Dejavu – Susahnya memahami hati orang


Dejavu, Susahnya memahami hati orang, 1022 kata

Iklan

Danbo kecil yang malang, sudah hujan-hujanan, sendirian, terkena cepretan air dari motor yang lewat pula, du du du duuuu, kasihan 😢. Gambar didownload dari : http://www.klonlog.com

12 Februari 2017 at 02.43 pm

Dear diary,

Beberapa menit yang lalu, ada kejadian kecil yang membuatku tersenyum. Seharusnya aku marah, namun aku tak sempat melakukannya, diary, sungguh. Aku malah berjongkok sebentar dan bertanya pada si rambut keriting, bertubuh kurus dengan senyum manis dan berkulit tak hitam dan tak putih itu,

“Bibah sayang, apakah terkena basah di baju atau celananya?”

Si kecil—keponakanku berusia 5 tahun—menggeleng pelan dan tersenyum manis seperti biasanya. Lalu kami melanjutkan untuk kembali berjalan.

Syukurlah, senyumnya membuatku tenang, aku senang.

Kakiku saja terkena cepretan air sampai ke celana, bagaimana si kecilku tidak? Tentu saja ia juga terkena cepretannya, bukankah? Tapi si kecil ini sungguh pintar diary, ia salah satu kesayanganku karena tingkahnya yang pendiam dan pengertian sangat cocok dengan perangaiku yang cerewet dan tak bisa diam.

Dalam segala hal bahkan hal terkecil sekalipun…lagi-lagi seorang Cinta1668 dihadapkan pada situasi di mana harus berterimakasih pada Tuhan, karena memiliki keponakan dari sekian keponakan—9 keponakan totalnya—yang pengertian.

Kembali ke peristiwa tadi.

Sebenarnya diary,…tadi itu aku sedang berjalan ke minimarket untuk membeli white coffee, kebetulan stock minuman kesukaanku sudah habis sementara waktu ujian yang mulai dekat, 17 Februari 2017 nanti mengharuskanku membeli stock minuman ini lagi.

Kalau kau tanya kenapa aku lebih memilih berjalan kaki,

Itu karena aku sedang tidak boleh naik motor, diary. Tulang di pundakku yang belum menyatu sempurna di posisi 70% ini mengharuskanku berhati-hati, jadi…aku memilih berjalan saja.

Di jalan, ada seorang ibu memakai motor dan mengenakan jilbab panjang melewati kami berdua. Dan terjadilah peristiwa tak mengenakkan itu. Ah diary, kubangan air itu berwarna cokelat, kenapa pula di perumahan masih ada jalan berlubang dan belum diperbaiki? Itu menjadi pertanyaan di hatiku setelahnya.

Sebenarnya ingin marah, tapi seperti ada yang mencegah.

Aku malah mengalami dejavu ke satu tahun yang lalu, di mana posisiku ada di posisi ibu tadi.

Aku sedang asyik-asyiknya menikmati hujan kesayanganku dengan motor kombinasi warna putih dominan dan merah hanya di beberapa bagian saja. Motor mirip vespa yang imut, jas hujan berwarna orange kesukaanku, hujan lebat, jalan lengang, dengan helm berwarna putih yang sengaja kubuka hingga aku bisa menikmati tetesan airnya yang deras itu. Ah diary, itu adalah saat-saat yang menyenangkan di jam 7.30 am ketika menuju tempat kerja, aku keasyikan dan bahkan membayangkan ingin turun dari motor dan berada di tengah jalan, merentangkan kedua tangan, lalu berteriak sekencang-kencangnya dan berkata “AKU BAHAGIA…!”. Tapi nalarku melarangku berbuat demikian diary, aku masih normal dan tak ingin diusir atau dilarang ketika ada pak polisi lalu lintas yang mungkin tak sengaja lewat.

Jadi, aku melanjutkan untuk kembali pada kenyataaan dan men-skip bayangan yang agak gila tadi. 😁

Diary, apa kau tahu kejadian apa yang terjadi setelah itu?

Oh maaf maaf, tentu kau belum tahu, aku kan belum pernah cerita padamu perihal saat itu. Ada-ada saja aku ini, bagaimana bisa kau tahu. Haha.

Well, diary, saat aku menikmati moment indah dengan hujan lebat itu, ada kubangan air di pinggir jalan raya, bukan karena jalannya rusak loh hanya posisinya saja yang agak miring dan rendah makanya muncul kubangan air itu, dengan tanpa merasa bersalah, aku memilih jalan penuh kubangan air itu karena kupikir airnya terlihat bersih dan tidak ada orang yang lewat waktu itu.

Dan…

“BRRRRRRRRRHHHHHH…!”

Suara air begitu derasnya mengguyur tubuhku yang berbalut jas hujan, aku senang bukan kepalang, diary. Sungguh senang, rasa senang yang tak bisa dibayangkan!

Up’s tapi tunggu!

Aku kaget sekaget-kagetnya, diary, ternyata, tanpa kuduga dan dengan serta merta ada mbak-mbak cantik lewat, dengan kecepatan hampir 80 km/h tanpa jas hujan, hanya memakai sweeter yang kece abis dengan paduan baju dan celana yang kece pula, belum lagi siluet tubuhnya yang langsing yang terlihat dari belakang itu. Motor yang masih terlihat baru dan helm unik, ah kukira kalau dilihat dari depan pun, mbak itu tadi sangatlah cantik.

Aduh ada perasaan aneh di hatiku, diary

Mau minta maaf karena kesengajaanku bermain kubangan air tapi koq mbak tadi sudah menjauh. Tapi setelah dipikir lagi, kenapa pula aku harus minta maaf, aku kan tidak tahu akan ada orang yang lewat, kecepatan motorku hanya 30 km/h saja, siapa pula yang nyuruh menyelip motorku, padahal jalan juga masih lengang, hanya ada motor kita berdua loh.

Alibi yang kubuat sendiri di otak, entah kenapa malah memunculkan senyum lagi di bibirku, aku tersenyum lagi. Tak kusangka saja hujan kesayanganku saat itu benar-benar memberikan hiburan yang menyenangkan.

Biarlah…lain kali aku mungkin harus lebih hati-hati, aku mungkin harus mengganti mindset-ku bahwa : jalan raya sebesar itu, kubangan air itu, hujan lebat di kala itu bukanlah milik Cinta seorang. Hanya itu yang perlu kuingat dalam hatiku, harus juga kutanam dalam otakku.

Tapi diary, aku salah duga rupanya.

Selang sepuluh menit dari kejadian tadi, mbak kece itu menyelip lagi di depan aku…dan berkata,

“PUAS YA SEKARANG, TERIMAKASIH…!” dengan mata melotot yang hampir keluar.

Itu sengaja kutulis dengan huruf kapital karena ternyata ada ada dua kebenaran diary :

Benar bahwa mbak itu tadi marah besar, suaranya sangat keras sampai mengalahkan hujan lebat tadi.

Benar tebakanku bahwa mbak itu tadi kece, cantik, menarik, modis, namun sayang, kata-katanya barusan…menghancurkan keindahan Tuhan yang dititipkan kepadanya. Beruntunglah aku karena tak secantik dia, jika tidak, mungkin perangaiku akan sepertinya. Hujan lebat koq masih mikir modis, pikirku waktu itu.

Lamunanku pun memudar. Aku sudah di depan minimarket sekarang.

Apa pun yang sudah mbak rasakan waktu itu, kini aku sudah merasakannya.

Aku tak jadi marah. Aku malah tersenyum karenanya.

“Maaf mbak cantik, kini Cinta sudah tahu rasanya, sekali lagi maaf telah membuat wajahmu yang cantik itu menegang dan memerah menahan marah.”

Aku kembali meletakkan diriku di posisi ibu tadi, ibu itu tadi mungkin tak sengaja seperti diriku waktu itu.

Diary, sore menjelang ashar tadi.

Lagi-lagi Tuhan datang, bersama sebuah pesan.

Cinta sayang…tak mudah memang memahami hati dan perasaan orang, hanya dengan mengalami fase serupa, kau baru tahu rasanya.

Ah tak terasa hampir 15 menit aku menulismu diary, sekarang adzan ashar sudah berkumandang. Aku bahagia. Semoga…masih ada kesempatan, dan selalu ada kesempatan untukku memperoleh hikmah kecil dari setiap kejadian. Saat hal itu datang lagi, aku janji akan menuliskannya di sini, dalam dirimu, diary.
xoxo.

A very happy me, Cinta1668 😉

8 thoughts on “Dejavu – Susahnya memahami hati orang

  1. Aku cantik (mulai lagi) dan aku juga pernah berteriak seperti Mbak-Mbak itu. Hm, aku bahkan melemparkan (walaupun tidak kena) mobil itu dengan batu kecil yang kupungut dari jalan.

    Sepertinya aku butuh melatih kesabaran lagi. Kayak Cinta^^

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s