Perempuanku


Perempuanku, 908 kata

Iklan

Hari Kartini memang sudah lewat.

Padahal sebenarnya, dari kemarin, Cinta1668 ingin. Ingin sekali membuat postingan tentang sosok Kartini di masa ini. Namun, dalam hati ini sungguh masih kebingungan.

Siapa sosok yang cocok untuk Kartini di masa ini?

Siapakah gerangan?

Apakah…sosok dosen favorit Cinta?

Apakah…ustadzah favorit Cinta?

Apakah…sosok guru yang selalu, selalu, selalu, dan selalu menginspirasi Cinta dari waktu ke waktu?

Apakah…pemimpin organisasi kemanusiaan?

Ataukah…sosok perempuan yang menginspirasi lainnya?

Tapi tapi…Cinta urungkan, Lovers.

Tahu kenapa?

Karena Cinta tidak begitu mengenal mereka. Ada kecemasan bila salah informasi, mengingat minimnya tingkat pengetahuan Cinta ini.

Hari ini, 05 Mei 2017, Cinta tiba-tiba bertemu dengan sosok perempuan itu.

Ia bukan seorang dosen. Bukan seorang ustadzah. Bukan seorang guru. Juga bukan seorang pimpinan organisasi kemanusiaan. Ia hanyalah seorang perempuan biasa yang telah lama kukenal.

Ia adalah seorang perempuan berusia dua puluh sekian tahun.

Rambutnya lebat menjuntai panjang jika diurai. Sedikit ikal pada awalnya. Dari dulu, ketika ia potong rambut, suara-suara seperti :

Mbak rambutnya bagus, lebat sekali. Mbak, pakai shampoo apa sih kok bisa lebat begini rambutnya? Mbak ini hebat, sudah membuat saya bekerja dua kali di rambut yang sama! Seharusnya…saya sudah dapat dua pelanggan ini. Hmmm…

Sudah biasa kudengar.

Matanya sipit dengan tahi lalat besar menempel di janggut sebelah kanan. Orang bilang, itu pertanda wajahnya manis. Dan harus kuakui, dia memang manis.

Perempuan berkulit sawo matang itu menarik perhatian. Dan, ia suka saat orang lain tertarik akan perhatiannya. Pernah suatu ketika kami sedang mengantri di sebuah restaurant makanan cepat saji. Ia hanya melempar senyum pada seorang kasir yang sedang menghitung berapa total bill yang harus kami bayar. Dan seketika itu juga, si abang kasir garuk-garuk kepala, gagal fokus, salah-salah, dan pada akhirnya harus meminta maaf pada kami berdua berkali-kali. Haaaa *kena deh dikerjain ia, ups. πŸ˜…

Ada saat ia suka berpose di depan kamera. Posenya ini kadang membuat Cinta1668 ngiri. Bagaimana tidak? Semua posenya dalam foto selalu saja ciamik!

Ia juga penyayang anak-anak. Lihat saja foto di bawah ini. πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡

Senyumnya selalu tulus. Tak ada wajah kepura-puraan menempel di sana. Itu adalah bagian yang paling kusuka darinya.

Saat gadis seusianya memilih melanjutkan study untuk kuliah. Pilihannya sangat berbeda. Ya, seseorang bernama lengkap Chusnul Chotimah itu malah memilih untuk menikah.

Coba tebak…siapakah perempuan berkerudung cokelat yang berpose di sampingnya?

Posenya di bawah ini lebih cocok jika disebut kakak-adek atau tante-keponakan. Setujukah, Lovers?

Padahal…itu adalah anaknya! πŸ˜πŸ˜…πŸ˜‚. Anak pertamanya yang bernama Jihan Makaila.

Hari ini…ia lebih dari seorang Kartini di masa ini bagiku.

Aku pikir, setelah aku tiba di RS, ia akan langsung memelukku dan menangis sesenggukan.

Aku pikir, aku akan senang, jika ia menjadi begitu.

Aku pikir…aku bisa memeluknya erat, menawarkan pelukan terhangatku hanya untuknya.

Aku pikir, ia akan mengeluh karena sudah tidak tidur tiga hari ini.

Aku pikir…ia akan sakit karena lupa mandi, lupa cuci muka karena wajahnya terlihat sangat kusut.

Ah tapi…aku salah!

Saat aku datang, ia menyambutku dengan senyuman.

Ia bilang…Kakak Dian tidak apa-apa, mbak Cinta. Kakak Dian sedang dibius saja makanya tidak sadar. Mengenai matanya yang ditutup kapas, itu anjuran ibu dokter, agar matanya tidak kering. Kakak Dian kalau tidur…mbak Cinta tahu sendiri, matanya seperti terbuka. Tidak apa-apa mbak Cinta, suhu tubuhnya sudah stabil, tinggal menunggu sesak nafasnya saja hilang, baru lendirnya akan disedot. Masih dengan senyum, ia berkata begitu padaku.

Entahlah…aku yang ingin menangis tiba-tiba saja tertahan. Aku takut, setetes saja air mataku keluar, maka robohlah dinding-dinding ketegaran yang coba ia bangun.

Ia pun pamit sebentar menyusuri lorong rumah sakit, menuju ruang anak di lantai dua.

Rasanya…saat ia pergi, ketahananku roboh seketika, aku menangis sejadinya di ruang itu. Di depan suaminya yang juga ada di sana. Tangan kakak Dian yang bergerak-gerak seperti mencari seseorang, akan tenang ketika bertemu tangan orang lain yang menggamitnya.Β Kata si ayah, dan aku menurutinya, menggenggam erat tangannya yang mulai kebiruan.

Untuk kesekian kalinya, aku menangis lagi.

Beberapa menit kemudian, ia datang kembali. Untunglah tangisku sudah reda. Aku tadi sudah menangis sepuasnya. Aku kini punya energi yang lebih banyak untuk pura-pura tegar di hadapannya.

Dan, kita pun bertukar posisi…kini giliranku yang turun ke lantai dua menengok adek Dhika yang sedari hari Kamis minggu lalu sudah dirawat di sana.

Adek Dika kalau panasnya sudah turun, sudah boleh pulang koq mbak. Sebenarnya tinggal menunggu suhu tubuhnya stabil saja. Bu dokter yang datang, tetiba memberi kabar menyenangkan, alhamdulillah. πŸ˜‡

Adek Dhika memang sedang sakit, tapi jangan kau tanya keahliannya berpose di depan kamera. Ibunya saja kalah! 😁

Nunuk, kau sungguh sudah mendewasa kini. Aku tak perlu mencemaskanmu lagi. Kau bukan lagi gadis cengeng yang selalu curhat jika sedang kesal dengan suami.

Dan…apakah kau tahu? Saat kau curhat perihal hubungan rumah tangga, aku harus memposisikan diriku lebih bijak dan pura-pura sok tahu karena tak ingin kehilangan wibawaku sebagai kakakmu? Aku browsing saat itu…setelah aku menemukan saran yang solutif, maka aku akan pura-pura menanggapi curhatmu seperti seorang Psikolog. Ah, malunya diriku jika kau tahu yang sebenarnya perihal ini. πŸ˜…

Nunuk, kau perempuanku yang terhebat…yang terkuat! Semoga akan selalu demikian.

Aku percaya, Tuhan selalu datang dengan solusi terbaiknya. Aku pun ingin, kau mempercayakan semua pada-Nya.

Nunuk-ku. Jangan menangis. Mari berdoa bersama lagi. Pegang kitab suci-Mu, bacalah! Lalu kembalilah tersenyum dan tegar seperti ini.

Tapi…

jika sesekali kau butuh ruang untuk menangis. Menangislah. Menangislah bersamaku. Menangis itu tak apa. Jika dengan menangis, perasaanmu lebih lega, menangislah!


*Note : kubuat post ini jam 02.31 WIB. Saat bergantian menjaga adek Dhika bersama ibu di lantai dua di salah satu Rumah Sakit Swasta di Pekalongan.

13 thoughts on “Perempuanku

  1. Mamak yang kuaat Masya Allah πŸ˜₯
    Kakak Dian segera sehaat, Adek Dhika juga.. Aamiin… πŸ™
    Mb Cinta juga harus kuaat..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mamak yang kuaat, masya Allah πŸ˜₯
    Kakak Dian segera sehaat, Adek Dhika juga.. Aamiin πŸ™πŸ™
    Mba Cinta juga yg kuat ya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s