Aku harap…


Aku harap…348 kata

Iklan

Aku berbeda dengan perempuan lainnya.

Tubuhku mungil, hanya 150 cm. Kurus, itu dulu. Sekarang sih agak gemuk.

Jari tanganku sama sekali tidak lentik. Apalagi cantik.

Ibuku sering menasehatiku begini,

“Cinta, belilah perhiasan emas, pasanglah di jari tanganmu. Sebuah cincin atau gelang emas. Pasti, Cinta terlihat lebih cantik.”

Ah, andai ibu tahu…rasa-rasanya, gelang dan cincin emas itu tidak cocok di jariku. Jariku lebih cocok jika diisi dengan gelang lilitan tali atau manik-manik berwarna-warni itu.

Lagi. Lain hari, aku teringat lagi. Ketika itu, aku dibonceng motor oleh ibuku tersayang sewaktu di kampung.

“Cinta…tengok sebelah kanan sebentar. Lihatlah agak lama.”

“Sudah ibu, sudah dilakukan.” Tanpa banyak bertanya, aku menjawab.

Aneh. Ibuku sepertinya tidak puas dengan jawabanku tadi. Beliau memintaku hal yang sama lagi.

“Cinta…tengok sebelah kiri sebentar. Lihatlah agak lama.”

“Sudah ibu, sudah dilakukan.”

Ibuku tak puas lagi. Beliau memintaku melakukan hal yang sama lagi.

“Cinta…sekarang tengok depan. Lihatlah lagi agak lama.”

?????????????

Sungguh, kepalaku penuh tanda tanya dibuatnya. Karena tak kuat, aku jadi bertanya.

“Ibu, sebenarnya ada apa? Kenapa Cinta harus tengok kanan, tengok kiri, dan ke depan? Cinta bingung, ibu.” 😑😑😑

“Itu tadi…adalah anak temannya ibu. Kesemuanya adalah pasangan muda-mudi yang baru menikah, Cinta. Lihatlah betapa hangat mereka berpelukan dan bercerita. Apakah Cinta tidak ingin demikian?”

😑😑😑

Jawaban ibuku membuatku tak berkutik lagi.

“Baiklah ibu. Cinta ingin. Tapi ibu, bukankah ada hal lain yang harus didahulukan daripada hanya sekedar ingin? Cinta masih sibuk dengan kuliah. Cinta masih harus berbuat banyak di tempat kerja. Cinta masih ingin memperbaiki diri dalam berbagai aktivitas. Dalam sebuah forum. Dalam sebuah komunitas. Percayalah ibu, Cinta masih normal koq. Masih menyukai lawan jenis. Ibu hanya perlu percaya itu. Nanti, Cinta akan memberikan menantu terbaik buat ibu, jika sudah saatnya. Sekarang ini, izinkan saja Cinta untuk terus berjuang, deal?”

Ibuku tiba-tiba murung. Aku bisa melihatnya dari kaca spion depan motor yang dikendarainya.

“Ibu, deal?” Kali ini aku memeluknya. Aku paling tahu, ibuku selalu luluh dalam pelukanku.

“Iya.” Dan benar, ibuku tersenyum lagi. Alhamdulillah. 😇

*************************************************

Memang, kuku jariku tidak lentik. Apalagi cantik.

Aku lebih suka memakai gelang manik dan lilitan tali.

Tapi…kuharap, kau masih mau menyukaiku.

❤❤❤

22 thoughts on “Aku harap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s