Review Novel Kitab Cinta Yusuf Zulaikha


Sejatinya Cinta, Resensi Novel, 1126 kata

Iklan

Picture by me

IDENTITAS BUKU

Judul Buku   :   Kitab Cinta Yusuf Zulaikha

Penulis          :   Taufiqurrahman Al-Azizy

Tebal Buku   :   503 halaman

Penerbit        :   Diva Press

Edisi               :   Cetakan XXIII, Maret 2015


SINOPSIS

Adalah cinta—baik kepada Tuhan mau pun kepada Makhluk-Nya—yang tetap suci, karena sesungguhnya cinta adalah fitrah, berasal dari-Nya, maka semua cinta sesungguhnya adalah suci.

Pecinta sejati tidak pernah peduli akan derita dan bahagia dalam menjalani hidup di dunia. Tawa bukanlah wujud dari kebahagiaan, tangis pun bukan menunjukkan kesedihan dan duka. Seorang hamba yang tunduk dan patuh kepada-Nya karena menakuti-Nya, sesungguhnya dia hanyalah seorang budak bagi tuannya. Seseorang yang beribadah kepada-Nya sebab mengharap balasan surga dan terhindar dari api neraka, hanyalah berjiwa pedagang yang sedang sibuk dengan perhitungan untung dan rugi. Pecinta sejati adalah seorang manusia yang merdeka; patuh dan taat mengabdi dan menyembah pada-Nya sebab sadar bahwa Dia memang satu-satunya Dzat yang layak untuk dipatuhi dan ditaati. Jiwa pecinta sejati berkilau sebab terang cahaya cinta yang menyinarinya. Bahagia-sengsara, hitam-putih, tinggi-rendah, atas-bawah, mulia-hina dalam kehidupan dunia ini sama saja bagi sang pecinta. Inilah makna sesungguhnya dari cinta kita kepada-Nya.

“Ketika Majnun mencium dinding rumah Laila, ia tidak sedang menyekutukan Tuhan. Ia mencium dinding itu karena kecintaan kepada ia yang berada di balik dinding. Ketika seorang perempuan mendekap pakaian suaminya yang meninggalkannya dan membasahinya dengan linangan air mata, ia tidak terlibat dalam perbuatan syirik. Ia sedang mengekspresikan kerinduannya kepada suaminya. Begitu juga rasa cinta dan kerinduanmu kepada Yusuf, engkau sedang tidak menyekutukan Allah dengan cinta dan kerinduanmu. Sebaliknya, cinta dan kerinduanmu kepada Yusuf justru akan menambah energi cinta dan kerinduanmu kepada Allah. Tetapi engkau perlu waspada Zulaikha, ketika api cinta dan kerinduanmu kepada Yusuf menyala-nyala lalu di tengah nyala itu engkau buka ruang hatimu selebar-lebarnya untuk mencintai dan merindukan Allah, itu adalah tindakan yang mulia. Namun bila nyala api cinta dan kerinduanmu kepada Yusuf justru menutup pintu ruang hatimu kepada Yang Ilahi, itulah seburuk-buruknya keadaan dirimu. Itulah yang akan merendahkanmu dan menghinakanmu. Jangan sampai engkau tertelan oleh cinta dan kerinduanmu kepada Yusuf sedemikian rupa, sehingga engkau lena akan hatimu dari cinta dan kerinduan kepada Tuhanmu”

– Dialog antara Zulaikha dan ustad Iqbal di halaman 352

Masih banyak lagi ilmu tentang cinta, kehidupan, dan cobaan dari segi Islam yang akan didapat dengan membaca novel ini. Maka layaklah jika novel ini disebut sebagai novel spiritualitas cinta dan iman berbasis kisah Al-Quran.

Tersebutlah, Yusuf, seorang pemuda miskin yang berasal dari desa Telagasari. Rumah yang ditempatinya lebih layak jika disebut sebagai gubuk tua. Namun demikian, dari gubuk tua inilah terbit cahaya terang, yang terang cahayanya mengalahkan cahaya matahari, ia adalah cahaya yang memancar dari wajah Yusuf. Parasnya yang sedemikian menawan sungguh tak bisa dibandingkan dengan wajah para pemuda lain di Telagasari. Kemuliaan hati, kesederhanaan, dan kesucian jiwanya yang teramat bersih itulah yang membuat Yusuf selalu menjadi kesayangan di desanya. Hal yang sama pun dirasakan oleh rombongan KKN dari kota yang berjumlah 7 orang, tiga orang lelaki : Rangga, Doni, dan Dicky; dan empat orang perempuan : Rindu, Dewi, Intan, dan Zulaikha. Dan seperti judul buku ini, bisa ditebak jika antara Yusuf dan Zulaikha kelak akan terjalin asmara. Namun berbeda dengan kisah kebanyakan di mana sang lelaki akan menyatakan cintanya lebih dahulu, di novel ini, Zulaikha-lah yang menyatakan cintanya lebih dulu melalui 3 pucuk suratnya selang beberapa bulan setelah kepergiannya dari desa Telagasari seusai KKN. Ya, Zulaikha tak bisa melupakan wajah Yusuf meski berbagai cara telah dicoba oleh sang ayah dan inangnya untuk membuat hati perempuan cantik ini berpindah kepada lelaki lain. Ada kebingungan di hati sang ayah. Seperti apakah Yusuf itu? Ia yang hanyalah pemuda desa, mana mungkin cocok bersandingkan dengan putri semata wayangnya yang notabene adalah perempuan yang akan mewarisi kerajaan bisnis ayahnya?

Umar, seorang pemuda anak kepala desa Telagasari adalah sahabat sejati Yusuf. Begitu sayangnya Umar kepada Yusuf, sehingga setiap pulang dari tempatnya menuntut ilmu di kota, ia—yang paham sekali dengan hobi membacanya Yusuf—sering menghadiahkan buku-buku tentang sejarah Islam dan tentang pengendalian diri kepada Yusuf. Buku-buku—Sejarah Ali bin Abi Thalib & Para Imam Ahlul Bait Nabi Saw. karya Syaikh Al-Mufid, Mengenal Gerak-Gerik Kalbu karya Ibnu Taimiyah, Menggali yang Terbaik dari Diri Sendiri dan Orang lain karya Buck Rodger, Unlimited Power-nya Anthony Robinson, Lentera Hati-nya Quraish Shihab, dan lain-lain—inilah yang menyebabkan Yusuf tetap terpelajar dan paham akan ilmu agama dan kesopanan meski hanya berpredikat sebagai lulusan SMU.

Ada Ya’kub, ayah dari Yusuf, seseorang yang telah mendidik dan menempa Yusuf sedemikian rupa, perannya sebagai ayah sekaligus ibu telah menuai hasil sesuai yang diharapkan. Saat menjadi seorang ayah, ia ajari Yusuf menghadapi hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, hingga Yusuf tumbuh sebagai pribadi yang kuat, memiliki otot harimau dengan mata teduh dan tajam laksana mata elang. Saat menjadi seorang ibu, ia ajari Yusuf tentang wujud cinta, kasih, dan kelembutan.

Ada Ahsin Wijaya, seorang lelaki tua, ayah dari Zulaikha yang kemudian menganggap Yusuf sebagai bagian dari keluarganya dan berharap anaknya berjodoh dengan Yusuf tanpa tahu kalau Yusuf inilah yang dicintai anaknya.

Lalu, ada inang. Perempuan tua, seorang pembantu rumah tangga yang sudah dianggap sebagai pengganti ibu Zulaikha, ia adalah tempat bercerita dan berkeluh-kesah apa pun yang ada di dalam hati Zulaikha.

Terakhir, ada ustad Iqbal Maulana, guru spiritual Zulaikha saat dirinya dilanda kebingungan akan cintanya kepada Yusuf.

KELEBIHAN NOVEL

Pernahkah Anda membaca buku kisah cinta Laila – Majnun?

Jika jawabannya adalah “pernah” maka Anda tidak akan merasa asing dengan gaya bahasa dalam novel ini. Seperti penggunaan kata depan “aduhai” atau “o”. Bahasanya sangat indah, diksi yang sesuai, terkadang penggunaan diksi dipilih dengan kata yang memanjang dan berbelit-belit. Namun diksi ini sungguh semakin memperindah sebuah nilai sastra. Seperti di halaman 16 ketika penulis mengisahkan kandungan ibu Yusuf yang semakin bertambah dan membesar :

Semakin lama usia kandungan ibu semakin bertambah. Bertambah. Dan bertambah. Perut sang ibu semakin membesar. Membesar. Membesar. Dan membesar.

Tak ketinggalan pegandaian dan pengulangan kata untuk menjelaskan sesuatu, memiliki kesan semakin diperjelas, diper-detail, diperpanjang dengan menggunakan kata depan yang sama di tiga sampai empat kalimat berikutnya . Ini juga semakin memperindah sebuah karya, membuat imajinasi kita lebih nyata kepada objek yang bersangkutan sesuai dengan keinginan penulis. Dan kelebihannya adalah : teknik ini masih jarang sekali ditemui di novel lain.

KEKURANGAN NOVEL

Lagi-lagi saya harus menjelaskan bahwa 503 halaman, bagi pemula adalah cukup berat dibaca. Namun karena karya sastra ini punya diksi yang menarik, kita pun tidak akan merasakan ketebalan halaman ini. Setiap imajinasi dalam diksi yang indah inilah yang akan menuntun kembali tangan, mata, otak, dan hati untuk membuka lembar demi lembar selanjutnya hingga lembar terakhir.

RATING – PENDAPAT PRIBADI RESENSOR

Di antara 1-10, maka nilai yang saya berikan untuk novel ini ada di angka 8. Karena sangat indah bahasanya, halus, sopan, dan menawan. Ada ilmu yang didapat seputar Islam, bagaimana cara mengatasi masalah, bagaimana mempertahankan diri tetap berada di ranah yang benar. Hal yang sering kita lupakan kembali diingatkan lewat novel spiritualitas ini. Cobalah membacanya, maka saya yakin, Anda pun akan merasakan apa yang saya rasa!

^__*7

26 thoughts on “Review Novel Kitab Cinta Yusuf Zulaikha

      1. wah brarti saya yg telat bacanya…. ya-iyalah cin, perjalanan kisah kami kayak disinetron wae pokonya. wkwkwk,, oh iya. adik ipar suami asli orang pekalongan tetapi skrg ada di depok, tapi sering mudik ke pekalongan, orang tua ama saudara2nya msh ada dipekalongan

        Disukai oleh 1 orang

      1. oh bgtu to?
        Hmmm iya jg sih, sprtinya waktu Winny habis buat berlibur ya Winny. 😊

        Hmmm, Cinta jd punya ide nih, mgkn lain kali Cinta bkin cerpen atau cerbung berdasarkan pengalaman Winny berlibur, pilih setting di Iran atau Turki… Cinta seolah melihat negara itu berdasarkan kacamata Winny, spertinya akan keren Winny. 😍

        Baru ide sih Winny, tp sprtinya Cinta suka ide ini, jika dibolehkan 😊

        Suka

  1. Seneng novel yg cinta-cintaan gitu ya? Padahal novel jenis ini sering saya skip. Percuma aja bacanya karena nggak bisa ikut merasakan. Ntar malah mengkhayal yg enggak2 he he he……

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s