Cerita Singkat Dua Hari Terakhir


Cerita Singkat Dua Hari Terakhir, 1425 kata

Iklan


Dua draft yang terencana untuk kuposting kemarin, akhirnya kubuang begitu saja ke tong sampah WordPress.com

Ini tidak pernah kulakukan. Tidak. Sungguh tak pernah terjadi sebelumnya.

Tahukah Lovers kenapa aku membuangnya? Jawabannya adalah karena kurasa, postingan itu sudah terlambat.

Ah, maaf, aku lupa bilang, kalau tulisan kali ini masih tentang murni curhat Cinta1668. Bagi yang tidak berkenan, silakan skip, abaikan saja. Tidak mengapa. Sungguh, aku lebih menghargai kejujuran. Tidak apa menjadi beda, bukankah dengan perbedaan, kita jadi bisa saling menghargai?

Bagi yang ingin melanjutkan membaca, terimakasih sebelumnya.

Ikuti arah tangan-tangan kecil ini dan biarkan aku sedikit bercerita. 👇👇👇

HARI PERTAMA

Sabtu, 06 Mei 2017

Di draft pertama yang berjudul “Katanya” berkisah tentang surat Al-Kahfi. Kami—aku dan Nunuk— sebenarnya sedang berharap keajaiban terjadi setelah membaca ayat-ayat suci itu. Kata seorang habib kenalan kakak ipar, bacalah sholawat atas nabi besar Muhammad SAW sebanyak tiga kali, lalu bacalah surat Al-Kahfi, semoga kesembuhan diberikan kepada kakak Dian, jika dibaca malam hari, insya Allah sudah ada jawaban dari-Nya sebelum subuh. Dan kami pun menurutinya, karena pak dan bu dokter berkata tidak ada harapan lagi, maka hanya Tuhan yang bisa membuat keajaiban itu. Kami masih percaya, Tuhan pasti akan datang dengan keajaiban-Nya.

Beberapa kali kami membaca ulang ayat-ayat indah itu. Ah, Lovers, andai kalian tahu bagaimana cara kami membaca. Masih terseok-seok, tidak lancar, masih salah-salah, dan kadang terasa habis nafas, tapi kami tetap membaca. Kami tahu, Tuhan pun akan memakluminya, Tuhan pasti melihat kesungguhan kami malam itu. Kami memilih membaca dengan suara lirih daripada diam. Saat membaca Al-Kahfi, aku akan memegang tangannya yang dingin dan membiru, beberapa menit kemudian, aku selingi dengan memegang kaki mungilnya. Masih sama, biru, dingin dan hampir-hampir beku, kupikir itu karena suhu di ruang ICU terlalu dingin. Aku mendapat bagian tangan dan kaki kanan sedangkan Nunuk mendapat bagian tangan dan kaki kiri. Sesekali perawat jaga yang terdiri dari dua orang lelaki dan satu orang perempuan akan datang bergantian memberikan obat via infus, atau sekedar memberikan susu formula per tiga jam sekali melalui selang yang menempel di hidung kakak Dian. Aku sempat memergoki seorang perawat lelaki menatapku. Pasti dalam hati, ia menertawaiku karena cara membaca kami yang terbata. Ya sudahlah, tidak mengapa.

Tidak seperti malam Sabtu kemarin. Saat itu terlihat jelas, uap yang tiba-tiba berubah menjadi embun di dalam selang transparan (alat bantu pernafasan) yang menempel langsung ke mulutnya. Malam ini, uapnya tidak terlihat jelas lagi. Hidungnya yang mancung jadi kembang-kempis. Dan bodohnya aku, malah membatin, mungkin kakak Dian sudah mulai bisa bernafas dengan hidung lagi, alhamdulillah jika begitu.

Jam 10.00 pm. Suara mengaji kami sering berhenti seketika ketika alat bantu monitor melengking keras beberapa kali. Sesekali alat pendeteksi nadi dari angka 100 berubah menjadi tiga strip (—) menghilang sama sekali, lalu muncul lagi beberapa saat. Alat pendeteksi pernafasan juga demikian, angka 40 turun ke 30 dan masih turun lagi ke 20 lalu akan naik lagi ke 40.

“Nuk…kenapa hilang-hilang begitu? Bahayakah?” Aku yang penasaran, tak tahan untuk bertanya.

Nunuk hanya menggeleng, tak ada jawaban.

Aku mengganti posisi dari duduk menjadi setengah berdiri. Aku mendekati bayi mungil berusia satu tahun tiga bulan itu dan berbisik…

“Kakak Dian sayang, bisakah penuhi permintaan tante Cinta? Bangunlah sayang, bangun sebelum hari Minggu terlewat. Tante Cinta ingiiiiinnnn sekali kakak Dian bangun sebelum tante pulang ke Cikarang.” Sambil mengelus-elus rambut kepalanya, aku masih bersuara lirih mengulangi permintaanku padanya.

Jam 10.30 pm. Aku mengantuk, padahal aku masih ingin membaca terjemahan surat Al-Kahfi, jadi kuputuskan menyeduh white coffee kesukaanku, berharap kantukku segera hilang. Tapi sayang, air dalam dispencer tidak panas, aku harus mengalah menunggu setengah jam sampai airnya panas.

“Nuk, aku agak lama ya, menunggu airnya panas, tidak apa kan? Nunuk mau minum juga?”

Nunuk tak menjawab lagi. Hanya mengangguk, untuk pertanyaan pertama. Tersenyum lalu menggeleng untuk pertanyaan kedua.

Jam 11.00 pm. Aku kembali ke ruang ICU. Aneh, white coffee yang sedari tadi antusias untuk kuminum, tiba-tiba saja aku tak lagi menginginkannya. Tak ada pertanda apa pun waktu itu. Hanya mengantuk saja. Aku putuskan untuk tidur sambil duduk di samping si tampanku. Aku melepas genggaman tanganku darinya.

Lima menit. Ya, hanya lima menit saja aku dan Nunuk terserang kantuk dan tidur.

Bunyi bising yang memanjang dan berkali-kali dan monitor itu membangunkan kami. Disusul perawat jaga yang datang sambil berlari. Nunuk menyerahkan ponselnya, memintaku segera menelpon suaminya. Tak sampai lima menit, suaminya datang dan aku harus keluar sesuai peraturan, hanya dua orang saja yang diizinkan berada di ruang ICU.

Lemas. Tangan dan kakiku tiba-tiba saja lemas. Aku bergumam sendiri di depan pintu ruang ICU itu.

Tuhanku, Tuhan Yang Maha Baik, beri kami keajaiban, beri kesempatan untuk si tampanku lebih lama lagi melihat dunia. Tuhanku, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami.

Jam 11.11 pm. Nunuk dan suaminya keluar dari ruang ICU. Wajah mereka tampak lusuh.

“Mbak Cinta, kakak Dian sudah tidak tertolong lagi. Kakak Dian sudah pergi…”

Lalu tanpa aba-aba, adekku satu-satunya itu jatuh di pangkuanku. Ia menangis sejadinya, mengeluarkan semua beban yang ditahannya selama hampir satu Minggu ini.

“Nunuk, bersabarlah. Doa kita sudah dijawab Tuhan. Kakak Dian sudah sembuh. Tidak akan merasakan sakit lagi. Kakak Dian pasti lebih bahagia sekarang, ikhlaskan ya Nuk.”

Saat berkata demikian, aku pun tak sanggup menghapus airmataku sendiri. Berapa kali pun aku hapus, akan ada lelehan lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Jadi kubiarkan saja. Mungkin setelah ini, aku bisa lebih lega.

HARI KEDUA

minggu, 07 Mei 2017

Aku kesiangan. Jam lima pagi lebih sekian menit, aku baru bangun. Suasana di rumah sudah ramai. Saudara dekat dan jauh, tetangga, berbondong-bondong memenuhi halaman rumah juga beberapa ruang di dalam rumah kami. Satu demi satu mereka menyalami kami. Memberi kekuatan dan nasehat untuk kami sekeluarga, Nunuk khususnya.

Jam 08.00 am. Saatnya memandikan si tampanku untuk terakhir kalinya. Pak Lebe—sapaan untuk orang yang memandikan jenazah—tiba-tiba berhenti di sela-selanya.

“Siapa di antara keluarga, yang mau sukarela memandikan jenazah? Anggap ia anaknya sendiri. Mandikan seperti memandikan bayi sendiri. Silakan maju.”

Aku tak menyangka, tanpa banyak kata, Nunuk maju dan memandikannya. Disusul ibuku. Adekku tidak menangis, sama sekali tidak. Ah, Lovers, melihat pemandangan mengharukan itu, air mataku meleleh lagi. Rasanya hatiku tersayat-sayat, melihat ketegaran adekku. Nunukku hebat sekali. Dan aku masih menangis lagi untuk kesekian kalinya.

Jam 09.00 am. Jenazah kakak Dian dibawa ke pemakaman. Aku dan Ais berencana ikut di belakang dengan mengendarai motor Ais. Tentu, aku akan membonceng di belakang, tangan kiriku masih tidak boleh memegang sesuatu yang berat, apalagi jika harus mengendarai motor. Tapi… Jihan, kakaknya Dian yang masih kecil merengek minta ikut. Jadilah kami urung ke pemakaman.

Ada yang hilang ketika si tampanku pergi.

Jelas, aku tidak akan bisa lagi melihat senyum manisnya.

Jelas, aku tidak akan bisa melihat mata bulatnya, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung.

Jelas, aku tidak bisa melihat lagi hatinya yang tulus, hatinya yang baik, yang sengaja kuintip dari pintu kamar. Di sana, jika adek Dika menangis, kakak Dian akan menyentuh tangan atau kepala adek Dika. Mengelus-elus adek Dika sambil tersenyum. Lalu adek Dika akan berhenti menangis.

Jelas, aku sudah kehilangan suara lucu di dini hari yang dingin ketika aku sampai di rumah. Aku yang biasanya akan langsung disambut dengan senyum, lalu dengan suara yang seadanya, kakak Dian akan mengajakku mengobrol meski sudah berbulan-bulan kami tak bertemu. Aku biasanya akan gemas sekali menciuminya berkali-kali. Ah, aku tidak akan bisa lagi melakukannya.

Jelas, aku sudah kehilangan keponakan yang paling kusayang di antara sembilan ponakanku.

Dan jelas pula, ponakanku tidak kembar lagi sekarang.

Aku jelas kehilangan semua hal indah itu.

Tiba-tiba saja, perasaan lain datang menggelayutiku.

Ada sedikit penyesalan.

Kenapa, aku harus kerja jauh dari rumah?

Kenapa, aku tidak punya lebih banyak waktu untuknya?

Kenapa, kemarin aku menghapus videonya dari ponselku karena memori ponsel hampir penuh?

Kenapa, aku tidak banyak memfotonya? Harusnya..ada lebih banyak capture untuk si tampanku. Aku tidak ingin melupakan wajah senyumnya. Sungguh tak ingin.

Jangan…kumohon jangan larang aku memasang fotonya di sini. Aku ingin kakak Dian abadi dalam tulisanku.

Aku ingin kakak Dian tetap hidup selamanya di sini. Ya, setidaknya di sini.

06 Februari 2016 sampai dengan 06 Mei 2017. Tepat satu tahun tiga bulan, ia mendahuluiku pergi bertemu Tuhan. Aku harap ia bahagia di sana.

Kakak Dian sayang, sedang apakah di sana? Baik-baik sajakah? Rindukah kakak Dian pada tante Cinta? Tante Cinta di sini rinduuuuu sekali.

Kakak Dian, sesekali datanglah ke mimpi tante Cinta ya. Ingatkan tante Cinta untuk tidak lelah berjuang. Ingatkan tante Cinta untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Ingatkan tante Cinta untuk lebih banyak menebar kebaikan. Berpikir positif dan berjiwa penolong. Ingatkan tante Cinta untuk memiliki hati yang baik, hati yang tulus sepertimu.

Jangan lupa datang…datanglah, tante Cinta akan sangat senang.

Oh ya, titip doa untuk adek Dika. Mintalah doa juga kepada Allah dari alam sana untuk segera menyembuhkan adek Dika. Tante Cinta yakin, doa kakak Dian, akan didengar Tuhan.

 

22 thoughts on “Cerita Singkat Dua Hari Terakhir

  1. Inalillaahi wa inna ilaihi rajiun.

    Gita gaktau sekacau apa saat kak Cinta menuliskannya, berapa banyak air mata jadi teman tintanya,

    Kak, sabar ya :’)
    Kak Cinta dan mbak Nunuk juga keluarga sabar yaa :’)

    Disukai oleh 1 orang

    1. Agit memang paling tahu perasaanku 😭😭😭

      Semalaman memang ga bs tdur, tp alhamdulillah pagi ini dpt kabar menyenangkan, adek Dika udah sadar. 😇.

      Iya, insya Allah sabar dek Agit.

      cuma agak ga tahan pas lihat fotonya, pasti nangis lg dan baper lagi 😢😥😰

      Disukai oleh 1 orang

      1. Adek Dika mungkin lebih terpukul dari kita semua kak, andai bisa baca pikirannya mungkin adek Dika lbh sakit harus ditinggalkan saudara serahim seperjuangannya. Semoga adek Dika lekas sehat, dan selalu sehat. Aamiin

        Gita paham rasanya kak. Semoga photo itu akan buat kak Cinta tambaj semangat, semoga rindu itu akan membuat kak Cintasemakin istiqomah. Sebab kakak Dian tentunya menunggu pertemuan kembaki di surga-Nya.

        Bismillaah, kuat kuat kuat!

        Suka

  2. Ikut berduka cita mbak , Saya ikut mengeluarkan air mata saat membacanya mbak Cinta, saya tahu sekali bagaimana pedihnya ditinggal orang yang kita sayangi. Orang lain biasanya mengatakan sabar ya…iklhas ya…., Tapi bagaimana pedih dan kosongnya jiwa kita mereka mungkin tak merasakannya. Tapi kita tak bisa menyalahkan mereka memang hanya itu yang bisa mereka katakan, dan kita memang harus bisa mengusahakan dua kata itu sabar dan ikhlas untuk kebaikan kita sendiri, InsyaAllah kakak Dian sudah senang di alamnya sekarang. Aamiin..

    Disukai oleh 1 orang

  3. Mba cinta..
    Menangis lah jika ingin. Rindui Kak Dian tiap detik, selama apapun yang mba Cinta bisa.
    Kehilangan memang membuat sesak.. tapi percayalah mba, mereka yang kita sayangi, tidak akan benar-benar meninggalkan kita.
    Semoga Kak Dian mendapat tempat terbaik di sisiNya. Saya turut bersuka cita mba.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s