Aku Juga Punya Hati – Cerbung Fiksi


100_writing_prompts_challenge_by_sunshockk-d5gj6pk.png

100 Writing Prompts Challenge

Days #2 – Treat

*Note : Nama Cinta di sini adalah fiksi. Cinta, si pemilik blog tidak pernah mengalami kejadian serupa. Nama Cinta akan digunakan seterusnya untuk semua cerpen dan cerbung di kategori ini. Harapannya adalah agar penulis lebih bisa memasuki dunia cerita. Selamat membaca. ^__^

***************************************

           Detik tidak pernah melangkah mundur,

Tapi kertas putih itu selalu ada.

 

Waktu tidak pernah berjalan mundur,

dan hari tidak pernah terulang lagi,

tapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru,

untuk semua pertanyaan yang tak terjawab.

 

Dua bait puisi Rangga – Cinta dalam film AADC versi Line 2014 yang berdurasi 10:25 menit di atas kutulis karena kisahku kali ini hampir mirip dengannya.

Apakah maksudmu, kalian terpisah karena si cowok di New York, dan kamu di Indonesia, begitu maksudmu?

Bukan.

Atau… karena kekasihmu mahir berpuisi, anak sastra pasti!

Bukan juga.

Ah, pasti karena kisahmu putus-nyambung ya? Putus nyambung putus nyambung putus nyambung, sekarang putus, besoknya menyesal!

Ssssttt, sudah malam, jangan berisik! Malah nyanyi! 😦

Bukan lagi…masih salah jawabanmu, tahu! 😛

Hmmm, kali ini pasti benar…kalian telah melewati ratusan purnama, namun kalian masih tak bisa saling lupa, iya kan iya kan?

Haiyah, stop stop stop! Berhenti menebak! Berhenti merusak ceritaku! Lebih baik diam saja, jadi pembaca yang baik dulu, lalu masukkan pendapatmu di kolom komentar, ok?

*nyengir dan kabur.

Fuih, syukurlah si pengganggu itu kabur, alhamdulillah, jadi aku bisa mulai konsen bercerita. Asyiiiiik!

Syukurlah, ikut senang, memang siapa dia?

Dia itu kamu.

Maksudnya?

Iya kamu, suara hatiku yang suka mendua, yang suka menggoda kalau aku sedang bercerita. Please, diamlah sejenak saja dan biarkan aku bercerita, bisakah?

*akhirnya ia diam dan menurut saja kali ini.

***************************************

 

358577_ilustrasi-wanita-berjilbab_663_382
picture by Google

 

“Kenalkan, namaku Cinta, oh tidak usah mengatakan siapa namamu, aku sudah hafal namamu di luar kepala. Aku cuma mau bilang, apakah mas tidak penasaran dengan secret admirer yang suka mengirimi mas surat setiap pagi? Apakah mas juga tidak ingin tahu, siapakah gadis cantik yang suka menaruh White Coffee kesukaan mas di depan pintu rumah mas?”

“Tidak, saya sama sekali tidak penasaran, permisi, saya mau bekerja, selamat pagi, Cinta…” jawabannya datar seperti biasa dengan suara bariton khas yang sampai sekarang ini cukup mampu menggetarkan hati seorang Cinta.

“Hai tunggu, aku belum selesai bicara!” Aku menutup jalan di mana ia akan melangkah. Merentangkan kedua tanganku dan…

“Gadis itu adalah aku, gadis 15 tahun yang tomboy, cantik, a little bit crazy, dan sebenarnya gadis di depan mas ini cerdas loh, apalagi kalau mas Rangga mau mengajariku menjadi lebih baik, hihi.”

Akhirnya, aku mengatakan semua yang ada di hatiku, huft leganya. Biarlah ia menganggapku gila, aku memang begitu dan ia juga sudah tahu. Aku rasa, ia juga takkan mungkin menolakku. Tapi tapi… bisa jadi ia menolakku, kemungkinannya adalah fifty – fifty, diterima – ditolak – diterima – ditolak – diterima – ditolak. Yah, ditolak? Wah, aku salah nih, harusnya aku mulai dengan ditolak – diterima – ditolak – diterima – ditolak – diterima. Nah kan, diterima jadinya. Duh, kenapa aku jadi menghitung kancing bajuku sendiri? Aku bergemuruh dalam hati

Masya Allah, astaghfirullahal’adhiim, Cinta…”

Kulihat ia mengucapkan kalimat itu dengan mengelus-elus dadanya sendiri.

“Jadi gimana mas Rangga, apakah cintaku diterima?”

“Masih dibahas?”

“Ya masihlah, kan belum dikasih jawabannya. Bukannya mas pernah bilang ya, setiap pertanyaan itu harus dijawab. Jadi, apa jawabannya mas ganteng?” Aku bersikukuh ingin tahu jawabannya. Tanpa ia tahu, sebenarnya hati seorang tomboy sekarang ini sedang berdetak kencang. Namun aku terlalu pintar menyembunyikannya di balik senyumku.

“Cinta, masih ingatkah pelajaran minggu lalu? Sehelai rambut wanita yang dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya dengan sengaja, balasannya adalah 70.000 tahun dalam neraka. Satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Seorang wanita yang masuk neraka akan menarik 2 orang lelaki : ayah kandung, adik beradik laki-laki, suami, anak lelaki kandung. Dan saya belum siap menjadi suamimu yang akan diseret ke neraka bersamamu, Cinta. Tidak takutkah kau akan itu?”

Kata-katanya ini selalu mampu membuatku bergidik ketakutan. Iya, ia memang benar, tapi aku belum siap, aku belum mau berhijab. Pasti gerah dan panas. Itu saja.

“Cinta, kenapa diam?”

“Bilang saja mas tidak mau bersamaku, aku pastilah seorang anak yang belum dewasa. Cukup katakan itu saja, jangan bawa-bawa jilbab segala” mukaku lusuh seketika. Tanpa kata aku pun menginggalkannya.

“Hei, tunggu!”

Tak kusangka ia memanggilku. Daebak! Ini persis seperti dalam adegan Drama Korea kesukaanku, dalam tiga kali hitungan, si cowok akan memanggil dan bilang…I love you too, Cinta, oh cepat katakan itu…up’s tapi tunggu. Tunggu dulu. Tunggu aku benahi rambutku dulu dan menaruhnya dengan lembut di balik telingaku, pasti aku akan terlihat lebih cantik kali ini, so cute. Oh God, aku tak tahan menunggunya bilang cinta…ayo katakan mas Rangga-ku, katakan sekarang, Cinta akan bahagia sekali mendengarnya…oh…so romantic!

“Sampai di mana hafalan suratmu?”

O oo ooo…penonton kecewa. Mmm, sebenarnya bukan penonton juga sih yang kecewa, karena ini hanya percakapan antara kami berdua. Cinta yang kecewa, kecewa berat, kecewa banget, kecewa 1000 rius.

“Kenapa tidak dijawab, Cinta?”

“Surat ke -35, surat Fatir…” nadaku melemah hampir sekarat.

“Sudah tahu apa artinya?” Ia masih bertanya lagi.

“Belum…belum sempat membacanya.”

“Lalu, apa yang kau baca semalam, Cinta?”

“Kiat-kiat menembak cowok yang dijamin 100 persen diterima, cara ampuh menakhlukan cowok alim dan pendiam, dan yang terakhir… jangan biarkan cowok yang kamu cintai bilang tidak saat kamu mengatakan cinta…selebihnya browsing Youtube… masih seputar masalah yang sama…”

Astaghfirullahal’adhiim…!” Kulihat matanya melotot hampir keluar, “apakah ada gunanya semua yang kau baca itu, Cinta, apakah itu berhasil?”

“Banyak koq yang bilang berhasil…aku lihat komentar-komentar di bawahnya, positif semua. Tapi dasar kamu DULIM. Harusnya DULIM itu lebih peka tentang perasaan cewek, tapi kamu tuh nggak peka, JAHAT! Tapi nggak apa-apa sih ditolak sekali, kan masih ada lain hari, lain hari ditolak lagi, kan masih ada lain harinya lagi. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Pokoknya Cinta nggak akan menyerah! Lihat saja nanti, kamu, DULIM, pasti akan jatuh cinta hanya dengan Cinta. Titik nggak pake koma!”

Aku pun berlari meninggalkan halaman rumahnya yang asri dan penuh dengan bunga itu. Sambil berteriak dalam hati…DASAR DULIM JAHAT!

“Gimana Cinta, koq belum dijawab sih pertanyaanku? Menurut kamu, apakah menyatakan cinta kepada seorang cowok itu tidak memalukan?”

Aku terbangun dari lamunanku sendiri. Lamunan seorang Cinta sepuluh tahun silam.

“Tuh kan, malah mesem-mesem begitu? Iya deh, aku tahu, kamu itu salah satu guru terbaik jebolan pesantren ini. Kamu juga alim, jadi aku tahu pula itu nggak mungkin bahkan nggak wajar untuk kamu lakukan. Tapi…hatiku ini mengatakan kalau aku harus mengungkapkannya. Aku ingin perasaanku lega, jadi katakanlah sesuatu padaku, nona cantik.”

“Ida, jangan menebak apa yang belum kamu tahu. Aku dulu juga pernah mengalami fase remaja. Fase cerewet. Fase di mana aku ingin selalu menang dan tak mau kalah. Aku sangat malu kalau ingat peristiwa itu. Hingga harus beristighfar berkali-kali. Kenanganku saat menjadi gadis tomboy sebelum berhijab. Aku juga pernah menyatakan cinta duluan kepada seseorang. Tapi, jangan katakan pada siapapun ya, ini kukatakan, karena aku tahu, karena aku percaya padamu, kau sahabat terbaikku yang bisa kuamanati cerita ini.”

“Masa’? Benarkah? Lalu, apa jawabannya? Diterimakah? Pasti diterima, iya kan? Tidak akan ada lelaki yang berani menolak gadis sepertimu, Cinta, aku yakin itu.”

“Ditolak” jawabku datar.

“Bernarkah? Oh maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih…aku hanya ingin tahu.”

“Tak apa, aku tahu, aku juga mengerti. Tapi aku tidak menyesal. Aku yakin setiap manusia akan melewati fase dalam hidupnya. Aku malah bersyukur karenanya, jika aku tidak tomboy, jika aku jadi gadis penurut, jika aku berhijab waktu itu, tentu aku tidak akan didatangkan seorang guru ngaji oleh ibuku, aku juga tidak akan dipaksa ikut hafalan Al-Quran, dan aku mungkin juga tidak akan bertemu dengan guru ngaji sepertinya. Itu kenangan yang indah.”

“Siapa namanya? Maukah kamu berbagi sedikit tentang kenangan itu bersamaku?”

“Oh, maaf sekali, Ida, hari ini aku harus pulang, aku tak mau telat, ini acara penting untukku.”

“Iya, aku lupa, tapi…apa kamu yakin mau dijodohkan dengan lelaki pilihan ibumu tanpa melihat wajahnya dulu? Apa kamu tidak akan menyesal?”

Aku menggeleng pelan dan berkata…”insya Allah, aku mempercayai ibuku lebih dari diriku sendiri, aku tidak akan menyesal, Ida. Oh iya, mengenai pendapatku, tidak ada salahnya jika wanita mengatakan cinta lebih dulu, tapi sebaiknya melalui perantara orang lain saja. Jika Ida tidak keberatan, sesudah aku menikah, aku akan berkunjung lagi ke sini dan menjadi perantara untuk cintamu, bagaimana?”

“Benarkah, serius? Mau. Mau sekali. Aku mau. Terimakasih sahabatku.”

Lalu, kami berpelukan. Dan setelahnya, aku pergi meninggalkan tempatku menimba ilmu sekaligus tempatku mengajar dua tahun ini.

Bersambung…

Iklan

10 thoughts on “Aku Juga Punya Hati – Cerbung Fiksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s