Hati yang Tertaut pada Kampung Halaman


Diary Hati yang Terpaut pada Kampung Halaman, 796 kata

Iklan

Pekalonganku, hasil unduh dari Google

Dear diary,

Beberapa bulan ini, aku sedang mencoba mempertautkan hati dan diri pada kampung halamanku.

PEKALONGAN.

Sebuah kota yang selalu membuatku rindu.

Langkah-langkah kaki kuda yang menarik delman. Suara-suara surau yang tak pernah berhenti berkumandang. Pantai-pantai di sebelah utara desa yang masih alami, desiran ombak bertemu pasir masih dapat kurasakan jelas dari sini. Juga suara sulingan dari canting dan aroma khas malam lilin yang meninggalkan bekas hangat di kain putih hingga membentuk kain hasil budaya tradisional Indonesia, batik.

Aku sudah punya segudang alasan untuk tetap mencintai Pekalongan.

Dua puluh dua Mei beberapa puluh tahun lalu, ia menjadi saksi lahirnya seorang gadis desa berkulit sawo matang dengan wajah biasa saja, berbulu kudu lebat hingga sering membuatnya malu. Berpenyakit hiperhidrosis yang sempat membuatnya minder. Tapi gadis ini masih percaya bahwa Tuhan pasti punya sejuta rahasia indah mengapa Dia menjadikannya berbeda dari gadis lainnya.

Diary,

Dua setengah tahun lalu, aku memutuskan untuk melanjutkan study-ku. Aku kuliah lagi sambil bekerja setelah mendapat persetujuan dari salah satu kepala divisi di tempatku bekerja.

Ada hal yang harus kukorbankan. Aku tak lagi mendapat upah lembur di hari Sabtu. Betapa di awal aku masuk kuliah hingga satu tahun setelahnya, aku kesusahan, sempat berhutang dalam jumlah lumayan banyak, untunglah hanya pada ibu sendiri aku berhutang. Aku yang kesusahan keuangan ini hampir menyerah kalah.

Tuhan, bukankah cobaan itu selalu datang bersama kekuatan? Bukankah Engkau juga berfirman bahwa dalam satu kesulitan akan datang bersamanya dua kemudahan?

Dialog sederhanaku didengar Tuhan rupanya. Cinta mendapat kenaikan gaji. Ternyata…Cinta mulai bisa membaca nikmat Tuhan lagi bahwa pada saat beban keuangan muncul di pundak kita, asalkan mau bersabar, Tuhan akan datang bersama rezeki untuk mencukupinya. Alhamdulillah, hilang sudah masalah keuangan Cinta1668. Merasa terberkati, terimakasih Tuhanku sayang. 😇

Hal kedua yang kukorbankan adalah keluargaku di kampung. Bukan. Bukan aku tak peduli lagi. Hanya saja, aku tak lagi bisa pulang kampung setiap bulan atau dua bulan sekali. Hanya menunggu jadwal libur saja. Kadang setahun dua kali, kadangkala malah hanya lebaran saja.

Ah diary, meski aku telah meminta izin pada ibuku tersayang, namun selalu ada yang menyesak di dada. Ada perasaan yang mengganjal. Entahlah apa itu, aku dulu tak mau ambil pusing dan tak pula mau menyadarinya.

Hingga suatu hari aku sakit. Kecelakaan dan patah tulang.

Ibukulah yang pontang-panting. Jarak antara Cikarang-Pekalongan tak lagi beliau pedulikan. Menunggu di rumah sakit sampai kedinginan dan masuk angin karena beliau tak tahan hawa dingin. Sesekali penyakit asam urat beliau kumat. Pernah aku terbangun karena ingin ke toilet. Aku mendengar beliau mengigau kedinginan. Oh diary, ingin rasanya aku menangis dan memeluk beliau. Tapi…apalah dayaku. Waktu itu untuk bangun dari tempat tidur saja harus digandeng dan dibantu orang lain.

Paginya, aku tak tahan lagi dan berujar…

“Ibu, terimakasih telah menjaga Cinta selama ini bu. Maaf karena Cinta masih belum bisa membahagiakan ibu. Maaf karena Cinta belum bisa mengajak ibu ke tempat di mana di atasnya adalah pintu-pintu langit menuju surga, Mekah.”

Ibuku diam, tersenyum lalu berkata…

“Iya tidak apa-apa Cinta. Semoga Allah selalu menambah rezeki Cinta, nanti kita bersama-sama ke Mekah ya sayang. Sekarang ini, ibu tidak meminta apa-apa. Hanya saja, sejak Cinta jarang pulang. Ibu jadi merasa sedih. Ibu sering kangen. Kalau hari Minggu, Cinta tidak telepon sampai sore, ibu kepikiran dan tidak tenang. Cinta kenapa? Sakitkah? Sedang jalan-jalankah bersama temannya? Seharian itu mata ibu tidak pernah bisa jauh dari ponsel, Cinta. Cinta anak kesayangan ibu, kalau ada waktu luang, pulang kampung ya sayang?!”

Deg,

Deg deg deg.

Deg deg deg deg deg.

Hatiku bergetar saat itu, diary.

Aku baru sadar, itulah ganjalanku. Itulah ganjalan yang membuat dadaku sesak. Di sana, ada seseorang yang begitu merindukanku. Ah rasanya ingin menangis kencang saat itu. Namun kuurungkan, hanya memeluk beliau erat tanpa kata.

Awal semester enam ini aku mau jadwalkan lagi pulkam sebulan atau minimal dua bulan sekali. Semoga Allah meridhoi. Semoga dengannya Allah tidak membuat prestasi Cinta1668 menurun. Semoga aku bisa tetap menjadi di antara yang terbaik. Semoga. Semoga. Semoga.Aamiin. 😇

Dan diary

Harapan kecilku adalah,

Semoga kelak, orang yang menjadi pasanganku juga mencintai keluarganya terutama ibunya. Dia yang terpaut hatinya pada kampung halaman. Dia yang tak tergoda oleh kemewahan. Dia yang selalu low-profile dan bijaksana. Dia yang mencintai keluarga. Tidak pernah enggan berbagi pada sesama. Dia yang jika ada yang berhutang padanya, akan melapangkan si orang yang berhutang dengan meminjamkan beberapa rupiah padanya. Betapa aku juga pernah merasakan kekurangan. Betapa aku sungguh bisa memahami artinya kurang. Dan semoga dia tetap tersenyum di kala susah, karena ia tetap percaya pada Tuhannya…

Bahwa dalam satu kesulitan ada dua kemudahan.

Sungguh, bahwa dalam tiap kesulitan selalu ada dua kemudahan!


Sudah dulu ya diary.

Semoga kelak, aku bisa membaca ulang tulisanku ini. Agar aku ingat. Agar aku selalu dekat. Agar hatiku selalu terpaut dan terikat dengan kota Pekalongan yang memikat.

Xoxo

A very touched me, Cinta1668

7 thoughts on “Hati yang Tertaut pada Kampung Halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s