Di Usiaku ini… oleh Rahmah Mahesa


Cinta ingin lebih membaca, ingin lebih merasa…dan perlu sekali mendengar nasehat orang lain di sekitar.

Ternyata ada saja, bahkan begitu banyak nasehat baik, tulisan menarik yang tak jarang menyita perhatian, membuat haru dan kadang menampar.

Aduhai, begitu lemahnya diri ini, begitu tidak sempurnanya seorang Cinta…

DARI SEORANG TEMAN…kategori baru ini tercipta karena Cinta tidak merasa sempurna, karenanya perlu, bahkan sangat perlu berkaca, membaca, mengkaji, mendengar, introspeksi diri dari teman lainnya.

**************************************

Di usiaku ini…oleh Rahmah Mahesa

Picture by Rahmah Mahesa

Di usiaku ini, sungguh bukan masanya lagi galau-galauan karena patah hati,  atau rasa yang bertepuk sebelah tangan. Ini sudah bukan masanya.

Juga… di usiaku ini, sungguh bukan waktunya lagi sedih-sedihan sebab memendam perasaan, menghayal tentangnya, atau memikirkan si dia yang tak jelas serius tidaknya. Ini sudah bukan waktunya.

Di usiaku ini, adalah serius menghabiskan waktu untuk memperbaiki diri. Belajar bagaimana menjadi wanita salihah, ibu yang baik untuk anakku kelak. Belajar bagaimana menjadi wanita sukses. Pula, belajar bagaimana menjadi pemandu perjalanan untuk menuntun orang-orang yang kita cintai menuju ridha Allah.

Sungguh di usiaku ini, aku tidak sedang mencari cinta; aku sedang mencari ia… seseorang yang berkenan mengajakku dalam taqwa. Menemani perjalananku menuju surga.

Duhai lelaki shaleh, aku hanyalah wanita akhir zaman.

Banyak khilaf dan kemaksiatan yang kutanam di masa silam. Hari ini aku ingin bertaubat, memohon ampun kepada-Nya. Kepada Allah. Namun kadang, imanku kembang kempis, naik turun. Aku yang memang jahil ini seakan ingin kembali berbuat dosa. Maka duhai lelaki shaleh, berkenankah kau meminangku, agar ada yang membimbingku? Agar ada yang mengingatkan saat diriku hendak kembali berbuat alpa?

Duhai lelaki shaleh, aku hanyalah wanita akhir zaman.

Sholatku masih malas, ngajiku belepotan, dan ibadahku pas-pasan. Padahal aku ingin menjadi bidadari di surga-Nya. Di surga Allah. Dan katanya, sebaik-baik guru bagi seorang perempuan adalah suami yang shaleh. Maka maukah kau mengajariku? Menyimak bacaan Quran-ku, mengimami shalatku, dan memercikan air saat di sepertiga malam aku masih tertidur lelap?

Duhai lelaki shaleh, aku hanyalah wanita akhir zaman.

Pernah menjadi pacar si ini dan si itu. Disentuh, dipeluk, atau bahkan… astagfirullah, kutahu ini aib. Aib yang membuatku malu bersanding dengan-mu. Namun sungguh, bolehkan aku meminta agar kau menjadi pakaian bagiku? Maukah kau menutup aurat khilaf dan buruknya masa laluku itu?

Duhai lelaki shaleh, aku ingin seperti Khadijah yang penyayang, Aisyah yang cerdas, Fatimah yang kuat, atau Ibunda Hajar yang begitu sabar. Namun kusadar ku tak mungkin seperti mereka. Hanya saja, aku rindu bersua, cipika cipiki, atau bertetangga dengan mereka di surga-Nya kelak. Maka, berkenankah kau duhai lelaki shaleh, mengajakku ke sana?

Duhai lelaki shaleh, aku mungkin tak tahu malu dengan permintaan ini. Tapi tak apa-apa, kan? Boleh kan aku memiliki harapan? Karenanya, ketuklah pintu rumahku, Akhi. Ajak aku ke pelaminan, untuk kemudian mengajakku bersujud bersama pada Tuhan yang sama. Allah.

Wahai lelaki shaleh, bantu aku mengusaikan penantian ini, ya. Segera.

Iklan

3 thoughts on “Di Usiaku ini… oleh Rahmah Mahesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s