Five Elements – Rain (5)


Cerbung Five Elements – Rain (5), 865 kata


Five Elements adalah kumpulan cerita pendek tentang lima elemen alam yang paling kusukai :

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun.

Mungkin akan berbentuk cerita bersambung atau bisa cerita pendek sekali jadi. Anggap saja cerita-cerita sederhana ini adalah cara tulusku mencintai mereka.


Gambar diunduh dari Google

 

Episode Sebelumnya

Orang Bilang…

Rain POV

Bogor, Minggu, 00.45 WIB dini hari.

Ini hari apa ya?

Hampir saja aku melontarkan pertanyaan konyol kalau saja aku tidak sedang membuka layar ponsel. Sudah lama sekali sejak Minggu terakhir aku menuliskan tentangnya di ponsel jadulku ini.

Ah ya, aku lupa. Aku pasti belum cerita kepada kalian, pembacaku, kalau aku punya kebiasaan aneh menulis diary di ponsel. Aku pikir hanya ponsel yang benar-benar mampu menyimpan rahasia terdalamku sekali pun tanpa membocorkannya pada siapa pun. Berbeda dengan buku diary yang bisa saja tergoda dan bertekuk lutut bila ada tangan-tangan lembut yang menyentuhnya, dengan tanpa berpikir panjang lagi, sang buku diary akan menyerahkan dirinya secara sukarela. Dan aku tidak suka itu.

Dan malam ini, aku ingin bercerita tentang lelaki itu, sekali lagi.

Orang bilang, rasa suka bisa hadir karena terbiasa. Orang bilang, aktivitas yang terus-menerus dilakukan, jika dihilangkan akan menimbulkan perasaan rindu. Orang bilang, rasa cinta dan benci itu beda tipis. Orang bilang, batu yang keras sekali pun akan berlubang jika ditimpa air hujan terus-menerus dari tahun ke tahun. Dan orang bilang, rasa cinta juga begitu, bisa muncul tanpa kita sadari. Terkadang ia datang dari alam bawah sadar lalu menguar begitu saja ke permukaan tanpa penyaring dan langsung menembus ke hati.

Apakah itu bisa terjadi padaku? Seseorang yang sudah terlalu banyak kehilangan dan hatinya membeku melebihi titik beku air pada suhu 0 derajat Celcius?

Apakah aku, Rain, masih bisa mencintai?
Bukankah aku batu? Aku batu yang sangat keras yang tak membiarkan satu tetes air hujan pun membasahi dirinya.
Apakah aku tetap sama dengan mereka?

Jawabannya adalah aku tidak tahu.

Tapi yang jelas, aku merindukannya.

“Kalau sakit, lupakan aku. Jangan diingat-ingat. Buang aku dari otakmu, dan kita berteman saja, ok?”

Sejak kata-kataku yang cukup sadis itu kulontarkan tempo hari, ia menghilang.

“Ok. Aku kalah. Aku yang mencintaimu lebih dulu, karenanya aku kalah. Dan aku lebih suka merasakan sakit daripada melupakanmu. Aku memang bodoh. Tapi bukankah semua pecinta memang bodoh? Kau tahu betapa Qais jadi gila ketika perempuan pujaannya—Laila, menikah dengan orang lain? Qais sampai memilih hutan untuk tempatnya meluapkan kesedihan. Hampir tiap malam dia berpuisi, menangis meraung-raung di tengah gelapnya malam. Saat itu Qais lemah. Saat itu, Qais berpikir hanya syair-syair tulus itu yang bisa menghilangkan kepedihannya. Dan kau tahu, betapa baik Tuhannya kepada Qais? Dia menjadikan Qais penguasa hutan, Dia menjadikan serigala hutan kawan karibnya, semua serigala buas itu tunduk hanya kepada Qais. Tidakkah kau berpikir bahwa dalam kelemahan selalu ada kekuatan? Tidakkah kau percaya bahwa suatu saat kelemahanku karena mencintaimu ini akan menjadi kekuatanku, Rain?

Aku akan menghilang. Benar-benar menghilang selamanya darimu. Tapi jika itu kulakukan, maukah kau memenuhi permintaan terakhirku agar aku tenang? Terimalah amplop ini. Di dalamnya ada brosur beasiswa. Ya, kau benar. Aku membujuk papaku sekali lagi agar kau bisa mendapatkan beasiswa itu dan papaku menyetujuinya. Datanglah hari Senin minggu depan ke kampusku. Sambil menunggu hari itu tiba, kau bisa membuktikan perkataanku, apakah aku benar-benar menghilang darimu atau tidak.”

Setelah berpesan padaku dengan kata-katanya yang panjang itu, Kay pergi. Tidak seperti biasanya, karena Kay pergi tanpa menoleh lagi padaku, hanya melambaikan tangan dan tetap berjalan lurus sampai tubuhnya semakin mengecil, mengecil, hingga tidak terlihat lagi.

Senin 17 Juni 2017.

Rupanya Kay menepati janjinya. Ia benar-benar menghilang. Dan sekarang aku rasa, tidak ada alasanku untuk menolak permintaan terakhir Kay. Lelaki blasteran Arab-Padang-Skotlandia, pemilik casing sempurna dengan hidupnya yang tidak sempurna, begitu ia sering menjuluki dirinya-sendiri.

*****************************************

 

Senin, 25 Juni 2021.

Kerumunan orang penuh sesak memenuhi tempatku belajar selama empat tahun ini. Tidak banyak yang berubah dari kampusku selain cat dindingnya yang diganti dengan warna kuning gading, pelebaran bangunan masjid, mahasiswa-mahasiswi angkatan baru, dan berita tentang Kay.

Tiba-tiba saja hari ini aku merindukannya. Lelaki ajaib yang baru empat kali kutemui dan membawa perubahan besar pada hidupku itu, bagaimana kabarnya? Ingin sekali kukatakan padanya, Kay, aku lulus, cumlaud, terimakasih Kay, kalau tidak karenamu, aku pasti sudah menyia-nyiakan hidupku empat tahun lalu.

“Nak, selamat, bapak bangga sekali padamu” Seorang lelaki paruh baya dengan wajah mulai menua namun berwibawa yang empat tahun lalu menerima brosur beasiswa dariku itu tiba-tiba saja datang dan memberi selamat padaku.

“Pak Rully, Anda datang, terimakasih pak…” aku spontan menyambut jabatan tangannya.

“Sama-sama nak, bapak ada perlu sebentar, bisa?”

“Dengan saya, sekarang?”

Pak Rully mengangguk.

“Baiklah pak Rully, silakan.”

Tanpa berkata panjang lebar…pak Rully mengajakku ke apartemen di dekat kampus. Posisinya pas sekali jika mengamati kegiatan kampus, rasanya semua aktivitas mahasiswanya bisa terekam dengan sempurna dari setiap sudut ruangan itu. Pak Rully tak banyak berbicara saat itu, hanya menyerahkan kunci apartemen itu kepadaku dan berkata…

“Pemilik lama apartemen ini mewariskannya padamu nak, dan bapak baru bisa tenang setelah menyampaikan amanat ini.”

“Maksud bapak apa? Siapa pemilik apartemen ini? Apakah itu Kay, di mana dia pak? Saya ingin bertemu dengannya, saya ingin mengucapkan terimakasih, bisakah saya bertemu dengannya?”

Pak Rully hanya mendesah panjang ketika aku menyampaikan keinginanku, lalu ia meninggalkanku setelah memberikan mini tape recorder bersama sebuah kaset di dalamnya.

“Pemiliknya ada di sini, kau bisa berterimakasih dengan mendengarkannya.”

 

Episode Selanjutnya

4 respons untuk ‘Five Elements – Rain (5)

Tinggalkan Balasan ke Cinta1668 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s