Memilih


Memilih yang Terbaik, 1091 kata

Iklan

Gambar diambil dari Google

Saat ini pukul 01.00 WIB, aku terbangun dan tak bisa tidur lagi.

Kebiasaanku mengubah jam waktu tidur ini seringkali membuatku tak sehat. Aku sadar itu, namun untuk memperbaikinya terasa sulit. Ngalong, bertingkah seperti kalong (bahasa Jawa untuk kelelawar) mungkin sudah menjadi bagian dari aktivitas blogger, aku pun demikian.

Jadi kuputuskan saja menyelesaikan buku yang harus kubaca. Aku sampai pada halaman 259. Di sana, aku membaca sesuatu tentang “memilih”.

Kurasa, memilih memang butuh keberanian. Untuk memilih adalah untuk menjadi berani. Dan, dalam hidup, ada banyak pilihan kecil sampai besar yang membutuhkan keberanian itu, agar kita bisa berada selangkah lebih maju. Bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun kemudian…apa yang akan terjadi sama kita, tergantung pada pilihan-pilihan kita saat ini.

– Winna Efendi –

Tiba-tiba saja, anganku melambung ke beberapa tahun silam.

MEMUTUSKAN KULIAH

Seseorang yang sudah cukup usia untuk menikah, malah melanjutkan kuliah.

“Ibu, aku ingin balas dendam, bolehkah?”

Dialog seseorang sehabis ditinggal kekasih karena berpredikat hanya siswa SMU pun menggema dari Cikarang sampai ke Pekalongan bagian utara.

Ibuku sempat kaget dengan istilah balas dendam, tapi setelah kujelaskan panjang lebar, barulah beliau mengerti.

Insya Allah, restu ibu menyertai. Jadilah yang terbaik, Cinta sayang.”

Dan, berbekal restu ibu itu, Cinta yang saat itu masih bimbang memutuskan kuliah lagi.

MENGAMBIL JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

Aku pada mulanya sangat menyukai seni sastra termasuk di dalamnya puisi, prosa, dan fragmen novel (cerita pendek). Dulu, aku ingin sekali mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Aku semakin tersadar ketika aku begitu memaknai setiap tulisan, setiap membaca, membahas puisi, membahas cerpen atau cerbung yang pernah kubuat. Namun, aku berhenti ketika ibuku mengingatkan…

“Hidup dari Bahasa Indonesia, apakah Cinta yakin? Tetanggamu di kampung itu, kakak kelasmu dulu dari Universitas Negeri dan sampai sekarang masih menganggur, Cinta. Coba pikirkan sekali lagi.”

Nasehat ibuku waktu itu membuyarkan keinginanku. Aku goyah. Namun, aku terlalu cinta, terlalu mencintai keragaman sastra. Aku pun sejak saat itu berniat dalam hati : aku akan ikut lomba, akan kubuktikan pada ibu kalau aku bisa hidup dengan sastra. Apa dayaku, lomba demi lomba tak membuatku menang. Hanya lomba cerpen Gara-gara Batik saja yang masuk antologi buku, dan itu pun tak menjadi juara tunggal. Waktu semakin mendesak, aku berkonsultasi ke sana ke mari, hingga akhirnya memutuskan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

KONSISTEN PADA DIRI

Ada yang berkata, bahasa Inggris itu mudah, pasti kamu bisa!

Tapi tidak bagiku dan seluruh teman satu kelasku. Dulu, satu kelasku hampir 50 orang jika digabung dengan kelas terbang. Sekarang tinggal 28 orang. Bisa dibayangkan ke mana teman-temanku pergi?

Ya, benar sekali. Kebanyakan dari mereka tidak kuat dengan English. Lalu ada juga yang berkendala di Financial. Ada juga yang pindah jurusan. Bahkan ada yang merasa menyesal saat dulu meremehkan English, ternyata tak semudah bayangan.

Jika ada yang menanyakan, bagaimana pendapatku waktu itu?

Aku akan jawab, bagi orang yang tinggal di Kampung Inggris – Pare, mungkin akan dengan mudah dan leluasa mempelajarinya. Tapi tidak dengan Cinta. Cinta sudah sibuk dengan pekerjaan. Kadang sampai hilang konsentrasi karena Pekerjaan dan Kuliah minta diselesaikan dalam waktu hampir bersamaan.

Semester 4 kegalauanku meningkat. Aku benar-benar ingin pindah jurusan Bahasa Indonesia saja waktu itu. Apalagi jika aku melihat anak-anak Sastra Indonesia yang tiba-tiba masuk saat jam pelajaran dan meminta waktu sebentar sekedar untuk penggalangan dana pementasan teater atau puisi yang akan mereka adakan. Mereka akan menyumbangkan satu atau dua buah puisi di depan kelas. Ah saat itu, aku sungguh merasa terhipnotis.

Tuhan…aku mau seperti itu. Aku mau bebas, lepas, bisa berekspresi seperti mereka. Aku mau mauuuu…!

Ketika kutanyakan pada teman-teman bahkan sahabat, apa pendapat mereka tentang penampilan anak-anak sastra tadi?

Cakep baik puisi maupun orangnya. Gombal. Lusuh. Tak peduli penampilan. Tidak rapi.  Perayu ulung.

Ah, kenapa hampir negatif semua? Hanya komentar pertama saja yang positif. Aku…aku diam saja waktu itu. Percuma berbicara pada seseorang yang tidak berjiwa sastra. Akan terasa negatif saja semuanya. Aku sudah terseret terlalu dalam padanyaβ€”pada sastra. Aku bahkan masih berkeinginan kuliah Sastra Indonesia di masa datang, entah kapan, tapi jika datang kesempatan itu, aku takkan menyia-nyiakan. Sungguh! Dan aku percaya, suatu saat, Tuhan dengan kuasa-Nya akan datang bersama kesempatan. Aku hanya harus jeli membacanya. Harus!

Aku memutuskan konsisten pada pilihanku. Aku yakin tentang ini…

Tuhan datang bersama ujian. Ujian akan menang dengan sebuah kesabaran. Namun jika kau gagal dalam ujian ini. Percayalah kau akan diuji lagi sampai kau berhasil. Sungguh takkan ada kesempatan melarikan diri lagi. Aku tak ingin Tuhan kecewa padaku. Akan kubuktikan aku bisa, dan pasti aku mampu, pada-Nya.

MENOLAK MENIKAH

Baiklah, akan kucoba berkata jujur di tulisan ini. Beberapa kali, Cinta1668 menolak lamaran menikah yang datang padanya.

Di antara yang paling berkesan adalah lamaran dari saudara sendiri. Sepupu dari ayah yang menjodohkanku dengan anaknya. Dari keluarga berada, baik imannya, baik sikap dan perilakunya, pekerjaannya memang belum begitu mapan. Namun aku tak perlu bingung sebenarnya karena dari kemapanan orang tuanya aku tak perlu risau perihal financial.

Aku menolaknya. Tanpa istikharoh. Hanya kemantapan hati saja.

Aku mengaku salah. Aku tak melibatkan Tuhan dalam pilihanku. Aku mengesampingkan Tuhan, mungkin saat itu aku begitu bernafsu tanpa pikir panjang. Soal cinta, aku memang tidak punya rasa.

Tapi…kurasa jawaban Tuhan datang padaku kini. Mengapa seorang Cinta susah sekali berjodoh. Ya…karena itu tadi, beberapa kali menolak lamaran dari orang sholeh dan baik hati. πŸ˜πŸ˜…πŸ˜€

But it’s OK My Allah…jika ini yang harus Cinta hadapi, beri Cinta kekuatan saja. Agar berapapun kekandasan demi kekandasan hati yang Cinta lalui mampu membuat Cinta kuat, sekuat baja hingga kelak Cinta siap ditempa badai hidup berumah tangga dan tidak akan goyah. Amin. Positive thinking, always, Insya Allah.

SETELAH LULUS NANTI

Akan ada bermacam pilihan.

1. Menikah jika sudah punya calon.

2. Meneruskan balas dendam S2 jika tak kunjung datang calon, lalu menikah setelahnya.

3. Menjadi guru, menjadi dosen (amin jika diberi kesempatan). Mendirikan komunitas dalam dunia Pendidikan, semoga…karena bagi Cinta, harus ada derma pada setiap apa yang kita punya. Jika tak ada uang, dermakan saja ilmu kita.

4. Pilih pasangan yang sama-sama mencintai pendidikan hingga beliau nanti tidak akan keberatan jika aku ingin kuliah lagi. Cita-citaku tetap ingin balas dendam koq! Aku mau terus belajar. Sampai kapan? Sampai aku tua, sampai aku renta, sampai aku tutup usia. Bersamanya, sosok yang akan selalu mendukungku, menjadikan semua pendidikan yang dimiliki sebagai derma untuk sesama, aamiin.

PERIHAL BLOG

Ah, pertanyaan ini ternyata paling sulit kujawab.

Ingin sekali menjadikan blog berfaedah tapi isinya malah curhat semua. Haha. πŸ˜πŸ˜…πŸ˜‚

Maafkan ya Lovers, maafkan Cinta yang suka baper ini. πŸ™πŸ™πŸ™

Tapi semoga, di tiap curhatan Cinta, melalui sudut pandang orang yang sangat biasa ini, akan ada sedikit manfaat yang bisa diambil.

Itu harapan terbesar dari Cinta1668

Sudah ya Lovers, segitu saja.

Cinta mau lanjut baca lagi.

Selamat pagi,

Salam,

Cinta1668

\^___^/

Note : tulisan ini persembahan untuk sahabat. Please, jangan salah pilih ya?! 😊

34 thoughts on “Memilih

  1. Iyaaaa dimaafkan, blog aku yaa curhatan juga isinya. Wkwkwkw

    Cinta tuh ada aja yaaa yang jadi bahan tulisan, sampe panjang pula, daebak…

    Semoga yang dipilih, menjadi pilihan terbaik…

    Kurang-kurangi begadangnya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. aku malah sebulan ini curhat melulu, wkwkwkw..
    tapi mei udah gak bikin challenge lagi, jadi kepikiran dan beban,wkwkwk
    moga dapat jodoh seperti yang di inginkan cinta, tentu tetap dalam Ridho-Nya Aamiin

    Disukai oleh 1 orang

  3. Wah kak Cinta, sepertinya kita sama-sama mengalami fase ingin kuliah di sastra Indonesia tapi terhalang restu orangtua. Dan aku jadinya nyasar di ilmu komunikasi πŸ˜‚
    Tetap semangat kuliahnya kak Cinta, meskipun berat, nanti akan berakhir indah kok, semoga 😁

    Disukai oleh 1 orang

    1. wewh masa? Duuuh ktmu yg senasib tetiba pgn curhat pnjang lebar…peluk peluk πŸ˜ƒ

      Tapi nyasarnya keren, ilmu komunikasi. ❀❀❀.

      Aamiin, insya Allah, smga sama2 istiqomah ya Ziza 😊

      Disukai oleh 1 orang

  4. Itu pilihannya 1, 2, 3, kok 3 lagi ya? hehehe…
    Terlepas dari semua itu, saya rasa apa yang kamu rasakan lumayan berat. Kita kadang merasa tidak mampu akan suatu hal. Kita tidak tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan. Tapi kita harus tetap optimis dan selalu berusaha. Sukses selalu untuk kamu! tulisannya keren!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Heh msa? Wuah makasih koreksinya mas Hepy, ini lgsg dibenarkan πŸ˜ƒ.

      Iya trkdang trsa berat, tp kl mau dnikmati makin lama makin ringan koq mas.

      Hehe terimakasih dibilang keren, msh bnyk kurangnya koq mas

      Disukai oleh 1 orang

  5. Ternyata Cinta ngambil jurusan kuliahnya sama kayak saya dulu ya. Tapi sekarang saya udah bergelut dg pendidikan di dunia kerja. Udah jadi guru. Saya salut dg perjuangan mahsiswa2 bhasa. Bergelut dg bahasa, dan suka nulis. Dan utk ngeblog/nulis Curhat atau fiksi, saya liat insting sastra Cinta bagus.

    Terkait memilih, kalau saya, choose your choice and love your choice. Dg bgtu, kita bkalan jd org yg setia dan ulet.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s