Five Elements – Rain (3)

Serial Five Elements – Rain (3), 1050 kata

Iklan

Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.

********************************************

Five Elements - Rain (3)
Gambar diunduh dari Google

Episode 1 : klik di sini

Episode 2 : klik di sini

Pertemuan

Kay POV

22 Mei 2017. Senin sore pukul 03.00 WIB setelah hujan gerimis reda.

Itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Sebenarnya…tidak ada yang spesial darinya selain wajahnya yang bak bulan sabit di tengah malam gulita itu. Malam sangat tergantung pada bulan untuk tetap benderang. Begitu pun manusia, mereka tidak akan selihai itu berpuisi, bersajak, dan mengeluarkan satu demi satu kata-kata pamungkasnya untuk berimaji jika tanpa bulan yang mampu sekali berubah bentuk dari sabit kemudian purnama, dan kembali menjadi bentuk lengkung yang mirip dengan tandan tua.

Setelah kupikir-pikir, Rain punya sisi itu. Ia punya bulan yang melambangkan dirinya. Mau tak mau, jagad raya pun mengiyakan bahwa ia benar-benar berbeda. Kecantikan yang alami tanpa polesan. Itu yang membedakan dirinya dengan makhluk-makhluk indah di seantero Bogor ini.

“Hai, kau menginjak kakiku! Kenapa tidak meminta maaf?” Aku bersungut-sungut.

“Hah, iyakah? Aduh maaf, aku tidak sengaja.” Ia yang belum kutahu namanya pergi tergesa dengan langkah lebar dan berlalu tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.

Heh?! What? Cuma maaf? Dan pergi begitu saja? Secepat itu dan tanpa melihatku? Tunggu, tunggu. Aku harus berkaca sebentar. Mungkin hari ini ada yang salah dengan style-ku? Apakah warna sepatu dan kemejaku kurang match? Atau rambutku kurang rapi? Atau sunglasses-ku sudah ketinggalan mode? Atau…

Aaaah, kenapa aku jadi bingung sendiri? Kenapa tidak kusapa saja cewek di depanku ini, anggap saja ini polling.

Kulepas kancing nomor dua dari paling atas kemejaku. Dengan begini, dadaku yang bidang pasti akan terlihat. Aku paling tahu, cewek-cewek cantik tidak akan tahan bila melihatnya.

“Halo, boleh aku bertanya sesuatu?”

Aku menggunakan jurus mautku.  Bertanya sesopan mungkin dan sesekali melempar senyum seindah yang aku mampu.

Dan belum dua detik…

“Eh…hai, boleh kakak. Emmm tapi sebelumnya, kenalkan dulu, namaku Resti. Aku mahasiswi semester satu Ekonomi. Boleh aku tahu nama kakak?” Perempuan di depanku ini terlihat sekali menyukaiku. Matanya tak lepas dari wajahku.

Apa kubilang, tidak ada yang kurang dari style-ku hari ini.

“Ah maaf…sepertinya aku sudah menemukan apa yang ingin kutanyakan tadi. Maaf permisi.”

“Hei kakak, tunggu, kakak belum bilang siapa nama kakak, Resti mau kenalan…kakaaaaaaakkkk!”

Tap tap tap tap tap. Langkah kupercepat. Kini aku sudah di depan kantin yang terletak di bagian paling ujung sebelah kanan kampusku. Huft. Syukurlah aku bisa lari dari kejaran gadis bernama Resti tadi.

Konyol. Benar-benar konyol. Aku tidak habis pikir dibuatnya. Kenapa masih ada gadis yang tidak bergeming sama sekali di depanku. Gadis kemeja kotak-kotak. Awas kau. Aku akan menemukanmu. Pasti!

“Ket…aku mau satu cappucino latte dingin dan french fries. Oh iya, puding cokelat vanilla juga satu.”

“Ok, siap mas ganteng. Sana duduk dulu. Jangan lupa bonus foto ya. Seperti biasa. Hehe” Ketty, pelayan kantin yang sudah akrab denganku itu adalah salah satu penggemarku.

Oh iya. Aku sampai lupa menyapa kalian, pembacaku. Kita belum berkenalan bukan?

Aku Kay, lengkapnya, Kay Adams. Mamaku asli Skotlandia. Sedangkan papaku adalah campuran Arab dan Padang. Jadilah aku blasteran Skotlandia, Arab, dan Padang. Tinggiku 180 sentimeter dengan berat badan ideal dan bentuk dada yang bidang. Kulit putih, rambut pirang dan mata biru. Aksen bicaraku tidak jauh beda dengan orang Indonesia, karena aku memang terlahir di Indonesia tapi jangan salah…bila aku sudah menggunakan bahasa Inggris, bahkan kalian pun tidak akan pernah mengira kalau aku orang Indonesia. Aku seorang model majalah, bintang iklan, aku peraih peringkat terbaik di kampus ini, pernah juga aku ditawari untuk memerankan beberapa FTV dan main film layar lebar. Tapi untuk dua point yang terakhir, aku menolak. Tidak terkenal saja sudah begini, beberapa kali harus berlari dari kejaran cewek. Dan ini menyebalkan. Apalagi menjadi artis. Oh no, tidak, tidak. Aku masing menginginkan kebebasanku.

Aku anak pemilik kampus. Sejak sepuluh tahun terakhir, papaku berubah haluan dari pebisnis di bidang Entertainment menjadi pemilik beberapa kampus swasta terkemuka di Bogor. Papa pernah bilang begini, bisnis di dunia Pendidikan memang tidak semenguntungkan di bidang Entertainment. Akan tetapi, pendidikan adalah aset untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan papa ingin ikut andil di dalamnya. Sejak itu, papa banyak berubah. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Papa banyak memberikan program beasiswa kepada calon mahasiswa-mahasiswi berprestasi. Kata beliau, cukup aku saja yang kesusahan sekolah dulu. Orang pintar dan cerdas tidak akan kubiarkan kehilangan kesempatan itu. 

Dan perihal mamaku, Morgan Adams, adalah seniman asal Skotlandia. Sekitar 21 tahun silam, mama datang ke Indonesia untuk mengadakan pameran kesenian. Singkat cerita, di sanalah mereka bertemu, mencinta, menikah, dan lahirlah aku setahun setelahnya. Saking cintanya, papa membiarkan di belakang namaku diberi nama dari kaluarga mama. Tapi lagi lagi aku harus bilang, aku sangat tidak mengerti jalan pikiran orang dewasa, cinta saja tidak cukup, cinta dan uang pun tidak cukup. Nyatanya, mereka sering bertengkar, suara barang pecah-belah berjatuhan terdengar hampir setiap hari di semua ruangan yang mereka berdua singgahi. Tiada hari tanpa ribut. Aku sampai bosan mendengarnya. Syukurlah mereka divorce. Setidaknya, suasana mendingin lagi, rumah hening lagi. Sepi memang, tapi, aku tidak lagi melihat mereka bertengkar, itu sudah cukup. Mama kembali ke Skotland. Aku di sini bersama papa.

OK. Itu tadi dua sisi hidupku. Pemilik casing sempurna dengan hidupnya yang tidak sempurna.

Ah…bayangan wajah gadis cuek itu muncul lagi. Meski sekali lihat, aku tahu ia sangat cantik. Bukan karena itu sih, aku memikirkannya. Hanya saja…sikapnya itu loh. Hai, gadis berkemeja kotak-kotak hitam putih dengan motif mirip papan catur yang bahkan menoleh ke wajahku pun tidak, kau di mana?

“Hai Ketty, apa aku terlambat? Bagaimana koranku hari ini? Apakah laku semua?”

“Tuh, lihat sendiri. Masih banyak. Lagian kamu aneh,  Rain. Kenapa menaruh koran di kantin kampus, ya jelaslah tidak akan ada yang suka. Taruhlah di dekat kompleks perkantoran. Mungkin bisa laku.”

“Sudah kulakukan usulanmu, Ketty. Aku hanya penasaran saja. Katanya kampus ini bonafit, masa tidak ada satu pun mahasiswa yang tertarik untuk membaca koran? Payah sekali mahasiswa di sini. Iiiiuuuuu.”

“Kalau salah satu mahasiswa yang kau bilang payah itu membeli semua koranmu hari ini, bagaimana? Apa kau bisa menarik kembali kata-katamu tadi?”

Deg. Gadis berkemeja kotak menoleh. Dari tatapan matanya, aku yakin ia sadar, lelaki di depannya ini adalah lelaki yang setengah jam lalu ia injak kakinya. Lelaki dengan tatapan tidak ramah ini akan membeli seluruh korannya. Benarkah?

(bersambung)

Five Elements – Rain (2)

Serial Five Elements – Rain (2), 451 kata

Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.

 

********************************************

 

Five Elements - Rain (2)
Gambar diunduh dari Google


Episode 1 : klik di sini


Pagi masih dingin. Kepulan kabut masih penuh sesak di antara sela-sela udara. Mereka berlomba menyapa  indra si gadis bermata bulat berbinar dan pemilik smiling face itu. Continue reading “Five Elements – Rain (2)”

Five Elements – Rain

Serial Five Elements “Rain”

Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.

**********************************************

Gambar diunduh dari Google

Rain adalah gadis berusia 17 tahun. Tak banyak hal istimewa darinya. Ia gadis biasa, layaknya gadis belia lain seusianya. Hanya saja, ada satu hal yang berbeda darinya. Ia begitu sangat, sangat mencintai hujan. Continue reading “Five Elements – Rain”

Cinta Sejati (4)

Cerbung Cinta Sejati (4), 2285 kata

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Terimakasih

🙏🙏🙏


gambar diunduh dari cinta.love

Bagian satu, klik di sini oleh mas Shiq4

Bagian dua, klik di sini oleh Cinta1668

Bagian tiga, klik di sini oleh mas Shiq4

10 Mei 2016 at 11.30 pm

Dear Diary,

Sudah 8 hari ini terhitung aku jadian dengan kak Langit, aku tak lagi bertemu dengannya

Kalau kau tahu alasanku, diary, mungkin kau akan tertawa. Tapi…aku benar ingin mengatakannya.

Semua itu bermula dari mimpi yang absurd beberapa hari terakhir. Mimpi yang sudah berulang tiga hari. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah itu sebuah firasat atau bisa jadi hanya bunga tidur saja.

Tapi sebentar diary, mungkin kau akan bertanya, mimpi absurd apa yang kumaksud…baiklah, akan kubagi denganmu, lalu kita tela’ah satu demi satu, apakah ini hanya bunga tidur atau firasat buruk?

  1. Aku berkunjung ke rumah kak Langit. Oh My God! Nonsense.

Kau tahu diary, sebelum aku melakukannya, mungkin aku sudah digantung HIDUP-HIDUP oleh ayahku. Aku keturunan orang Jawa yang masih sangat kental memegang adat dan budaya, kedua orang tuaku juga mengajarkan tatakrama. Ini benar mimpi yang menjengkelkan dan aku tidak suka!

  1. Aku minta berciuman dengan kak Langit? Aku, Silfin, yang meminta sendiri? @__@

Huft, SEBAL. Lagi-lagi aku harus bilang itu mimpi konyol, absurd! Kau sudah tahu kan diary, setiap aku menuliskan huruf kapital di sini itu berarti aku sangat marah?! Dan itulah perasaanku saat ini. Kenapa aku harus marah hanya pada sebuah mimpi? Aku tak tahu jawabannya, dan kenapa mimpi itu harus datang berulang-ulang? Aku lebih tak tahu jawabannya. Kau kan paling tahu diary, aku tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun! Sejak ciuman pertamaku direnggut oleh makhluk kecil itu. Orang bilang, ciuman pertama itu menyenangkan. Unforgettable moment. Tapi tidak bagiku. Makhluk kecil berwarna hijau, bersuara cempreng, dan tiba-tiba saja nangkring di pipiku tanpa izin. Rasanya hambar…dingin. Coba kalau makhluk kecil itu berubah jadi pangeran tampan, aku mungkin akan memaafkannya, diary. Tapi tidak. Dia tetap menjadi katak hijau yang gendut, bermata besar, dan dingin. Ah, dasar katak hijau resek! Dia menghancurkan fantasy-ku perihal ciuman pertama! Hiks 😦

  1. Dalam mimpiku ternyata, pria yang kucintai dalam diam lebih dari empat tahun hanya berniat menjadikanku kelinci percobaan. Itu JAHAT!

Seandainya diary, mimpi itu benar adalah rahasia hati kak Langit mengapa dia begitu dingin pada semua perempuan. Maka aku tidak akan memaafkannya, sekalipun ia berlutut di kakiku. Aku sungguh tidak akan memaafkannya! Titik tidak ada koma!

  1. Kak Langit yang berubah 180 derajat sikapnya padaku telah mengatakan akan melanggar perjanjian no 10.

Ya sudahlah…aku adalah Silfin. Aku tak kekurangan suatu apapun kecuali rasa cintaku yang telah bersemayam tulus untuknya selama empat tahun. Tapi jika dia benar melakukannya, dia tidak pantas lagi menjadi cinta sejatiku.

Oh ya diary, aku berencana meminta bantuan Dewi dan Mirna. Kuharap mereka bisa mengorek informasi perihal kak Langit dari Abdul dan Sholikin. Bukankah aku pernah menjanjikan untuk mengenalkan mereka dengan sabahabatku. Untunglah mereka ada dua orang dan sahabatku juga ada dua. Ini adalah kebetulan yang manis.

Diary…. Aku mencintainya, mencintai kak Langit, bahkan selamanya jika ia masih seperti kak Langit, pemuda empat tahun lalu yang tulus, yang pernah menangis di depan perempuan berseragam biru putih, yang rela wajahnya lebam karenaku. Tapi…waktu sudah lama berlalu, diary. Waktu bisa mengubah segalanya. Bisa saja sang waktu menjadi lebih bijak, memberikan hikmah pada kak Langit hingga ia menjadi pria lebih baik. Namun, waktu juga bisa menjadi jahat…melebur kebaikan, menghapusnya, dan hanya akan menyisakan luka.

Satu lagi diary…

Aku sebenarnya galau. Ada seseorang. Selain kak Langit yang namanya mirip dengannya, namanya Awan. Jika disandingkan, dua nama ini akan sangat serasi…Awan di Langit, atau Langit ber-Awan, hihi keren kan?

Aku baru dua kali bertemu dengannya. Ada yang aneh dengan pemuda ini. Tapi…next time saja ceritanya ya, ini masih rahasia. 😛

Xoxo,

A very happy me,

Silfin.

Continue reading “Cinta Sejati (4)”

Aku juga Punya Hati – Bagian 2

100_writing_prompts_challenge_by_sunshockk-d5gj6pk.png

100 Writing Prompts Challenge

Days #2 – Treat (Chapter 2)

 

Episode sebelumnya bisa di klik di sini : Episode 1

 

img_20170115_164518_158
Picture by Google, words design by me

Perjalanan selama hampir lima jam telah kulalui. Kini sampailah aku di desa kelahiranku, sebuah desa kecil bernama Desa Manding di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Desa wisata yang terkenal dengan kerajinan tangannya.

Jalan-jalan yang masih rimbun dan asri, tak banyak berubah sejak aku pulang terakhir kali tepatnya satu tahun yang lalu. Satu demi satu bayangan itu kembali menguak, serupa hujan yang tiba-tiba mengguyur ingatan.

Continue reading “Aku juga Punya Hati – Bagian 2”

Aku Juga Punya Hati – Cerbung Fiksi

100_writing_prompts_challenge_by_sunshockk-d5gj6pk.png

100 Writing Prompts Challenge

Days #2 – Treat

*Note : Nama Cinta di sini adalah fiksi. Cinta, si pemilik blog tidak pernah mengalami kejadian serupa. Nama Cinta akan digunakan seterusnya untuk semua cerpen dan cerbung di kategori ini. Harapannya adalah agar penulis lebih bisa memasuki dunia cerita. Selamat membaca. ^__^

***************************************

           Detik tidak pernah melangkah mundur,

Tapi kertas putih itu selalu ada.

 

Waktu tidak pernah berjalan mundur,

dan hari tidak pernah terulang lagi,

tapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru,

untuk semua pertanyaan yang tak terjawab.

 

Dua bait puisi Rangga – Cinta dalam film AADC versi Line 2014 yang berdurasi 10:25 menit di atas kutulis karena kisahku kali ini hampir mirip dengannya.

Continue reading “Aku Juga Punya Hati – Cerbung Fiksi”