Mencintai Takdirku (Cerpen Fiksi)


Ini adalah cerpen terbaru saya yang alhamdulillah masuk 50 nominator terbaik lomba SCMI 4 (Sayembara Cerita Mini Internasional) di Yaman. Karena hanya dibukukan di Yaman dalam buku antologi, ada baiknya aku bagi dengan pembaca. Selamat membaca.


Sumber : dari sini

Sekolah Kapal. Begitu mereka menyebutnya. Ya, memang benar adanya, dinamakan Sekolah Kapal karena tempat ini berdiri di atas sebuah sungai besar dengan pemandangan kanan-kiri air, bukit, juga pepohonan hijau. Jangan dibayangkan ada televisi ataupun listrik, sinyal ponsel saja susah didapat.

Transportasi di sini menggunakan perahu kecil yang ditarik dengan mesin dan hanya datang tiga kali dalam seminggu: Senin, Rabu, dan Jumat. Belum lagi jika ada badai. Hmmm… hampir semua area yang terbuat dari kayu dan bambu ini habis terseret angin. Dan kalau itu semua sudah terjadi, terpaksa aku dan keenam muridku yang membenahinya kembali. Oh iya, kita belum berkenalan, ya? Aku sudah berbicara panjang lebar saja. Maaf, maaf.

Namaku Cinta. Nama panjangku, ya… Cinta saja. Mungkin kedua orang tuaku ingin aku menjalani kehidupanku dengan cinta, maka beliau berdua menamaiku demikian, bisa jadi. Aku peraih beasiswa LPDP Pascasarjana, tepatnya program Magister 2016 silam. Dan kalian bisa tebak, setelah lulus dari University of Melbourne, aku harus melakukan pengabdian terhadap Indonesia. Dan sesuai janjiku, aku memilih bagian Timur Indonesia sebagai tempatku mengabdi.

Jika kau tanya bagaimana aku bisa bertahan di sini? It was a long story. Mulanya, aku juga sama seperti guru lain, hampir tidak kuat, setiap akhir pekan ingin rasanya aku melarikan diri, tetapi aku ingat kembali sumpahku, Indonesia telah membayar dengan sempurna semua biaya kuliahku, dan itu bukanlah angka yang sedikit. Jadi, mau tidak mau, ya harus mau, bahkan harus dipaksa mau.Setidaknya satu tahun aku harus bisa bertahan di sekolah kapal ini.

Biar aku ceritakan sedikit tentang kisahku.

Hari pertama, aku bingung, kenapa tidak ada yang datang untuk bersekolah ya? Ingin bertanya, tetapi kepada siapa? Rumah warga terletak berkilo-kilo meter dan terpisah sungai dari sekolah ini. Ingin menelepon, tidak ada sinyal. Akhirnya aku menganggur sekitar 3 hari lamanya. Sampai datanglah sebuah perahu kecil mampir ke sekolah ini.

Saat aku bertanya, si tukang perahu malah bertanya balik,
“Memangnya sudah dijemput?”

Seketika itu aku tahu. Oh, jadi begitu. Harus gurunya yang aktif, OK siapa takut?

Aku kira, akan ada 10-15 anak yang akan belajar di Sekolah Kapal ini, ternyata hanya 6 anak usia SD. Itu pun… kemampuan mereka sangat berbeda dari anak sebayanya. Agak bingung aku harus menggunakan metode apa. Lalu, aku ingat aku pernah membaca bahwa anak usia 7-13 tahun masih memerlukan metode konkret/nyata, karena jika abstrak mereka akan kebingungan bagaimana membayangkannya.

Untuk pelajaran Sains, aku biasanya mengajak anak-anak belajar di perbukitan, mengenal lingkungan biotik dan abiotik. Aku menggunakan metode story telling, lalu sistem belajar sambil bermain juga aku terapkan. Itu semua karena aku kembali teringat kata-kata dosenku dulu…anak-anak seusia mereka hanya bisa bertahan fokus di 10-15 menit saja, selanjutnya akan terjadi pengalihan perhatian. Begitu kata beliau.

Untuk pelajaran Matematika, aku menggunakan metode soal cerita, tentunya dengan contoh benda nyata juga. Jika ada soal berhitung, aku gunakan batu, daun kecil, atau ranting kering yang sama ukurannya untuk memudahkan mereka berhitung. Dan untuk latihan membaca…ini nih bagian tersulit. Aku harus membuat mulutku semonyong mungkin untuk huruf O dan U, bahkan sesekali mengeluarkan lidah untuk huruf L, dan membuka lebar-lebar mulutku untuk huruf A.

Anehnya, aku semakin tertarik dengan ide-ide mereka juga keberanian mereka. Aku tidak mengedepankan prestasi untuk mereka. Aku bilang, menang atau kalah itu hal biasa, yang penting kalian sudah mencoba. Sudah berani menunjukkan kemampuan, itu juga bu Cinta sudah bahagia. Dan aku tidak menyangka saja, anak-anakku, maksudku murid-muridku menjadi lebih legowo dengan membawa prestasi yang mencengangkan.

Kamu tahu, pembacaku? Saat ini aku sedang apa?

Aku sedang menunggu salah satu murid dari Sekolah Kapal. Namanya Lastri. Si manis berambut ikal ini sedang mengikuti lomba pidato tingkat Nasional di acara peringatan HUT RI ke-73. Yang membahagiakan hatiku adalah, ada bapak Presiden bertepuk tangan bangga sambil tersenyum ketika Lastri membaca pidato itu.

Meski hasil akhirnya…

“Yaaa…tidak menang, bu Cinta, maaf ya bu.” Kata-kata lugu yang keluar dari mulutnya itu benar-benar membuatku sedih.

“Tidak apa-apa sayang, yang penting sudah mencoba. Kemarin, Lastri sudah mengalahkan 2000 peserta lomba supaya bisa sampai ke tempat ini, “kataku sambil membenarkan kerah bajunya, “tidak apa-apa, bu Cinta bangga, anak ibu jempolan!”

Seketika sedihnya hilang. Kini gadis manis itu sudah tertawa dan memperlihatkan lesung pipinya.

***

Sudah dua tahun aku di Sekolah Kapal, ada satu hal yang membuatku ingin tetap di sini. “Ketulusan.” Sorot mata mereka, mereka anak-anak lugu dan polos dengan berjuta-juta ide brilian di kepala. Mereka butuh aku. Kalau bukan aku yang memulainya, siapa lagi?

Note :

It was a long story : itu cerita yang panjang.

Legowo : sikap menerima

13 respons untuk ‘Mencintai Takdirku (Cerpen Fiksi)

      1. Daripada sekedar iba, mending ikut komunitas mba Dea, biasanya di kampus2 diadakan komunitas mengajar anak2 jalanan, seminggu 2x. Di Jakarta bnyak, tapi sayang, di Pekalongan, akademisinya kurang concern untuk masalah itu.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s