Tentang Rindu


Tentang Rindu, 470 kata.


Assalamu’alaikum teman-teman.

Ini sudah jam 00.12 WIB dini hari.

Iya, terus?

Aku sudah mengantuk…aku sudah mengantuk.

Lah koq?!

Ya tapi aku ingin meninggalkan jejak sebentar. Mumpung sedang ada gairah menulis, si Cinta kan jarang-jarang menulis sekarang. Makanya sewaktu ada keinginan harus langsung ditulis.

Memangnya mau menulis apa?

Mmmm…tentang rindu. Heee… ^__^>

Jadi aku tadi ngelayap di Youtube sebentar dan menemukan lagu ini.

Video klip-nya mengingatkanku tentang si cowok ganteng dan jangkung berambut panjangβ€”Ben dalam film Filosofi Kopi yang rindu pada bapaknya dan pulang kampung.

Tentang ayah. Sebenarnya tidak akan habis kata ketika kutuliskan segala sesuatu tentangnya. Tapi bukan berarti aku tidak suka menulis tentang ibuku. Masalahnya, hampir setiap hari suara ibuku yang berjarak berpuluh-puluh kilometer itu selalu bisa sampai di telingaku melalui alat kecil dan pintar yang disebut ponsel. Otomatis rasa rinduku selalu bisa tercurahkan.

Berbeda dengan ayah. Ayah, jarang sekali berbicara di telepon denganku. Kalau pun berbicara, paling satu dua kata dan belum tentu sebulan sekali, biasanya yang paling sering yang dibicarakannya adalah tentang kematian,

“Ayah tidak butuh apa-apa nak, tapi kalau Cinta ingin tahu, ayah cuma ingin Cinta mengaji saja, mengaji saja setiap hari, tambah lagi dan tambah lagi. Dan doakan ayah ketika ayah meninggal nanti, tidak perlu ada tahlilan, ayah Muhammadiyah, dan tidak ingin ada tahlilan, cukup kirim satu atau dua surat Al-Quran untuk ayah.”

Selalu begitu pesan beliau padaku. Dan kalau dalam satu bulan sekali itu, diulang sekali lagi di bulan berikutnya, akan sama suara pesannya. Hihi. πŸ˜…

Suatu ketika aku pernah bilang,

“Ayah…coba bicarakan hal yang lain lah…iya yang itu pernah dibicarakan, coba bicara yang lain.”

Setelah kupaksa-paksa akhirnya ayah bilang,

“Baiklah…belikan ayah baju koko warna putih, putih itu kesukaan kanjeng nabi. Belikan itu, nanti ayah pamerkan ke teman-teman sewaktu jadi imam di masjid, ini hadiah dari putri kesayangan ayah yang belum menikah juga sampai sekarang.”

Haha…kalau diingat-ingat setiap kata-kata beliau selalu bisa meninggalkan kesan yang mendalam dan sebuah senyuman. Tetapi bila aku sudah di rumah, beda perkara, biasanya aku sering berdebat dan tidak sepaham dengan beliau. Dulu, aku sama kerasnya dengan ayah, tidak mau kalah.

Namun, sejak beliau pernah sakit dan hampir meninggal, aku tak ada keinginan berdebat lagi. Mendengarkan suaranya yang keras dan mukanya yang marah saja aku senang. Benar-benar senang.

Dan aku senang, karena sewaktu ayah sakit dan harus dioperasi beberapa bulan sebelumnya, aku sudah resign, meninggalkan pekerjaanku, dan ada fulltime untuk beliau. Aku tidak menyesal…dan jika terjadi hal yang sama kepada keluargaku, aku akan melakukan hal yang sama.

Tapi Allah ganti koq. Allah ganti dengan aku dapat pekerjaan di tempat lebih baik dengan gaji dua kali lipat, waktu itu.

Ah…ayah. Lagu Tentang Rindu itu buat engkau. Andai saja engkau membaca tulisan ini. Tapi yang kutahu…engkau sama sekali tidak bisa bermain internet. Jadi…soal rinduku ini, biar Allah saja yang menyampaikannya. Biar Allah saja. πŸ˜‡

5 respons untuk β€˜Tentang Rindu’

  1. hampir sama dengan ortuku mbak Cinta, yang sering telpon adalah ibu, karena ibu yang punya Hp
    bapkku tidak pernah pengin punya hp, dan tak pernah minta bicara di telpon dengan anak2nya, nanti anak-anaknya yg minta bicara dengan bapak barulah kami dengar suara beliau sekedarnya sj
    Ok mbak, semoga ayah dan ibu mbak Cinta dan juga ayah ibuku tentunya selalu sehat ya, Aamiin….

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s