Aku juga Punya Hati – Bagian 2


100_writing_prompts_challenge_by_sunshockk-d5gj6pk.png

100 Writing Prompts Challenge

Days #2 – Treat (Chapter 2)

 

Episode sebelumnya bisa di klik di sini : Episode 1

 

img_20170115_164518_158
Picture by Google, words design by me

Perjalanan selama hampir lima jam telah kulalui. Kini sampailah aku di desa kelahiranku, sebuah desa kecil bernama Desa Manding di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Desa wisata yang terkenal dengan kerajinan tangannya.

Jalan-jalan yang masih rimbun dan asri, tak banyak berubah sejak aku pulang terakhir kali tepatnya satu tahun yang lalu. Satu demi satu bayangan itu kembali menguak, serupa hujan yang tiba-tiba mengguyur ingatan.

Mataku tiba-tiba berembun di sebuah perempatan jalan. Ada bayangan ayahku tergeletak di sana, bersimbah darah, pemandangan yang harus kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Ayahku meninggal karena tabrak lari. Sejak hari itu, aku merasa ada yang tak beres dengan takdir. Bagaimana mungkin seorang ayah yang alim dan baik seperti ayahku harus meninggal dengan cara kejam seperti itu? Ditambah lagi penyelidikan yang tak kunjung usai, namun tak juga membuahkan hasil. Bisnis ayahku perlahan-lahan hancur, sedang ibuku tak punya daya dan kekuatan juga keahlian untuk meneruskan bisnis itu. Bisnis kerajinan tangan yang dibangun dari nol oleh nenek moyang kami, harus berakhir begitu saja. Aku harus rela pindah sekolah, dari boarding school ke sekolah yang biasa saja. Kami sekeluarga harus pindah rumah ke rumah yang sangat sederhana. Belum lagi ejekan dari teman-teman sebayaku, aku terlalu kecil mungkin waktu itu hingga aku menelan mentah-mentah apa saja yang dikatakan semua temanku. Orang miskin baru, begitu kata mereka tentangku.

“Orang miskin baru…orang miskin baru…orang miskin baru. Hahaha. Hei lihat, ada orang miskin baru lewat. Hahaha,” ini adalah yel-yel dari teman-temanku saat aku melewati rumah mereka, atau saat aku tak sengaja berpapasan dengan mereka.

Beberapa kali ibuku harus pindah rumah karena aku yang merengek dan merajuk sejadinya. Hingga suatu hari ibuku memutuskan untuk tidak menurutiku lagi dan menetap di tempat yang sekarang ini.

Apa-apaan ini? Takdir macam apa ini? Kenapa harus aku? Kenapa aku yang waktu itu baru berusia 13 tahun harus terguncang dengan kondisi semacam ini? Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi otakku dan aku tak bisa menjawabnya.

Aku berubah. Aku melepaskan hijabku. Aku memotong rambutku pendek seperti lelaki. Aku menjadi sangat ekspresif. Aku suka sekali berkelahi, tak peduli dengan perempuan atau pun lelaki. Semakin aku berulah aku akan semakin senang. Aku sering berbicara pada Tuhan dalam hati waktu itu…

Tuhan. Cinta tidak akan menyembah-Mu lagi. Wahai Engkau Yang Maha Baik, sungguh Cinta tidak ingin mengatakan Engkau jahat! Karena itu, Cinta akan menunggu… Jika Engkau sayang kepadaku…Engkau sendiri nanti yang akan mengirimkan malaikat-Mu untuk mengubahku…

Hingga suatu saat datanglah seseorang itu.

Seorang lelaki yang tiba-tiba menjadi tetangga baruku. Seorang lelaki berusia 25 tahun yang telah memiliki seorang anak perempuan berusia tiga tahun, berambut ikal sama sepertinya. Seorang lelaki yang pernah menikah namun hidup tanpa seorang istri. Seorang lelaki yang belakangan kutahu bahwa istrinya telah meninggal dunia karena sebuah kecelakaan beberapa tahun silam. Seorang lelaki alim yang tidak pernah meninggalkan Al-Quran. Seorang lelaki yang hanya mencari ridho-Nya. Seorang lelaki berperawakan tirus : tinggi –kurus dengan kulit sawo matang. Seorang lelaki yang dengan senyumnya saja seolah mampu membawa terangnya kilau mentari di pagi hari. Seorang lelaki yang hampir seluruh perkataannya adalah nasehat. Hanya berbicara seperlunya saja. Seorang lelaki yang punya mata tajam sekaligus lembut, aku melihat jiwanya yang penuh dengan kasih dan sayang di kedalaman matanya itu. Hanya ia, satu-satunya lelaki yang dengan mata tajamnya mampu mengalahkan Cinta yang tomboy, Cinta yang nakal dan suka berkelahi, Cinta yang meninggalkan lima waktunya untuk berdoa, dan Cinta yang tak pernah mau kalah. Aku berubah karena ia. Subhanallah, ternyata Allah menjawab doaku, doa yang kupanjatkan dua tahun sebelumnya, di usiaku yang ke 15 tahun.

“Sudah sampai mbak,” suara bapak tukang becak mengagetkanku.

“Oh iya pak, terimakasih, ini uangnya pak,” kataku padanya.

Aku pun turun dari becak yang tadi kutumpangi, memperhatikan pemandangan sekitar sebelum masuk ke rumahku. Seperti biasa, aku akan memejamkan mataku sejenak, menghirup aroma desa yang lembut serupa marshmallow kesukaanku. Lalu, menyusul aroma harum bercampur asri seperti bunga sunflower yang kutengok setiap pagi di pondok pesantren tempatku mengajar, aroma yang selalu mampu membuatku tersenyum.

Alhamdulillah, aku masih bisa merasakan aroma ini, aroma khas desaku.

Dua menit kemudian, ada pemandangan yang serta-merta menyeret kedua mataku. Rumah asri di sebelah rumahku itu tampak berbeda. Halamannya sudah tertata rapi tak seperti tahun lalu saat aku melihatnya. Sepertinya, ada penghuni baru di tempat itu.  Tapi siapa? Apakah itu mas Rangga? Apakah itu mungkin?

“Greeeeeetttttttttttt.”

Seseorang membuka pintu rumah itu.

Assalamu’alaikum…

“Ma…mas…mas Rangga?” Aku terbata-bata.

“Iya, ini saya Cinta. Maaf mengagetkan Cinta, saya baru sampai di sini tadi pagi. Dan rencananya, saya akan menetap di sini. Tapi kok salam saya belum dijawab ya?”

Apa? Menetap? Di sini? Sekarang, pada saat aku ingin menikah dengan orang lain? Apa maksudnya ini? Ya Allah… cobaan apalagi ini?

“Cinta…kok diam?”

Ia melangkah pelan, perlahan-lahan. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Tujuh langkahnya membuat ia semakin dekat denganku.

Deg… deg… deg…

Deg deg deg deg deg deg deg

Astaghfirullah, apa ini? Ada apa denganku? Kenapa aku seolah bisa mendengar detak jantungku sendiri? Ya Allah, ada apa denganku?

“Wa…wa…wa’alaikum salam,” jawabku masih terbata.

“Cinta… kamu tidak apa-apa? Kenapa mukanya merah begitu? Cinta sakit?”

Satu. Dua. Tiga. Tiga langkah selanjutnya membuat ia semakin dekat lagi.

Stop! Stop stop stop!” Suaraku tersentak keluar tanpa sadar, “jangan mendekat! Di situ saja mas, ee..eee..eee muka Cinta merah karena… karena kurang tidur. Ya, Cinta nggak bisa tidur semalaman karena terlalu rindu rumah, itu saja. Ngomong-ngomong, mas sekarang pakai kacamata ya?” aku mencoba menutupi kecanggunganku dengan mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Cinta…usia saya sudah semakin tua, jadi mata saya juga semakin tidak awas lagi, hehe. Kenapa, jelek ya? Atau kacamata ini tidak cocok untuk saya pakai, Cinta?

“CAKEP!”

Astaghfirullahal’adhiim…kenapa mulutku nyeletuk sendiri lagi? Kenapa aku selalu memalukan begini kalau sedang grogi? Aduh, memalukan sekali.

“Hah, masa’? Terimakasih Cinta, saya jadi malu dibilang cakep.” Kulihat mas Rangga garuk-garuk kepala.

“Cinta pergi dulu ya mas, takut ibu sudah menunggu Cinta, assalamu’alaikum…” Aku memilih mengambil langkah seribu sebelum berulah memalukan lagi. Huft.

Astaghfirullahal’adhiim…lindungilah hamba-Mu ini dari hal-hal yang memalukan, aamiin.

Bersambung…

Iklan

One thought on “Aku juga Punya Hati – Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s