Cerita Hari Ini


Belajar Ngaji, 655 kata.


Aku terbiasa menulis sesuatu, jadi…baik atau buruk ceritaku, akan tetap kutulis. Aku masih menjadikan menulis sebagai terapi agar aku bisa menjadi manusia lebih baik terutama dalam hal “emosi dan sabar”. Jujur, itu susah sekali bagiku, menahan emosi dan sabar tidak cukup hanya dengan istighfar berberapa kali, tapi lebih! Aku harus duduk tenang, minum air secukupnya, kadang jalan bolak-balik, lari-lari malah sampai kecapekkan πŸ˜…, dan kalau udah parah ya…aku gangguin sahabat dan curcol deh. Baru hilang penyakitnya. 😁.

Seperti yang kulakukan Rabu, tiga minggu kemarin, tepatnya tanggal 28 Februari 2018. Aku curhat dengan dua sahabat blogger, cowok, tentang kejelekanku ituβ€”kurang sabar.

1. Percakapan dengan orang pertama.

“Mas, aku mau curhat tapi aku malu. Gimana ya memulainya?”

“Mau curhat ya curhat aja…ngapain malu?!”

“Masalahnya, pokoknya malu banget mas, tapi kalau aku nggak ngomong ya nggak akan ada solusinya.” Sambil kupasang emoticon cemberut dengan muka ditekuk. πŸ˜•

“Cerita saja.”

“Mmm…jadi gini mas, setiap Rabu kan di sekolah ada ngaji buat guru-gurunya di jam 09.00-10.00 pagi, nah mas, kan kita semua guru diajarkan langgam dengan metode Ummi. Wuah antusias banget aku belajarnya. Di beberapa ayat itu pengeeeeeen banget aku nyoba. Tapi apa yang terjadi, waktu aku baca ‘aliimun, jika waqaf dibaca ‘aliim. Aku udah di-stop. Kata guru ngajinya, aku nggak bisa ngomong ‘ain, bunyinya terdengar seperti ‘ngain. Terus aku disuruh belajar jilid 1 iqra sampai bisa ngomong ‘a, bukan ‘nga.” Masih kutambahin emoticon di chatt aku, kali ini lebih parah, kutambahin emot nangis kejer tiga kali. 😭😭😭, nah seperti ini emot-nya.

Eh yang diajak chatt ngakak sejadinya dan bilang, “ya bener toh guru ngajimu, kalau belum bisa baca hurufnya, ya benerin dulu, ulangi dari jilid 1.”

“Diiih koq gitu. Coba mana suara mas, kirim VN, mas kan pinter ngaji.”

“Aku lagi di warung makan, lagi makan.” Jawab chatt dia.

“Ya sudah kalau gitu. Udahan dulu ya, aku mau belajar sampai bisa dulu.” Kataku mengakhiri chatt itu.

Tak lama kemudian, ia yang di sana kirim link youtube tentang pengucapan huruf hijaiyyah yang benar. Aku juga dikirimkan gambar di mana saja asal bunyi huruf itu. “Coba hafalin dan pelajarin biar lulus dari jilid 1” Wuah kali ini dia pake emot ngakak. πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚

“Ya sudah mas, terimakasih. Nggak perlu pake ngakak kaleeee. Cukup doakan saja biar aku naik jilid, seenggaknya jilid 3 kek atau jilid 5 gitu.”

“Iya, amin, semoga.”

2. Lain hari, percakapan dengan orang kedua.

“Mmm…anu mas, aku sebenarnya pengin curhat. Mau denger nggak? Tapi jangan bilang-bilang ya…aku malu!” Kuberanikan diri curhat dengan cowok kedua yang kutahu pasti fasih ini kalau ngaji. πŸ˜„

“Ya silakan…” kata si mas.

“Aku kan kemarin Rabu ngaji di sekolah, kebetulan ada guru ngaji gitu dan tiap Rabu memang semua guru diajarin ngaji biar pengucapannya benar. Lah tapi pas aku baca ‘ain dibilang terdengar ‘ngain mas, dan setelah kupikir-pikir memang bener sih kadangkala terdengar seperti ‘ngain. Terus aku harus ngulang dari jilid 1 iqra mas sampai bener itu pengucapannya. 😭😭😭” Emot nangis kejer juga kupasang di sana.

“Hahaha…ya bener guru ngajimu itu, kuberi dia nilai 100!”

“Iya sih, tapi aku pengin bisa mas, caranya gimana ya, bisa bantu aku?”

“Coba kirim VN suaramu baca ‘ain atau ‘a nanti aku bisa tahu itu benar atau salah.”

Dan tak lama aku pun mengirimkannya caraku membaca huruf ‘ain.

“Coba kamu ikut aku baca kayak gini, bisa nggak?”

Nah si mas kirim VN suara dia baca ‘ain dalam berbagai harokat. Dan dengan pesimis aku bilang. “Walaaahhh syusyeeeeh mas kalau begitu.”

Lalu percakapan dengan orang kedua pun selesai.

Tanpa mereka berdua tahu, aku tiap malam sebelum tidur mempelajari apa yang telah mereka ajarkan. Kini, tiga minggu sudah berlalu. Tadi pagi, jam 09.00 – 10.00 pagi, guru ngajiku bilang, “alhamdulillah sudah ada kemajuan, tidak seperti kemarin. Terus berlatih ya. Kalau berusaha, Allah pasti kasih jalan, pasti bisa!”

Aku cuma ingin menulis cerita ini sebagai tanda terimakasih untuk mereka. Alhamdulillah, aku lulus dari jilid 1, dan boleh ikut Ummi jilid 5 dengan membaca beberapa surat Al-Quran dengan langgam metode Ummi, senang sekali. Terimakasih mas-mas yang sudah seperti kakak-kakakku yang baik hati. Barakallah. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. πŸ˜‡

16 respons untuk β€˜Cerita Hari Ini’

  1. semangant mbak Cinta, saya sampai sekarang masih susah membaca hururuf “Qa” lho mbak, sy mengucapkanya hampir sama dengan huruf “Ka”. Ini karena sudah terbiasa saat belajar waktu SD dulu ya.
    Tapi cerita mbak Cinta , jadi memotivasi saya untuk mulai belajar mengucapkan yg benar.
    Doakan saya berhasil juga ya mbak Cinta. Aamiin

    Disukai oleh 1 orang

  2. hihi iya bunda Nur, insya Allah semangat! 😊

    Iya, bunda, pokoknya jangan menyerah, itu saja sih kuncinya. Semangat bu guru, semoga bisa mengucapkan huruf qo, amin. πŸ˜‡

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s