Cinta Sejati (2)


Cerpen Cinta Sejati, 1859 kata

Iklan

cinta-sejati.png
gambar diunduh dari : cinta.love

Episode sebelumnya : Cinta Sejati (1) oleh mas Shiq4.

Tap. Tap. Tap. Suara langkah sepatu kets paduan warna pink-putih itu berhasil memudarkan lamunan Langit. Disusul suara pintu cafe MATOS yang berderit mau tak mau membuat Langit mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Perlahan namun pasti, pemilik langkah sepatu kets itu kian mendekat dan kini persis berada di depan Langit.

“Hai, kau pasti Langit, maaf aku sudah telat lima menit dari waktu yang dijanjikan”, sambil mengangkat lengan kirinya yang mungil, Silfin memperhatikan jam tangan kecil berwarna putih metalik yang melingkar di pergelangan tangannya,”kenalkan, namaku Silfin, mahasiswi semester pertama di kampus ini, senang bisa mengenalmu.” Kini silfin berganti mengulurkan tangan kanannya sebagai bentuk perkenalan sambil tersenyum.

Rambut keriting sebahu, mata sedikit sipit, tubuh putih mungil dengan senyum yang super manis, di salah satu telinganya terselip headset berwarna putih. Kaos berwarna pink dengan lengan pendek yang dilipat dua kali dan sengaja dimasukkan ke dalam rok lipit putih bergesper setinggi lutut. Tas punggung motif bunga-bunga sakura campuran biru laut dan pink membuat tampilannya hari ini semakin sempurna. Pantas saja, sedari tadi Silfin melangkah, ada saja sepasang mata memperhatikannya. Tak pelak, itu juga yang kini dirasakan Langit. Cantik. Satu kata dalam hatinya yang mewakili semuanya.

“Halo…kenalkan namaku Silfin”, ucapnya sekali lagi.

Langit masih diam saja, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Kalau diperhatikan, ini mirip dengan adegan di film Manga Jepang, Shigatsu wa Kimi no Uso, adegan pertama saat Kousei Arima bertatap muka dengan Kaori. Hanya hembusan angin musim semi dan suara cericit burung yang kian merdu di telinga yang dirasakan Kousei waktu itu. Mungkin ini juga yang dirasakan langit, entahlah, bisa iya, bisa juga tidak.

“Langit, hai..halo…kau bisa mendengarku bukan?” kali ini Silfin menaruh telapak tangan kanannya hanya beberapa inci dari wajah Langit lalu menggerak-gerakkannya.

“I..iya…aku bisa mendengarmu kok.” Langit membenarkan posisi duduknya.

“Oh syukurlah, kukira kamu agak…” Silfin tak melanjutkan perkataannya, lalu memutuskan untuk duduk.

 “Jadi, to the point saja. Mari kita mulai dengan pertanyaan, kenapa kamu mau jadi pacarku padahal kamu belum mengenalku sama sekali bukan?” gaya Langit kali ini persis seperti pak polisi yang sedang menginterogasi .

“Mmmm, karena aku suka.” Silfin menjawabnya singkat.

“Kenapa bisa suka?” Tanya Langit lagi.

“Haruskah rasa suka memiliki alasan?” Kali ini Silfin terlihat seperti orang yang sedang menawar harga.

“Haruslah!” Langit lebih ketus lagi.

“Oke…mmmm…alasannya adalah karena namaku Silfin, nama Silfin yang berasal dari kata Silfi artinya adalah kayu atau hutan. Tahukah kau kalau segundul apa pun hutan, ia masih tetap bisa menumbuh lagi selama masih ada hujan?”

“Iya aku tahu itu, lalu apa hubungannya dengan perasaanmu, nona?”

“Makanya dengarkan dulu, jangan memotong di tengah, aku kan belum selesai bicara,” Silfin kembali melanjutkan,”hujan itu hanya bisa datang dari Langit. Itu sebabnya Silfin harus bersatu dengan Langit, hehe.”

“Uhuk..uhuk…uhuk…uhukk..” Langit hampir tak kuasa menahan tawanya sendiri, namun syukurlah karena ia segera bisa menutupinya dengan kedua tangannya. Gadis yang lucu. Pikirnya. Tapi, perasaan aneh itu sepersekian detik membuat alter ego Langit kembali bertemu Endah. Endah yang juga tak kalah cantik, tak kalah menarik dan tak kalah genitnya namun bisa membuatnya sangat trauma.

“Anak Sastra ya?” Pertanyaan Langit kali ini sedikit melenceng dari topik pembicaraan.

“Iya, kenapa? Kelihatan ya dari caraku berpakaian? Aku sudah paham itu. Dan sebenarnya bukan cuma kamu kok yang berkata begitu, anak Sastra Inggris memang terkenal nyentrik.”

“Bukan, bukan itu. Aku hanya ingin berkata, pantas saja kau pintar menggoda.”

“Sssshhhhhh” mimik muka Silfin cemberut seketika. Andai saja kau tahu, selama empat tahun ini aku tak pernah secerewet ini pada lelaki mana pun, ini pertama kali aku menggoda pria, dasar kau saja cowok yang kurang peka!

“Bagaimana kalau aku tidak menyukaimu, Nona?” Tanya Langit selanjutnya.

“Bagaimana kalau pertanyaannya diubah menjadi begini saja : bagaimana kalau kau memberiku kesempatan untuk membuatmu menyukaiku?”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membuatku menyukaimu?”

“Sebulan.”

“Sebulan, yakin, cukupkah?”

Silfin mengangguk mantap.

“Kalau setelah sebulan, aku belum juga menyukaimu, apa kau bersedia untuk kuputuskan, Nona?”

“Oke, deal!”

Deal!”

Lalu mereka berjabat tangan dan pulang ke rumahnya masing-masing terpisah dengan memegang kertas perjanjian yang telah mereka tulis, diskusikan, dan diakhiri dengan dibubuhi tanda tangan mereka berdua. Point 2, 7, dan 10 dibuat oleh Langit, selebihnya oleh Silfin.

Untitled.png

************************************

Silfin melangkah pulang dengan wajah senang. Sepanjang perjalanan ia berlari kecil sambil bersenandung riang.

Don’t you give up, nah-nah-nah

I won’t give up, nah-nah-nah

Let me love you

Let me love you!

Lantunan lagu Dj Snake featuring Justin Beiber dari headset putih miliknya masih ia tirukan dengan nada cempreng tak karuan. Sesekali kaki dan tangannya membuat gerakan kecil dan lompatan tak beraturan. Namun ia tak peduli, sekali pun jika ada yang meneriakinya atau mengatakan ia gila, ia takkan mempedulikannya. Aku memang sedang gila karena cinta, pikirnya. Tak ada kesenangan selama empat tahun terlewati melebihi hari ini. Hari ini ia sungguh, sungguh senang.

“Aduh…” berjingkrak-jingkrak karena kesenangan ternyata memang tak boleh berlebihan, lihat saja kaki Silfin yang tiba-tiba jatuh terpelosok ke lubang persis di depan pintu gerbang tempat kost-nya. Untunglah tangan kanannya sigap memegang pintu gerbang sebagai tumpuan. “Hei, kakiku yang baik, hati-hati ya kalau berjalan, jangan sampai Silfin yang cantik ini jatuh, kalau sampai Silfin jatuh, kak Langit pasti marah, tentu kau tidak akan suka kena marah oleh orang seketus ia, bukankah? Tapi biarlah ketus, kalau ketus kan jarang ada cewek yang suka, berarti Silfin tidak ada saingannya, benar bukan?! Haha hahaha.”

Eh, siapa itu? Sepertinya ada yang bersuara dari belakang barusan, tapi… siapa pula yang malam hari begini masih mau keluyuran ke kost-an perempuan? Mungkin hanya perasaanku saja. Silfin berbicara sendiri dalam hati.

Silfin membuka pintu gerbang tempat kost di mana ia tinggal. Gerbangnya tak begitu tinggi namun kokoh berwarna hitam dengan desain minimalis. Silfin memasuki teras depan kemudian menuju pintu-pintu kost-an yang berderet memanjang. Kombinasi cat warna hitam, cokelat tua, dan merah marun membuat ruangan itu tampak berbeda. Gaya klasik yang diusungnya seolah mampu membawa suasana masa lalu dan masa depan menyatu. Ada miniatur taman kecil di sudut ruangan, cahaya yang bisa masuk melalui bagian atap taman kecil itu membuat ruang kost menjadi asri. Suasana keluarga. Itulah kesan pertama yang membuat Silfin jatuh cinta dan tak pernah mau pindah dari kost-nya sekarang ini. Silfi melangkah menuju pintu kost nomor 03 dan…

“Mirna, Dewi, aku pulang…!” Seseorang di pintu kamar kost nomor 03 tidak menyahut.

“Ssshhhtttttt, sudah malam, jangan berisik, tidak enak dengan penghuni kost yang lain, ayo masuk,” suara yang datang malah berasal dari pintu kost nomor 04. Kamar kost yang dihuni oleh Dewi.

“Iya, heee…maaf. Mirna di mana? Kok sepi?” Silfin mencoba mencari sosok Mirna yang tak ada dan berakhir dengan menanyakannya.

“Oh, Mirna, dia pulang kampung, ada acara hajatan di rumah sepupunya.”

“Oh…”

“Kamu sendiri bagaimana tadi, lancarkah?” Dewi tampak antusias.

“Ya begitulah, aku hari ini resmi jadian dengan kak Langit, ayo ucapkan selamat untukku, give me a hug, please!”

Lalu mereka berpelukan. Percakapan yang terjadi selanjutnya tentu bisa ditebak. Ya, seperti kisah-kisah cinta muda-mudi zaman sekarang, mereka saling bercerita tentang kisah cintanya. Terlalu asyik hingga melupakan bahwa saat itu sudah pukul 00.38 dini hari. Silfin keluar dari pintu kamar kost nomor 04 dan beralih masuk ke pintu kamar kost nomor 05. Saatnya untuk kembali terlelap dalam bantal. Bantal yang lebih empuk dari biasanya, wajah yang lebih berseri dari sebelumnya, dan hati yang lebih berbunga dari mulanya. Sampai kapan pun, dari masa ke masa, cinta selalu hadir dengan rona bahagia meski tak jarang pula berakhir dengan duka.

Lalu, bagaimana dengan kisah cintanya? Apa ia juga bisa mereguk bahagia? Tanpa berpikir panjang, Silfin menyambar ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat.

Send message : “Selamat tidur kak Langit,
terimakasih untuk hari ini. 🙂

Semenit kemudian ada balasan inbox dari ponselnya. Balasan yang kurang mengenakkan.

Tenanglah Silfin, hari ini bahkan masih belum terhitung sebagai hari pertama. Tenanglah dan semua akan baik-baik saja. Gumam Silfin dalam hati.

 

***********************************************************

Langit bergegas meninggalkan cafe MATOS. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk di hatinya saat ini. Tangannya masih menggenggam surat perjanjian Cinta tadi. Heran juga ia pada dirinya-sendiri, bagaimana mungkin seorang Langit bisa menulis perjanjian cinta yang terlihat konyol seperti ini? Itu pun dengan gadis yang sama sekali belum ia sukai. Ada semacam perasaan aneh saat bersama dengan gadis bernama Silfin tadi. Sekuat apa pun ia menolak, seperti ada sisi Langit yang terhipnotis untuk tetap melakukan apa yang diinginkan si gadis. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Apakah aku tertarik dengan Silfin? Apakah aku menyukainya? Atau ini hanya perasaan lelakiku saja? Bagaimana pun, sebagai seorang lelaki, melihat gadis secantik Silfin pasti akan kagum dengan sendirinya, apalagi aku yang hanya pemuda biasa saja? Langit membatin.

Siapa itu? Silfin? Kenapa ia ada di sana?

Silfin yang berjalan sendirian, entah kenapa membuat Langit mengikutinya dari belakang. Dari jarak tiga meter ia memperhatikan Silfin yang sedang berjalan sambil bersenandung, sesekali membuat loncatan-loncatan kecil dan menggerak-gerakkan kedua tangannya. Asyik sekali. Gadis yang lucu dan periang. Diam-diam, Silfin memperoleh point plus lagi dari Langit tanpa ia tahu.

Melihat kaki Silfin jatuh terpelosok, ia bergegas lari mendekatinya. Namun, belum sempat mendekat, ia mendengar suara Silfin yang cempreng dan berbicara pada dirinya-sendiri. Satu lagi kutemukan, kamu juga gadis gila yang suka bicara sendirian di tengah malam, dasar! Langit membatin lagi dan tersenyum.

“Lain kali hati-hati kalau berjalan, Silfin,” gumaman Langit kali ini sepertinya didengar Silfin, karena dengan serta-merta Silfin menoleh ke belakang. Syukurlah karena dengan dua kali kecepatan Silfin, Langit bisa bersembunyi lebih dulu darinya.

Seusai melihat Silfin masuk rumah kost perempuan, Langit melanjutkan langkahnya kembali menuju kontrakan. Abdul dan Sholikin pasti sudah menunggunya. Dan benar, persis seperti dugaan Langit, Abdul dan Sholikin bahkan telah menyiapkan sepiring martabak manis dan kopi hitam untuk menemani mereka mengobrol semalaman. Dengan secepat kilat, Abdul merebut kertas aneh di tangan Langit. Meski langit mencoba merebutnya kembali, namun gagal. Lagi-lagi mereka berdua berhasil mengerjainya. Perjanjian Cinta yang konyol itu sudah ada di tangan mereka. Dan dengan kekuatan satu melawan dua orang juga tak memungkinkan bagi Langit untuk melawan. Akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan kertas perjanjian itu dibaca kedua karibnya.

“Kalau sudah selesai, tolong dikembalikan, aku mengantuk dan ingin segera tidur, selamat malam.”

“Tunggu, Langit..” Sholikin mencengah langkah Langit untuk maju selangkah lagi. “Selamat sahabatku, kurasa gadis itu benar-benar menyukaimu. Lihatlah dari cara ia menulis, Silfin menulis kejujuran di kertas itu. Kau harus tahu kawan, gadis secantik, sebaik, dan semenarik Silfin mungkin adalah satu-satunya yang bisa tersesat dan menyukaimu. Jadi, jangan disia-siakan atau kamu akan menyesal. Sudah malam, kami juga ingin tidur. Ambillah martabak dan kopi hitam ini, kau pasti belum makan bukan? Dan ini kertas perjanjianmu, jaga baik-baik ya, jangan sampai hilang.”

Langit tak bisa tidur, nasehat karibnya, Sholikin benar-benar di luar dugaan. Ia berkata benar, alangkah bahagianya jika perasaan Silfin benar-benar tulus. Tapi jika tidak, bagaimana? Alter ego-ku lagi yang berbicara…AKU TAK MAU TERLUKA UNTUK KEDUA KALINYA.

Sekelebat bayangan Silfin muncul. Senyum manisnya tadi masih tampak sempurna untuk diingat di sepagi ini.

Bayangan kedua muncul. Ah, bayangan Endah datang lagi. Bayangan yang membuatku malu, harga diriku hancur, bayangan yang membuatku jera untuk jatuh cinta.

Suara ponsel Langit berdering. Melalui layarnya yang berukuran lima inci, ia temukan pesan singkat dari pemilik gadis dengan senyum sempurna yang ia lamunkan tadi.

Inbox message : “Selamat tidur kak Langit,
terimakasih untuk hari ini. 🙂
Send message : “Sudah malam, aku mengantuk.
Jangan mengganggu orang, dasar kau
gadis kurang kerjaan! :-P”

 

Bersambung…

18 thoughts on “Cinta Sejati (2)

  1. Episode ini nggak se-drama episode pertama tapi ada tambahan unsur humor yang fresh, hahaha
    Saya suka dengan penggambaran karakter Silfin pas dia pertama kali muncul, sangat detail, saya bisa membayangkan bagaimana penampilannya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping-balik: Cinta1668

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s