Review Film Surga yang tak Dirindukan 2


Review film Surga yang tak Dirindukan 2

Iklan

Selamat sore sahabat blog Cinta1668.

Hari ini, hari yang paling special menurut Cinta.

Kenapa?

Karena bagi umat Islam, Jumat menduduki tempat teristimewa, di mana hari Jumat adalah hari raya yang terulang dalam setiap minggunya.

Seperti sabda Rasulullah SAW yang pernah Cinta baca dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ (رواه ابن ماجه، 1098، وحسَّنه الألباني في “صحيح ابن ماجه

“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat Islam. Barangsiapa yang mendatangi (shalat) Jum’at maka hendaklah mandi (besar), kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.” (HR. Ibnu Majah, 1098 dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih
Ibnu Majah)

Dan untuk itulah, Cinta akan menepati janji yang sebenarnya harus dibuat dari hari Rabu kemarin. Mohon maaf atas keterlambatannya ya, sahabat. :^__^>

Dan, satu lagi, Cinta mohon maaf karena postingan ini akan mengandung SARA karena bisa dilihat dari judulnya, ini film Islam yang mau tidak mau melibatkan Islam di dalamnya, bagi yang keberatan atau tidak berkenan, silakan di-skip. Tidak mengapa.

Langsung saja, di bawah ini adalah review film yang semalam Cinta tonton bersama mba Eny, sahabat kantor Cinta.

148119303223842_300x430.jpg
Gambar dunduh dari Google

PROFILE

Judul film               :   Surga yang tak Dirindukan 2

Produser                  :   Manoj Punjabi

Novel                         :   Asma Nadia

Penulis Skenario    :   Manoj Punjabi, Hanung Bramantyo, Alim Sudio

Sutradara                  :   Hanung Bramantyo

Produksi                    :   MD Pictures

Genre                          :  

CAST

laudya-chintya-bella
Gambar diunduh dari Google
fedi-nuril
Gambar diunduh dari Google
00121403
Gambar diunduh dari Google
750xauto-ini-bocoran-peran-reza-rahadian-di-film-surga-yang-tak-dirindukan-2-161027g
Gambar diunduh dari Google

SINOPSIS

~ Arini ~

Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Aku adalah seorang penulis buku cerita berjudul Istana Bintang yang beruntung sekali karena diberi kesempatan untuk berkunjung ke Budapest, sebuah kota di Hongaria yang pernah menjadi pusat peradaban Turki beberapa abad silam. Di sana, oleh ketua komunitas Islam di Budapest aku menjadi tamu selama lima hari. Umat Islam di kota Budapest adalah sekitar 28.000, dan angka ini terus menunjukkan peningkatan, itu yang dikatakan tour guide kami, Panji Rindu Alam. Aku juga mulai mengerti kenapa umat Islam di sini terus meningkat berdasarkan hasil interview dengan salah seorang ibu yang kutemui ketika beliau berkata :

“Islam adalah jaminan. Di mana setelah menikah, lelaki akan menjamin kebahagiaan seorang wanita. Mereka yang tidak paham Islam, tidak akan mengerti tentang ini.”

Aku pergi bersama manajerku, Shila dan Nadia, putri semata wayangku tanpa mas Pras karena mas Pras sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun mas Pras berjanji setelah tidak sibuk akan menyusul kami, aku lega dan senang mendengarnya. Nadia sedikit panik karena ayahnya tidak juga datang ke bandara untuk mengantar kepergian kami, Nadia ingin berpamitan sebelum pergi, katanya. Alhamdulillah beberapa menit sebelum berangkat, mas Pras datang, kami pun berpamitan.

Dalam sela-sela jumpa pers dengan pengagum buku ceritaku di Budapest, aku bertemu dengan dokter Syarief yang ternyata adalah dokter specialist Kanker. Ia mengundangku untuk datang ke rumah sakitnya untuk mendongeng bersama anak-anak penderita kanker di sana. Dan Nadia, putri kecilku-Putri Sabrina, panggilanku untuknya-langsung meng-iya-kan ajakan sang dokter.

Tanpa sengaja aku bertemu Meirose, aku senang juga bahagia. Akbar, anak Meirose yang juga sudah kami-aku dan mas Pras- anggap sebagai anak sendiri sudah besar. Kami kembali akrab setelah diijinkan menginap di rumahnya.

Hari itu…hari di mana aku mendongeng untuk anak-anak penderita kanker, ada salah satu anak yang tiba-tiba meninggal dunia. Saat itu aku tersadar, betapa usia kita sangatlah berharga, juga aku tersadar betapa kita harus bisa ikhlas jika Allah mengambil kita di suatu waktu tertentu.

Aku pingsan di sebuah pasar. Ketika aku sadar, aku telah berada di rumah sakit. Di ruang itu, dokter Syarief, dokter yang merawatku berkata, kanker rahim yang pernah kuobati dulu dan kukira sembuh total, sekarang semakin menyebar hingga sampai ke otak. Stadium empat, vonis aku hanya bisa bertahan hidup kurang dari dua tahun jika aku tidak melakukan perawatan.

Saat itu, aku memikirkan Nadia, juga mas Pras. Apakah mereka bisa hidup jika tanpa pendamping? Mengapa aku tidak menyatukan kembali mas Pras dengan Meirose? Bukankah pertemuanku dengan Meirose adalah sebuah pertanda dari Tuhan?

Jika aku diberi kesempatan. Jika itu dikabulkan, sungguh aku akan ikhlas dan bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.

~ Pras ~

Aku pikir, aku akan terlambat datang ke bandara. Karena sebelumnya ada kecelakaan di jalan yang membuatku sedikit dejavu. Bukan aku yang kecelakaan, tapi orang lain dalam mobil yang terbalik di jalan sepi. Menolongnya atau tidak, menolongnya atau tidak, menolongnya atau tidak. Aku sedikit bingung, bayangan Meirose yang kecelakaan beberapa tahun silam membuatku tak bisa berkutik dan berakhir dengan aku menikahinya. Alhamdulillah itu hanya kepanikanku saja. Gadis itu sudah punya pacar, dia juga bukan gadis dengan masa lalu seperti Meirose, aku malah mendapat bonus diantar ke bandara secara hormat dengan didampingi oleh dua orang polisi karena ternyata gadis yang kutolong adalah anak kepala Polisi Yogyakarta. Akhirnya aku bisa berpamitan, bertemu Arini, istri yang paling kucintai, dan Nadia, gadis kecilku.

Aku datang ke Budapest sesuai janjiku pada Arini. Ada yang aneh karena kedua temanku dan aku menuju ke arah terpisah. Arini menginginkanku pergi ke alamat yang tertera di sana, begitu pesan singkat Shila padaku sebelum kami berpisah.

Di sana, di rumah itu aku kaget karena ada Meirose, istri keduaku yang memutuskan pergi meninggalkan kami-Aku dan Arini-tanpa kejelasan. Kami berdua menginap di rumah Meirose atas permintaan Arini.

Malam hari, aku kelaparan, membuka kulkas, mencari sesuatu yang bisa kumakan, aku kaget karena begitu aku tutup pintu kulkas, Meirose datang dengan membawa tongkat dan mengiraku pencuri. Aku lapar, aku ingin makan, kataku. Meirose membuatkan sandwich untukku. Aku melihat banyak perubahan pada diri Meirose. Ia menjadi perempuan tangguh dan mandiri, aku juga melihat bagaimana ia sekarang hidup dengan dihargai tidak lagi seperti dulu. Alhamdulillah aku senang dan bahagia untuknya.

Akhirnya, aku mendiskusikan dengan Arini, aku ingin menceraikan Meirose. Pertemuan yang telah diatur oleh Allah mungkin adalah sebuah jawaban untukku menuntaskan masalah yang belum selesai. Aku harus menceraikan Meirose agar ia bisa melangkah ke depan dan hidup bahagia, aku tidak boleh terus mengikatnya.

Namun, Arini tidak menyetujuinya. Ada yang aneh dengan Arini karena ia terus saja berusaha menyatukan aku dengan Meirose. Ia bahkan tidak ingin pulang ke Indonesia. Ini benar-benar aneh!

Astaghfirullah…

Betapa aku terkejut dengan takdir Tuhan. Aku belum sempat membahagiakan Arini lebih lama. Yang aku perbuat, yang aku ingat adalah aku malah memadunya dengan Meirose, meski itu sudah lama, namun hatiku selalu merasa sedih bila mengingatnya. Semua bayangan itu kembali. Saat aku meminta restu kepada ayah Arini untuk terus menjaganya dan membuatnya bahagia. Saat Arini marah sambil menangis dan berkata kenapa aku tega menikah lagi. Saat ia harus ikhlas membagi diriku dengan perempuan lain. Betapa dibanding kebahagiaan, aku lebih banyak memberikannya kedukaan. Tapi…aku harus ikhlas, Arini sakit, kanker stadium empatnya tidak bisa disembuhkan. Ketika aku menanyakannya, apa yang paling ia inginkan? Jawabannya di luar dugaan. Aku ingin mas Pras tidak menceraikan Meirose, ini demi Nadia dan mas Pras, kalian tidak akan bisa hidup sendirian, katanya dengan mata sembab sambil menangis.

Apakah aku bisa? Sedang Arini bagiku adalah perempuan terindah yang tak pernah bisa tergantikan oleh siapa pun. Bisakah aku memenuhi keinginan terakhirnya?

~ Meirose ~

Budapest. Tiga tahun setelah menetap di sini, tak kusangka aku bertemu dengan mbak Arini. Dan lebih terkejutnya lagi, aku bertemu mas Pras beberapa hari setelahnya. Bahkan mereka berdua sempat menginap di rumahku.

Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Ada seseorang yang special, namanya Syarief, ia adalah dokter specialist kanker yang hampir setiap hari merayuku dengan puisi. Puisi Kahlil Gibran dan puisi W. S. Rendra siang itu ia bacakan lagi namun bukan untuk merayu melainkan untuk meminangku. Aku tersenyum dan berkata, tunggulah beberapa waktu, ada yang harus kuselesaikan.

Dan ya, kenapa tidak kuselesaikan saja antara aku dan mas Pras? Aku ingin melangkah maju, aku ingin hidup bahagia. Pertemuanku yang secara kebetulan ini mungkin cara Tuhan untuk memisahkan kami, aku tidak ingin lagi menjadi pengganggu kebahagiaan mbak Arini. Surat gugatan cerai di tanganku ini harus kuberikan pada mas Pras. Sungguh aku ingin segera menyelesaikannya dan membiarkan mbak Arini bahagia.

Tapi…mbak Arini sakit parah, dan mungkin akan meninggal dunia. Ia memintaku kembali bersama mas Pras.

Apa yang harus kulakukan?

Menoleh ke masa laluku atau melangkah ke masa depan?

~ Dokter Syarief ~

Aku tak pernah melihat sossok wanita setegar ia. Arini, seorang penulis cerita yang suka mendongeng untuk anak-anak itu sedang berjuang keras untuk hidupnya. Ia memintaku merahasiakan penyakitnya dari anak dan suaminya meski setelah aku menasehati bahwa dukungan keluarga adalah yang terpenting. Ia tetap berkata, tidak.

Aku menceritakan perihal ini kepada Meirose-wanita special, wanita yang telah kupinang dan menyuruhku bersabar karena ada masalah yang harus ia selesaikan.

Aku kemudian tahu masalah itu adalah masa lalunya di mana ia menjadi istri kedua di keluarga Pras. Dan aku lebih terkejut saat tahu ternyata istri Pras adalah Arini, perempuan tegar yang kuceritakan padanya beberapa waktu lalu.

Aku dilema.

Haruskah aku melepaskan Meirose karena itu keinginan terakhir Arini?

Bagaimana dengan perasaanku?

Bagaimana dengan cintaku?

~ Nadia ~

Di kamar rumah sakit itu, Nadia tahu semuanya. Nadia mendengar dokter Syarief berbicara kalau hidup bunda tidak akan sampai dua tahun lamanya. Nadia bingung, lalu Nadia bertanya lagi kepada dokter Syarief. Nadia tidak tahan dan berlari sambil menangis menuruni tangga. Dokter Syarief yang baik itu berhasil menenangkan Nadia. Lalu Nadia bertanya padanya, seandainya orang yang paling special dalam hidup dokter akan meninggal, apa yang akan dokter lakukan?

Aku akan membuatnya bahagia, selama ia hidup, aku akan memenuhi semua permintaannya.

Dokter Syarief benar, Nadia kecil ini akan mengabulkan permintaan terakhir bunda. Menerima tante Meirose sebagai mama baru untuk Nadia. Nadia ingin dengan memenuhi permintaan bunda ini, bunda bisa meninggalkan dunia dengan bahagia.

KELEBIHAN FILM

  1. Pak Hanung Bramantyo menyelipkan komedi dalam film sedih ini, jadi tak perlu khawatir, sepanjang cerita Anda tidak hanya menangis, ada saat di mana Anda akan tertawa terbahak karenanya.
  2. Pesan moral “Ikhlas” yang dimiliki Arini menunjukkan betapa tidak mudah, dan betapa hanya Tuhan saja yang akan membalas kebaikannya.
  3. Di sekuel kedua ini, sekali lagi bunda Asma Nadia lewat novelnya menunjukkan bahwa tidak selamanya istri kedua itu bersalah dan serakah. Ada sosok Meirose yang benar-benar ingin melangkah meninggalkan masa lalunya.
  4. “Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi” lagu soundtrack milik mbak Krisdayanti membuat baper dan sulit dilupakan.

KEKURANGAN FILM

  1. Di zaman global yang sudah nyata-nyata modern ini, tentu tidak akan ada yang mau atau jarang sekali perempuan yang bersedia menjadi Arini. Jika saya pun ditanyakan hal serupa, mungkin jawaban saya adalah sama. Aku belum siap membagi suamiku. Ini tentu menjadi jawaban mayoritas perempuan dengan karier di era modern ini.
  2. Dokter Syarief yang berakhir dengan mengikhlaskan Meirose untuk Pras, kasihan sekali. Alangkah lebih menyenangkan jika dokter Syarief di film ini bertemu dengan sosok lain yang mempesonanya di satu atau dua menit sebelum film berakhir.

RATING – PENDAPAT PRIBADI RESENSOR

Di website www.imdb.com, film ini mendapat rating 8.3/10. Tapi rating saya hanya jatuh pada angka 7/10. Karena kisah poligami yang terselip di dalamnya masih kontroversional hingga kini. Setahu saya, jika mengikuti jejak Rasulullah SAW, harusnya perempuan yang menjadi istri kedua dan seterusnya adalah : janda, tidak cantik/atau lebih jelek dari istri pertama, tidak mapan sehingga diharapkan suami bisa membantu perekonomiannya. Tapi yang terjadi di zaman sekarang ini adalah sebaliknya. Sunnah Rasulullah SAW yang begitu agung dengan mudah digeserkan ke arah yang tidak benar. Ini sangat disayangkan.

 

13 thoughts on “Review Film Surga yang tak Dirindukan 2

      1. Itu kan kalo bisa adil.. karna aku tau aku ga bisa adil makanya ga poligami..

        intinya sih aku orangnya ga mau ribet.. nanti yang sana mintak ini, yang sini mintak itu.. terakhir pecah sendiri kepalaku.. 😂

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s