Ngetrip ke Hutan, Siapa Takut?


Apa Manfaat Hutan Bagimu? 803 kata.


“Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku. Kulari ke pantai, kemudian teriakku.”

Teman-teman masih ingat kutipan di atas, tidak?

Pasti masih dong ya?! Yups, benar sekali, itu adalah puisi AADC 15 tahun lalu yang sempat viral dan mem-booming. Aku sendiri sih, tidak berniat untuk memviralkannya lagi. Akan tetapi berhubung kutipan itu hampir mirip dengan tema dari tulisanku, so why not?Β Tidak ada salahnya juga kalau kuangkat lagi. πŸ˜€

Eh tapi kalau dibolehkan, aku mau merevisinya menjadi…

“Kulari ke hutan, kemudian teriakku. Kutelusuri hutan, kemudian bersyukurku. Kuhirup udara hutan, akhirnya sembuh penyakitku. Kuterjatuh di hutan, kemudian bertambah semangatku. Kucapai puncak gunung di antara hutan-berhutan, kemudian tertawalah bahagiaku.”

Berawal dari ketidaksengajaan, akhir 2017 lalu, aku pergi ke hutan, tepatnya di Taman Nasional Gunung Merbabu. Aku yang notabene masih pemula ini, nekad naik gunung karena nasehat dari seorang dokter spesialis karena batuk alergi debu yang kuderita hampir empat bulan tidak kunjung sembuh. Kata pak dokter berusia paruh baya dengan kacamatanya dan tampak berwibawa itu, “Sana cari udara sejuk, biar tidak bolak-balik ketemu saya terus.”

Dan berbekal nasehat itu, aku dan tim (mas Ridho, mas Salman, mas Zaenal, mas Helmy, mbak Tini, mbak Atik) mendaki Gunung Merbabu. Tentang pendakiannya yang super-duper heboh bagi aku yang pemula ini, kamu bisa baca lebih lanjut di sini.

Ada banyak manfaat dari ngetrip ke hutan yang kudapat, antara lain :

1. Belajar sabar

Jalan di hutan yang tidak mulus dan berliku itu merupakan ujian kesabaran loh, teman-teman. Jalan licin, jalan berkerikil, jalan berbatu besar, jalan berlumut, jalan dengan tanah menggumpal dan banyak lubang, juga jalan sempit dengan pemandangan di kanan-kiri jurang itu sesuatu sekali. Tetapi yakinlah, semua ujian jalan yang tidak mulus dan berkelok-kelok itu merupakan ujian kesabaranmu. So, biar dapat nilai 100, jalani saja, pasti sampai puncak koq! Dan pasti asyik!

Dokumen Pribadi Cinta1668 (please, abaikan wajahku yang menghitam karena melawan cahaya matahari itu)πŸ˜…

2. Belajar memelihara alam sekitar hutan.

Di gunung Merbabu, banyak sekali terdapat bunga Edelwise. Bunga yang dijuluki Everlasting Flowers atau bunga Abadi itu tersebar di antara jalan pendakian. Aku yang baru menemuinya tentu saja sangat tergoda untuk memetiknya, tetapi tidak boleh, karena bunga ini dilndungi oleh Pemerintah. Hampir saja aku yang tidak tahu-menahu ini memetiknya, tetapi sebelum menyentuh, sudah dinasehati oleh timku.

“Bunga Edelwise dilindungi oleh Pemerintah, tidak boleh dipetik, ambil saja yang sudah jatuh kalau mau, atau berposelah semaumu di depan bunga itu, tetapi jangan dipetik, tidak boleh.”

Tapi sayang, aku malah lupa memfotonya. *Sedih. πŸ˜”

Ada juga larangan membuang tempat sampah di puncak gunung Merbabu, loh teman-teman. Ini nih fotonya. So, jangan lupa, masukkan sampahmu ke plastik, taruh di tas masing-masing ya, jangan mengotori!

Dokumen Pribadi Cinta1668

3. Mendapatkan lebih banyak asupan udara sejuk

Teman-teman tahu tidak, setelah melalui tiga hari pendakian, batuk alergiku langsung sembuh, bahkan tidak bersisa sama sekali. Tentu, hal ini tidak lain dan tidak bukan terjadi karena di hutan banyak sekali pepohonan yang memproduksi oksigen dalam jumlah yang sangat besar. Coba bayangkan kalau tidak ada hutan, kalau tidak ada pepohonan? Masihkah kita bisa bernafas?

4. Rumah bagi flora dan Fauna.

Kalau kita punya rumah tinggal di kota atau desa sebagai tempat bernaung, maka bagi hewan dan tumbuhan, hutan adalah rumah mereka. Beberapa satwa yang kutemui di sepanjang pendakian adalah : kera liar, ular, semut, dan burung liar. Nah, makanya, kelestarian hutan itu penting, kalau hutan sering digunduli, kemanakah akan perginya hewan-hewan liar itu kalau tidak ke pemukiman penduduk? Intinya, kalau tidak mau diganggu, ya jangan mengganggu. Dengan tidak merusak hutan, hewan liar akan tetap berada di habitat terbaiknya, yaitu hutan. Dan pemukiman penduduk yang dekat dengan hutan akan tetap aman.

5. Mencegah Bencana Alam.

Pada hari pertama pendakian kami, terjadi hujan. Namun tidak seperti hujan di dataran rendah, di mana airnya akan lama sekali menghilang setelah hujan reda, di hutan, dalam waktu setengah jam saja setelah hujan reda, tanahnya langsung kering. Hal ini terjadi karena air-air bekas hujan tadi diserap oleh akar pohon-pohon yang ada di hutan. Kemampuan menampung air oleh tumbuhan inilah yang menjadikan hutan mampu mencegah bencana alam.

6. Tempat Wisata

Tidak ada yang memungkiri bahwa pesona hutan selalu menggiurkan. Kamu harus tahu, untuk mendapatkan angle terbaik dan eksotis di hutan, bukanlah hal yang mudah, tapi pengalamanku mengatakan…”kamu tidak akan pernah menyesal telah mendapatkan momen spesial itu, trust me!”

7. Menakhlukkan diri-sendiri

“Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah”

Petikan hadits Rasulullah tersebut akhirnya menutup tulisan ini. Dari hutan-berhutan itu, aku belajar menahan amarah, rasa malas, putus asa, dan hampir menyerah karena rasa lelah.

Dan setelah mencapai puncak, aku baru tahu, aku tidak sedang menakhlukkan hutan atau pun gunung. Aku hanya sedang bertarung pada bagian dari diriku-sendiri sekuat tenaga. Itu bagian tersulit, memang, tetapi bukan berarti tidak bisa, bukan berarti tidak mungkin!

Dokumen Pribadi Cinta1668

 

Kalau kamu, iya kamu, yang pernah ke hutan, manfaat apa sajakah yang kamu dapatkan dari ngetrip ke hutan? Yuk bagi denganku? πŸ˜‰

****************************************

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway #CeritaDariHutan. Yuk, klik link-nya dan ikutan!

^__*

40 respons untuk β€˜Ngetrip ke Hutan, Siapa Takut?’

    1. Haha, rumahmu deket hutan to, Layangseta? Wuah punya ternak juga? Wuih ketje! *__*

      Hu um, karena dilindungi, ya…mungkin akhirnya jadi sadar sendiri. Menurutku sih. 😊

      Aku dulu sering nitip diambilin bunga Edelwise sama teman pendaki Gunung, tapi pada suatu saat dia tidak mau dan bilang…”sekarang tidak boleh diambilin, sudah dilindungi”
      Sejak itu, aku tidak pernah menerima hadiah Edelwise lagi. 😒

      Disukai oleh 1 orang

      1. justru kampung adalah tempat kembali ketika penat telah memuncak…aku saja sering merindukan kampungku di Pekalongan. 😊

        Yups, betul sekali. Btw, Layangseta tinggal di mana?

        Disukai oleh 2 orang

    1. Haha, ada-ada saja mas Hendri.

      Ya…kalau tumpukan skripsiku itu bisa dikatakan gunung, ya bolehlah, aku memang mendaki gunung yang namanya skripsi dengan puncaknya yang bernama dospem dan dospemtek. πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sama sama 😊
        Udah 8 tahun an sejak terakhir ke sana, awal awal pos 2 rame banget banyak yang jualan, terakhir sepi… Iya ya, naik gunung sama juga jelajah hutan 😁

        Disukai oleh 2 orang

  1. Kalo aku, ke hutan buat refreshing. Tapi poin nomor 7 itu yg tersulit. Karena kadang takut nanti ada apa2 di hutan. Pikiran kadang ke mana2: nanti ada hantu, nanti ada harimau, nanti mau makan apa. Hehehe.

    Disukai oleh 3 orang

    1. hehe emang sih mbak Grant, pikiranku jg smpat parno, tapi kan kita satu tim, dan percaya deh, tim pendakian ga akan meninggalkan teman lainnya, mereka solid meski ada yang baru kenal, itulah spesialnya anak gunung 😊

      Disukai oleh 1 orang

    1. dibiarin lewat aja wong ga mengganggu koq. Tapi pas liat kera liar, mreka agak menggangu, ada 3 ekor kera liar yang menghalangi jalan kami dan hampir menyerang, mkanya timku membawa kayu agar si kera ga berani menyerang, bukan untuk memukul, hanya agar mereka pergi saja.

      Btw, keranya unyu loh, andai saja mereka jinak πŸ˜•

      Disukai oleh 1 orang

  2. Kayaknya asyik naik gunung, jadi pengin. Sekarang banyak juga yg suka mendaki gunung, hanya saja banyak diantara mereka naik gunung biar dibilang keren. Kalau itu si gk bgtu ke masalah so itu urusan pribadi. Tapi yg jadi masalah adalah pendaki gunung yang tidak menyayangi lingkungan, seperti membuang sampah sembarangam dll.

    Disukai oleh 2 orang

    1. haha, naik gunung itu ga ada keren2nya mas Juman. Naik gunung itu dekil krn 2-3hari bs ga mandi, capek krn istirahat plg cuma 5mnt, dan yg plg parah ga ada airm So ga ada keren2nya, tp bnr2 prjuangan buat survive, kl mnurut saya sih.

      Saya rasa para pndaki sudah punya kesadaran utk buang sampah di plastik, insya Allah ga ada yg bgtu. 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s