Five Elements – Rain (6)


Serial Five Elements – Rain (6), 1205 kata.


Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.


wp-image-973875594
Gambar diunduh dari Google

Episode Sebelumnya

Aku kalah

Rain POV

Pak Rully meninggalkanku sendiri setelah menyerahkan mini tape recorder itu. Sesaat aku terdiam, memperhatikan benda-benda baru di sekelilingku. Aku ada di ruang TV sekarang. TV flat berukuran 21 inch berjarak 2 meter di depanku. Dinding belakangnya dilapisi wallpaper bermotif garis-garis vertikal hitam-putih. Lalu, di kanan-kirinya ada dua buah sofa panjang, dan satu sofa yang lebih pendek, tempat aku duduk sekarang. Bau tiga tangkai bunga Lily dari vas bunga di meja yang baru dipetik cukup menyengat cuping hidungku. Baunya lembut, ada kesan damai saat aku menciumnya. Lalu, di sudut kanan ada komputer, lengkap dengan meja kerja dan sebuah kursi yang sengaja dimasukkan untuk meminimalis ruangan. Apartemen ini cukup unik dan berbeda dengan apartemen lain, dimana semua dinding yang menghadap ke kampusku dihilangkan dan diganti kaca. Aku tidak tahu apa tujuan pemiliknya membuat model apartemen seperti ini, yang kutahu, dengan desain seperti ini, pemilik akan dengan leluasa mengamati kegiatan seluruh mahasiswa dari atas tanpa seorang pun tahu. Dinding apartemen didominasi dengan warna cat hijau mint. Sepertinya pemilik apartemen sebelumnya sangat tahu bagaimana menata ruangan ini seperti yang kuinginkan. Kesan minimalis benar-benar membuat setiap sudut ruangan menjadi lebih lebar, tanpa meninggalkan kesan simpel namun elegan. Overall, aku sangat menyukai desain interiornya.

Tapi…siapa dia? Orang yang dengan sukarela memberikan semua ini padaku. Siapa?

Kualihkan pandanganku pada mini tape recorder yang sedari tadi kupegang, di sana ada tulisan “putar aku”.

“Klik.” Tanpa pikir panjang aku memutarnya.


“Hai Rain, apa kabar?
Aku senang akhirnya kau memutuskan menerima beasiswa dari papaku. Itu awal yang bagus. Aku benar-benar senang.

Rain, apa kau tahu? Menghilang darimu itu ternyata tidak mudah. Apalagi, jika aku bisa melihatmu mondar-mandir seharian bahkan berlarian ke sana ke mari di kampus dari apartemenku ini, yang hampir setiap sudutnya saja bisa meng-capture-mu dari berbagai sisi. Aku akui itu tidak mudah.

Tapi… ada yang menahanku Rain. Aku ingin tetap bertahan pada sisi hilangku, agar kau bisa meneruskan kuliahmu, sampai kau lulus, sampai kau menjadi dokter, seperti yang kau inginkan. Kau tidak jadi mengambil jurusan Psikologi ya? Tapi malah mengambil jurusan Kedokteran? Aku tahu semua itu dari papa, aku senang, apapun itu aku mendukungmu.

Rain, sebenarnya, terkadang aku membayangkan hal-hal bodoh seperti, kau akan menjadi dokter pribadiku kelak. Kau akan bilang padaku agar jangan lupa minum obat. Kau akan mengajakku berkeliling menikmati udara pagi, menyemangatiku bahwa hidupku masih panjang, karena itu aku harus terus berjuang.

Tapi… siapa aku? Berani benar aku membayangkan begitu. Bukankah, dari dulu aku yang menyukaimu, bukan sebaliknya?

Rain, tahukah kau kenapa aku menyukaimu?
Pertama, kau itu gadis cantik serupa bulan yang tidak sadar bahwa dirimu itu bulan. Kau malah memilih menjadi gerhana dengan menyembunyikan rambut lebatmu di balik topimu yang kumal itu. Kau juga memakai jeans belel yang semrawut dan sangat tidak sedap dipandang mata. Untung saja kau cantik, coba kalau tidak…kau pasti sudah hancur dengan penampilanmu itu. Haha.

Kedua, kau itu makhluk astral yang tidak juga sadar bahwa kau begitu beruntung disukai oleh seorang Kay Adams. Padahal di luar sana, ada banyak gadis yang rela melakukan apa saja asalkan aku mau berpacaran dengannya.

Dan yang terakhir, karena kita sama…sama-sama dari keluarga broken home, jadi aku tidak perlu menceritakan bagaimana perasaanku ditinggal mama, karena kau juga sudah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan papamu.

Rain, aku sakit. Terkadang saat aku rapuh, ingin sekali aku menemuimu, setidaknya, bisa mendengarkan suaramu yang merdu saat bernyanyi, itu pasti melegakan. Terkadang, aku juga ingin memelukmu karena aku begitu rindu, meski setelahnya kau akan menonjokku, tak apalah, aku terima. Tapi, setelah kupikir lagi, untuk apa? Apakah dengan begitu sakitku akan hilang? Tidak bukan? Semuanya akan tetap sama bukan? Lalu untuk apa? Bukankah keadaan tidak akan berubah?

Oh iya, aku dengar dari papaku, kau mendapat predikat cumlaud? Selamat ya. Apa kubilang, kau memang pintar! Aku janji, kalau minggu depan aku masih bernafas, aku akan datang ke acara wisudamu, tak peduli meskipun aku sudah tidak sanggup berjalan lagi, aku akan memakai kursi roda dan menunjukkan wajahku padamu, aku yakin kau merindukanku, sama sepertiku. Kudengar dari Ketty, kau sering menanyakanku, jangan-jangan kau mulai menyukaiku ya? Haha. Uhuk uhuk uhuk uhuk. Maaf maaf, aku teramat senang sampai terbatuk-batuk. Uhuk uhuk uhuk uhuk.

Tapi Rain, kalau aku tidak datang di hari kelulusanmu, itu berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku benar-benar menghilang, dan kau tidak akan menemukanku lagi di mana pun. Tapi aku tidak akan menghilang dengan mudah… aku janji, kalau aku diberi kesempatan masuk surga, aku akan memohon pada Tuhan, agar Dia Yang Maha Baik menjadikanku sebagai rintik hujan kesukaanmu. Kau akan bisa menemukanku nanti. Dalam hujan, aku akan memanggilmu, “hei Rain sini, ayo main denganku. Aku sudah lama merindukanmu. Datanglah…kemarilah…”

Dan saat itu kau harus datang. Tidak boleh tidak. Harus, pokoknya harus!

Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk. Sepertinya batukku makin menjadi, Rain, aku butuh istirahat. Tapi sebelum itu, aku punya permintaan terakhir, kau bisa membuka pintu kamarku, di sebelah kiri dari tempatmu duduk sekarang. Lakukan itu untukku ya, bisa kan?”


Rekaman itu habis dan otomatis mati sendiri. Aku masih terdiam, dengan tubuh menggigil dan perasaan tak menentu. Tanganku menjadi dingin. Otakku sepertinya membeku, antara sadar dan tidak sadar, tapi sebenarnya yang dia inginkan adalah ini semua mimpi, hanya mimpi buruk yang akan berakhir seiring dengan datangnya pagi. Sesekali aku mencubit lenganku dan berkata, “Bangun… bangun Rain, ini cuma mimpi!”

Lalu ketika aku tak bisa membangunkan diriku, aku menampar wajahku. Satu kali. Tapi aku masih belum terbangun. Dua kali. Aku menamparnya lebih keras. Aku tak juga bangun. Dan aku pun menamparnya dua kali lagi. Lalu aku sadar… ini bukan mimpi.

Suara itu, suaranya parau dan lemah. Seseorang yang ringkih itu, benarkah itu Kay?

Aku melangkah gontai menuju kamar Kay.

Ada empat lukisan di sana. Itu sketsa wajahku dengan aku berada di tempat asing dan semua hal yang bertolak belakang dengan diriku ada di dalamnya.

Lukisan pertama,
Aku mengenakan baju seperti perempuan. Dalam lukisan itu aku tersenyum lebar, hal yang jarang sekali kulakukan. Aku mengenakan gaun putih sepanjang lutut dengan rambut digerai panjang.

“Aku ingin kau menjadi perempuan seutuhnya, Rain. Jangan selalu gerhana, bukankah rembulan selalu indah jika menyinarkan cahayanya. Bagiku, kau adalah bulan itu.”

Lukisan kedua,
Aku bersama papa dan istri barunya, juga dengan mamaku.

“Minta maaflah dengan mamamu Rain, kembalilah. Tidak ada yang salah memiliki dua orang ibu, bukankah itu berarti semakin banyak orang yang menyayangimu?”

Lukisan ketiga,
Aku berada di depan jendela sedang menikmati hujan.

“Setiap kali hujan turun, jangan lupa untuk mendoakanku, itu berarti aku sedang berkunjung ke rumahmu. Itu berarti aku sedang merindukanmu.”

Lukisan keempat (lukisan terakhir),
Lukisanku bersama pak Rully. Aku sedang membuatkan masakan kesukaan beliau.

“Aku titip papaku ya! Papa hanya memilikiku seorang, tolong jaga papa. Tengoklah papa dan buatkan makanan kesukaannya jika kau sempat.”

Setiap lukisan dari keempatnya, seolah berbicara padaku dengan suara Kay. Rasanya kakiku begitu berat meski hanya untuk melangkah.

“Glubrak” aku terjatuh. Dalam posisi terduduk itu, tiba-tiba saja aku menangis.

“Kay, kau benar. Selama empat tahun ini, aku merindukanmu. Sangat! Kay, baiklah, aku kalah. Aku yang kalah…bukan kau. Maafkan aku Kay. Aku menyesal… benar-benar menyesal.”

 

Tamat.

9 respons untuk ‘Five Elements – Rain (6)

Tinggalkan Balasan ke Ikha Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s