Review Novel Bumi yang Subur a.k.a. The Good Earth


Review Novel Bumi yang Subur, 1096 kata.


Bagiku, setiap buku yang telah selesai kubaca menjadi bernyawa. Mungkin itu sebabnya setelah selesai membaca buku ini hampir sebulan lalu tanpa me-review-nya, aku tidak bisa tenang. Sang buku seolah-olah berteriak-teriak di telingaku. Ia meminta haknya untuk segera ditunaikan. Ia minta di-review agar lebih banyak orang yang tahu tentangnya. Oke, aku akui ini sedikit lebay. Hehe ^__^>

Bumi yang Subur a.k.a. The Good Earth adalah sebuah novel karya Pearl S. Buck yang diterbitkan pada tahun 1931 dan dianugerahi penghargaan Pulitzer untuk novel pada tahun 1932. Novel ini adalah buku pertama dalam sebuah trilogi yang meliputi Wang Si Macan (1932), dan Runtuhnya Dinasti Wang (1935).

Novel ini telah terjual habis dalam waktu singkat, menuai banyak pujian dan penghargaan dari banyak kalangan. Puncaknya saat memenangkan hadiah Pulitzer 1932 dan diterjemahkan ke dalam lebih dari tiga puluh bahasa serta menduduki tempat terhormat di gedung sandiwara dan gedung  bioskop. Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang petani Cina pada  abad kedua puluh, di masa pemerintahan kekaisaran terakhir sehingga terjadi pergolakan politik dan sosial secara besar-besaran yang menyengsarakan rakyat jelata.

Langsung saja, di bawah ini review-nya. 👇👇👇

*****************************************

Good-Earth-01
Gambar diunduh dari Google

IDENTITAS BUKU

Judul                   : Bumi yang Subur a.k.a. The Good Earth

Penulis               : Pearl S. Buck

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN                  : 978-979-22-4105-1

Cetakan            : Oktober 2008

Tebal                 : 512 halaman

 

SINOPSIS

Kisah ini tentang keluarga Wang – Keluarga Petani Cina yang mendapat kemuliaan dari tanah yang diolahnya. Wang Lung mencintai tanahnya melebihi keluarga dan dewa-dewanya. Dan tanah itu telah membalas rasa cintanya, dengan membuat hidupnya menjadi makmur dan kaya-raya.

Wang Lung, mulanya seorang petani muda dengan kehidupan yang sederhana, yaitu menggarap sawah yang tidak seberapa luasnya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari bersama ayahnya yang sudah tua. Begitu miskin kehidupan yang dijalaninya, bahkan untuk minum teh dan makan nasi saja terlalu mewah. Minum teh seperti minum perak, makan nasi hanya untuk pesta, begitu kata ayahnya, maka ia dan ayahnya hanya memakan bubur saja untuk sarapan.

Cerita awal dikisahkan pada hari pertama pernikahan Wang Lung dengan seorang budak perempuan dari sebuah keluarga tuan tanah, keluarga Hwang. Wang Lung yang biasanya jarang mandi, hari itu untuk pertama kalinya sejak setahun lalu memutuskan untuk mandi pagi-pagi benar. Pertama kali berjumpa dengan  istrinya, ia merasa perempuan itu tidak cantik sama sekali. Badannya kekar dengan tulang pipi menonjol, kulitnya cokelat dan kakinya besar karena tidak diikat seperti kebanyakan perempuan Cina pada umumnya. Tapi apa daya, karena dirinya hanya seorang petani miskin, maka ia hanya mampu membayar mas kawin untuk menebus seorang budak perempuan saja.

Perkawinan dengan budak bernama O-lan memberinya 3 anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. O-lan adalah sosok perempuan yang kuat, rajin, pekerja keras, dan tidak banyak berbicara. Bahkan O-lan termasuk perempuan kuat dan mandiri dengan hamil, melahirkan putra-putri tanpa bantuan siapa pun dan langsung bekerja di sawah selepas melahirkan.

Kehadiran O-lan rupanya menjadi salah satu keberuntungan bagi Wang Lung. Bagaimana tidak, O-lan yang sudah terbiasa bekerja keras di rumah keluarga Hwang itu bahkan setelah menjadi istri pun tak pernah mau tinggal diam. Ia memberikan sumbangsih tenaga yang tidak kecil untuk pertanian Wang Lung. Dengan demikian, sedikit demi sedikit simpanan Wang Lung semakin bertambah.

Wang Lung adalah seorang petani yang cerdik dan penuh perhitungan, ia sadar bahwa kekayaan berupa uang dan perhiasan tidak akan berguna, malah bisa mengundang perampok. Maka ia mulai membeli tanah Keluarga Hwang yang terkenal subur namun tak terurus karena kemalasan keturunan Hwang yang hanya bisa menghamburkan warisan kekayaan keluarganya. Sedikit demi sedikit, tanah Wang Lung mulai meluas, namun hal tersebut tidak merubah pola dan cara hidup Wang Lung sekeluarga yang tetap sederhana.

Tidak selamanya dewa Bumi berpihak pada Wang Lung. Suatu ketika, kekeringan melanda desa mereka. Kelaparan merajalela dan menghancurkan kehidupan banyak orang, serta membuat keluarga Wang Lung harus mengungsi sementara ke Selatan demi sesuap nasi. Akan tetapi, mereka tetap mampu kembali ke tanah pertanian dan membangun kehidupan yang jauh lebih sukses dengan perjuangan, kerja keras, ketekunan, serta tidak pasrah menerima nasib semata. Maka setelahnya, keluarga Wang Lung bukan lagi petani miskin yang banyak dilecehkan dan dihina orang, namun menjadi keluarga kaya dan terpandang di wilayah tersebut.

Wang Lung yang mulai kaya, memiliki kebiasaan baru rupanya. Ia sering pergi tengah malam untuk menghabiskan waktu di kedai minuman di tengah kota. Dari sanalah Wang Lung mengenal seorang gadis yang dianggapnya sempurna, bernama Lotus. Wang Lung jatuh cinta lagi dan  berbuat lebih jauh dengan membawa Lotus beserta pelayannya, Cuckoo ke dalam rumahnya sebagai selir.

Kedatangan Lotus dan Cuckoo malah menimbulkan banyak masalah di rumahnya. Selirnya yang masih cantik dan muda membuat pengeluaran yang sangat boros, belum lagi paman – kakak dari ayah Wang Lung, bibi, dan putra mereka yang senantiasa meminta uang untuk berfoya-foya, kemarahan ayahnya karena membawa wanita yang tidak direstui ke dalam rumah serta kesulitan dalam mengelola lahannya yang sangat luas – membuat Wang Lung semakin lama semakin tidak bahagia dengan keberadaannya sekarang. Hanya satu hal yang dapat membuatnya merasa damai, bekerja kembali, dan merasakan tanah nan subur di tangannya, bagaimana pun ia adalah seorang petani sejati.

Semakin lanjut usia, Wang Lung hanya berusaha menjaga dan terus mengembangkan tanah yang dicintainya demi keturunannya, putra-putranya yang telah beranjak dewasa. Namun tidak seorang pun yang tertarik meneruskan usaha ayahnya. Putra sulungnya menduduki posisi sebagai Tuan Tanah. Putra kedua lebih senang berdagang, sedangkan putra ketiga melarikan diri menjadi seorang tentara karena membenci tanggung jawab tanah pertanian yang diserahkan kepada dirinya dan setelah mengetahui gadis budak bernama Pear Blossom, yang diam-diam dicintainya, ternyata diambil selir oleh ayahnya sendiri. Di akhir ajalnya, Wang Lung hanya ditemani Pear Blossom yang sangat mengasihinya dan benar-benar merasa kehilangan. Sedangkan keturunan Wang Lung mulai membagi dan menjual tanah luas hasil perjuangan dan kerja keras Wang Lung seumur hidupnya.

KELEBIHAN NOVEL BUMI YANG SUBUR

Tiga hal yang bisa ditangkap Resensor yang membuat novel ini begitu fenomenal adalah :

  1. Novel ini memiliki gaya penuturan yang lugas, tidak berbelit-belit dan langsung pada intinya.
  2. Penulis mampu menggambarkan pergeseran antara ajaran dan norma-norma tradisional dengan masuknya pengaruh bangsa asing yang menjerat kehidupan banyak orang, seperti senjata, candu, budaya dan seni, pola pikir dan pendidikan menuntut kesetaraan derajat antara pria-wanita, kalangan atas-kalangan bawah.
  3. Penggambaran seorang Wang Lung dan O-lan sebagai sepasang petani desa yang lugu dan jujur membuat novel ini sangat menarik.

KEKURANGAN NOVEL BUMI YANG SUBUR

Karena bertutur secara lugas, penulis kurang memperhatikan bagaimana menulis novel dengan diksi yang indah. Diksi kalimatnya biasa saja, yang lebih kental dalam novel ini adalah unsur budaya, sejarah, dan kebiasaan masyarakat pada masa itu.

RATING – PENDAPAT PRIBADI RESENSOR

Dari 3-5 bintang, resensor memberikan 4 bintang karena resensor mampu menyelami apa yang dirasakan masing-masing tokoh pada saat penulis bercerita. Penulis menggunakan porsi yang sesuai seperti pada saat Wang Lung terjerumus dalam cintanya pada Lotus. Bukan hal yang baik memang, tetapi penulis mampu mengulasnya secara wajar dan tidak berlebihan.

 

 

4 respons untuk ‘Review Novel Bumi yang Subur a.k.a. The Good Earth

  1. Wah, sy blum bca ni novel. 500 halman, lumayan juga 🙂

    Gmn prasaan si O-lan ya saat Wang Lung membawa Lotus k rmhnya sbgai selir? Menarik jg kisahnya kayaknya, budayanya trasa kntal emang, khususnya bila melihat seorang petani sj bisa punya wanita bnyak (lbh dr satu).

    Ini ad versi ebooknya gak, Cinta?

    Disukai oleh 1 orang

    1. ya sakit hatilah prsaannya O-lan, tp O-lan tetap patuh dan ga prnah maeah2 pd suaminya.

      Kan ktika punya selir itu si petaninya sudah jd tuan tanah yg kaya raya, mas Des, bukan lg petani miskin yg jrg mandi. 😁

      syaang sekali ga ada versi ebook nya mas Des 😁

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s