Apa Kabar Hujan?

Apa kabar hujan? Sudah lama aku tidak menyapamu, apa kau sudah melupakanku?

Apa, aku? Maksudmu, bagaimana denganku, begitu?

Hmmm…dasar kau ya, benar-benar tak mau kalah!

Iya baiklah aku mengaku, aku juga merindukanmu.

Mau kuceritakan hal menarik yang kutemukan dua minggu terakhir?

Aku ke pantai, lalu aku melihat laut yang warnanya tidak biru lagi karena kau sering turun, wuah kau punya sifat perusak juga rupanya, begitu jahat kau mengubah warna biru laut menjadi cokelat. Untuk yang satu itu aku tidak akan membelamu. Sumpah! Kau benar-benar jahat! Benar-benar menyebalkan!

Lalu, aku beralih memperhatikan langit : ada laut, ada langit, ada udara, ada matahari yang masih terik. Ini sangat mungkin dan bisa sekali untukmu ada di sini juga. Iya kan?

Tapi…percaya tidak?

Aku tidak pernah sekali pun menemukanmu di pantai, sejak aku lahir ke dunia ini sampai sekarang. Aku pikir, hujan di pantai itu akan sangat-sangat romantis. Aku pikir kau akan sangat seksi berada di sana. Tapi nyatanya…aku tidak pernah melihatmu. Jadi, aku tersenyum sinis pada pantai itu dan bilang…

“Sudahlah…aku tahu kau tidak akan pernah mengabulkan permohonanku yang satu itu.”

Dan aku berlalu pergi.

Apa kau marah saat aku berkata begitu? Karena seketika itu juga dalam perjalanan pulang, kau turun. Lebat. Sangat lebat!

Dan aku yang saat itu pulang dengan motor, memutuskan tetap meneruskan perjalanan. Bersamamu. Ya. aku hujan-hujanan.

Ya sudah, maaf, karena aku tadi meragukanmu. Sebagai permohonan maafku, aku akan mengendarai motorku, pelan-pelan saja. Kau tidak marah lagi kan? Kataku padamu waktu itu.

Hujan. Aku tahu aku tidak akan bisa membencimu. Aku juga tidak akan pernah bisa melupakanmu. Bagaimana mungkin? Kau adalah tulisan yang menguasai blog ini semenjak dia ada. Kau adalah inspirasi terbesarku selama lima tahun ini. Kau membantuku menemukan seseorang yang kusuka. Kau membantuku mengurai : seperti apa nanti seseorang yang kusukai, seseorang yang juga jatuh cinta padamu sepertiku, tentu.

Tapi…

Sepertinya aku tidak diizinkan oleh-Nya memiliki kriteria seperti itu, hujan. Empat orang penyuka hujan yang pernah hadir dalam hidupku, satu per satu pergi.

Aku pikir…seseorang yang menyukaimu akan sabar denganku. Tapi ternyata tidak. Aku tahu, kadang aku menjengkelkan. Ah bukan kadang, bahkan sering menjengkelkan. Aku tahu. Aku bahkan paham betul itu.

Tapi cinta itu, bukankah bisa melanggar segalanya?

Tertawa kecil dan geli ketika tingkahku lucu dan berisik. Atau kupikir dia akan sesekali mencubit pipiku karena aku terlalu cerewet dan tak ada henti-hentinya ketika bicara seperti rel kereta api, seperti yang biasa dilakukan keponakan kecilku, Habibah, sembari memelukku setelahnya sebagai hadiah kelucuanku.

Ah, aku lupa…ada teman atasanku yang mengataiku seperti burung beo dan beliau selalu tertawa lepas saat aku berbicara. Katanya aku lucu. Beliau selalu berpesan agar aku selalu main-main ke sana. Jangan sungkan. Kelucuanku bisa memecahkan stress kata beliau.

Tapi aku…bahkan tidak diberi kesempatan membuat seseorang yang kusukai tertawa geli karena tingkahku. Aku pikir…aku pikir…itu karena kau, hujan. Karena aku salah menempatkan kriteria, “lelaki hujan.”

Tapi…sekali lagi, aku merasa tidak dewasa. Aku malah menyalahkanmu. Maafkan.

Kenapa aku tidak berpikir logis saja? Sesuatu yang membuat diriku sedikit egois tapi hatiku senang. Sesuatu itu seperti…

Anggap saja mereka yang tidak beruntung karena tidak berjodoh denganku. Dan Anggap saja, aku dilarang tersakiti sekali lagi oleh-Nya.

Mulai sekarang, kau hanya milikku. Tidak akan kubagi dengan siapa pun. Bahkan dengan belahan jiwaku sekali pun.

Mungkin kelak, dia akan mengoceh kesal karena kau turun. Tapi dengan tangannya yang kekar, ia akan bilang, “Ah sial! Kenapa hujannya lebat sekali. Sayang, kita harus menepi…nanti kau sakit kalau hujan-hujanan. Sini, berlindung di lenganku.” Dan aku akan tersenyum saja sambil bersyukur dalam hati.

Atau…dia akan bilang.

“Sayang, jangan lupa bawa payung ya, kau bukan anak kecil lagi. Kalau mau hujan-hujanan jangan di depanku. Kau tidak mau kan aku marah dengan kesayanganmu, benda mati yang selalu bisanya menangis itu?

Dan aku hanya bisa diam sambil menggelengkan kepalaku saja.

Atau…sesuatu yang lain. Ya, sesuatu, pasti. Sesuatu yang indah di luar sana yang bahkan aku tidak bisa membayangkannya. Sesuatu itu yang disebut “takdir”.

Who knows…Who knows?

Sesuatu tentang hujan, kupikir akan sepertimu jika kunyanyikan.

Iklan

Kenapa aku menyukainya?

Aku suka alam,

Aku suka puisi dan karya seni,

Aku suka tantangan,

Aku suka kesibukan,

Aku suka menutup mataku, merasakan sentuhan alam…

Mereka semua membuat hidupku menjadi lebih hidup!
Jawaban atas pertanyaan judul ini ada di salah satu tulisanku di atas. Ya, karena ia adalah karya seni. Satu demi satu guratannya mengingatkanku tentang Pekalongan, kota kecil kelahiranku yang sangat akrab dengan “batik”.

Ya, kuanggap ini seperti membatik. Memikirkan goresan-goresan apa yang akan kubuat selanjutnya, membuatku sedikit terlupa ketika kerinduanku pada seseorang kian membuncah. Ia bahkan mampu sekali menghilangkan kepenatan saat bekerja, kuibaratkan tangan dan kaki ini adalah kertas putih yang bisa kuisi dengan bait-bait puisi, cerita pendek, coretan, atau apapun semauku sendiri. Aku juga menemukan kedamaian di sana, fokusku tak lagi kepada seseorang, tapi lebih kepada goresan, guratan, liuk-liuk yang mau tak mau membuatku semakin terpesona jika hasilnya bagus. Namun bisa juga ia mengerutkan sedikit keningku sambil berkata “yah, hancur sudah!”

Ini seni, 

Ini batik,

Ini favoritku,

Ini Pekalongan, kota lecilku,

Ini hobby-ku,

Ini indah, cantik, dan seksi menurutku,

Dan…ini membuatmu tersenyum dan berkata,”bagus, aku suka!”

Henna-ku sayang, semoga kau mau terus bersamaku, hingga saat terpenting dalam hidupku nanti.

Entah bersama ia, atau seseorang yang lebih baik darinya…aku bersedia menunggu sambil terus-menerus memperbaiki diriku, agar aku pantas untuknya, insya Allah. Semoga!