Dialog Pasir dan Air Pantai 2


Puisi dialog pasir dan air pantai, 862 kata

Iklan

100 Writing Prompts Challenge

Days #3 – Sand

 

Dialog pasir dan air pantai 2
Picture by Google

Pasir : ada harga yang harus dibayar atas sebuah keputusan. Salah satunya adalah aku tak lagi bisa berbincang denganmu. Semudah itu…aku mengatakan pisah. Padahal, dulu, tak sehari pun aku melewatkan moment bersamamu. Aku yang introvert ini akan mengawasimu dari jauh…tak ingin kau tahu kebiasaanku, aku tidak suka terlihat, aku lebih suka diam-diam memperhatikanmu dari jauh. Lalu, tak lama setelah kelakuanku yang aneh ini, muncullah istilah di dunia manusia “mencintai dalam diam“. Aku rasa, sebelum istilah itu muncul, aku sudah merasakannya. Di dunia kami, dunia pasir tanpa suara ini, aku mengenalnya lebih dulu. Aku boleh berbangga karenanya. Setidaknya, aku bisa menang dari makhluk yang katanya paling mulia itu. Dan ya, aku senang!

Apa kau mau tahu apa yang terjadi padaku setelah sesi “cinta dalam diam” ku ?

Biar aku ceritakan sedikit padamu…

Auraku berubah-ubah. Aku menjadi lebih menyukai cokelat daripada putih. Ya, aku tahu, mereka, manusia-manusia bumi lebih menyukai aura putihku. Tapi siapa aku? Sekali lagi aku harus tekankan padamu, aku ini hanya butiran-butiran tak berarti. Kadang jika perasaanku gundah, dengan seenaknya butiranku menjadi besar dan runcing, kadang membuat kaki-kaki lembut nan halus itu terluka. Aku sering mendengar mereka mengumpat tak karuan :

“aduh, apa ini? Kenapa pula pasir bisa seruncing ini? Dasar pasir sialan!”

Aku sadar…aku memang sialan. Bagaimana tidak? Aku bahkan bungkam setelah melepasmu begitu saja, melihat tangismu berderai, aku pura-pura santai. Tak tersentuh sedikit pun. Bahkan sampai kau dekat dengan seseorang pun aku masih diam. O, betapa sok hebatnya diri ini…Akhirnya aku berhasil membuatmu lupa selupa-lupanya padaku. Bukankah seharusnya aku senang?

Atau, jika kaki-kaki yang menginjakku lebih sopan, ia akan berbicara denganku dengan nada lebih pelan :

“Oh, apa ini? Kenapa pasir bisa seruncing ini? Ah, mungkin karena banjir kemarin…aku kira ini karena pasir tak lagi berdamai dengan air pantai. Ayolah…kalian bagian dari ekosistem alam, kembalilah bersatu…jangan bertengkar! Kalian adalah satu bagian yang tak terpisahkan, terlalu banyak kesamaan. Jangan saling marah, berdamailah. Dan jadikan daerah pesisir selatan kotaku ini indah!”

Ahaha. Manusia yang menginjakku barusan benar-benar pengertian. Terimakasih kawan, tapi kau tak begitu tahu. Tidak akan pernah tahu mengapa aku mengambil keputusan ini, biarlah hanya aku, air pantai, dan Penciptaku saja yang tahu. Kini, dengan susah payah auraku sudah memutih kembali. Aku bahagia…aku lega…setidaknya, jika Penciptaku menjungkir-balikkan butiran-butiranku kelak, aku takkan menyesal. Aku sudah meminta maaf, semua sudah berlalu, aku berharap Penciptaku juga akan memaafkanku.

************************************

Air pantai : Banjir…aku membanjir! Lagi dan lagi. Aku tak tahu kenapa pasirku terasa lebih dingin. Ia tak lagi menyapaku dengan hangat. Aura putihnya yang menjadi cokelat sejak beberapa bulan kemarin membuat nafasku sesak! Entahlah…perasaan aneh apa ini, tapi aku merasa sendirian. Aku merasa kesepian. Aku merasa ditinggalkan.

Tapi…benarkah aku pernah memilikinya? Atau ini hanya prasangkaku saja? Bukankah akan selamanya sebelum dunia berakhir, pasir ditakdirkan selalu dekat dengan bibir pantai?

Bagaimana mungkin pasir yang sanggup memeluk bumi dengan mudahnya itu sempat menambatkan hatinya pada air asin sepertiku? Air yang bahkan bisa menyebabkan dehidrasi pada makhluk-makhluk bumi bermata indah itu.

Pasir…apa kau pernah mencintaiku? Apa kau…sedikit saja pernah merasakan keberadaanku? Apa kau tahu betapa aku tersiksa dengan cara kita berbicara yang bahkan aku tak tahu maknanya? Aku tak tahu bagaimana kau berbicara. Aku hanya bisa merasa. Namun…kenapa aku merasa kau menjauh. Kenapa kau hampir menghilang dariku?

Apa kau memperhatikanku? Karena banjir, airku lebih cokelat, aku bahkan hampir menghitam. Aku yang dulu ramah, tak lagi tahu bagaimana cara menyapa manusia. Aku terus saja mengairi mereka. Aku mencari. Mencari. Mencari. Dan mencari. Aku mencari sosok lain yang bisa menentramkan. Aku menembus perumahan, jalan-jalan, trotoar, pertokoan, aku bahkan membelah tanah dan membuatnya longsor. Aku marah semarah-marahnya aku. Aku…aku kembali menghancurkan sawah, mengabaikan perasaan makhluk bumi lainnya. Aku abai pada tangis mereka. Aku…aku…aku… sebenarnya sangat menderita. Luapan airku yang tak tertahan ini karena aku dahaga. Aku dahaga akan cinta. Aku tak bisa menahannya. Aku merusak segalanya.

Aduhai, Penciptaku, maafkan aku. Betapa malangnya nasibku, betapa bodohnya aku, betapa naifnya diri ini. Cinta tanpa kata ini membuatku buta. Aku lupa segalanya. Maaf. Benar-benar maaf.

Aku akan mencoba kembali tenang sekarang. Aku akan kembali ke tempat asalku. Di sana, di dekat pasir, meski sekarang aku tak lagi merasa memilikinya.

Aku meninggalkan hadiah sederhana untuknya. Sebuah bintang laut berwarna kuning emas. Aku harap pasir tahu apa arti aura kuning emas itu. Itu adalah aura kemenangan. Bukan. Sungguh itu bukan kemenangan atasku. Itu adalah kemenangannya. Itu hadiah terakhirku untuknya.

Kemenangan yang berarti :

Ya, aku akan menurutimu. Ya, aku akan melupakanmu. Ya, aku akan melupakan kisah kita. Namun, suatu saat jika ingin kembali, kembalilah. Jika kau kembali, sungguh, aku takkan pernah menanyakan kenapa baru sekarang engkau datang? Cukup kembali saja karena di sana akan selalu ada ruang rahasia untukmu. Kau bisa berenang dengan damai di bawah samuderaku dengan satu syarat saja : asalkan kau mau.

Ah, aku lelah…ingin kembali bersatu sejenak dengan langit dan bulan di dini hariku. Semoga esok, akan ada cerita lain tentangku. Aku rindu siluet indah yang manusia elu-elukan atas diriku. Siluet jingga di garis pantai. Aku mungkin kelak juga akan rindu akhir kisah tak berujung ini. Aku denganmu atau mungkin aku dengan yang lain. Apapun itu, semoga masih ada kisah indah untukku.

7 thoughts on “Dialog Pasir dan Air Pantai 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s