Bahagia yang sederhana

Temukan Cara untuk Bahagia, 1049 kata

Bahagia yang sederhana
Gambar diunduh dari Google

Ini bukan postingan perihal ulang tahun, karena ultah Cinta1668 masih lama…tanggal 22 Mei nanti. Heee ๐Ÿ˜

Ini bukan postingan tentang berbagi, karena memang…berbagi itu tidak perlu riya’ sampai-sampai musti diposting segala. Tentu Lovers tidak mau bukan, jika amalannya hanya menjadi debu yang beterbangan seperti surat di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

ูˆูŽู‚ูŽุฏูู…ู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุนูŽู…ูู„ููˆุง ู…ูู†ู’ ุนูŽู…ูŽู„ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ู‡ูŽุจูŽุงุกู‹ ู…ูŽู†ู’ุซููˆุฑู‹ุง

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Qs. Al Furqan : 23) Lanjutkan membaca “Bahagia yang sederhana” โ†’

Dejavu – Susahnya memahami hati orang

Dejavu, Susahnya memahami hati orang, 1022 kata

Danbo kecil yang malang, sudah hujan-hujanan, sendirian, terkena cepretan air dari motor yang lewat pula, du du du duuuu, kasihan ๐Ÿ˜ข. Gambar didownload dari : http://www.klonlog.com

12 Februari 2017 at 02.43 pm

Dear diary,

Beberapa menit yang lalu, ada kejadian kecil yang membuatku tersenyum. Seharusnya aku marah, namun aku tak sempat melakukannya,ย diary, sungguh. Aku malah berjongkok sebentar dan bertanya pada si rambut keriting, bertubuh kurus dengan senyum manis dan berkulit tak hitam dan tak putih itu,

“Bibah sayang, apakah terkena basah di baju atau celananya?”

Si kecilโ€”keponakanku berusia 5 tahunโ€”menggeleng pelan dan tersenyum manis seperti biasanya. Lalu kami melanjutkan untuk kembali berjalan.

Syukurlah, senyumnya membuatku tenang, aku senang.

Kakiku saja terkena cepretan air sampai ke celana, bagaimana si kecilku tidak? Tentu saja ia juga terkena cepretannya, bukankah? Tapi si kecil ini sungguh pintar diary, ia salah satu kesayanganku karena tingkahnya yang pendiam dan pengertian sangat cocok dengan perangaiku yang cerewet dan tak bisa diam. Lanjutkan membaca “Dejavu – Susahnya memahami hati orang” โ†’

Lupa (Cerpen Fiksi)

Aku masih berdiri di bawah senja yang sama. Di bawah jingga yang sama. Juga di bawah temaram yang sama. Saat lembayung senja mulai mengirimkan pasukan merah saganya, mengusir sore hari dengan paksa dan menggantinya dengan malam yang pekat juga dingin yang tak lagi bersahabat.

Tepat tiga tahun lalu, aku sangat menyukai jingga ini, siluet pantai ini, suara ombak ini, gemerisik pasir ini, dan angin sore ini. Lanjutkan membaca “Lupa (Cerpen Fiksi)” โ†’

Tak Bisa Tidur

Dini hari ini yang dingin, kucoba membuka jendela kamarku dan hembusan angin kurasakan getir menyentuh kulitku, bertambah dingin.

Sengaja! Aku ingin hatiku beku…karena dengan beku aku tak bisa merasakan apapun lagi, termasuk “cinta”.

Mungkin aku salah memakai nama “Cinta” di WordPress ini. Ya, mungkin begitu, mungkin nama ini terlalu berat untukku, aku jadi pecandu cinta yang tak berhenti memikirkannya juga tak bisa mencintai yang lain. Lanjutkan membaca “Tak Bisa Tidur” โ†’

Dua Dunia ( Awan – Putih )

Cerpen Dua Dunia (Awan-Putih), 2474 kata

sweet_girls_illustration_on_romance_novel_cover_bi1347-tile
pic by : http://www.wallcoo.com

Tanpa Awan, tanpa Putih, apa pelangi akan tetap muncul dari langit sana? Atau malah hujan yang akan mengguyur tubuhku yang sudah tak berdaya ini? Bukan karena sakit, bukan juga karena rapuh, aku hanya merasa kehilangan pegangan tanpa mereka, Awan Putih-ku!

Penat yang kurasakan hampir tiap malam kini semakin menjadi, aku benar-benar sering sakit kepala akhir-akhir ini, aku tak tahu kenapa, ada sedikit ketakutan di hatiku, mama dan juga teman menyarankan untuk di-scan, terkadang mereka menakutiku dengan vertigo, kanker, hipertensi…

Ah, sudahlah, benar-benar tak ingin membahasnya. Aku pasti baik-baik saja, iya kan Tuhan?

Hmmm, harum sekali aroma cokelat ini, ini aroma kesukaanku, upโ€™s tapi ini bukan aroma dari roti atau butter cream, ini aroma handbody lotion-ku, aroma chocolate yang mengingatkanku padanya. Lanjutkan membaca “Dua Dunia ( Awan – Putih )” โ†’

H minus 6

mendengarkan-headseatPic by Google

Ada saat untuk cinta,

Ada saat untuk cita,

Ada saat untuk asa,

Satu demi satu bermunculan ke permukaan, membiaskan sejuta mimpi dan harapan,

Menawarkan bahkan membius dengan rona-rona wajahnya yang rupawan.

Lama harus menyadarinya...

Tapi hari ini,

Ketika mentari lebih bersinar dari biasanya,

Ketika suara burung lebih nyaring dan merdu,

Ketika langit membentuk kawanan domba-domba putih lengkap dengan penggembalanya,

Ketika hujan rintik tiba-tiba muncul dengan sedikit sengatan mentari. Ya, ini pelangiku! Pelangi yang Tuhan ciptakan khusus untukku, untuk menjemputku.

Lanjutkan membaca “H minus 6” โ†’

Gara-gara Batik

Cerpen gara-gara batik, 4012 kata

Ini satu-satunya cerpenku yang pernah aku ikutkan lomba ( lomba cerpen kebudayaan 2013 lalu yang diadakan oleh PPI Yaman, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Yaman ), dan hasilnya, tadaaaaaaa! Nggak menang ^__^>.
Tapi waktu itu, seseorang yang sudah kuanggap adek berinisial LS bilang, “Tenang aja ka, meskipun nggak menang, tapi karya kakak dibukukan bersama 29 karya terbaik lainnya.”
Hihi, syukurlah. Saat aku membuatnya, aku harus melakukan pengamatan langsung, dan perlu nara sumber untuk bertanya perihal kain yang digunakan untuk membatik, apa saja nama yang mereka gunakan untuk setiap gambar yang mereka tulis dengan malam lilin yang menurutku lucu, unik, dan kreatif, juga bagaimana proses pembuatannya.
Semoga yang membacanya nanti bisa mengenal “Batik”, salah satu hasil kebudayaan leluhur dari kota kecilku, Pekalongan. Aamiin.
Langsung saja yuks!

Lanjutkan membaca “Gara-gara Batik” โ†’