Hujan & aku yang dulu


Picture by Google

Terimakasih karena telah menyapaku lagi pagi ini dengan begitu derasnya.

Apakah kau tahu, setiap kali deraimu mengalir deras seperti ini, muncul suara yang tiba-tiba mengagetkan berbisik di telingaku,

Cinta semangaaaatttt…semangatlah, semangat dan tersenyumlah! Kalau kau masih ingin menangis, menangislah bersamaku, menangislah sekencang kau mau, keluarkanlah semua beban sedihmu. Tapi setelahnya kau harus tersenyum! Hadapi duniamu dengan tegar, Cinta!

Hmmm, suara itu begitu menggelegar di gendang telingaku, aku jadi tersenyum dibuatnya.

Aku tertegun setelahnya untuk beberapa saat. Terngiang akan sebuah memory di mana aku belum mengenal cinta.

Aku adalah seorang Cinta yang periang. Mulutku yang seperti burung beo ini sangatlah berisik. Suaraku cempreng tidak karuan. Aku suka berlarian kesana dan kemari. Tak jarang aku sering jatuh atau terpeleset karena kurang hati-hati.

Makanya, kalau jalan hati-hati, Cinta.

Seseorang biasanya akan menegurku dengan kata-kata andalan ini. Lalu, aku yang tak mau kalah akan menjawab tegas,

Iya terimakasih, aku hanya berpikir, kalau segala sesuatu bisa berjalan dengan cepat, kenapa aku harus pelan-pelan? Bukankah dengan mempercepat, segala yang terasa lama akan mudah diselesaikan?

Dan tak jarang mereka pun, si penasehat itu, hanya akan geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang tak mau kalah.

Pernah seseorang bertanya padaku di kala itu,

Tidak inginkah engkau memiliki seorang kekasih, Cinta?

Lalu…dengan polosnya aku akan menjawab.

Tidak!

^__^> Mmmm, tapi tunggu…pernah sih terbersit juga ingin punya. Contohnya, kalau aku sedang sakit, aku ingin juga diperlakukan istimewa seperti adegan dalam drama Korea favoritku. Kepalaku akan disentuhnya, dia akan panik kalau kepalaku ternyata panas, lalu dengan segera mengompresku semalaman tanpa tidur, namun akhirnya dia akan tertidur juga karena lelah di sebelahku, dengan menggenggam tanganku, tentu. Romantis kan? 😍

Atau…saat antena TV tiba-tiba bergerak karena hujan, TV ku akan banyak semutnya nanti, daripada sungkan minta bantuan kakak ipar, aku tentu akan lebih senang meminta tolong kekasihku, hihi.

Atau pada saat bola lampu neon di kamarku mati, aku akan senang bila kekasihku yang menggantinya. Tentu aku akan mengakhiri semua kebaikannya dengan sebuah “terimakasih”.

Aku rindu diriku yang dulu. Meski tanpa cinta, aku selalu bahagia.

Aku rindu diriku yang suka hujan, melepaskan payungku begitu saja, menengadahkan kedua telapak tanganku ke atas, merasakan sentuhan rintiknya di jari-jemariku yang mungil. Perlahan namun pasti “tik tik tik” setiap tetesnya akan mulai membasahi mata, hidung, pipi, dan bibirku. Aku suka! Aku selalu suka sentuhan itu, sentuhan yang melegakan. Lalu, sayup-sayup dalam teduhnya aku akan berdoa,

Wahai hujanku sayang, kirimkanlah seseorang sepertimu untukku. Seseorang yang sungguh teduh menaungi batinku. Seseorang yang sungguh jernih mata hatinya. Seseorang yang dengan senyumnya mampu meredam segala luka. Aku tidak suka disentuh, apalagi dipeluk, kau yang paling tahu itu. Tapi, jika untuk seseorang sepertimu, aku yakin, aku akan menyukai sentuhannya, aku pun takkan pernah menolak pelukannya. Karena aku tahu, sentuhan dan pelukannya akan melegakan juga, sama seperti sentuhanmu padaku.

Hujanku, aku telah menemukan seseorang itu…seseorang sepertimu. Namun sayangnya, ia bukan untukku, lagi-lagi aku harus menghadapi pertemuan dengan tulisanku sendiri, aku dihadapkan masalah yang sama dan harus lupa, aku harus benar-benar bercermin pada tulisanku sendiri, dan itu bukanlah perkara gampang. Tulisan ini serasa mengingatkan dengan tegas. Aku jadi malu pada diriku. Betapa tidak sempurnanya aku.

Aku rindu diriku yang dulu, aku yang tak mau kalah, aku yang kadang keterlaluan kalau sudah menyangkut pelajaran kuliah. Jadi teringat beberapa semester lalu, karena IP-ku turun, waktu itu IP-ku 3,5, itu IP terendahku selama kuliah. Aku tidak bisa tidur semalaman. Aku lihat di matkul Speaking 2, nilaiku B dan aku komplain pada dosen yang bersangkutan via Whatsapp.

Miss, maaf, kenapa nilai Cinta B? Padahal waktu ujian Speaking 2, Miss waktu itu ngangkat dua jempol buat Cinta, tapi koq nilai Cinta B sih Miss? Cinta juga nggak pernah absen loh di matkulnya Miss, kenapa Miss PHP-in Cinta dengan dua jempol Miss? 😭😞😒

Dan, ya, setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya Cinta mengerti. Dan minta maaf juga dengan Miss ini.

Parahnya Cinta! πŸ˜…

Aku rindu diriku yang dulu, gadis periang yang pertama kali membuat cerpen ber-genre komedi. Aku yang pertama kali diterima di dunia Sastra. Aku yang tanpa sengaja bergabung dengan Sastrawan senior melalui group tertutup-nya pak Narudin Pituin, diundang langsung ke beberapa pertemuan Sastra setelah sebelumnya aku menjadi admin di website Sastra beberapa bulan lalu. Meski aku belum pernah hadir dengan alasan kejauhan dari tempatku tinggal. Pak Narudin yang baik pernah bilang, mereka yang cerdas, tidak akan melewatkan Sastra, karena Sastra memunculkan daya kreativitas yang menunjang keseimbangan antara kinerja otak kanan dan otak kiri kita.

Aku rindu gadis pembuat cerbung pertama : “Liana”, yang berkisah tentang gempa di Padang. Cerbung pertama yang kubuat karena aku tidak tahan dengan omongan-omongan miring sebagian orang, tak tanggung-tanggungnya mereka menggunakan hadist untuk menyalahkan, bahkan sampai ada yang mengatakan, “Allah tidak akan menghancurkan suatu negeri bila negeri itu tidak penuh dengan orang-orang yang jahat”. Hello? Apakah kalian tidak berkaca saat berkata begitu? Aku sungguh geram dan tak tahan, maka lahirlah cerbungku ini, aku hanya ingin mereka yang membaca ikut merasakan, bagaimana rasanya dicekam kematian, bagaimana rasanya kehilangan satu persatu orang yang paling mereka sayang? Bisakah mereka tetap beranggapan miring seperti itu? Jahatnya hati kalian! 😈

Cerbung inilah yang bisa membuat seorang jenius penyuka hujan yang sedang belajar di Beirut penasaran dan berguru padaku yang notabene hanya lulusan SMU waktu itu. Lalu, kami menjadi dekat.

Aku tak menyangka, ternyata cerbung ketigaku, “Hujan” juga menarik perhatian seseorang yang kini kusebut mantan.

Aku jadi berpikir, kenapa tidak kubuat cerbung lagi saja? Mungkin aku akan kembali mendapatkan cinta…cinta dari lelaki yang juga diam-diam menyukai Sastra? Namun kali ini, aku sungguh berharap lelaki itu akan menjadi milikku selamanya. Lelaki matang, lelaki berakhlak baik yang tidak pernah meninggalkan lima waktunya untuk berdoa. Lelaki yang terus-menerus memperbaiki dirinya. Seperti jiwaku yang tak mau kalah dan pantang menyerah. Ya, semoga. Aamiin.

Aku benar-benar merindukan diriku yang dulu.

Namun, jika aku benar-benar rindu, aku harus menariknya…ya, menarik mereka semuanya untuk kembali padaku. Karena mereka adalah diriku, aku yakin aku bisa menemukan kembali serpihannya, menatanya kembali serupa puzzle, dan menaruhnya di depan kamar tidurku agar aku bisa bercermin dan berkata…

Cinta, sungguh tak ada yang berubah dari dirimu. Bangunlah, bangkitlah! Lihat dirimu, lihat aku! Kau bisa, kau pasti bisa, aku yakin kau selalu bisa!

Mungkin IP-ku akan turun kali ini. Karena masih kurang konsentrasi. Tapi…masih ada semester depan, aku hanya perlu memperbaikinya lagi. Insya Allah aku bisa, aamiin. πŸ˜‡

Selamat ujian, Cinta sayang. Semoga yang terbaik selalu engkau dapatkan!

*ucapku pada diri sendiri.
“Life is not about waiting for the storm to pass…is about learning to dance in the rain”  – Unknown –

Iklan

6 thoughts on “Hujan & aku yang dulu

  1. Hujan selalu membawa suasana galau yang tidak tertahankan ya.. πŸ™‚
    Btw ip 3,5 mah masih baguss atuhh hahahaha saya mah belom pernah nyentuh angka tiga malah masih mepet ke angka tiga aja hahahah :’)

    Disukai oleh 1 orang

    1. hai salam kenal Fahri, makasih karena sudah berkunjung ke blog Cinta 😊.

      Mmm, bukan kalau mnurut Cinta, tp mgkn damai lbh tepatnya, damai dan melegakan…melancarkan otak utk melahirkan tulisan. 😊

      Hehe, itu jg kbtulan dpt sgitu, mgkn dosennya salah lihat wktu ngoreksi tugasnya Cinta kali, atau kbtulan krn pas yg dpelajari pas jg yg keluar pdhal blajarnya jg wayangan. 😁

      Suka

  2. Kalau merindukan diri sendiri di masa lalu itu berarti kabar baik karena kita tahu bahwa kita tidak bahagia dgn keadaan di masa kini. Selamat berjuang menemukan diri sendiri yg cinta inginkan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s