Karena ini pendakian pertamaku


Karena yang pertama selalu menjadi bagian yang spesial. 1766 kata


Please do not complain with the title, ok?

Aku sengaja buat judul begitu karena terinspirasi dari drakor yang kemarin itu tuh…yang di setiap episodenya, si judul selalu dimulai dengan kata :

Because this is my first……….a.k.a Karena ini………….pertamaku”

Jadi boleh dunk aku ikut-ikutan ala-ala drakor itu. Hehe. ^__^>

Oh iya, sebelum aku mulai berceloteh ria, aku mau tanya deh. Siapa di antara para bloger ketjeh ini yang pernah nanjak gunung?

Kalo jawabannya udah pernah, wuah wuaaaah…aku salut banget, asli salut banget. Aku kasih four thumbs up and applause 1000x. Kalian ketjeh Lovers, sumpah super-duper ketjeh. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘…1000x

Kenapa aku bilang demikian? Ya karena aku sudah merasakannya, dan itu tuh bener-bener-bener-bener-bener-beneeeerrrr menguras energi dan kesabaranku. 😀

Gimana-gimana? Masih tertarik dengan ceritaku ini? Yakin? Cius nih? Lanjut? Wokeh, siapa takut? *malah jadi ngiklan. πŸ˜†

Cerita ini dimulai sebulan lebih satu minggu yang telah berlalu, tepatnya dari tanggal 3 – 7 November 2017. Kami : mas Ridho, mas Salman, mas Zaenal, mas Helmy, mbak Tini, dan mbak Ati, serta diriku sepakat mendaki gunung Merbabu dengan ketinggian 3142 Mdpl.

Seminggu sebelum berangkat, mbak Tini bertanya padaku, “Yakin ikutan nih treking ke merbabu?”

Dengan mantab aku jawab, “Iya mbak, ikut, insya Allah, disuruh dokter spesialisΒ  buat cari udara sejuk kalau mau batuk asmaku sembuh.”

Lagi. Dua hari sebelum keberangkatan pun, mbak Tini nanya lagi loh…”Yakin nih, jadi ikutan?”

Dengan mantab lagi aku jawab, “iyeeee, yang penting sembuh aja.”

Sempat sih terbersit dalam pikiran, ini mbak Tini kenapa sih? Koq nanya sampai dua kali?

Dan jederrrr! Kebingunganku terjawab sudah, setelah browsing, tinggi gunung itu ternyata 3142 Mdpl. Padahal aku ini pemula loh. Waduh. Piye jal? 😲

Sayangnya…informasi itu kudapat satu hari sebelum pendakian. Busyeeeet dah, ini jangan ditiru ya Lovers, nggak bener nih orang. πŸ˜…

Again. Aku tambah panik pula karena aku nggak ada physical exerciseΒ atau olahraga sebelumnya. Karena sebaiknya, dua minggu sebelum nanjak itu lari-lari dulu. Ini yang bener.

Kebingungan terakhirku adalah di hari Kamis aku haid. Otomatis pendakian pertamaku adalah hari kedua haid. Parno? Iya lah, gimana nggak? Seketika pas browsing aku nemu hal-hal mistis gitu bila cewek beneran berani mendaki saat haid. πŸ˜²πŸ˜΅πŸ˜–. Piye iki, piye, piye jal? @__@

Akhirnya, daripada bingung ngegantung nggak jelas, aku pun memberanikan diri bertanya pada Ikha, itu loh, si ibu negara di komunitas WordPress dan alhamdulillah, masalahku teruraikan.

“Jangan takut mbak, insya Allah kalau niat kita baik, akan baik juga yang kita dapatkan.” Nah intinya gini deh nasehat Ikha padaku. Terus Ikha juga ngasih banyak sekali masukan tentang tissue kering atau tissue basah dulu yang dipakai sehabis kita pipis atau BAB? *Up’s koq jadi jorok gini postingannya ya? πŸ˜†. Tapi ini penting loh Lovers, cius loh! Dan akhirnya Ikha dan diriku pun sepakat bahwa tissue kering dulu baru tissue basah. Apa alasannya? *Pikir aja deh sendiri. Hehe. 😜

Keparnoanku udah mulai hilang. Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hari Minggu tanggal 5 November 2017 ba’da isya, kita bertujuh memulai pendakian.

Paling depan adalah mas Salman, aku di nomor dua, di belakangku siapa setelahnya, aku lupa. πŸ˜…

Sepuluh menit pertama. Aman. Rada takut sih sebenernya, gelap choi! Tahu sendiri, aku kan takut gelap! 😣 *Makanya sembari jalan aku dzikir saja sebisaku.

Sepuluh menit kedua. Waduh. Aku bilang, “Stop dulu mas, ambil nafas dulu.”

Sepuluh menit ketiga. Sepuluh menit ke empat. Sampai sepuluh menit ke lima. Berhenti mulu. Busyeeet dah, lelah sangad! Baru nyampe pos 1. Dan aku muntah. Eneg. Jantungku berdebar kencang. Dingin tapi panas. Panas tapi dingin. Masya Allah. Nano-nano syekaleeeeh. πŸ˜²πŸ˜΅πŸ˜£πŸ˜–

Tapi untung banget waktu itu karena tim kita solid. Satu berhenti ya lainnya juga berhenti. And all of this happen because of me. *tepok jidat deh, heeee.

Habis muntah, entah kenapa langkahku jadi ringan. Kata mas Ridho sih karena kondisi tubuh udah bisa menyesuaikan diri. Ibarat mesin, udah mulai panas.

Lelah? *Pasti

Mau pingsan? *Banget

Pengin nangis? *Iya sih tapi malu haha. πŸ˜†

“Mas…gimana ini? Kakiku kaku, kayaknya aku kram mas.” Ucapku pada mas Salman yang ada di depanku.

Dan alhamdulillah, dengan cekatan mas Salman membuka sepatu dan memijit kakiku. Sebentar loh, cuma lima menit dan hilang kramnya. Horeeeeee…!

Sepanjang perjalanan aku sering minta maaf karena aku yang bikin jalan mereka jadi lambat. Dan puncaknya….

H

U

J

A

N

Ya, hujan lebat mengguyur kami ketika kami masih di pos 1. Mau nggak mau perjalanan tetep di lanjut dunk. Oh iya, aku hampir lupa cerita kalau tas ku udah dibawain sama mas Ridho gegara aku muntah tadi. Tapi ya gitu…..namanya juga pemula, nggak bawa apa pun terasa berat. Aku kepeleset karena licin. Mas Ridho menahan kaki kiriku dengan kakinya, lalu mas Salman dengan kaki kanannya, satu lagi mas Zaenal tak ketinggalan. Tapi yang terjadi adalah, pijakan goyah dan kita berguling-guling di tanah licin dan basah. Huwaaaaaa… Masya Allah banget. Aku cuma bisa teriak-teriak sambil istighfar. Untunglah akhirnya bisa juga posisi kami seimbang.

Akhirnya kita berteduh untuk sementara waktu sambil menunggu hujan reda. Makan snack, minum, dan bernyanyi-nyanyi sejenak. Bedanya..tadi sebelum hujan, waktu kita nyanyi terus tiduran sambil menghadap ke langit, ada bulan yang keliatan terang dan setengah bulat. Sekarang nyanyi-nyanyinya bersama irama hujan. Hihi. Romantis sih. Capekku jadi hilang. Badan kotor juga bodoh amat. Karena kekerabatan yang kita jalin hari ini lebih indah dari peristiwa tidak mengenakkan tadi.

Entahlah sesudah itu semua jadi ringan. Mudah. Tidak merasa lelah lagi. Aku telah melalui jantung berdebar kencang, kepala agak pusing, lalu ingus keluar sendiri…dan alhamdulillah, setelah ingusku keluar, tubuhku jadi sangat ringan.

“Gimana mbak Cinta, mau berhenti dulu apa masih kuat nanjak?” Tanya mas Ridho.

Insya Allah masih, hayuuuk lah!”

“Hebat!” Kata mas Ridho sambil ngacungin dua jempol.

Sekitar jam 11 malam, sampailah kita di pos 3. Harusnya sih, kita mendaki sampai padang savana dan nge-camp di sana. Tapi karena cuaca rasanya tidak memungkinkan, kita mendirikan camp di pos 3. Dan kabar baiknya adalah…alhamdulillah banyak teman yang nge-camp juga di sana.

Begini nih suasana ngecamp di pos 3, pas di kaki gunung Merbabu di siang hari.
Kalau ini suasana pagi harinya. Dingiiin sueeeerrr…dingin yang mencerahkan. Hihi 😁

Malam hari kita pesta nasgor. Aku tidak ikut membantu. Kenapa Cin? *Yaelaaaah pake nanya lagi, kan…kan…ini pendakian pertamaku. Lelah dunk. Aku ngeringkel aja di camp. πŸ˜…. Eh yang lain maklum ternyata…baiknya mereka. Aku disiapkan makan, minum. Habis itu langsung tewas dalam mimpi. πŸ˜πŸ˜†πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜ƒ

Pagi tlah tiba…pagi tlah tiba. Hore! Hore! Horeeee!

Pagi yang kesiangan waktu itu. Pagi yang direncanakan ingin melihat sunrise berubah menjadi pagi setengah siang. Jam 9 pagi kita baru bangun loh. Nggak mandi deh dua hari, setelah bergulet-gulet dengan tanah licin pula. Keringatan pula. Eh tapi aneh loh, koq iya ya nggak gatel. Koq iya ya…minum air mineral bisa seenak itu. Wedang jahe kenapa begitu nikmat ya? Teh pait…ini kenapa teh pait anget bisa jadi seenak ini.

Subhanallah. Walhamdulillah. Wa laa ilaa ha illallah. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Pendakian dimulai lagi di hari Senin pagi untuk mencapai puncak Merbabu. Kali ini seperti mendapat kekuatan baru deh, kenapa? Karena sebelumnya aku kuat menanjak sampai di pos 3. Aku yakin, akan kuat juga sampai puncak.

Ah tapi aku down lagi. Hampir hampir setiap orang yang kutemui kutanya…masih berapa lama lagi sampai puncak?

Dan entah kenapa…setiap jawaban koq bervariasi tapi intinya hampir sama.

“15 menit lagi kakak, semangaaaat!”

“10 menit lagi kakak, ayo semangaaattt!”

“Percaya deh kak, nggak ada 5 menit lagi! Semangat!”

Sampai sampai kepikiran sendiri. “Itu orang-orang kenapa kompak banget jawabnya ya? Tapi ini udah setengah jam koq belum sampai juga sih?” *sambil garuk-garuk bingung.

Waktu aku nggrundel begini ternyata mas Ridho denger. “Itu karena mbak Cinta jalannya pelan, coba cepat…pasti udah nyampe dari tadi. Itu suara mbak Tini udah kedengeran loh. Masa nggak pengin sampai puncak juga?”

Ya Allah…PHP ternyata aku di PHP. Baru nyadar karena sampai satu jam, ini kenapa puncaknya belum juga keliatan. Dasaaarrr ya kalian. PHP-nya mantab aneud mas! 😀 *tepok jidat. πŸ˜†

Sok ketjeh sebelum kelelahan. Horeee…aku paling duluan!
Nah kan…apa kubilang, kalo sudah kelelahan nggak bisa senyum lagi! πŸ˜…
Baju merah, mentorku paling ketjeh : mas Ridho, terus sebelahnya mbak Ati, mas Zaenal, mas Helmy, and me.
Difotoin mas Salman…alhamdulillah hasilnya lumayan, suka!. 😁
Kegirangan waktu nyampai sini, dikira puncak…eh ternyata masih 504 meter lagi. Jiaaahhhh PHP, kali ini plang papan tulisan yang PHP-in aku. πŸ˜…

Sekitar 30 menit sebelum mencapai puncak, aku bilang pada mas Ridho.

“Mas, maaf…mas Ridho duluan aja. Aku udah nggak kuat lagi. Udah muntah pula. Aku nunggu mas Ridho dan yang lainnya saja di sini.”

“Halah….itu tuh cuma perasaanmu saja. Kamu kuat loh sampai di sini. Semalam juga, kamu kayaknya bikin aku pesimis buat sampai di pos tiga. Tapi kamu nyampai juga loh. Masa cuma 200 meter lagi kamu nggak bisa?” Mas Ridho masih membujukku.

“Tapi mas, beneran capek banget mas. Aku nggak bisa deh kayaknya. Maaf mas.”

“Aku tungguin. Mau sampai besok juga aku tungguin. Pokoknya kalau udah ngerasa baikan, ayo nanjak lagi. Kamu bisa. Kamu harus lawan dirimu sendiri. Rasa malasmu masih ada, maka itu yang harus kamu lawan. Kamu dari Cikarang jauh-jauh ngapain kalau cuma bergelantungan kaki, nunggu nggak jelas di sini. Nanti nyesel loh.”

Hmmm…mikir deh. “Yowes aku jalan tapi pelan ya mas.”

“Siap. Silakan. Inget apa yang kuajari tadi. Jangan kebanyakan minum malah muntah. Pijakan 5 langkah ke depan terus berhenti. Kalau udah kuat lima langkah, coba 10 langkah baru berhenti, dan kalau mau berhenti, pilih yang landai. Berhenti ambil nafas dari dada lima detik saja. Jangan duduk. Kamu kalau kuperhatikan ya, setiap kali duduk jadi males jalan lagi.”

“Siap mas. Insya Allah. Tapi…tapi…aku minta minum dulu, mas.”

“Loh kan tadi udah minum. Sekarang aku saja yang mutusin kapan kamu minum biar nggak muntah lagi. Gimana, deal?”

“Wokeh, siapa takut?”

Finally…sampai puncak juga. Alhamdulillah, meskipun telat satu jam dari yang lainnya. Mereka keep their promise…mereka keren, mereka nunggu aku.
So those are the team : Mas Ridho, mas Salman, Cinta, mas Helmy, mbak Tini, mbak Ati, mas Zaenal.

Akhirnya aku mengerti satu hal : Mancapai puncak bukanlah menakhlukan gunung, akan tetapi menakhlukan diri-sendiri.

Terimakasih atas moment tak terlupakan waktu itu. Aku pasti akan mengenangnya dengan indah.

Oh iya, di bawah ini oleh-oleh pemandangan dari Gunung Merbabu, kalian, all of my Lovers (pembaca setiaku) dapat salam dari gunung Merbabu. Katanya…”Kapan kalian ke sini?”

Gambar tanganku dengan background Gunung Merapi, dan mas Salman yang nggak sengaja kefoto.
Sunrise dari tempat camp
Basecamp untuk pendakian via Selo.
Entahlah ini tanaman apa, tapi yang jelas bau banget pupuknya. 😣
Dua orang gadis di pagi hari setengah siang yang masih menggigil, hihi.
Tempat camp kita di kaki gunung, keren juga kalo dilihat dari jauh. 😍
Tiga orang tak dikenal yang tidak sadar sedang difoto. Ini di padang Savana Merbabu.
Istirahat sejenak di Savana Merbabu.
Wajah-wajah bahagia. πŸ˜‡

Ok, terakhir…ini ada video kita lagi lelah-lelah ria sambil becanda. Coba tebak, aku yang mana?!

65 respons untuk β€˜Karena ini pendakian pertamaku’

  1. Huaaaa.. seruuuu….
    Iya benar mbak, jalan ga bawa apapun rasanya udah capek. Aku baru sekali ngerasain naik gunung cuma bawa badan. Tp tetep kesel. Hahaha.

    Kalau berhenti emang disarankan jangan duduk mbak. Nanti jadi males buat mulai lagi. Terlanjur pewe.
    Baiknya istirahat rukuk (bagi yg bawa tas) atau cukup berdiri saja ambil napas.

    Akhirnya sampai puncak ya. Hihi.. pemandangannya pas bagus juga. Hijau. Seger.
    😍😍😍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Pendakian pertama emng beraaat bgtt *mnrtku sih, tp buat ktghan, dan slnjutny akan lbh mudah.

    Seruuuu bgtt, klo tmn-tmnku sm aku emng g sering minum, mlah ga enk ntr, klo capek, dan btuh asupan biasany kami ambil gula merah sedikit, klo kami ngrsa ngruh skli πŸ˜ƒ

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ceritamu heboh bnget, mbak Cinta. Ya, sy liat di medsosmu bbrp waktu lalu ttg pendakianmu ini, sy udah tebak, psti ini bakalan diulas di blog, dan Btul sj, dan walaupun dah lama gak update, skli update rapelan: pnjang bnget 1700 kata lebih.
    Tp rame ceritanya ya…

    Naik k gunung sy blm pernah sih, soalnya klau di kalimantan kita cuma punya bukit2, tp sy bs bayangkan btapa mendaki gunung itu gak gampang, aplgi prtama kli dan pemula. Mndaki bukit aja ngos2an, aplgi gunung, dan aplgi dg bobot tubuh yg lumayan, πŸ˜€πŸ˜€.

    Tp salut sama Cinta, akhirnya ttp ttp berhasil sampai puncak

    Disukai oleh 1 orang

      1. Saya ga pernah naik bukit daerah sini mas orang-orang si uda pernah πŸ˜…. Duh kalo soal duren saya juga rela naik bukit ato naik gunung sekalian

        Disukai oleh 2 orang

      2. Menguning kali ya namanya kurang tau juga, sy taunya dr foto temen saya yg pas kesana hijau2 gitu nah paa temen sy yg lain kesana ga sehijau itu.

        Kalimantan si panas mba πŸ˜₯

        Disukai oleh 1 orang

    1. Hihi ya gtu deh mas Des. Aku kl cerita jd muncul versi cerewetnya. πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜ƒ

      Wuah banyak bukit? Bisa buat latihan mendaki tuh mas. Coba Kalimantan itu deket Cikarang, main deh ke situ. 😍

      Puncak itu melelahkan, tapi sepadan dengan hasil mas Des. Terimakasih atas salutnya mas, jadi malu sbnrnya, tapi ya mau gmn lg…hrs diceritain, supaya jd penyemangat buat para pemula. 😁

      Disukai oleh 1 orang

  4. Bagi yg hobi tentu menyenangkan, nah bagi saya…..😎😎
    Sewaktu kuliah di Jogja, teman2 Mapala sering bnget ngajakin, aku iyain. Pas waktunya jreng-jreng, aku ga bisa ikutan!!
    Mungkin udah lelah teman2 ngajakin karena ga cuma sekali tapi berkali2.
    Sampai saat ini, belum pernah mendaki gunung, kecuali bukit πŸ˜‚πŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

  5. Mbak Cintaaa ini pengalamannya seru bgt! Sekalian curhat juga, dulu gunung pertama yg kudaki juga Merbabu lho dan itu bener-bener cantikkk bgt apalagi pas malem bintangnya banyak bgt dan bulannya bulat sempurna waktu itu. Abis baca ini, jadi pengen ke sana lagiii 😭

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s