Ai, Shin, Sei


Novel yang belum selesai kubaca, 394 kata

Iklan

Ai, Shin, Sei
Diedit dengan Instagram

Aku tak ingin menghapus kisah persahabatan kita. Namun, harus kuakui, terkadang sebuah rasa dimulai dari kata “sahabat”.

Jika kita tidak bertemu. Jika kau tak menyapaku, tentu kita tidak akan saling kenal, bukan?

Jika sudah kenal dan saling nyaman, bukankah kita akan bersahabat dengan sendirinya?

Nyaman. Melengkapi. Menasehati. Menghibur. Berdebat. Bertingkah menyebalkan hanya untuk memancing marah dan itu pun sengaja. Namun keduanya tak terpancing marah, malah berakhir dengan tawa lebar. Hal-hal kecil yang indah, yang membuat waktu tidurmu menjadi lebih nyeyak karenanya. Rasa yang aneh di kali pertama. Dan akan ketagihan di kali berikutnya.

Bukankah kita tidak akan melakukan hal-hal konyol di atas jika tidak dengan sahabat?

Aku heran tentang seseorang yang takut akan cinta antara sahabat.

Aku heran dengan Ai yang diam saja menunggu keputusan Sei. Antara ragu dan bimbang, bertanya dalam diri, apakah ia juga mencintaiku? Apakah jika kukatakan aku menyukainya, ia akan menjauhiku?

Berbekal prasangka yang berlebihan. Ai diam saja. Membiarkan perasaannya yang membuncah, terjepit dalam hati yang kian sakit.

Hingga datang Shin menyelamatkan hatinya. Bodohnya Ai, malah menerima Shin yang datang setelahnya hanya karena Shin lebih berani mengungkap rasa. Hanya karena Shin lebih hangat dan selalu ceria. Hanya karena Shin lebih pengertian, menurutnya.

Apakah Ai pernah sadar? Tak pernah bahkan dalam satu detik pun, bayangan indahnya pergi dari benak Sei.

Ya, kau benar kawan. Dua sahabat itu ternyata saling mencintai.

Andai saja…

Ada yang berani berkata lebih dulu. Tanpa ketakutan dan berprasangka buruk pada takdir Tuhan, mereka pasti telah bersatu sejak lama, bukan?

Apa daya…ketakutan bagi pecinta sepertinya lebih mengerikan dari momok pembunuhan paling kejam yang pernah dilakukan oleh psikopatΒ Elizabeth Bathory.

Ah Ai, andai aku jadi dirimu, pasti akan kukatakan rasa itu. Entah diterima atau ditolak, setidaknya perasaanku lebih lega. Jika Sei menolakku, bukankah aku tinggal menerima cinta yang baru tanpa perlu menoleh ke arahnya lagi?

Jika beberapa orang memilih diam karena takut kehilangan sebuah persahabatan. Ketahuilah, aku bukan orang yang demikian. Aku akan maju dengan lantang, mengatakan dengan jelas, aku menyukaimu lebih dari sekedar sahabatku!

Bagiku…sejatinya, cinta memang harus diungkapkan. Tak peduli dengan sahabat, teman, atau seseorang yang dari awal mula dianggap spesial.

Karena cinta itu suci. Ia memaafkan khilaf. Memaafkan kealpaan. Ia menghapus benci juga melapangkan. Ia ajaib, dan pasti…karena ajaibnya, ia akan bisa merajut persahabatanmu kembali.

Indah bukan?

Note : pernah dipost-kan di Instagram Irofaruk

~ Because Every Picture has Its Own Story ~

22 thoughts on “Ai, Shin, Sei

  1. Ah paling benci dengan kisah cinta yg gak berakhir bahagia. Nanti malah takut mendapagkan pengalaman yg sama seperti di dalam novel. Itu kenapa saya suka cerita yg berakhir bahagia saja biar ikut ketularan optimis.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s