi dan tidak pernah dialami oleh Cinta, pemilik blog sekaligus penulis cerpen ini. Selamat membaca. πŸ˜‰

************************************************************************

Picture by Google

31 Desember 2016.

Hari ini adalah minggu ke 40-ku di Melbourne – Australia. Bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Lebih tepatnya kusebut dengan sebuah keterpaksaan yang dilakukan oleh mama. Minggu, 08 Maret 2016 lalu, aku yang tiba-tiba disuruhnya mengemasi barang-barangku, semuanya, dengan alasan pemindahan tugas kantornya, kita sekeluarga (aku dan mama) akan pindah ke Bali. Bodohnya aku sama sekali tak berpikir bahwa mama mengerjaiku waktu itu. Tiba di airport, ia menyerahkan tiket pesawat ke Melbourne – Australia, paspor, dan visa untuk tiga bulan menetap di sana.

Continue reading “Would you dance with me? – Cerpen Fiksi”