Aku masih Tinker Bell-mu


Aku masih Tinker Bell-mu yang dulu, 354 kata

Iklan

Gambar diunduh dari Google

 

Aku masih Tinker Bell-mu,

Aku tahu, terkadang aku cuek,

aku seolah tak peduli,

aku seolah sibuk sendiri,

maafkan sayang…maafkan,

aku masih serakah dan ingin memiliki semua fungsi, sebenarnya…aku hanya ingin menjadi lebih baik dari diriku yang dulu, itu saja.

 

Aku masih Tinker Bell-mu,

seseorang yang akan dengan mudah kau peluk jika kau butuh pelukan,

seseorang yang bisa kau andalkan mendengarkan cerita-ceritamu dari awal hingga akhir, tanpa kau perlu merasa malu menceritakan semuanya padaku,

seseorang yang bisa membuatmu nyaman hanya untuk sekedar bersandar di pundakku,

seseorang yang masih dan akan bertingkah konyol sekonyol-konyolnya hanya untuk mengusung senyum di bibirmu itu.

 

Aku masih Tinker Bell-mu,

Seseorang yang kau percaya bisa membuatmu menjadi lebih baik, seseorang yang berbeda dari lainnya, itu katamu…kau masih ingat bukan? Aku hanya mengulanginya, tanpa menambahkan imbuhan apa pun.

Padahal apalah aku ini, bahkan untuk menyaingi fungsi dari partikel-partikel hujan saja aku tak mampu.

Bagaimana tidak? Hujan abadi…sedangkan aku…mungkin akan segera mati dan menjadi tanah sebentar lagi.

 

Sayangku, sebenarnya…malam ini aku sedih.

Aku tak berhasil membuat Mawar menjadi lebih baik, yang terjadi malah beda pendapat dan berdebat,

aku belum bisa membuat Melati menjadi lebih baik, ia tak mau lagi bercerita denganku perihal masalahnya,

aku membuat Lily kemarin menangis karena aku salah paham,

aku tak mampu membuat Anggrek percaya lagi padaku, pada rasa sayangku. Niat baikku tidak digubrisnya sama sekali, chatt WhatsApp-ku hanya di-read tanpa jawaban.

 

I feel, I am dying, now.

Aku hidup dengan menyerap hawa bahagia dan tawa kalian. Aku sudah bilang itu, kan?

Aku hidup karena keajaiban mantra-mantra doaku yang kunazarkan pada-Nya saat aku sekarat dan hampir mati ketika ituβ€”ketika malam-malamku pasrah di ranjang tidur dalam tubuh ringkih dan lumpuhβ€”aku janji, aku akan menjadi hujan, elemen alam yang paling kucintai, aku juga akan membuat semua orang di sekitarku bahagia. Tapi…rasanya akhir-akhir ini, aku gagal. Mungkin itu sebabnya…I feel I am dying. So dying.

 

Aku masih punya Tulip, Allamanda, Anyelir, Azalea, Chrysanthemum, juga Camelia di sisiku.

Tapi…tanpa kalian, hidupku tidak lengkap lagi.

Bersediakah kalian kembali?

You can keep my promise,

I am your Tinker-Bell, as always.

19 thoughts on “Aku masih Tinker Bell-mu

  1. Kita kan ga bisa nyenengin semua orang, rigth? Kita jg ga bisa seketika membuat orang paham maksud kita. Ada tipe orang yang butuh semedi dulu untuk menerima kebenaran sebuah saran. Ada yang cuma diam, ada yang didahului pemberontakan atau perlawanan.
    Jadiiii… Tunggu saja, pelangi tidak pernah datang bersamaan badai, tapi sesudahnya. Kesalahpahaman memang tidak pernah mudah…

    Disukai oleh 5 orang

    1. hu um, bener bunda Dyah…penginnya bs nyenengin smua orang, tapi belum bisa πŸ˜…

      “pelangi tidak akan datang bersama badai, tapi sesudahnya.”

      πŸ“πŸ“πŸ“

      hu um, tidak mudah memang. Tapi sll ada peluang / ksempatan utk kembali bersama.

      Makasih bunda Dyah. Cinta terharu… Hug hug 😒😊😘😘😘

      Disukai oleh 1 orang

      1. masalahnya ini janji sama Tuhan, dek Agit…janji saat q sekarat dan kata dokter tidak ada harapan hidup lagi…prnahkah dek Agit merasakan itu? 😊
        kdg sampai merasa bhwa bahagia mereka adlah energi dr semangatku. Mgkin hanya tersugesti kali ya. πŸ˜…

        Amin. Insya Allah dek, smga bs jd yg trbaik. Amin πŸ˜‡

        Disukai oleh 1 orang

  2. Aku mngerti gmna rasanya di-misunderstood, I juga see gmn rasanya di-understood. Keduanya penuh nuansa, kdang memang mengacak-acak dunia emosi insani. Menikmatinya adalah seni khidupan.

    Whatever dah, yg psti Cinta itu penuh warna, kadang krem, kadang merah, kadang pink, kadang biru, tp juga memang ttp hijau seperti Tinker Bell.

    Ahh…aku nulis ap sih, 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s