Apes


Iyes, yups. Aku sedang ingin membicarakan sesuatu tentang Aa Pe Ee dan Es “Apes”.

Berawal dari hari Minggu sore yang mendadak kita sekeluarga—Risha, ibu bapaknya, dan Habibah, juga diriku yang tiba-tiba saja pulang kampung.

“Ayuk kita pulkam…ada hajatan sepupu, kita harus datang.” kata mbak Is—ibunya Risha.

“Lah tapi mbak Is, aku nggak bisa, soalnya kemarin habis pulkam hampir dua minggu…kasian anak-anakku—anak didikku—kalau harus kutinggal terus. Belum lagi kadang ada provokasi sana-sini kalau aku nggak masuk, mereka sering disalah-salahin karena aku, nggak gentle banget sih, marah ya ke aku, kenapa musti ke anak-anakku? Childish banget! Mbak Is tahu nggak sih gimana perasaanku, pengin banget aku plester mulut orang yang suka provokasi itu (malah curhat *tepok jidat 😅). Udahlah, aku nggak ikutan, asalkan Risha di sini sama aku, aku berani koq.”

“Risha ikut pulkam. Kamu mau di sini sendiri ya silakan.”

Iiiiuuuuu…sendiri, alone, me? *langsung nunjuk muka depan cermin. 😣😦😶

Anganku langsung melayang jauh ketika aku sendirian di rumah…

  1. Listrik tiba-tiba mati sendiri. Waktu itu…aku minta ditemenin temenku, terus dia pun ketakutan nggak mau masuk rumah. Akhirnya aku telepon ibuku dan mbak Is sambil nangis-nangis.

“Ibu…mbak Is…apa kubilang? Rumah ini jadi mati lampu kalau nggak ada mbak Is. Aku nggak mau masuk pokoknya. Ini temenku juga nggak mau masuk. Kami ketakutan. 😭😭😭😭😭” sambil nangis sesenggukan.

“Cinta, coba masuk nak, jangan takut. Baca Al-Quran, terus ajak temennya masuk, sini ibu yang ngomong sama temennya. Jangan lupa panggil tetangga yang bisa benerin lampu, biar nyala lagi.”

Singkat kata, temenku pun terbujuk rayuan ibuku. Dia mau masuk setelah aku minta bantuan tetanggaku untuk memperbaiki lampu yang putus sekering dengan tiba-tiba itu.

  1. TV nyala sendiri. Iya, Lovers. Sueeeeerrrrrr. TV, kipas angin, kaca spion motor yang tiba-tiba muter-muter sendiri posisinya setiap kali aku mau berangkat ngajar. Itu hal yang sudah biasa loh.

  2. Ini nih yang paling serem. Jam 03.00 dini hari, di saat aku sedang getol-getolnya sholat tahajjud, ada suara cewek ketiwi-ketiwi…”ihihihiiiii….ihihihiiiiiiii”. Dulu sih aku takut, tapi dengan berlalunya waktu ya aku sudah biasa. Aku malah sering menyaut, “hei dieeemmm! Aku mau sholat, nggak usah berisik deh. Hidup di dunia masing-masing dunk. Jangan berisik. Jangan saling mengganggu, ngerti!” Dan seketika suara itu pergi.

Jadi….udah tahu kan alasannya kenapa aku nggak bisa sendirian di rumah yang konon katanya super angker ini? *Could you please understand me? 😢😭😭 *maksa pake jurus andalan—nangis bombay.

“Yowes…kalau nggak mau ya ikut aja. Nanti aku yang telepon wali kelasnya Risha, nanti juga tahu kalau memang keluarga kita sedang ada hajatan. Positive thinking saja Cinta, orang yang suka provokasi itu kelak akan capek koq, doakan saja biar cepat sadar. Woles…santai kayak di pantai.”

Kata-kata pamungkas kakak kandungku itu sepertinya mampu mendinginkan hatiku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk pulkam lagi. Again, twice in a month, rekor cetar dalam hidupku. Haha. 😆😅😂

Ok. Singkat cerita, kami berlima pulkam. Dan seperti biasa, rutinitas pagiku di kampung halaman adalah ke pantai. Pantai Wonokerto tepatnya. Itu pantai keren memang, aku suka sekali dengan pohon cemaranya. Aku suka langitnya. Apalagi airnya. Cukup membuat hatiku berbunga-bunga.

Dan biasalah aku pun jepret-jepret ria.

Foto pertama aku pake instagram buat bikin birunya jadi tajam. Foto lain tanpa editan. FYI, aku harus tulis juga bahwa yang fotoin itu Risha, kalau nggak bisa ngambeg dia 😅. Ponakanku yang satu itu memang jago buat foto lebih bernyawa. Satu lagi yang terpenting, aku jadi nggak keliatan gemuk. Atau memang aku yang sudah mengurus? Kyaaa…kyaaaaaaa…! 🙈🙉🙊

Hari terasa begitu indah dan tak biasa jika berada di kampung halaman. Muka itu rasanya pengin senyum terus meski nggak ada satu pun kelucuan yang terjadi. Mengunjungi saudara, tetangga, main-main sama si kecil Dika. Bermanja-manja dan peluk-peluk ibu sepuasnya. Itu rasanya sangat menyenangkan. Mendengar ibuku minta tolong dipijitin adek saja aku iri. Ibu, ada aku di sini, kenapa minta tolong adek? Jadi aku nggak dianggep nih? Ibuku spontan ketawa dan bilang, Cinta kan belum selesai makan, selesaikan dulu makannya.

Jika ada istilah…

Surga yang turun ke bumi. Maka kampung halamanku adalah jawabannya.

Beda istilah loh ya kalau aku sudah menikah nanti. Surgaku ya bersama suamiku. Hihi. Amin. Insya Allah. 😊😍😍

Tapi Lovers, emang benar ya yang namanya pepatah, “Hidup itu harus susah-susah dahulu baru senengnya.” Aku juga mengalaminya.

Hari Selasa malam, aku buka chatt di group kelas terbang. Astaghfirullah, kagetnya aku. Hari Kamis ternyata ada UPM. 😱. Itu loh, kepanjangan dari Ujian Pengendali Mutu yang nggak bisa susulan. Gubrak dah! Aku kira akan sama jadwalnya dengan UPM dua matkul lainnya di semeter 7 tanggal 31 Januari nanti. 😨

Kelas Translation, kelas yang harus kuulang karena kecelakaanku setahun kemarin, harus kuulang lagi. Dan ini berarti kalau hari Rabu aku nggak pulang, aku harus ngulang lagi.

Oh no! Itu tidak boleh terjadi.

So, aku abai dengan rasa takutku sendiri. Kaka dan keluarganya pulang hari Kamis sementara aku pulang hari Rabu, sendiri.

Aku buat persiapan semampuku. Beli lilin dan korek api secukupnya, kalau-kalau mati lampunya. Aku charge full kedua hp-ku dan kedua power bank ku. Jadi sewaktu-waktu kalau aku beneran takut, aku bisa nangis sesenggukan sambil nelpon ibu. *Lupa usia deh kalau gini….lupa usia. Haha. 😁😂😅. hp-ku sudah kupasang pengingat pula, “jangan lupa ngaji ya Cin!”

I think it’s enough for me.

Aku pulang ke Cikarang. Sampai di rumah sekitar jam 17.30 sore. Alhamdulillah semuanya normal. Lampu menyala semua. Hatiku senang, uhuy! 😍😍😍.

Dan tibalah saatnya untuk mandi karena badanku apek dan penuh keringat. Iiiiiuuuuuuu….! 😖😫😵

Ah, aku lupa belum nyalain air. Dan…up’s airnya nggak nyala. Aku sudah coba puter-puter itu benda.

Benda di atas maksudku tapi tetep nggak mau nyala. Aku telepon mbak Is, nanya lagi gimana caranya nyalai biar kran air itu nyala tapi nggak bisa.

Iki piye sih? Pinter tenan iku setan bikin aku nggak bisa mandi, nggak bisa mandi, nggak bisa sholat, dan nggak bisa ngaji.

Aku pun panik dan nangis di telepon. *lupa usia lagi kamu Cin, lupa lagi. Untung pas nengok kanan-kiri nggak ada yang liat. Haha. 😂😆😅

Untunglah ada tetangga baik yang mau membantu. Dan masalahku pun selesai. Alhamdulillah.

Eh habis maghriban, perutku tiba-tiba laper. Cari makan ah, pikirku waktu itu.

Ah, tapi tapi tapi…waktu aku ngerogoh dompet unyuku, uangku tinggal lima ribuan dua. Aku baru inget kalau atm-ku keblokir dan aku nggak bisa ngurus sampai besok pagi.

Ya sudahlah…aku putuskan beli I***mie goreng dua, yang satu buat stock. Lagian subuh nanti, kakakku udah pulang jadi aku nggak perlu mikirin makan untuk besok pagi.

Pagi pun akhirnya datang. Aku kesiangan karena semalaman aku wayangan belajar Translation. Jam 05.30 pagi dan lampu depan masih dalam keadaan menyala. Dan itu artinya….kakakku nggak jadi pulang. Aku kelaperan sampai jam 09.00. Mau masak nasi dan beli ikan di luar tapi…uangku tinggal 10 ribu rupiah yang terdiri dari dua lembar uang dua ribu rupiah dan uang receh lima ratusan sejumlah enam ribu rupiah.

Ah, aku lupa…aku kan masih bisa menggunakan sms banking karena kalau layanan bank M**diri meskipun terblokir, sms banking-nya masih bisa digunakan. Aku hanya perlu memindahkan uang dari atm satu ke atm yang lain dan…selesai. Horeeee…!

Aaaaakkkkk…tapi kenapa ini nggak bisa ya. Ini kenapa? *Aku lupa, kemarin pas aku telepon ibu, itu beda operator. Dari Indosat ke Telkomsel dan aku nangisnya lamaaa…Huwaaaaaa! Tepok jidat deh! 😅

Hmmmmm…ini hari apa sih? Kenapa aku merasa beruntung (dalam tanda kutip) banget. Sampai ngebatin.

Baiklah…baiklah….aku beranikan diri menahan malu. Akhirnya aku beli pulsa di counter terdekat. Masnya ngeliatin aku dari jauh langsung berdiri sambil tersenyum gitu. Mungkin karena penampilanku sedikit lebih rapi. Ya maklumlah, kan mau UPM, masa dekil?! *Jangan sampai…jangan sampai! 😁

Tapi entahlah kenapa muka masnya langsung cemberut begitu aku bilang beli pulsa lima ribu saja dan bertambah ditekuk itu muka masnya begitu aku keluarin dua lembar uang dua ribu kucel dan recehan lima ratus sejumlah tiga ribu rupiah.

“Maaf ya mas, uangnya recehan.” Dan aku langsung ambil langkah seribu. *Malu yakin. 🙈🙉🙊

Alhamdulillah masalah mindahin uang sudah selesai, aku kembali bernafas lega. Naik angkot elf yang panas pun sudah tak terasa lagi dan tanpa malu-malu aku sarapan di angkot, untung si angkot masih ngetem dan sepi.

Aku kembali baca chatt di group kelas terbang XD, siapa tahu sudah ada yang fotoin tempat ujiannya di gedung mana, jadi bisa mempersingkat waktu. Aku hanya perlu mengeprint kartu UPM di BAAK dan bisa duduk manis di ruangan ujianku.

631,

632,

633,

634,

Ada list nama dan ruang di gedung berapa di sana. Tapi tak ada satu pun namaku di ruang 631-634 (gedung 6 lantai 3 ruang 1-4). Aku masih positive thinking waktu itu. Mungkin saja aku ada di ruang sebelumnya, bisa jadi 551-554. Who knows?

Tapi Lovers, setelah aku cek di mading, tetap tidak ada namaku di sana. Aku masih bisa mikir waktu itu. Aku ngeprint dulu kartu UPM dan setelah itu aku bisa menanyakan kenapa namaku tidak ada di list peserta UPM. Tapi aku malah kaget, tidak ada mata kuliah Translation di sana. Aku komplain dan tidak tahan untuk marah-marah karena dioper kesana-kemari.

Waktu ujian telah selesai. Mendadak semuanya menjadi lemot seolah gerakan slow motion dan semuanya terpusat padaku. Aku pemilik pusat gerakan itu. Aku pengendali semuanya. Aku pulang dengan ojek online dan aku menangis di sepanjang jalan. Sampai-sampai abang tukang ojeknya kebingungan dan bertanya kenapa. Aku hanya menggeleng saja dan bilang, lanjutkan saja pak, saya tidak apa-apa.

Sampai di rumah, aku hanya meringkuk di kasur dengan posisi telungkup seperti kucing yang sedang kedinginan. Aku tidak butuh kasih-sayang apalagi sentuhan. Aku hanya butuh lulus tepat waktu, itu saja. Tidak lucu rasanya saat aku memakai topi toga nanti tapi begitu aku menengok ke kanan dan ke kiri, aku sama sekali tidak mengenal mereka. Aku butuh pelukan teman-temanku. Aku butuh kita menangis bersama. Moment empat tahun itu, kebersamaan itu…Kenapa aku bahkan tidak boleh memilikinya? Kenapa?

Dan aku menangis lagi. Tiga jam lamanya sampai mataku bintipan. Masih terbayang kata-kata pak Kaprodi bahwa beliau akan membantu semampunya. Aku hanya bisa mengharapkan beliau.

Dan puji syukur. Ketika kubuka chatt wa, pak Kaprodi bilang, ini kasus khusus dan aku bisa ikut UPM susulan. UPM susulan yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah di kampusku, akhirnya besok akan kulakukan.

Memang, kampusku bersalah…tapi aku salut karena mereka mau bertanggung jawab atas kekeliruannya.

Alhamdulillah ke-apes-anku dalam sehari semalam berakhir juga. Senang dan lega rasanya.

Besok, adalah waktu UPM susulan. Doakan aku ya Lovers, agar aku tak perlu mengulang. Aku sungguh ingin lulus bersama teman-teman seangkatan. Sungguh menginginkannya. ❤❤❤

Iklan

22 thoughts on “Apes

  1. fotonya bagus-bagus, kecuali yang njengking (nungging)itu saja yang tidak, hahaha
    harusnya, yang punya counter itu senang, soalnya kalau pelanggan beli pulsa 5rb rupiah semua, pasti untungnya banyak (begitulah yang aku rasakan selaku penjual pulsa) wkwkwkwkw

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s