Hujan ( Part 4 )

That’s what real love is…

cinta

Derai hujan masih belum juga mereda. Hawa dingin mulai menyelusup masuk melalui sela-sela kecil yang bisa terjangkauinya. Seolah-olah hamparan debu yang tertiup angin, mereka berlomba dan saling mengejar ke tempat yang membuatnya paling nyaman. Andai bisa dilukiskan, mungkin begitu juga yang terjadi dengan sel-sel saraf otak Mutia. Mereka sedang berusaha keras memberitahu Mutia tentang apa yang terjadi, semua praduga mulai muncul satu demi satu membuatnya semakin gusar dan tak tenang. Lanjutkan membaca “Hujan ( Part 4 )”

Hujan ( Part 3 )

Ada apa dengan hujan?

animasi hujan

 

Tetes demi tetes embun berjatuhan dari kelopak bunga yang hampir merekah, meninggalkan sisa-sisa hujan semalam. Hawa dingin masih terasa beku di tubuh Mutia, seolah bukit es dari puncak gunung Himalaya yang tak kunjung mencair. Ia masih terpaku memandangi Ridwan dengan tatapan iba, perasaannya bercampur-aduk antara penasaran, simpati, juga kasihan. Tanpa sadar tangan lembutnya mulai mengelus-elus kepala Ridwan.

“Dimana aku, kenapa aku bisa tertidur di pangkuanmu?” Ridwan segera bangun dari pangkuan Mutia, mengusap-usap kelopak matanya.

“Kamu nggak ingat apa yang terjadi semalam?” Tanya Mutia.

Ridwan menggeleng pelan lalu mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia masih tidak sadar kalau ia berada di rumah tua yang sangat ditakutinya.

“Yang kuingat, kemarin sore itu kita ngobrol sambil jalan-jalan lalu sampai ke danau, aku meninggalkanmu karena nggak suka dengan sikapmu yang sok tahu, lalu apa ya setelah itu? Aku lupa, aduh kenapa kepalaku jadi pening begini?”

“Jadi kamu benar-benar nggak ingat sama sekali?”

“Nggak, memang apa yang terjadi setelah itu?”

“Semalam itu…” Mutia tak meneruskan kata-katanya, ia berpikir mungkin lebih baik Ridwan tidak mengingat peristiwa semalam.

“Apa?” Ridwan mengernyitkan kening menunggu jawaban Mutia.

“Semalam itu kita kehujanan, lalu berteduh di tempat ini, terus karena hujannya nggak reda juga, kita ketiduran” Nada bicara Mutia tak beraturan, sesekali matanya menerawang ke atas, mengarang cerita semalam, ia tak terbiasa berbicara bohong.

“Are you sure?” tanya Ridwan menyelidik.

“yeah, that’s all” jawab Mutia meyakinkan.

“Kita dimana?”

Ridwan mengamati sekeliling, ia baru sadar kalau ternyata saat ini ia berada di rumah tua yang selalu membuatnya trauma. Tiba-tiba nafasnya jadi terengah-engah, seperti orang yang baru berlari ribuan kilometer. Tingkahnya kembali aneh,  nafasnya semakin cepat, dan tubuhnya mulai lemas “Mutia, cepat buka pintunya. Aku mau keluar dari sini. Cepat buka pintunya!”

“Ridwan sadarlah, jangan seperti ini lagi, kamu membuatku takut,” Mutia mulai kebingungan.

“Cepat buka!” bentak Ridwan.

“Greeeeeetttttttt!” Mutia membuka pintu, tak sampai belasan detik Ridwan dengan nafas yang masih terengah-engah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya  berlari dengan sempoyongan meninggalkan rumah tua itu.

“Ridwan tunggu, Ridwan!”

Mutia mengejarnya, meski lari Ridwan semakin cepat tapi Mutia tidak mau menyerah, ia tetap saja mengejar Ridwan secepat yang ia bisa, sampai akhirnya ia melihat Ridwan jatuh tersungkur di rerumputan.

“PERGI! KUMOHON PERGILAH! PERGI KAU, JANGAN GANGGU AKU LAGI! AAAAARRRRRGGGGHHHHHHH!”

Seperti orang gila Ridwan berteriak-teriak sendirian, ia tak menyadari kehadiran Mutia yang dari tadi mengamati tingkah anehnya dari belakang.

Mutia semakin kebingungan, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Pemandangan yang sangat miris baginya, seorang Ridwan yang tampak sempurna di mata semua orang ternyata punya sisi yang lemah dan rapuh. Cukup lama ia memperhatikan Ridwan, menunggunya tenang lalu berusaha mendekatinya. Tak terasa bulir bening itu membasahi pipinya yang putih.

“Ridwan kamu kenapa? Apa kamu terluka?” Mutia mencoba mendekat, mengamati kondisi Ridwan yang memprihatinkan, wajahnya sangat lusuh, seperti orang ketakutan, tangan kanannya berdarah akibat terjatuh tadi.

“Mutia tolong aku, buat wanita itu pergi, ia menyakitiku” Suara Ridwan parau.

“Iya, aku akan membuatnya pergi, jangan takut, siapapun wanita itu, ia nggak akan berani menyakitimu selama ada aku, tenanglah Ridwan, tenang ya, ada aku di sini,” jawab Mutia iba, dan untuk kedua kalinya bulir bening itu jatuh dari matanya yang sayu. Ia memeluk Ridwan, menepuk-nepuk punggungnya perlahan.

15 menit berlalu, sepertinya Ridwan merasa nyaman di pelukan Mutia, ia seolah menemukan sesuatu, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Sesuatu yang indah dalam kebisuan yang tak dapat dilukiskan.

Kini Ridwan sudah mulai tenang, Mutia melepaskan pelukannya, membiarkan Ridwan menata kembali perasaannya. Sorot matanya kosong tanpa ekspresi.

“Terimakasih.”

Hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Ridwan, lalu pergi meninggalkan Mutia tanpa menoleh ke arahnya lagi.

Kejadian hari ini masih sangat ganjil bagi Mutia. Rasa penasaran itu semakin menjadi, seribu pertanyaan mulai berkecamuk di benaknya, tapi ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, jadi ia membiarkan semuanya berjalan seperti biasa, mengalir dalam kebisuan yang kini berdiri di antara Ridwan dan Mutia.

 

*****************************************************************

 

Sunday, 23th of March, 1986 – 18 degrees Celcius, partly cloudy.

Jakarta pagi ini dilanda mendung, aroma hening pagi mulai terusik oleh bising dan derunya lalu-lalang kendaraan.

Masih dalam kebekuannya Ridwan terdiam.

Ia sedang bermalas-malasan di depan TV. Entah untuk ke berapa kalinya ia mengganti-ganti tombol remote control, tetap saja tak ia dapatkan ketenangan, kedua kakinya yang jenjang ia benamkan dalam bantal sofa, pikirannya menerawang pada sesosok cantik yang memeluknya dua minggu lalu. Ya, meski sudah dua minggu tapi bayangan cantik bermata sayu itu masih melambung di benaknya. Ada kerisauan di hatinya, pelukan Mutia membuatnya menemukan dunia baru, dunia yang masih sangat asing baginya.

“Ah, ada apa denganku? Kenapa aku masih saja mengingat kejadian itu. Huft, menyebalkan! Kenapa kamu begitu menyebalkan Mutia!” gerutu Ridwan sambil memandangi foto Mutia di tangannya, foto yang ia ambil ketika peringatan ultahnya kemarin. Diremas-remasnya kertas foto itu lalu dibuang begitu saja, sesaat ia terdiam, lalu entah kenapa ia mencari kembali kertas foto yang telah diremas-remasnya tadi, merapikannya, dan menyelipkan kembali di dompetnya.

Sementara di sudut sana, di sebuah rumah kontrakan yang cukup sederhana, ada Mutia yang masih kebingungan.

Sejak kejadian itu, Ridwan tak lagi mau menemuinya.

“Ada apa denganmu Ridwan? Kenapa menjauhiku?” ucapnya pelan.

Pertanyaan itu sangat mengganggu Mutia, mungkin juga sudah membuncah, hingga hari ini ia memutuskan menemui Ridwan, apapun yang terjadi nanti ia tak peduli, tekadnya sudah bulat.

Perjalanan itu hanya tiga puluh menit saja, karena memang jarak rumah mereka yang tak begitu jauh.

Sepertinya tak semulus dugaan, di depan pintu, Mutia sudah dicegat pak Budi, supir keluarga Ridwan, tapi Mutia bersikeras, dengan berbagai alasan  akhirnya ia bisa memasuki rumah itu. Mutia segera ke ruang TV, ia temukan Ridwan di sana, masih duduk mematung dengan pikiran tak menentu.

“Ridwan, kenapa menjauhiku? Kenapa beberapa hari ini selalu mengelak, nggak mau berbicara denganku? Apa salahku?”

Serentetan pertanyaan itu seperti ribuan peluru yang siap ditembakkan ke tubuh Ridwan, membuatnya tak bisa berkutik. Ridwan gelagapan, ia masih kaget dengan kedatangan Mutia yang tiba-tiba terlebih lagi harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Mutia.

“Itu…itu karena kamu menyebalkan. Ya, kamu sangat menyebalkan! Dan aku nggak mau melihat wajahmu yang menyebalkan itu,” jawab Ridwan sedikit gugup.

“Aku menyebalkan, apa maksudmu?” tanya Mutia dengan nada meyelidik.

“Kamu perempuan paling menyebalkan karena kamu sok tahu, sok perhatian, aku nggak suka dengan sikapmu itu!” Ridwan mengakhiri kata-katanya dan pergi meninggalkan Mutia sendirian.

“Huft, Tuhan, berikan aku kesabaran,” ucap Mutia sembari mengelus-elus dadanya sendiri.

Gagal lagi. Mutia gagal lagi memecahkan teka-teki itu hari ini, Ridwan menjadi tertutup, sementara pertanyaan-pertanyaan di benak Mutia membuatnya semakin ingin tahu.  Ya, Mutia ingin sekali tahu, karena dengan tahu, ia yakin bisa menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan banyak kesabaran ini.

Detik demi detik terasa begitu lambat. Jam dinding raksasa yang berdiri tegak di ruang tamu itu seolah tak mau berjalan. Mereka seolah mengiringi irama hati Mutia yang tak menentu. Aroma edelwise yang melingkungi ruangan itu tak juga membuat Mutia tenang, rasanya kesabaran itu kini memekik perlahan, mulai berteriak dan sedang bertarung hebat di hati Mutia.

“Ya sudahlah, aku pulang saja, untuk apa aku di sini? Toh Ridwan nggak membutuhkanku lagi,” ucap Mutia lirih dan kecewa.

“Jangan pulang dulu nona, tunggulah sebentar lagi, sepertinya akan turun hujan, tunggulah di sini, insya Allah hujan ini akan membantu non Mutia,” kata pak Budi yang ternyata sedari tadi mengamati tingkah laku Mutia.

“Apa maksud pak Budi?” tanya Mutia.

“Tunggu saja, saya tidak bisa berkata banyak, takut salah, semoga hujan malam ini bisa menjawab kebisuan den Ridwan.”

“Aneh, ada apa dengan hujan? Kenapa pak Budi bilang hujan ini bisa menjawab segalanya? Semakin membingungkan!” kata Mutia dalam hati.

 

 

 

 

TO BE CONTINUED,,,,,,,,,,,,,,,

 

 

 

Kado untuk Ian ( Part 3 )

Bayang-bayang

3194127400                        pic by : http://www.photographer.net

Cinta PoV

Tahukah kamu apa arti bayang-bayang?

  1 ruang yang tidak kena sinar karena terlindung benda; 2 wujud hitam yang tampak di balik benda yang kena sinar; 3 gambar pada cermin, air, dan sebagainya; 4 rupa (wujud) yang kurang jelas dalam gelap; 5 gambar dalam pikiran; angan-angan; khayal; 6 tanda-tanda akan terjadi sesuatu; 7 sesuatu yang seakan-akan ada, tetapi sebenarnya tidak ada; 8 sesuatu yang sudah siap bekerja bilamana diperlukan. Lanjutkan membaca "Kado untuk Ian ( Part 3 )" 

Hujan ( Part 1 )

Mission Impossible

hujan-1

“Tuhan, aku tahu…

Semua keindahan ini juga pasti berlalu, tapi seandainya harus berlalu, aku ingin seperti hujan. Membekas indah di bunga-bunga, membasahi tanah kering, dan memberi kesejukan pada bumi setelah dahaga.

Tuhan, jika umur ini tak mampu mencukupi, berilah aku sedikit waktu lagi untuk membuat semua orang di sekitarku bahagia. Biarkan aku membekas di hati mereka…membekas dengan indah! Aamiin.” Lanjutkan membaca “Hujan ( Part 1 )”

Kado untuk Ian ( Part 2 )

Fly away my kite!

35th-Bali-Kite-Festival-Festival-Layang-layang-Bali-ke-35_1400502206

27 Juli 2014.

Flashback ke masa kecil itu ternyata menyenangkan. Baru kusadari, anak kecil berusia 5 tahun bisa lebih pintar dariku, jadi sedikit menyesal ketika kutolak tawaran Petra, adek lelakiku saat mengajakku bermain layang-layang.

Melayangan.

Adalah tradisi turun-temurun dari masyarakat Bali yang diadakan setiap satu tahun sekali pada musim angin biasanya di bulan Juli – akhir bulan Agustus untuk mengenang Dewa Siwa dalam manivestasinya menjadi Rare Angon ( Dewa Layang-layang ). Pada musim layangan atau setelah panen di sawah, Rare Angon dipercaya akan turun ke bumi diiringi dengan tiupan seruling pertanda untuk memanggil sang angin. Rare Angon berarti anak gembala, setelah musim panen, para petani terutama anak gembala mempunyai waktu senggang yang mereka gunakan untuk senang-senang. Sambil menjaga ternaknya, salah satu permainan yang sering mereka lakukan adalah bermain layang-layang. Masyarakat Bali percaya bahwa layang-layang mempunyai nilai kesungguhan yang menonjol bukan hanya sebagai benda kosong tanpa nilai, melainkan mempunyai badan, tulang dan roh. Lanjutkan membaca “Kado untuk Ian ( Part 2 )”

Gadis – Farhan ( last episode )

Chapter 5 : Mate Versus love

heather-h-cotton-1

Kemarau di bulan Mei terasa sangat terik.

Kulihat burung-burung gereja mulai bertengger di atas jendela kamarku.

Mereka sepertinya sangat menikmatinya. Seperti sedang memadu kasih, mereka mengeluarkan bunyi cericit yang cukup nyaring dan bersaut-sautan. Hmmmm, kurasa mungkin itu adalah panggilan sayang untuk kekasihnya.

Bunga mawar di kebun kecilku juga mulai bersemi, meski kulihat dari kejauhan tapi aku bisa merasakan semerbak harumnya. Lanjutkan membaca “Gadis – Farhan ( last episode )”