Terasing 

Puisi Terasing, 403 kata

Picture from : http://www.behance.net, Design by : Picsart,  Words by : Cinta1668

 

Terasing oleh Cinta1668

Pernah tidak merasa terasing di tengah keramaian?

Rasa hati…ingin sekali berbaur. Menyatu dengan anak kecil yang bermain balon sambil memegang ice cream. Ia yang sedang menunggu ibunya yang tak juga kembali dari minimarket terdekat untuk membelikan cotton candy dan lolipop kesukaan si anak kecil.

Duduk bersama pemuda tampan yang rupawan. Ia yang kupikir adalah mahasiswa semester 5 yang bekerja part time sebagai pengamen. Pengamen yang pintar, dengan gitar akustiknya ia menadakan syair-syair puisi khas mahasiswa tentang tema sosial, pilitik, dan perdamaian. Ingin kudekati ia, dan tiba-tiba saja pada nada petikan gitar tanpa ia berpuisi, aku melagu. Lagu yang benar-benar spontan. Lalu tanpa sadar, kami menyatu dalam alunan musik, lagu, dan puisi. Perkenalan tak lagi penting karena musiklah yang menyatukan hati untuk saling mengerti. Lalu, jika kami beruntung…akan serta-merta muncul riuh tepuk tangan dari pengunjung taman kota yang tak sengaja mendengarkan.

Atau…sekedar berlari-lari kecil menyeberangi jalan raya pantura. Lalu tergopoh-gopoh menghampiri kakek tua yang sedari tadi kulihat kebingungan antara ingin menyeberang jalan atau tidak. Aku harap hadirku mampu menghapus ragunya dan memutuskan untuk “menyeberang”.

Ah, ada lagi. Aku akan bergabung dengan penyapu jalan. Ibu-ibu tua yang tetap bersemangat menyapu jalanan dengan peluh dan keringat mengucur di badan. Membawakan beberapa botol air mineral dingin. Kadangkala ada perasaan aneh yang bersijingkat dalam diri. Harus merasakan apa yang mereka rasakan dulu. Baru aku bersyukur, baru tahu rasanya bertafakkur. Dan point plus-nya, aku bisa melihat senyum tulus mereka saat berterimakasih.

Dan terakhir… aku akan bergabung dengan segerombolan anak breakdance. Agak gila memang, tapi aku ingin mencobanya. Meliuk-liukkan anggota tubuhku bersama mereka. Melepaskan semua perasaan lewat musik hip-hop dan R & B. Aku tak pernah melakukan ini. Tapi mengkhayalkannya saja terasa menyenangkan. Nyatanya, aku bisa tertawa!

Ya, aku merasa terasing hampir seperti hilang malam ini. Cinta1668 yang khas dengan cerita patah hati ini memutuskan ingin move-on. Lalu dia bingung, apa yang harus ia posting?

Ya sudahlah…berbekal lagu Secret Love Song ini aku bisa mengkhayalkan mereka. Bukan kekasih. Aku bisa berdansa dengan para breakdancer yang kemudian menghadiahiku sebuah ciuman di pipi. Merasa memiliki pengamen meski tanpa perkenalan barang sejenak, mungkin lima menit. Memeluk anak kecil yang sedang menunggu ibunya membelikan cotton candy yang kukira akan menangis. Dan tersenyum seraya merangkul kakek tua yang kebingungan di jalan.

Ah, sudahlah. Ini adalah lima khayalan konyol sebelum mataku terpejam.

Alhamdulillah aku bisa tertawa dan tidak terasing lagi.

Melebur

Puisi Melebur, 155 kata

Akhirnya…

Aku mengalami juga apa yang mereka alami, sesuatu yang mereka sebut penghalang dalam dunia blog, Writer’s Block.

Rasanya banyak sekali yang ingin kutuliskan dari kemarin, tapi semua berakhir dengan satu kali pencet tanda silang pada layar ponsel.

Aku ingin meminta maaf karena melukai seseorang yang benar-benar kucintai,

Aku ingin juga bilang bahwa ternyata operasi dua kali dalam tiga bulan menyebabkan rambutku rontok, Continue reading “Melebur”

Secangkir Teh Hangat

puisi secangkir teh hangat, 130 kata

 

secangkir teh hangat
picture by me

Secangkir teh hangat oleh Cinta1668

Aku pernah suka teh hangat. Biasanya kutuang dengan kondisi tak begitu manis. Andai takaran manis adalah dua sendok makan maka aku lebih memilih separuhnya saja, satu sendok makan.

Aku pernah pening seharian lalu 15 menit kemudian ia hilang. Aku pernah sakit perut tak tertahan lalu beberapa menit tak tahu tepatnya, ia juga tiba-tiba hilang. Aku pernah meriang, lalu selang 30 menit ia pun raib entah kemana. Tak kusangka banyak sekali kenanganku bersama teh hangat setengah manis.

Ada hal lama yang tak bisa langsung begitu saja menghilang. Seperti teh hangat setengah manisku. Karena begitu banyak kisah tertoreh di sana. Meski kini aku sudah mencoba menyelinginya dengan white coffee.

Mungkin…begitu juga cinta, tak bisa semudah itu pergi, meski kadang rasionalku berkata : aku benar-benar tak mengerti!