Would you dance with me? – Cerpen Fiksi


100 Writing Prompts Challenge

Day #1 – Dance

Note : Nama untuk cerita fiksi ataupun non fiksi, akan kubuat serupa namaku, Cinta. Tujuannya adalah, agar aku lebih mudah bercerita, dengan menggunakan nama sendiri, aku yakin akan lebih mudah berimajinasi dan masuk ke dalam alur cerita. Jadi, sebenarnya nama Cinta di sini hanya fiksi dan tidak pernah dialami oleh Cinta, pemilik blog sekaligus penulis cerpen ini. Selamat membaca. πŸ˜‰

************************************************************************

Picture by Google

31 Desember 2016.

Hari ini adalah minggu ke 40-ku di Melbourne – Australia. Bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Lebih tepatnya kusebut dengan sebuah keterpaksaan yang dilakukan oleh mama. Minggu, 08 Maret 2016 lalu, aku yang tiba-tiba disuruhnya mengemasi barang-barangku, semuanya, dengan alasan pemindahan tugas kantornya, kita sekeluarga (aku dan mama) akan pindah ke Bali. Bodohnya aku sama sekali tak berpikir bahwa mama mengerjaiku waktu itu. Tiba di airport, ia menyerahkan tiket pesawat ke Melbourne – Australia, paspor, dan visa untuk tiga bulan menetap di sana.

“Mama, apa maksudnya ini?” aku kaget, sekaget-kagetnya waktu itu.

“Tiga bulan ke depan, mama ingin Cinta menghabiskan waktu bersama papa di sana. Nikmatilah euforia Melbourne, bukankah Cinta sangat menyukai novel Winna Efendi yang berjudul Melbourne : Rewind? Bahkan mama juga tahu kalau Cinta menandai semua tempat di novel itu dan menuliskan kata : tunggu aku ya, aku akan ke sana bersama mama dan papaku kelak, setelah mereka rujuk nanti, aku memang tak tahu kapan, tapi aku yakin itu akan terjadi, pasti. Lihat saja nanti!” bujuk mamaku waktu itu.

“Tapi ma…Cinta hanya ingin ke sana, kalau mama dan papa rujuk” aku mencoba menolak permintaan mama dengan alasan yang kukira tepat.

“Sayang, ada hal di dunia ini yang memang lebih baik bersama…namun tak jarang juga, ada hal yang memang tak bisa disatukan. Ayahmu lebih mencintai Australia, dan mama lebih memilih Indonesia, tak ada yang salah dengan rasa cinta pada negara, sayang, kami telah memilih, dan inilah keputusan kami.” Kuperhatikan mama mencoba memilih kata yang tepat untuk disampaikannya padaku, mama memang paling tahu, kalau anak semata wayangnya ini terlalu sentimentil untuk urusan cinta.

Aku mengangguk dan membiarkan tangan lembutnya mengelus-elus kepalaku. Tak terasa airmataku mengalir dan Β sebuah bayangan kembali terngiang, serupa awan tebal menyelimuti hati dan pikiranku.

“Apa karena alasan yang sama juga, Cinta tidak bisa bersatu dengannya ma? Apa salah Cinta? Kenapa semuanya jadi berantakan? Kenapa Cinta ditinggalkan? Dan kenapa pula, harus Cinta yang menangis sendirian?”

Ada yang tercekat di tenggorokan, aku tak kuasa melanjutkan apa yang baru saja kukatakan, hanya airmataku yang kian membanjir di sana.

“Tidak sayang, Cinta tidak bersalah. Tuhan sayang, maka itu Cinta diingatkan. Semua yang akan berakhir memang harus berakhir. Bersyukurlah karena Cinta tak jadi menikah dengannya. Sekarang, mama mohon, pergilah, bersenang-senanglah, anggap saja ini liburan jangka panjang untuk Cinta. Mama percaya, Cinta akan bisa melaluinya. Pergilah, penuhi permintaan mama kali ini, bisa kan?”

Ah, mata itu lagi. Mama selalu saja menggunakan mata itu bila aku tak mau menurut. Matanya yang memelas dan tajam, seperti sebuah perintah yang tak bisa kutolak. Dan kalaupun aku menolaknya, yang terjadi adalah, aku takkan pernah diijinkannya pulang ke rumah. Jadi…aku putuskan meng-iya-kan saja permintaan mama tanpa banyak alasan.

Perjalanan panjang selama 6 jam 35 menit telah kulalui. Kini, sampailah aku di Tullamarine Airport. Aku dijemput seorang pemuda yang agak aneh.

Hi Cinta, over here, this is me, do you remember me? I am your brother…Mischa” sapa seorang pemuda dengan senyum ajaibnya. Ajaib yang serta-merta membiusku beberapa detik untuk kemudian berkata…

“Ajaib…senyummu, so sweetΒ banget sih. Tapi kamu salah orang, ganteng. Aku nih anak semata wayang jadi nggak mungkin punya brother. Lagian, sok-sok kenal banget sih? So weird. Udah ah aku jalan aja, lagian kamu tuh nggak akan ngerti apa yang aku bilang. Haha. Jadi ya sudahlah, selamat tinggal ganteng…”

Aku puas mengerjainya dengan bahasaku sendiri. Aku lihat si ganteng mengerutkan kening, kurasa ia kebingungan dan aku senang!

“Hei tunggu! Siapa bilang aku nggak paham bahasamu nona cantik?”

Deg!

Aku mematung seketika.

Cowok bule itu tahu bahasa Indonesia? OMG, jadi dia tahu apa yang baru saja kukatakan? Aduh, malunya aku.Β 

“E..eee…eeee…maaf maaf, aku kira kamu nggak bisa bahasaku, tapi…seandainya pun bisa, kamu tetap salah orang, mengerti?” Aku mencoba sebisaku menghilangkan nervous gara-gara ulahku sendiri.

“Namamu Cinta kan? Nama ayahmu Benyamin Suhardja kan? Dan ibumu Mega Hapsari, iya kan?”

Aku mengangguk. Dan ia masih melanjutkan…

“Ini foto ayah dan ibumu. Untunglah otakku cerdas, aku bawa foto mereka sebagai bukti, tak salah memang jika aku ganteng…orang ganteng itu selalu jenius dan cerdas, haha.”

Apa? Dia menyebut dirinya cerdas? Ganteng? Jenius? OMG, PD banget ini orang. Aku mengumpat sejadinya dalam hati.

Mataku tak bisa menyembunyikan kesinisanku waktu itu. Aku mana mungkin percaya, pernikahan papaku yang baru setahun mana mungkin melahirkan cowok segede dia? Umurnya yang kukira 17 tahun ini sangatlah tidak mungkin menjadi adikku. Aneh sekali. Dan nampaknya ia menyadari kesinisanku, karena seketika itu ia menelepon seseorang. Dengan jelas aku bisa melihat wajah papaku melalui video call yang ia tunjukkan padaku.

“Sudah percaya sekarang, nona cantik?” katanya dengan tatapan sinis.

Benar, ia adalah Mischa. Benar, ia adalah saudaraku.

Ia adalah Mischa, adik tiriku dari pernikahan kedua papaku. It means, ia sama sekali tak ada hubungan darah denganku. Ia hanya anak dari mama tiriku. Ia adalah Mischa, ia lahir dari perempuan kedua yang dicintai papaku, perempuan setengah bule yang menetap 10 tahun di Jogja dan kembali ke Australia setelah menikah dengan papa. Tak heran jika Mischa dan mama tiriku juga sangat fasih berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Ia adalah Mischa, Mischa yang beberapa bulan ini berhasil menyita perhatianku. Jujur, semenjak aku mengenalnya, aku mulai melupakan sosok Genta…masa laluku, lelaki yang meninggalkanku di hari pernikahan karena seorang perempuan yang mengaku hamil datang di hari itu. Petir dan rasa sakit yang menggelegar di hatiku, perlahan namun pasti menghilang karena kehadirannya, kehadiran seorang Mischa. Brownies berusia 18 belas tahun dengan segudang prestasi “dance” nya. Ia pernah menang menari hip-hop, shuffle dance, break dance, robot dance, dan yang paling mencengangkan adalah…ia juga pandai menari ballet. Point yang terakhir bukanlah tarian yang mudah, karena setahuku, ia yang memutuskan menekuni ballet harus rela dengan diet ketat setiap harinya, karena dengan bertambahnya berat badan, maka kelenturan tubuh pun akan berkurang. Dan aku sama sekali tak menyangka, sifatnya yang cengengesan itu sama sekali berbeda dengan semua rutinitasnya. Ia saat ini kuliah di University of Melbourne, mengambil fakultas Bachelor of Fine Arts (Major in Dance) dan yang kutahu, itu adalah salah satu fakultas seni tari terbaik di Australia. Ia juga punya sanggar tari, kepiawaian dan segudang prestasi yang dimilikinya tak pelak membuatnya mudah mencari pelanggan yang berminat dengan tari. Belum lagi didukung dengan wajah dan senyumnya yang ajaib. Oh iya, aku lupa bilang kalau tubuhnya juga sangat sangat atletis. Hampir setiap hari ada saja telepon berdering dari cewek-cewek seusianya. Tak jarang pula mereka datang ke rumah mengajaknya berkencan. Dan entah kenapa ia selalu menggunakanku sebagai tamengnya.

“I am so sorry, I have a girl friend now..actually she is not only my girl friend, but also my fiance.”

Biasanya kalau sudah begini, dengan segera ia merangkul pundakku untuk menutupi kepura-puraannya. Dan si cewek-cewek centil itu percaya saja perkataannya. Aku mengumpat sejadinya kalau ia sudah begini. Kurang ajar sekali ia, cowok 18 tahun itu berhasil mengerjai aku yang notabene 4 tahun di atasnya. Huh, sebal!

Dan kejadian lain pun tak kalah menyebalkannya. Ia yang pura-pura mabuk mendatangi kamarku dan bilang…

“Hi Cinta…I have to tell you right now about my feelings…I’ve loved you since the day we met in the Airport. I knew you since I was a child..but I had to hide it, ’cause I was too afraid of losing you.”

Lalu ia ambruk setelahnya. Meski ada yang janggal waktu itu karena ia jarang sekali mabuk, dan saat itu, aku tak mencium bau alkohol dari mulutnya. Apakah ia pura-pura mabuk waktu itu? Apakah itu caranya menyatakan cinta? Atau…ia hanya berniat mengerjaiku saja?

Sejak saat itu, semua tentangnya mulai menyita perhatianku. Aku mulai menulis di blog tentangnya. Aku menuliskan cerita fiksi tentangnya. Seorang dancer muda berbakat. Tak jarang aku menulis fiksi tentang bagaimana selama ini ia menyita perhatianku. Dan ternyata followers-ku semakin bertambah semenjak hari itu. Mereka penasaran dengan sosok dancer ini. Dan demi kepuasan pembaca setiaku, aku mulai menguntit Mischa. Kadang, aku meminta secara langsung untuk diajak ke sanggar tarinya, aku bilang padanya kalau ini adalah harga yang harus ia bayar karena aku harus berpura-pura menjadi pacarnya. Kadang, jika ia tak mengijinkanku ikut, aku akan membuntutinya. Aku ikuti kemana pun ia pergi demi kepuasan pembaca blog-ku. Aku menemukan hal yang unik, hal yang tak biasa dari seorang Mischa. Aku pernah menemukannya di sebuah panti jompo, ia berbaur di antara nenek-nenek dan kakek-kakek yang bahkan tak dikenalinya. Ia akan menghibur mereka dengan sebuah dance. Lalu bermain gitar, bakat baru yang kuketahui darinya saat itu. Lain hari, aku menemukannya di sebuah toko buku. Ia memborong semua buku untuk Elementary School, hampir satu mobil penuh buku itu ia bawa di mobilnya, aku penasaran sekali, untuk apa ia beli buku sebanyak itu? Penasaran membuatku menguntitnya lagi. Kala itu, kutemukan ia berada di sebuah sekolah yang lusuh dan hampir tak layak lagi disebut sekolah. Ia pulang setelah memberikan buku-buku itu. Dan aku tahu satu hal, setelah bertanya pada salah satu murid di sana, bahwa Mischa adalah malaikat mereka…

“He’s Β like an angel for us. He loved us, so did we. He said, if we love him, we have to study hard everyday… And we will do every single words he said, sincerely.”

Di sudut lain, aku juga pernah menemukannya di depan kedubes Australia 04 November 2016 lalu. Ia ternyata ikut demo perihal kitab suci agamaku. Waktu kutanya, kenapa ia ikut? Ia bilang…

“I am touched…I am a moslem like you. I thought, I did not do anything wrong, did I?

Jawabannya cukup membuatku kaget. Aku yang muslim tapi aku juga tidak ikut demo. Tapi…ia yang kusangka cengengesan malah membuatku tercengang.

Aku merasa semakin tak bisa menyembunyikan rasa kagumku. Karenanya, aku secara serius memintanya untuk berpacaran dengan gadis lain. Saat itu, ia menanyakan satu hal padaku. Apakah jika ia berpacaran, aku akan bahagia? Aku mengangguk mantap waktu itu, aku tentu akan bahagia jika ia memiliki seorang kekasih. Tak kusangka ia menurut saja, satu hari setelahnya, ia berpacaran dengan seorang gadis cantik, ia mengenalkan gadis itu padaku lalu bilang, apa kau sudah bahagia sekarang? Hhhhh…sejujurnya, waktu itu aku hancur, aku tak bisa menahan cemburuku waktu ia merangkulnya, memberi ciuman mesra di keningnya. Entah kenapa aku berharap, akulah yang menjadi gadis itu…Aku menyesal, kenapa aku tak bilang saja kalau aku menyukainya? Aku…aku…aku…

“Teng teng teng…12 x” alarm jam tanganku sudah berbunyi. Sengaja aku pasang untuk menandai bahwa hari ini telah berakhir. Sekarang sudah tanggal 01 Januari 2017. Aku tak memperpanjang visa-ku lagi. Aku ingin pulang. Aku ingin lupa dengan Mischa. Oh Tuhan, ternyata patah hati dua kali itu begini rasanya. Sangat menyesakkan! Aku ingin menangis…menangis sejadinya tapi aku tak bisa.

“Mama…aku sudah mendatangi semua tempat di novel Winna Effendi. Aku sudah ke Prudence Cafe…dan benar, di sana tempatnya sangat vintage seperti yang diceritakan Winna. Aku sudah ke St. Kilda Beach…lampu-lampu yang menghiasi pantainya sungguh indah di malam hari. Aku sudah ke Vic market membeli jam donut seperti yang dilakukan Max dan Laura, aku suka rasanya, sungguh lezat dan lembut di mulutku. Aku sudah ke State Library…mencari dan menemukan buku-buku sejarah tentang Australia, itu menambah wawasan dan aku ingin berkunjung ke sana lagi kelak. Aku juga berhasil berburu vinyls dan VCD lawas di Dixons Recycledalhamdulillah aku puas. Dan malam ini, aku ke Rooftop Cinema, menonton film di atas gedung ternyata sangat sangat menyenangkan. Aku bebas serasa terbang bersama malam menuju ke angkasa bersama bintang-gemintang yang berkilauan di atas sana. Saat ini sungguh terasa terang sekali.

Tapi…aku melakukan semuanya sendirian, mama. Tak ada Genta. Tak ada Mischa. Aku sendirian. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Mischa…Mischa…Mischa…bisakah kau datang sekarang? Bisakah kau putus dengannya? Bisakah kau juga punya perasaan yang sama denganku? Bisakah kita bersama? Bisakah kau mengajakku menari? Aku sungguh ingin menari bersamamu! Musim panas ini, haruskah kulalui dengan sendiri?”

Aku menangis…sendirian. Setelah mengatakan semua beban di hatiku. Aku tak tahan dan jatuh terduduk.

Entah kenapa aku tak merasa sendiri. Apa karena ini malam tahun baru? Begitu banyak manusia merayakan suka-cita, jadi aku tak merasakan sendirian. Tapi…perasaan ini kian menajam, aku yakin, saat ini ada seseorang yang memperhatikanku dari belakang. Apakah itu kau, Mischa? Ah, mana Mungkin! Tapi…langkah siapa itu? Kenapa langkahnya kian mendekat?

Ia mendekat. Mendekat. Mendekat. Dan semakin mendekat.

Aku merasakan seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku yang terduduk spontan kaget dan menoleh ke belakang.

“Ini aku, jangan menangis, kau tidak akan sendirian lagi di tahun baru ini, aku akan selalu ada untukmu.”

Lelaki itu akhirnya muncul. Lelaki dengan tubuh atletis dan senyum paling ajaib. Lelaki yang membuat perasaanku tak karuan hampir 9 bulan ini. Lelaki brownies yang mampu membiusku dengan semua kata-katanya. Lelaki itu…

“Mischa…kau”

Ia menaruh jarinya di bibirku sebelum aku sempat melanjutkan…

“Would you dance with me, Cinta?”

Aku tersenyum sambil menangis dibuatnya. Kali ini, ia berdiri duluan dan mengulurkan tangannya yang kekar. Aku menyambut uluran tangannya. Dan dalam sekejab, ia mengajakku berputar dan menari. Beberapa kali aku menginjak kakinya dan…ia hanya mengerutkan hidung tanda kesakitan.

“Apa kau bahagia sekarang?” Mischa berbisik di telingaku.

Aku mengangguk pelan.

Tak lama ia menghapus airmataku. Lalu berbisik kembali…

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Cinta. Aku mencintai gadis ini, gadis yang menari bersamaku malam ini, gadis pemilik blog Cinta1668.”

Dan begitulah…kisahku berakhir. Ia tahu semua tulisanku. Ia tahu semua ceritaku perihal dirinya yang kutulis di blog hampir setiap hari. Aku senang karena aku tak harus menceritakan betapa dalam aku mencintainya. Karena tulisanku sudah mengatakan segalanya. 😊

Iklan

28 thoughts on “Would you dance with me? – Cerpen Fiksi

    1. hehehe iya mas, lumayan, itu 2257 kata. 😁.

      karena yg di otak blm trslsaikan, maka tak bs tdur hehe. Tp hbis subuh td langsung tepar mas πŸ˜…

      Gmn mnurut mas Shiq4? Bagus ga ceritanya. 😁

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s