Nasehat Ibu Perihal Suku


Nasehat Ibu Perihal Suku, 974 kata

Iklan


100 Writing Prompts Challenge

Days #8 – Race

 

Nasehat Ibu Perihal Suku
Capture Hujan Menemani Pulang

Beginilah rutinitas seorang Cinta di malam Minggu.

Jika cuaca normal dan kering, dan jika beruntung, aku bisa melihat kelap-kelip lampu malam yang bertarung sekuat tenaga mengalahkan cahaya bintang. Mereka tahu, kilaunya yang sementara tentu takkan sanggup menyaingi bintang. Tapi, apa salahnya mencoba? Bukankah hidup selalu hadir dengan 1001 kemungkinan?

Jika cuaca hujan seperti malam ini, maka jemari mungilku akan gatal dan semakin bertambah gatalnya jika tak kucoba untuk menulis. Cuaca hujan adalah kesukaanku, terlebih hujan deras begini. Dalam derasnya yang bersautan, ia seolah bersuara,

Ayolah Cinta, aku sudah hadir untukmu, menulislah! Buktikan kata-katamu yang dulu itu. Kau bilang derasku akan dengan mudah mengalirkan ide dan menjalarkannya lewat tanganmu bukan? Buktikanlah! Menulislah! Aku, hujan kesayanganmu akan melihatmu dari sini.

Dan ya…baiklah. Tak ada alasan bagiku menolak permintaan kesayanganku. Aku akan menulis sekali lagi untuknya. Sebuah cerita sederhanaku, sebuah nasehat ibu perihal suku.

Pada suatu malam yang hening. Mungkin heningnya melewati dini hari, padahal waktu itu adzan isya baru saja berkumandang. Sama seperti sekarang, aku ingat betul waktu itu hujan turun. Hanya saja, tidak begitu deras, hanya gerimis yang mencoba melagukan nada ritmik yang riwis meski ia tersendat-sendat dan akhirnya memilih nada bebas saja. Hujanku memang selalu begitu…meski ia mencoba egois, tapi tak bisa, takkan pernah bisa, karena tempiasnya selalu mampu meneduhkan hati siapa saja yang dilewatinya. Mungkin tidak selalu, tapi hampir selalu begitu.

Ibu mendatangiku yang sedari tadi sedang menikmati hujan di ruang tamu.

“Cinta, sedang apa nak?” Ibu mendekat dengan membawa semangkuk es kolak pisang kesukaanku. “Makanlah, ini ibu buatkan khusus untuk Cinta.”

“Sedang duduk-duduk saja bu, sambil menikmati hujan. Oh iya ibu, terimakasih.” Kataku sambil tersenyum padanya.

“Cinta, ibu ingin bicara sesuatu hal padamu. Ini penting menurut ibu,” wajah ibu tampak serius.

“Apa itu ibu? Kenapa muka ibu jadi serius begitu? Katakan saja ibu, Cinta akan mendengarkan.” Aku mendengarkan sambil memakan es kolak pisang buatan beliau yang super lezat dengan gurih santan yang begitu khas di mulutku.

“Ingatkah Cinta ketika ibu mengatakan, kalau bisa Cinta memilih jodoh orang Jawa saja ya, ibu lebih suka orang Jawa, karena adatnya pasti tak jauh beda dengan kita, bahasa yang digunakan pun pasti demikian, ibu akan senang jika Cinta penuhi nasehat ibu itu. Masih ingatkah nasehat itu nak?” Ibu masih terlihat serius.

“Oh itu. Iya bu, Cinta ingat, insya Allah selalu ingat. Dan Cinta tidak berniat mengubah nasehat ibu. Tenang saja, akan Cinta lakukan.” Aku meyakinkan beliau agar tak merasa terbebani.

“Tidak Cinta. Bukan begitu maksud ibu. Ibu malah menginginkan sebaliknya. Pilihlah orang mana saja, suku mana saja, asalkan ia seiman denganmu, insya Allah ibu setuju. Ibu tahu, akhir-akhir ini Cinta sering menangis. Beberapa kali ibu memergoki Cinta tidur sambil melihat sebuah foto yang sama. Lelaki itu, lelaki dengan senyum lembut, berwajah tirus, dan berkacamata. Kalau lelaki itu adalah pilihan Cinta, ibu setuju, wajahnya menyiratkan kebaikan, ibu juga yakin ia adalah orang Jawa tulen, bukankah?”

Kata-kata ibu mengejutkanku. Aku menjadi tergagap dan…

“Ah ibu, bukan. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya teman blog saja bu, tidak lebih kok bu.”

“Kalau hanya teman blog, kenapa sepanjang perjalanan pulang dari Cikarang ke Pekalongan kemarin Cinta menangis, terus-menerus melihat foto lelaki itu juga?”

Speechless kali ini aku dibuatnya. Ternyata begitulah seorang ibu. Sehebat apa pun disembunyikan, beliau selalu tahu. Padahal, yang kutahu waktu itu, ibu sedang tertidur pulas sepanjang perjalanan.

“Cinta, adakalanya seseorang yang baik bukan ditakdirkan untukmu. Tahu kenapa? Karena Allah sedang mempersiapkan yang lebih baik lagi untuk Cinta. Lelaki itu mungkin baik, tapi…akan jadi tidak baik jika ia bersama dengan Cinta. Anggap saja ini adalah cara Allah mengingatkan, mungkin jika Cinta bersamanya, kelak Cinta tidak akan bisa bahagia. Bukankah Allah selalu tahu takdir terbaik untuk kita? Sedangkan kita hanya SOK TAHU saja?” Ibu masih melanjutkan kata-katanya. Kata-kata yang membuatku haru dan hampir menangis.

“Iya…ibu benar. Lalu, jika nanti Cinta lulus S1 dan Cinta belum juga bertemu dengan jodoh Cinta, bolehkah Cinta melanjutkan ke jenjang S2 ibu? Dan jika itu pun ke England, apakah ibu setuju?” Aku ragu, namun kurasa harus kutanyakan karena restu ibu adalah yang terpenting bagiku.

“Tentu boleh, kenapa tidak? Namun jika Cinta sudah bertemu jodoh dan tetap ingin melanjutkan S2, katakan saja pada suamimu, minta izinnya. Jika niat Cinta demi kebaikan, bukan kesombongan, pasti dimudahkan oleh-Nya. Pasti ada saja pintu-pintu kemudahan di depan sana. “

“Hehe iya ibu, Cinta akan ingat itu.” aku tersenyum geli saat membayangkan hal itu, bagaimana wajah suamiku kelak jika itu benar terjadi? Marah? Ragu? Diam? Membisu? Atau langsung bilang iya dan berangkat S2 bersama-sama? Khayalan sendiriku itu benar-benar membuatku tertawa geli.

“Cinta, kenapa senyum-senyum sendiri, sayang?” Ternyata ibu memperhatikan. Ah, jadi malu.

“Satu pertanyaan bu, jika ternyata Cinta belum menikah, jika Cinta beruntung pula bisa S2 di sana, lalu Cinta bertemu bule mualaf atau bule Islam, apakah ibu juga akan tetap merestui?” Aku betul-betul penasaran tentang jawaban ibu untuk pertanyaan yang satu ini.

“Kenapa tidak? Dia Islam lebih dulu sebelum bertemu Cinta. Dia baik attitude-nya. Dia suka membantu sesama. Dia mencintai Cinta dengan tulus. Dia pekerja keras dan tidak membiarkan Cinta hidup dalam kekurangan. Kenapa tidak? Ingatkah Cinta dengan mas Hisyam? Tentor Cinta waktu ikut privat komputer beberapa tahun lalu? Tentu Cinta juga ingat kalau beliau itu adalah ipar dari sepupu ayahmu. Adek perempuannya juga menikah dengan bule mualaf. Mereka bahagia sampai sekarang loh, usut punya usut, si bule itu sangat setia.”

“Oh ya? Cinta tidak tahu bu. Kalau mas Hisyam yang ganteng itu Cinta ingat. Hehe. Tapi tapi tapi…tadi itu cuma pengandaian saja kok bu, Cinta lebih suka orang Indonesia saja. Saat ini Cinta ingin menjadi yang terbaik, memberikan peran yang terbaik, entah itu untuk keluarga, untuk sekitar, untuk sahabat, dan untuk calon suami Cinta kelak. Itu saja.”

“Aamiin aamiin, doa ibu yang terbaik untukmu nak, selalu. Tapi ingat, SEIMAN ya sayang, jangan tukarkan imanmu dengan apa pun! OK, deal?”

“SEIMAN, DEAL, INSYA ALLAH

23 thoughts on “Nasehat Ibu Perihal Suku

      1. Ooo…slah persepsi ni sya, hehe… di wordpress ini jg ada koq yg sesuku sya liat dan mungkin bs dicoba, hehe…siapa yok? Ada dech… smga dpt gntinya ya biar gak “nangis” trus, 😂😂

        Disukai oleh 1 orang

      2. hehe…ga mau orang blog lagi mas Desfortin. Mau orang sekitaran sini saja. Orang blog biarlah jd tmn blog saja. Kecuali…ada 2 org blog yg ga sesuku malah yg masuk list-nya Cinta. Lagian ibu udah ngebolehin jd ga msalah. Tapi…lg2 Cinta hrs realistis. Kl jodohnya org yg di Cikarang gmn?

        Suka

      3. iya mas Des, Cinta paham koq. Ga typo, Cinta bacanya mah.

        Jgn ngomongin sesuku mulu deh mas, Cinta udah paham siapa, maaf ini agak sensitif mnurut Cinta, mgkn suatu saat prlu diklarifikasi, Cinta ga ada rasa mas Des, sungguh, hanya sahabat blog saja. Mohon maaf, jangan dibicarakan lagi. 🙏🙏🙏.

        Disukai oleh 1 orang

    1. wadoooohhh bang Harlen, koq msh dibahas to mas?

      kan itu td nasehat ibu mas, “kl Cinta pgn dpt yg trbaik, Cinta hrs jd yg trbaik dulu”

      gtu kata ibu, Cinta mah nurut beliau sja, Cinta pgn dpt suami S2, krn mnrut Cinta saat ini yg trbaik itu S2 atau ada niatan S2 brsama2 mnjd lbh baik, agar lbh brguna bagi msa dpan sekitar bukan skdar tittle utk menambah penghasilan / ksombongan, bukan bgtu sbnrnya.

      Cinta ingin psangan nnt adalah org yg pduli sesama, dg ilmunya, ia bagi lg utk skitar. Cinta jg sbnrnya sesudah lulus S2 (jika dbri ksmpatan) ingin mnjd relawan pengajar di seluruh pelosok Indonesia mas…ingin membaur brsama mreka2 yg tdk mampu sekolah. Nanti Cinta ingin membuat komunitas itu, smoga diprknankan, aamiin 😇

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s