Five Elements – Rain (2)


Serial Five Elements – Rain (2), 452 kata

Iklan

Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.

 

********************************************

 

Five Elements - Rain (2)
Gambar diunduh dari Google


Episode Sebelumnya


Kay, berhentilah!

 

Pagi masih dingin. Kepulan kabut masih penuh sesak di antara sela-sela udara. Mereka berlomba menyapa  indra si gadis bermata bulat berbinar dan pemilik smiling face itu.

Apakah kalian juga penasaran sepertiku, siapa gerangan yang akan sampai lebih dulu dan disapa oleh Rain?

Tidak ada. 

Tidak keduanya. 

Rain malah asyik berjongkok di teras depan kost-an berpagar hijau mint itu. Ia fasih sekali mengamati setitik embun yang akan jatuh menyentuh tanah.

“Satu

Dua

Tiga!”

Rain, pikirkanlah sekali lagi. Kau gadis yang cerdas. Kau berhak atas beasiswa itu. Ayolah Rain. Aku serius merekomendasikanmu dan ayahku telah setuju. Kau hanya perlu tanda tangan dan semua selesai. Kau bisa kuliah Psikologi. Itu kan yang paling kau inginkan?

“Empat

Lima

Enam!”

Rain. Janji ya, kau mau memikirkannya. Jika kau menerimanya, aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia.

“Tujuh

Delapan

Sembilan!”

Dan tik tik tik. Akhirnya embun pagi dari pucuk daun bakung itu jatuh ke tanah. Rain tersenyum. 

“Sudah ya Kay, waktumu sudah habis untuk menggangguku. Aku sudah memberimu waktu sembilan hitungan sampai embun pagi ini jatuh ke tanah. Dan sekarang saatnya aku melupakan kata-katamu.”

Rain melambaikan tangan pada daun bakung tadi dan berpamitan seolah daun bakung itu adalah Kay. Dan dalam hitungan detik, Rain sudah dalam posisi berdiri. Kedua tangannya ia rentangkan ke atas sejauh-jauhnya. Rain menggeliat. Menutup matanya sejenak, merasakan pagi, tak lupa Rain memberikan kesempatan pada kabut dan udara yang sedari tadi berusaha menujunya. Rain tidak memilih, hanya membiarkan kedua elemen alam itu meraihnya dan tersenyum. 


“Kriiiiing…kriiiing…kriiiiing” bunyi ringtone dari ponsel jadulnya berhasil menyita perhatian Rain. Cepat-cepat ia angkat dan…”Iya pak Sandy.”

“Rain, kau jadi izin tidak masuk hari ini? Kalau jadi, aku terpaksa mencari penggantimu. Aku tak mau pelangganku kabur karena kecewa dan bilang cafe macam apa ini, no music?

“Tidak jadi, pak Sandy, saya bisa datang hari ini. And I will come ontime, as always sir!”

“OK. Baguslah kalau begitu!”

Klik. Suara ponsel ditutup. 


********************************************

Tengah hari pukul 01.00 WIB.

Terdengar suara indah menguar dari sebuah cafe. Sayup-sayup suaranya menggema sampai ke halaman depan. Suasana vintage ditambah lagu dari Hivi – Pelangi yang di-cover dengan aransemen baru membuat penghuni di dalamnya semakin nyaman.

Penyanyi telah sampai pada bait akhir lagu. Suara tepuk tangan berhamburan. Dan seperti biasa, riuh pujian pun bersautan. Di antara riuhnya,  ada suara hati yang tiba-tiba saja bergema…

Kay, kumohon. Berhentilah untuk terus menjadi malaikat penolongku. Aku terbiasa sendiri. Dan kali ini izinkan aku melakukannya sendiri tanpa bantuanmu.


Episode Selanjutnya

3 respons untuk ‘Five Elements – Rain (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s