Suka Dukanya Seorang Ojek Online di Cikarang


Suka Dukanya Ojek Online di Cikarang, 1360 kata

Iklan

Suka Duka Ojek Online di Cikarang
Gambar diunduh dari liputan6.com

10 April 2017

02.11 PM

Ojek Online : Halo, dengan mbak Cinta? Ini dari G***k, posisi di mana ya mbak?

Cinta1668 : Posisi saya di minimarket sebelah masjid Jami’ Babul Huda, pak.

Ojek Online : Sebelah mana mbak? Dekat mana?

Cinta1668 : Itu loh pak, dekat pintu masuk Jababeka I, sebelah kanannya kan ada satu-satunya minimarket pak.

Ojek Online : Oh, mbak maaf, di situ banyak pangkalan ojek mbak, saya nggak berani.

Cinta1668 : Jadi enaknya gimana pak? Saya musti pindah posisi di mana?

Ojek Online : Mmmm gimana ya?

Kuamati dari suaranya, bapak itu seperti kebingungan memutuskan, jadi kutegaskan, apakah pesanannya di-cancel saja? Dan…bapak itu langsung bilang iya.
02.15 PM

Posisi mata dan tangan yang terfokus pada layar HP pun berubah. Ada seorang ibu penjual gorengan di depanku mengingatkan…

“Mbak, sedang pesan ojek online ya? Sebaiknya jangan di sini, kemarin ada ojek online yang tiba-tiba disamperin loh mbak, padahal dia nggak pakai jaket atau helm bertuliskan G***k, tapi tetap saja dikenali oleh pangkalan ojek di sini.”

Duh, kasihan banget sih, cari nafkah saja susah, sudah tidak pernah berani memakai jaket dan helm G***k, masih di-usir-usir saja, kerja musti sembunyi-sembunyi setiap saat. Gerutuku dalam hati.

“Lebih baik mbak masuk masjid saja, mbak kan bawa helm sendiri, kemungkinan ojek pangkalan di sini nggak akan curiga.” Kata ibu itu lagi.

Aku pun mengangguk tanpa banyak kata dan berterimakasih seraya mengakhiri pembicaraan kami.

Belum sempat melangkah, ponselku kembali berdering…

“Halo mbak, saya dari G****k yang tadi, kok belum di-cancel? Tolong segera di-cancel ya mbak.

“Oh iya maaf pak, saya lupa.” Jawabku datar padanya.

Aku memasuki pintu gerbang masjid. Padahal cuaca di Cikarang saat ini panas. Namun ada hawa sejuk yang entah muncul dari mana saat aku memasuki pelataran masjid.

Kakiku selonjoran di depan masjid : adem, lega, sekaligus berterimakasih dalam hati. Alhamdulillah karena pekerjaanku terbilang mudah, hanya butuh kecakapan berkomunikasi dan cekatan, itu saja. Aku bisa duduk santai setiap saat, bahkan jika suntuk melanda, aku masih bisa streaming di radio FM online. Aku tersenyum sendiri untuk beberapa saat.

Selang di menit itu, aku kemudian mengirimkan pesan singkat kepada salah satu accounting dan mengatakan bahwa untuk ke PT. D (nama samaran), kemungkinan akan telat, kukirim pesan singkat padanya dengan sebuah capture foto pesan G***k yang masih menunggu driver. Aku katakan juga bahwa aku ditolak beberapa kali karena posisi di situ rawan oleh pangkalan ojek setempat.

Mungkin ini saatnya me time. Sebenarnya…kalau mau jeli membaca situasi, pasti akan selalu ada senyum dan syukur yang mengalir di sana. Aku ingat, tadi pagi aku ke PT. B (nama samaran) lalu ke kantor pajak, lalu pergi lagi ke PT. A dan PT. C yang lokasinya masih satu tempat, dan terakhir…sekarang ini aku menuju ke PT. D. Kusentuh pundak kiriku, dan aku merasakan sakit di bekas patahan tulang akibat terjatuh beberapa bulan kemarin. Sakit yang akan muncul perlahan, bila harus kondisi bolak-balik dari PT. A sampai PT. D dalam satu hari.

Sejatinya…apa yang pernah patah, meski pernah disambung, tidak akan utuh lagi. Maka jagalah…jaga baik-baik dirimu Cinta. Ada suara yang tiba-tiba muncul dari hati.

Aku jadi berpikir, mungkin ini cara Tuhan menyayangiku, memberi jeda sejenak. Tuhan ingin aku beristirahat barang lima menit saja sebelum aku melanjutkan perjalanan.

02.25 PM

Tangan kananku kembali menyambar ponsel. Aku memesan G***k lagi, berharap kali ini, tidak akan dibatalkan. Sedangkan tangan kiriku memijit perlahan pundakku yang minta dimanja, alhamdulillah, perlahan rasaΒ sakitnya hampir menghilang. Aku oleskan C*********n, pereda nyeri sendi dan otot yang selalu kubawa ke mana-mana. Ah, obat olesku, tanpamu aku merasa cacat kini, meski kau hanya bertahan beberapa menit saja di tulangku, namun bagiku kau lebih berguna daripada yang lainnya.

Kau diam saja, tak banyak mulut, tak banyak menuntut, tak banyak meminta, tak ada pamrih, tapi kau selalu memberi. Hanya memberi. Berusaha menghilangkan sakitku dengan caramu yang unik. Aku suka.

Dan aku berjanji…akan membawamu ke bukit Sikunir, lebaran tiga hari nanti bersama keluargaku, insya Allah. Dan jika itu benar terjadi…aku akan memfotomu di atas puncak Sikunir Dieng sebagai tanda terimakasih. Aneh memang, tapi…bukankah ada bermacam cara mengungkap cinta? Karena aku tak punya kekasih kini, kenapa tak kuucapkan cinta saja kepada obat oles yang selalu setia menemaniku setiap hari?

G****k : Halo, ini dengan mbak Cinta?

Cinta1668 : Iya, benar pak.

G****k : Posisi di mana mbak?

Cinta1668 : Di dalam masjid Jami’ Babul Huda pak, tapi…di sini katanya rawan pangkalan ojek setempat pak, kalau bapak nggak berani, nggak apa-apa kalau di-cancel.

G****k : oh santai saja mbak, saya sudah biasa, nanti saya ke situ.

Dan benar…di dua menit itu, pak G****k datang. Ia mempersilakanku naik dan menawarkan membawakan tote bag-ku yang tak bermerek, pemberian teman kantor yang didapat dari acara Pameran Industri di Jiexpo Kemayoran.

Sepanjang jalan, aku bercerita bahwa beberapa kali tadi aku ditolak G****k, dan memutuskan rehat lima menit di masjid. Bapak itu tadi menjelaskan bahwa memang daerah sekitar kawasan Industri Jababeka I kurang aman dan aku menyanggahnya.

Cinta1668 : Ah masa pak? Bukannya kalau di kawasan itu bebas ojek?

G****k : wuah, mbak nggak tahu saja, entar saya tunjukin ya mbak. Itu lihat, depan Samsung, ada kan mbak, tuh satu orang.

Cinta1668 : oh iya, bapak benar. Haha

Aku tak kuasa menahan tawa. Cara bapak G****k menunjukkan dengan tangannya itu khas sekali, ia sedikit membungkukkan badannya, terlihat lebih sopan menurutku, lalu telapak tangan kirinya membuka bersamaan ketika badannya tadi membungkuk persis seperti seorang pelayan toko yang sedang mempersilakan.

G****k : Tuh ada lagi mbak, depan Mattel I.

Cinta1668 : Owalah iya ya pak, saya baru sadar. Hahaha.

Aku tertawa lagi. Caranya menunjukkan itu beda lagi. Jari telunjuk tangannya menunjuk ke depan dengan mimik muka seperti sesorang sedang menonton acara sepak bola kesayangannya di mana tim yang diandalkan sedang mencetak goal. Aku tahu karena posisi muka bapak tadi menyamping. Ini orang benar-benar lucu menurutku.

G****k : kata siapa di depan Unilever Skincare nggak aja ojek pangakalan, noh banyak mbak…noh…

Cinta1668 : Haha hahahaha

Aku nggak tahan dan ngakak lagi. Bapak itu tadi melotot matanya tapi melototnya itu tadi melotot lucu, bukan melotot marah.

Lalu kami beralih cerita. Mohon maaf ya bagi yang bosan membaca boleh di-skip karena ceritanya masih panjang. 😁

Cinta1668 : Saya sebenarnya heran loh pak, padahal G****k di daerah sini kan tidak memakai memakai jaket dan helm seragam khas warna hijau pak, tapi kenapa kok masih dikenal oleh tukang ojek?

G****k : Jangan salah mbak, mereka itu pinter loh mbak. Mereka lihat ciri lain kita.

Cinta1668 : Saya tahu pak, pasti karrna bawa helm dua kan?

G****k : Salah satunya itu mbak. Tapi ada lagi mbak, pakai headset, ponsel di atas spidometer, lalu muka sedikit ketakutan kalau ada tukang ojek. Udah deh mereka kenal, pasti langsung ketebak. Pernah teman saya dengan ciri-ciri yang saya sebutin tadi mangkal di kawasan. Ya sudah deh, langsung dibilang, oey, kamu! Ojek online ya? Pergi sono! Jangan mangkal di sini! Pergi…pergi! Lah saya yang di belakangnya malah dibiarkan saja mbak, malah dikira lagi nunggu istri.

Cinta1668 : Wkwkwk, yang penting mukanya cool saja ya pak? Duh jadi inget, kemarin, Sabtu lalu, saya dapat ilmu dari bapak G****k juga mengenai cara menghindari razia, cool saja mbak, kalau perlu pepetin itu pak polisi, pelanin motor, entar pasti aman meskipun surat nggak lengkap. Lah wong mukanya santai, pasti dibiarkan saja jalan.

G****k : Nah itu dia, yang penting stay cool. Ada lagi teman saya G****k juga, seumuran dua puluh tahun. Dia malah pakai kaos oblong, terus celana pendek selutut. Berani dia nongkrong di pangkalan ojek. Begitu ada pesanan, dia langsung telepon dan bilang…halo, kamu di mana? Oh di situ? Tunggu aku bentar ya, bentar lagi sampai…

Cinta1668 : Hahahaha. Aduh aduuuuhhh bisaan aja itu teman bapak, kalau gitu ya jelaslah nggak akan curiga, disangkanya lagi nungguin pacar. Hadoooohhh ada-ada saja, pinter pinteeeerrrr pak.

G****k : Eh mbak, udah sampai nih.

Cinta1668 : Oh iya, nggak kerasa ya pak? Ini helmnya pak.

G****k : Loh mbak, itu kan helm punya mbak, kok dikasih ke saya?

Cinta1668 : Ah iya pak, saya lupa. Haha. Terimakasih ya pak.

Dan aku tertawa lagi. Ah bapak G****k yang lucu dan baik hati. Terimakasih atas tawa yang bapak hadirkan untuk Cinta1668 siang tadi. Semoga rezekinya berkah ya pak, makin lancar. Amin. 😊😊😊

22 thoughts on “Suka Dukanya Seorang Ojek Online di Cikarang

  1. Kisah yang menarik.

    Kasihan juga ya para driver ojek online itu, ternyata apa yg diberitakan di media2 selam ini benar-benar kejadian.

    Mungkin sebaiknya ojek2 pangkalan direkrut oleh perusahaan ojek online agar nggak ada lagi perbedaan yg menimbulkan konflik antar ojek.

    Disukai oleh 1 orang

    1. tp kasian jg mas Hilal kl ojek pangkalan hrs hilang, sebagian bsar dr mereka itu sudah tua, kasian jg kl hrs disingkirkan.

      Mndingan sih dibicarakan bersama, mgkn dbuat kesepakatan agar kduanya tetap bs berjalan bersisian 😊

      Suka

  2. Di saat pemerintah belum mampu memberikan jutaan lapangan kerja bagi masyarakat justru perusahaan online memberikan solusi tersebut tersebut bagi masyarakat..

    Hanya saja ada pihak2 tertentu yang kurang suka dengan hal tersebut, contohnya seperti di medan kemaren, abang2 becak demo di depan kantor walikota
    menuntut transportasi online harus dihapuskan.. Hal ini tentu sangat mustahil dilakukan mengingat masyarakat sudah banyak terbantu dengan adanya transportasi online ini..

    Jadi aku berkesimpulan sebetulnya para pelaku transportasi non online ini tidak siap untuk bersaing dan tidak siap untuk mengikuti perkembangan zaman…

    Disukai oleh 1 orang

    1. hu um, betul bang Harlen.
      Coba kl pemerintah mau membantu…sarana transportasi seperti becak misalnya, bisa dipakai di tempat khusus sprti tempat wisata, lalu dengan tarif tertentu pula yg tdk merugikan mereka. Pst para tukang becak jg tdk akan komplain apalagi demo

      Suka

      1. Makanya ini PR buat pemerintah juga.. mudah2an ke depan jangan ada lagi yang sikut2an.. rezeki udah ada yang ngatur.. ga pernah tertukar.. asal kita mau berusaha.. ga cuma duduk2 aja.. 😁

        Disukai oleh 1 orang

  3. Eksistensi transportasi online memang menuai kisruh, sprti dibrtakan bbrpa waktu lalu.

    Saya bingung, di satu sisi jaman smkin maju, tp ada pihak yg tak stuju. Di lain pihak, tuntutan pkrjaan dari para pemilik transportasi konvensional juga beralasan. Gimna sih regulasi yg udah dibuat pmrintah sehingga kedua blah pihak ttp brada pd win2 solution.

    Disukai oleh 1 orang

    1. hehe, ya memang sudah lazim jk ada beda pendapat diantara mereka mas Des.

      Nah itu td…ada baiknya drpd sll menuntut pemerintah, qt jg memberi saran. Siapa tahu, tulisan ini nnt dibaca, kan enak ada solusi/saran trbaik dr qt.

      Jd pemerintah jg mgkn ga mudah. Inginnya sih smuanya baik, tp kan hasil kdg tdk sesuai.

      Contoh kecil saja mas…seorang pmimpin prusahaan yg menginginkan kebaikan bg kryawannya namun msh sja ada prsangka negatif…gmn dg pemerintah yg rakyatnya bgtu banyak? Bs dbyangkan bukan?

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s