Menunggu Hujan Reda


Diary Menunggu Hujan Reda, 796 kata

Iklan

Dear Diary,

Sekarang jam 17.00 WIB, sore hari yang berhujan.

Biasanya jam 17.00 tepat aku sudah mulai mengemasi kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja, meng-eject flashdisc dari PC, mencabut headset mungilku, menutup channel radio Prambors Jakarta Online Streaming, mengepak buku kumpulan puisi atau buku novelku yang belum tamat kubaca, lalu terakhir, aku akan mematikan komputer yang selalu berbeda setiap harinya. Pengalaman yang dulu kukira akan merepotkan, namun ternyata sungguh, sungguh menyenangkan.

Bagaimana tidak?

Aku yang cerewet ini ternyata bisa dengan mudah berbaur, mengenal dengan baik atasan-atasanku. Mendapat ilmu dari mereka, yang bahkan dari kasat mata sudah terlihat : kesungguhan, tak pernah merasakan kantuk, serius, dan jiwa semangat yang tak pernah lelah. Dari beliau-beliau ini aku kemudian mengerti…bahwa untuk mencapai sebuah posisi mereka sungguh tidaklah mudah.

Aku mulai memahami, mungkin ini keinginan bigboss agar aku sedikit demi sedikit menyelaminya. Belajar dari mereka, belajar mencintai pekerjaanku. Aku yang kadang mengeluh jika load terlalu penuh, aku yang kadang marah jika customer telat bayar dan malah berkeluh-kesah , aku yang masih ceroboh dan bahkan pelupa, dan aku-aku yang lainnya yang tentu masih banyak alpha-nya.

Ah diary, jika boleh kukatakan, sebenarnya aku merasa malu. Melalui mereka, TuhanΒ seolah berbicara padaku, betapa banyak yang perlu kusyukuri, betapa aku…betapa kurang bersyukurnya diri ini.

Status WA dua hari kemarin

Entah sejak kapan aku mulai mencintai pekerjaanku. Kemarin itu, aku hanya bilang, aku sedang berusaha mencintai. Tapi sekarang aku merasa benar-benar mencintai. Aneh kan?

Melalui sebuah media WhatsApp yang kini fiture-nya dilengkapi dengan status. Aku mulai berkicau dengan kisah keseharianku. Ada sebagian mereka yang bilang, sekarang tidak bagus lagi karena mirip BBM. Ada juga yang bilang, itu boros kuota. Ada juga teman lain yang bilang, ah males ah, nanti ada yang kepo.Β 

Namun, bagi diriku-sendiri yang berjiwa ekstrovert ini, status adalah sarana mengekspresikan diri. Jiwaku yang tak bisa diam barang sejenak, mau tak mau memunculkan versi cerewetku di media itu. Terkadang satu hari sampai empat status, dan masih ingin berganti status baru lagi. Ups, ini agaknya terlalu 😁. Karena malu, biasanya status yang lama akan kuhapus dulu, jadi setidaknya maksimal empat status saja dalam sehari. Hehe.

Tiga puluh menit sudah berlalu, 17.30 WIB, sore hari menjelang maghrib yang masih rintik.

Mbak Eny sudah memanggil…dengan cepat aku menutup layar ponsel dengan draft tulisan di WP yang belum selesai.

Menunggu hujan reda, tidak lagi menjadi pilihan kami karena ternyata rintik hujan di luar lebih menggoda.

Ah, hujan, tetes demi tetesmu kali ini kenapa terasa lebih menyenangkan?

Apa karena ada sesuatu yang baru dariku?

Ah, bukan bukan. Bukan sesuatu yang baru. Hanya mencoba sesuatu yang baru, proses baru. Aku ingin menarik kembali janjiku pada diri-sendiri yang hampir terlupakan.

Aku mau jadi Cinta yang dulu. Cinta yang dengan bebas tertawa lepas. Cinta yang bahagia, Cinta yang suka melucu dan mengurai senyum di wajah sahabat-sabahatnya.

Cinta yang sedari kelas tiga SMP telah bersumpah. Cinta kala itu pesakitan dan hampir mati. Cinta kala itu hanya bisa berdoa seperti merapal mantra dan bersumpah di ujung usianya :

Tuhan, aku berjanji…jika Engkau memberiku umur panjang setelah ini, aku akan membuat semua orang di sekitarku bahagia, tidak akan kubiarkan mereka bersedih. Aku berjanji Tuhan, aku akan membayar setiap detik nafasku dengan membuat semua orang di sekitarku bahagia.

Aku diberi hidup lagi. Subhanallah. Maha Suci Allah.

Betapa…hidupku ini adalah bukti keajaiban Tuhan. Betapa ini adalah kesempatan kedua untukku membuktikan janji yang kubuat sendiri kala itu. Betapa aku harus ingat. Betapa aku tak boleh melupakannya.

Sampai kemarin aku masih ingat janji ini. Tapi…beberapa waktu lalu aku mulai lupa. Aku mencinta, aku bahagia, dan aku lupa. Lalu Tuhan mengambilnya. Mengambil bahagiaku, aku bersedih, aku berduka, dirundung kemalangan yang berulang-ulang. Pun, aku masih lupa.

Keterlaluan Cinta, betapa keterlaluannya Cinta yang satu ini!

Sekarang sudah jam 18.25. Tidak lagi hujan rintik. Suara Iqomah dari masjid Al-Ikhlas sudah bergema.

Akan kutinggalkan lagi tulisanku untuk sejenak berdoa.

Dan sekarang sudah jam 18.46 WIB.

Status WA hari ini.

Aku mau bilang dengan lantang,

Aku masih ingin seperti bunga.

Bunga yang spesial di antara bunga-bunga lainnya.

Seperti kata bunda Asma Nadia. Dan, seperti gadis-gadis lainnya, aku masih percaya aku bisa.

Oh ya, sekian dulu diary, maaf jika aku ngelantur terlalu banyak hari ini.

Dari tentang pekerjaan, WhatsApp dengan fiture-nya, pulang kerja menikmati rintik hujan, ingat janjiku yang dulu, dan sampai di rumah pun masih diperpanjang.

Aku ingat kemarin ada salah satu teman blogΒ mencari hikmahΒ di sini. Dan aku sempat malu, karena mengecewakannya.

Aku tak tahu hikmah apa yang kudapat hari ini,Β diary.

Namun, jika hikmah itu ada…aku mau bilang,

Aku mau berubah, segera menjemput bahagia, aku ingin membuka lembaran-lembaran hidupku yang baru dengan cara yang indah. 😍

“Bahagia”. Ya, bahagia. Satu kata sederhana yang kemarin bahkan aku lupa merasakannya.

Padahal bahagia itu sederhana.

MAU! katakan pada dirimu MAU BAHAGIA dan kamu akan mulai merasakannya!

Xoxo

A very noisy me, Cinta1668

πŸ˜‰

33 thoughts on “Menunggu Hujan Reda

      1. kl Cinta malah seneng dikepoin wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

        Wuah sma mba, di fb jg udah jrg banget buka. Terakhir itu Cinta malah off dr fb, udah minta maaf ke tmn2 loh mba eh tp koq beberapa hr nongol lg sndiri. Bingung jg Cinta, mgkn emang otomatis bgtu kali ya mba? 😁

        Suka

      1. wuah msa dek Agit…sini sini sayang, mampir ke Cikarang nanti Cinta bagi alisnya 😁.

        Btw, kl Cinta malah yg sdkit itu bulu matanya makanya Cinta cb pke lidah buaya itu pun udah lama dan trnyata bagus loh dek, alhamdulillah skr bs lebat dan kl hbis wudhu biasanya kl pke kcmata lg, basah kacamatanya krn kena bulu mata sndiri.

        Ayooo coba terapi pakai daging buah lidah buaya, siapa tahu bs mmbuat lebat alis πŸ˜„

        Disukai oleh 1 orang

      2. Wah beneran tuh, aku juga gak adaan ini alis dan bulu matanya πŸ˜‚

        Ntar ah mau coba, sapa tau bisa lebat juga. Makasih kak cinta infonya 😁

        Disukai oleh 1 orang

  1. Hallo Mba Cinta sayangg…. πŸ˜€

    Biarlah hujan di luar menggerimis atau mengguyur, namun semoga hati kita tetap bahagia yaaa… belajar bahagia, dengan tersenyum. Belajar tersenyum bahagia. Karena ternyata “bahagia itu sederhana”, ya Mba?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s