Hari ketiga puluh (Cerpen Fiksi)


Cerpen Hari Ketiga puluh, 852 kata

Iklan

 

100 Writing Prompts Challenge

Days #9 – Poor

 

diunduh dari Google

 

Note : Nama Cinta di sini dibuat sama dengan penulis dengan harapan penulis lebih bisa menyelami jalan cerita. Penulis, Cinta1668 sama sekali belum pernah mengalami kejadian ini. Terimakasih. πŸ™πŸ™πŸ™


***********************************************

“Indah bukan? Sesuatu yang sering kau katakan serupa ketombe, bercak-bercak putih yang mengaburkan legam dan hitamnya pesona rambutmu. Analogi yang aneh, tapi aku selalu menyukainya. Mungkin agak klise jika aku bilang, setiap melihat bintang, aku selalu mengingat kata-kata itu.”

Aku tergelak, sedikit kaget ketika menoleh, kutemukan lelaki yang tak asing berbaring di sampingku.

“Apakah kau masih suka melihat bintang-bintang?”

Lelaki itu berkata lagi.

“Tidak.” Jawabku singkat.

“Kenapa?”

“Karena bintang-bintang itu terus meneriakkan namamu, aku tidak suka.”

Kali ini, si pemilik mata tajam itu melirikku sambil tersenyum sinis. Aku bisa melihatnya jelas meski dengan ujung mata kananku.

“Apa kau mencintainya?” Tanya ia lagi.

“Tentu.” Bagiku, tak perlu jujur jika tidak perlu.

“Cinta, apa kau ingat? Dulu, kita pernah lebih memilih camping daripada menghabiskan malam di hotel yang telah kita booking sebelumnya. Kau bilang kau ingin melihat bintang dan menghabiskan malam di tepi laut sebelum akhirnya dua orang polisi menangkap dan memenjarakan kita dua malam lamanya. Hendra, sahabatku, harus jauh-jauh terbang dari Jakarta ke Bali hanya untuk menunjukkan buku nikah kita, barulah kita bebas dari polisi yang sedang patroli malam itu. Konyol sekali kalau diingat. Haha.”

Lelaki itu tertawa. Mimiknya. Gerakan rahangnya yang spontan. Dan lengkung bibir yang begitu lepas. Ah, aku benci saat harus bilang suka. Bagiku, kedua antonim itu sering kutemui hampir setiap hari kini. Dan aku jengah, hampir tak bisa menahannya.

“Hei, Cinta, kau tidak mendengarkanku ya?”

“Hush, berisik sekali. Kau mengganggu konsentrasiku!” Tak ingin larut dengan hal yang ia pancing, aku mengalihkan perhatian.

“Jadi…sequel ke 10? Betah sekali kau membuat Novelmu terus bersambung. Mau kau buat sampai berapa sequel lagi, Cinta?”

Aku diam aja. Mataku setengah melotot ke arahnya. Dan…

“OK, aku diam. Keep silent.” Ibu jari dan jari telunjuknya menyatu dan ia tempelkan ke mulutnya.

Sepuluh menit berlalu. Syukurlah ia masih diam saja. Aku bangun, membenarkan posisi dudukku, membuka laptop dan mengetikkan sebuah ide yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Poor? Heh. Setelah terakhir kau menjadikan aku sebagai tokoh penjahat di novelmu, sekarang kau mengatai aku miskin?”

Ya. Dia adalah ideku. Hampir semua novel yang kubuat berasal dari dirinya. Sisi gelap-terang yang tak pernah lepas darinya. Ia pun sudah mafhum. Ini sudah menjadi rahasia umum kami. Dan ia tak pernah keberatan tentang itu.

“Kau miskin. Kau tak lagi punya cinta. Satu-satunya cinta yang kau punya telah kau lepaskan begitu saja lima tahun lalu. Kau miskin. Kau tak punya sisi kepercayaan bahkan untuk seseorang yang dalam waktu sedetik pun kau tak pernah bisa berpaling dari memikirkannya. Kau miskin. Kau bahkan meninggalkan seseorang yang datang setelahnya, setelah kau kehilangan cinta.”

“Cinta, sudahlah. Hentikan semua ini! Aku meninggalkan Ayu karena aku tak bisa melupakanmu. Dan bukankah Hendra juga sudah memberikan waktu tiga puluh hari untukku memenangkan hatimu lagi? Ia berjanji jika kau mau kembali padaku, ia akan ikhlas melepaskan. Kau milikku, Cinta. Hanya milikku. Sejak dulu!”

Ah, lagi-lagi. Lelaki di depanku ini selalu mampu membuat jantungku meloncat melewati batas wajar denyutnya.

“Ini adalah hari ketiga puluhmu. Maafkan aku, tapi kau gagal. Aku takkan kembali padamu. Tidak akan pernah. Pergilah. Kau cukup menikmati rasaku padamu lewat novelku saja. Jika kau rindu padaku, bukalah novelku, akan selalu ada cermin dirimu di sana. Kau kekal. Aku janji tidak akan mengganti sosokmu dengan yang lainnya. Apapun.”

“Apakah ini jawaban terakhirmu, Cinta.”

“Iya.”

“Kau yakin? Hanya ini kesempatanmu.”

“Yakin sekali.”

Kulihat lelaki itu menggeliat malas. Wajahnya lusuh. Dengan segenap kekuatan ia berdiri. Langkahnya gontai. Satu. Dua. Tiga. Empat. Ia menoleh.

“Apa besok kita masih bisa bertemu lagi?”

Aku menggeleng tanpa kata. Ia sudah tahu aku akan pindah besok pagi. Pindah dari rumah ini. Dan pindah selamanya dari hidupnya.

Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Delapan langkahnya menuju pintu gerbang rumah bercat hijau. Setelah itu ia tak terlihat lagi.

Poor. Miskin.

Tiba-tiba aku sadar, aku juga miskin. Aku terlalu miskin untuk mengakui rasa cintaku padanya. Aku terlanjur miskin dan memutuskan miskin ketika ia tega menuduhku selingkuh dengan mas Hendra, karibnya sendiri. Aku ketika itu juga miskin saat ia sama sekali tak mempercayaiku dan malah menceraikanku. Aku terlanjur miskin ketika ia datang dan berkata menyesal atas semua tuduhannya, itu pun setelah lima tahun. Setelah ia menceraikan Ayu.

Bintang malam ini tak begitu menarik lagi. Ia malah semakin terang saja bersinar di atas sana. Kurasa, ia sedang menertawaiku. Menertawai aku yang harus melepasnya pergi.

“Cinta…”

Lelakiku datang. Aku terlambat menghapus airmataku yang berjatuhan. Aku bingung lalu memutuskan menelungkupkan saja wajahku pada kedua lutut. Entahlah. Aku hanya merasa sedikit lega ketika bersembunyi di sana.

Ia menepuk punggungku pelan. Mendiamkanku beberapa menit lalu memelukku.

“Kau yakin, kau tidak akan menyesal?” Sesuatu yang hangat berbisik di telingaku.

“Tidak. Seseorang yang tidak bisa mempercayaiku tidak berhak memilikiku.” Ia menepuk-nepuk punggungku lagi. “Ayo kita pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku tidak bisa melihatnya lagi. Ayo kita pulang mas Hendra. Aku mohon.”

“Ya baiklah.”

Sesuatu yang serupa namaku itu mungkin takkan pernah kumiliki lagi. Tak apa. Aku boleh miskin cinta. Tapi bersama mas Hendra, aku rasa…aku telah kaya dalam segalanya.

6 thoughts on “Hari ketiga puluh (Cerpen Fiksi)

  1. Sepertinya tuduhan yg salah begitu menyakitkan. Kenapa pula harus cerai. Kalau sudah sampai cerai berarti yg tertuduh serasa dihukum atas perbuatan yg tidak dilakukannya. Nanti saya klo udah nikah nggak memutuskan sesuatu dengan sepihak. Apalagi masalah besar seperti selingkuh tanpa bukti-bukti yanv kuat :).

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s