Bertemu Putri Duyung


Mimpi bertemu putri duyung, 1840 kata

Iklan

 

100 Writing Prompts Challenge

Days #7 – Fish

 

Mimpi bertemu putri duyung
Gambar diunduh dari Google

 

Ini adalah kali ketujuh tantangan menulis cepat yang kubuat untuk melatih diri sendiri.

Sejujurnya…tantangan ini sudah berubah haluan dengan sendirinya. Karena satu dua halangan dan rasa lelah yang menimpa diri membuat Cinta1668 menjadi malas dan lamban untuk bercerita. Jadilah tantangan menulis cepat menjadi super lambat. 😁

Maafkan ya Lovers…maafkan…

Namun…Aku tetap ingin menulis dan menyelesaikan tantangan ini secepatnya, sebisaku. Semoga dalam beberapa bulan ke depan dari sekarang, tantangan ini bisa terselesaikan. Aamiin.  😇

Kali ini, aku ingin sedikit bercerita tentang Mermaid.

Tahukah kalian, apa itu mermaid?

Menurut Wikepedia, mereka adalah “Siren” atau putri duyung. Dalam mitologi Yunani. disebutkan bahwa mereka adalah makhluk legendaris yang hidup di lautan dan tinggal di pulau bernama Sirenum Scopuli yang mana semuanya adalah tempat-tempat yang dikelilingi oleh batu karang dan tebing. Mereka menyanyikan lagu-lagu memikat hati yang membuat para pelayar yang mendengarnya menjadi terbuai hingga kapal mereka menabrak karam dan tenggelam.

Menurutku sendiri, Siren mempunyai aura mistis saat dibicarakan. Saat bicara tentang mereka, anganku melayang jauh pada sebuah mimpi yang bersambung.

Pernah suatu ketika, aku mengalami fase hampir putus asa dan ingin menghilang. Hampir setiap malam, tak bisa tidur. Namun jangan tanya apa alasannya, aku sungguh sedang tidak ingin membahasnya.

Suatu malam…akhirnya bisa juga aku tertidur. Dan Allah Yang Maha Baik, dalam mimpi itu mengabulkan keinginanku untuk “menghilang”.

Aku berada di sebuah pantai. Pantai yang aneh karena tak seperti biasanya. Ada hawa mistis di sana. Sore hari yang mendung. Desir angin lebih kencang dari biasanya. Ombak-ombak yang biasanya melenggang tenang kala itu berontak, seolah menyiratkan pertanda dengan riuh-gemuruhnya. Pasir yang geming. Awan mendung serupa serak kopi yang semakin mengumpul dan memaksa langit berubah warna menjadi abu tua untuk kemudian menghitam.

Cuaca yang aneh, namun tak apalah…karena sebentar lagi hujanku pasti datang dan semua akan baik-baik saja. Pikirku waktu itu.

Namun aku salah.

Hujan tak juga datang. Awan semakin menggumpal dan menggunung di atas sana. Dan sekarang bertambah pelik karena kilat berloncatan disusul suara guntur yang berteriak-teriak dengan geram dan tak sabar.

Aku takut! Aku ingin pulang saja! Tapi pulang kemana? Ke arah mana? Kenapa tak ada seorang pun di sini? Dalam kebingungan, aku menggumam.

Tiba-tiba muncul kilat paling terang membelah hitamnya awan di langit, lalu disusul suara mengguntur paling kencang. 

Astaghfirullah, karena kaget, aku beristighfar.

Ada dunia lain di depan sana. Di antara laut yang terbelah. Dunia yang menyilaukan dengan cahaya kuning keemasan, perak, juga hijau berkilauan. Aku penasaran. Lalu perlahan aku  mendekat. Mendekat. Mendekat. Dan semakin mendekat. Dan tanpa sadar…aku tenggelam.

Aku tergagap ketika alarm jam beker-ku berbunyi…

Astaghfirullah, hanya mimpi. Syukurlah, hanya mimpi.

Dua hari kemudian…

Mimpi itu datang lagi, dan bersambung. Aneh bukan?

Pada episode mimpi yang kedua, aku terbangun dengan kondisi baju basah. Ketika kubuka mata, aku baru sadar kalau aku terdampar di negeri antah-berantah. Di negeri itu penuh dengan perempuan-perempuan cantik. Sungguh, sungguh sangat luar biasa cantiknya. Semua berambut panjang, ada yang berambut pirang, cokelat, keemasan, dan semua rambutnya lebat dan ikal. Dan maaf…Cinta harus mengatakan, mereka tidak memakai pakaian.Tak sehelai pun.

Kenapa mereka tidak berpakaian? Apakah mereka tidak merasa malu?  kataku dalam hati.

Mereka, perempuan-perempuan berwajah bidadari itu mengerumuniku. Aku malu, sempat merasa kurang percaya diri. Bagaimana tidak? Mereka nyaris sempurna sedang aku biasa saja.

Lalu, di antara mereka ada yang berkata…

“kami tidak memakai baju, karena kami manusia ikan, manusia ikan hanya butuh air untuk menutupi tubuhnya dan seketika itu juga sisik kami yang berkilauan bak mutiara akan melingkupi tubuh kami, semudah itu. Jadi sudahlah…tak usah malu atau merasa berbeda. Kami para siren senang jika ada tamu perempuan, terlebih perempuan dengan kaki sepertimu”

Seorang siren berambut emas tiba-tiba memberikan jawaban yang sempurna bahkan saat aku tak berkata apa-apa. Mereka ternyata mampu membaca hatiku, membaca apa yang kupikirkan. Syukurlah…aku lebih tenang karena aku tak perlu banyak bicara, mereka sudah tahu segalanya.

“Hei, bisakah kau berenang? Akan kutunjukkan bagaimana kami berubah drastis dari kaki manusia menjadi sirip ikan. Ayolah kemari…jangan seperti orang bodoh!”

Siren berambut cokelat dengan serta-merta menyeretku ke sebuah pantai yang sangat indah. Pantai itu berkilauan. Dan aku baru sadar ternyata kilau dari dunia aneh ini berasal dari sirip mereka yang beraneka ragam warna dan memantulkan cahaya sendiri.

Subhanallah…dunia ajaib ini sungguh menyenangkan! Andai saja aku bisa menghilang selamanya di sini…aku akan…!

“Cinta, sudah jam lima pagi! Bangun! Subuh! Lekaslah siapkan buku-bukumu. Ayahmu tidak akan suka bila harus menunggumu.”

Ah, aku terbangun lagi. Mimpiku memudar. Padahal kali kedua itu sungguh seru. Ah, ibu…ah, Senin. Kalian memang hampir sama! Sama-sama memaksa untuk bangun pagi, sama-sama memaksa berangkat lagi. Cinta yang waktu itu masih berseragam putih-abu abu harus rela menanggalkan sejenak mimpinya dan kembali pada kenyataan.

Waktu berlalu…kira-kira satu minggu mimpi itu tak datang lagi. Aku penasaran, benar-benar penasaran. Akan jadi seperti apa mimpiku itu? Rasa penasaranku hampir seperti…saat menonton film series Vampir Diaries Season 5 yang belum selesai sequelnya dan akan berganti ke season 6. Penasaran yang tak terkatakan. Penasaran yang membuatku susah tidur dan susah makan!

Akhirnya…saat yang kuharapkan datang. Kelelahan di suatu malam membuatku langsung terlelap begitu kepala ini bertemu bantal.

Episode ketiga di mimpiku…

Masih di tempat yang sama. Di sebuah pantai dengan cahaya menyilaukan. Para siren berenang dengan senangnya. Mereka mempunyai gap-gap tersendiri rupanya.

Ada gap yang suka dengan dedaunan. Mereka memakai gelang, kalung, dan memakai mahkota terbuat dari daun. Cantik. Gap hijau aku namakan.

Ada yang suka dengan kerang. Mereka melakukan hal yang sama. Menghias tangan, leher, dan memakai mahkota dari kerang. Ini pasti gap Kerang, pikirku waktu itu.

Ada juga yang benar-benar menyilaukan, mereka mengumpulkan airmatanya sendiri (airmata duyung yang bisa berubah menjadi mutiara) lalu dengan telaten merangkainya menjadi gelang, kalung, juga mahkota untuk mempercantik diri mereka. Gap Mutiara, sebutanku untuk mereka.

Terakhir. Ada gap Putih. Kusebut mereka putih karena mereka memakai mahkota bunga, gelang bunga, dan kalung bunga yang kesemuanya berwarna putih.

Subhanallah. Tanpa sadar aku berdecak kagum lagi. Indah, indah sekali.

“Apakah di sini tidak ada kaum lelaki?” tanyaku pada siren berambut pirang.

“Ada, mereka kaum penguasa. Mereka tinggal di kastil, di atas sana.”

Wajahku mendongak mengikuti arah tangan yang ditunjukkan siren berambut pirang. Di sana, di atas sana ada kastil yang indah. Kurasa itu istana terindah yang pernah kulihat.

“Tenang saja, wajah mereka sangat tampan. Sayangnya…mereka tidak menyukai kami, mereka lebih suka dengan manusia normal berkaki.”Siren berambut pirang masih melanjutkan.

“Hah, maksudnya?” aku bingung.

“Ya maksudnya…sebentar lagi akan ada seseorang dari atas sana yang datang mendekat dan melamarmu.”

“Apa? Me..me..melamar aku? B..b..bagaimana mungkin? Kau tidak sedang becanda bukan? Aku masih belum lulus SMU!” Aku benar-benar tergagap dibuatnya.

“Kau pikir siren bisa berbicara bohong? Dengarlah nona cantik, siren tidak bisa berbohong, akan ada hukuman atas setiap kebohongan, satu sirip kami akan kehilangan kilaunya setiap berbohong, bisa kau bayangkan betapa sangat jelek diri kami jika kami bohong berkali-kali. Dan setelah kilau di sirip kami menghilang semua, siren akan mati, kami tidak akan bisa hidup abadi lagi. Tapi tenanglah nona cantik, kau boleh berbangga jika salah satu siren menyukaimu. Siren hanya mencintai satu kali. Selamanya.”

Wow, penjelasannya membuatku sedikit berbunga. Siren yang hanya mencintai satu perempuan, dan selamanya. Tidak seperti dia yang ==> skip.

Tapi bagaimana kalau mereka tidak berpakaian Astaghfirullah…astaghfirullah…tidak tidak tidak! Aku mau pulang saja.

“Hahaha, tenang saja nona. Siren lelaki memakai baju lengkap sepertimu. Tak perlu sampai takut seperti itu. Kau tahu mengapa mereka hidup di kastil di atas sana? Karena mereka belajar ingin menjadi manusia sempurna sepertimu. Mereka bisa bertahan bahkan satu bulan tanpa pantai. Tak seperti kami yang sehari-harinya harus bertemu air laut agar kami bisa bertahan hidup.”

Hhhhh…syukurlah, syukurlah kalau begitu. Hatiku tenang.

“Hei kau, bisakah ikut denganku?” seorang wanita tua mengagetkanku. Seseorang yang sama sekali tidak ramah. Tapi…matanya sangat tajam, mengerikan. Aku pastilah terhipnotis, karena setelahnya aku menurut saja padanya.

Aku dibawa ke kastil. Di kastil itu, Masya Allah. Subhanallah. Tiba-tiba saja aku teringat dengan si centil Rizka yang langsung meremas-remas tangannya sendiri bila melihat cowok tampan. Lalu semenit kemudian, ingatanku bertemu mbak Narti yang selalu berteriak dan berkata…”Oh My God…Cinta…Cinta…Cinta…lihatlah, jambangnya, hidungnya, matanya, kulitnya, we ow we pake BGT!”

Lalu semenitnya lagi beralih ke Lelly si ustadzah genks kita yang akan langsung bilang…”istighfar…istighfar…mereka bukan muhrim, jaga mata, jaga hati, jaga iman!”

Dan semenit terakhir adalah bagiannya si pintar dan si kutu buku, Lavi. “Belajar dulu biar pinter, baru boleh pacaran. Sebenarnya pacaran itu MENYESATKAN!”

Dan entah kenapa, aku tak tahan dan terkekeh sendiri. Andai saja mereka ada di sini, pasti seru dan ramai sekali.

Wanita tua tadi tiba-tiba saja pergi begitu saja meninggalkanku sendiri.

Aku bingung. Harus kemana? Aku tak kenal siapa-siapa. Kenapa mereka seperti acuh tak acuh melihatku? Aku lebih baik turun ke bawah saja. Ke pantai sana, pantai menyilaukan tadi. Sepertinya di sana lebih menyenangkan. Mereka bersahabat. Sedang di sini, aku merasa sendiri, hilang, sepi.

“Halo, maaf sudah lama menunggu. Maukah jalan-jalan bersamaku?”

Siren lelaki berambut hitam, bermata cokelat. Perawakan sportif tinggi 180 cm, tubuh putih yang sedikit menghitam karena tersengat mentari. Wajah yang bersih dengan jambang rapi bertengger di janggutnya. Aku diam saja. Dalam hatiku hanya ada satu pikiran muncul waktu itu…

ini manusia apa bukan? Koq ada manusia sesempurna ini? Aku tidak sedang bermimpi bukan?

“Tidak nona, kau tidak sedang bermimpi. Aku menyukaimu sejak aku melihatmu terdampar di pulau ini…aku memperhatikanmu diam-diam. Kau lucu, periang, dan mudah beradaptasi. Aku memang manusia ikan, tapi jangan kau tanyakan kesetiaanku, aku hanya mencintai sekali seumur hidupku. Aku bisa janjikan cinta yang melimpah hanya untukmu. Maukah kau menikahiku? Maukah kau menjadi istriku dan membantuku menjadi manusia sempurna sepertimu?”

Siapa yang bisa menolak lelaki sepertinya coba? Kurasa tidak akan ada…lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku akan menerimanya atau aku malah menolaknya?


**********///SKIP///***********

mimpi itu ter-skip sendiri dan menyambung lagi pada saat aku mengatakan “iya” setelah tak tahu berapa lama…karena hanya skip hitam saja waktu itu. Jangan tanya kenapa, namanya juga mimpi. 😁

Kami bahagia. Kami akan menikah. Masih kuingat jelas kata-katanya :

“Cinta, ingatlah…aku ada di sini. Selalu ada di pantai ini. Jika kau merasa sendiri. Kembalilah ke sini dan sebut namaku. Aku, siren berambut hitam tanpa nama berjanji, akan selalu ada untukmu”

##::::########?!”:*?:*#**/”*?/:/#

“Uk uk uk uuuuukkk…3x”

Pagi datang lagi. Mimpiku meghilang lagi. Benar-benar menghilang dan tidak pernah kembali.

Sejak itu, Cinta, gadis berbaju putih abu-abu yang masih belum dewasa lebih sering ke pantai daripada biasanya. Ia memang menyukai pantai, tapi bertambah menyukainya sejak mimpi siren itu datang.

Kadang ia menggumam sendiri…

Hei siren, aku sedang sedih. Bisakah kau datang kali ini? Apakah…suatu saat aku benar-benar akan bertemu denganmu di pantai ini? Atau di pantai lain? Jika iya…maka lelaki pertama yang kutemui di pantai, akan kuanggap jelmaan dirimu. 

Itu khayalan konyol Cinta1668 semasa SMU. Khayalan yang sampai kini kadang membuatku tersenyum tanpa sadar.

Ya…aku tahu, siren itu tidak ada. Ia hanya mitos, kalaupun ada, hanya di mimpiku saja. Hanya cerita turun-temurun. Biarlah…biarlah semua berkata begitu. Tapi aku…terkadang, masih ingin bertemu dengan siren-ku.

Bisakah?

Dan hei, Lovers, pernahkah punya khayalan atau mimpi seperti Cinta semasa SMU?

Bagilah denganku. Aku akan senang membacanya.

Salam,

Cinta1668

😉

12 thoughts on “Bertemu Putri Duyung

  1. Waw, tntangannya 100 tulisan. Ini baru yg ke-7. Bnyak bnget Cinta.

    Terkait mermaid, putriku suka banget, mkanya 2 thn llu, pas ke Jakarta, aku blikan dia kostum duyung. Ia juga sring tnya apa putri duyung bnr eksis.

    Disukai oleh 1 orang

    1. 😁 iya bnar mas Desfortin…tantangannya bnyak bngt, ga tahu kesampaian atau tdk.

      Btw, kl itu yg jd prtnyaan putri mas Des…jwb sja mreka eksist, slama msh usia anak, itu akan memacu daya kreativitas dan imajinasi mereka, toh stlh dewasa mreka akan sadar sndiri kl mermiad itu hnya dongeng cantik sblum tdur 😊

      Suka

  2. Memang seru yah dapet mimpi semacam itu, sebenarnya aku juga sering dapat mimpi yang ada ceritanya (walau nggak bersambung sih) dan biasanya mimpi itu sering memberiku inspirasi untuk membuat cerita…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s