Pekalonganku

Jam 4.15 am.

Aku sedang termangu di depan perempatan lampu merah Wiradesa, menunggu ibu datang menjemputku.

Suasana masih hening, dengan beberapa tukang ojek yang menawarkan untuk mengantarku pulang. Agak takut juga melihat mereka bolak-balik menawarkan jasa, ada sampai tiga kali satu orang menyapaku dan melakukan hal yang sama.

Mbak, daripada nunggu suwe, ayo ndang tak anter…pundi balikke mbak?” begitu katanya.

Mboten pak, maturnuwun, maaf… sampun dijemput, niki lagi nunggu jemputan” jawabku sekenanya.

Untunglah suara adzan yang menyusul di beberapa menit kemudian menenangkanku, sudah subuh, alhamdulillah… tak ada alasan lagi untuk takut.

Tak banyak perubahan…jalan-jalan dan rumah-rumah di sekitar masih sama persis seperti 2 bulan lalu ketika aku memutuskan untuk pulang. Persawahan yang masih rimbun dan asri, sejuk sekali ternyata bila dinikmati di jam sepagi ini. Continue reading “Pekalonganku”