Untukmu, IBU


picsart_12-22-12-55-02
Pict by Myself

Lagi makan camilan…namanya “untir-untir”. Kalau orang Jawa pasti paham. Camilan ini biasanya ada di acara-acara pernikahan. Bentuknya seperti tambang besar yang dipilin-pilin.

Hmmm…jadi teringat ibuku. Ibuku suka sekali camilan ini. Dan ini caraku mengingatnya. Tiap kali makan camilan kesukaannya, aku selalu merasa ibu ada di sini, di dekatku. Aku dan ibu memakan camilan ini bersama-sama sambil bercerita ngalor-ngidul diselingi dengan tawa kecil kami, benar-benar membuatku semakin rindu.

Ibuku sayang, sedang apa di sana? Kangen Cinta jugakah? Cinta kangeeeeeen…Di sini sepi sekali bu, makanya biar rame, Cinta nyalain musik di Youtube, sama streaming di 102.2 FM Prambors Radio Jakarta, tapi koq nggak rame-rame juga ya? *ketahuan banget lagi kesepian, eh ^__^’>

Terngiang lagi kenangan-kenangan bersama ibuku. Satu-satunya wanita terindah yang selalu membuatku JATUH CINTA. Setiap moment yang kuhabiskan untuk mengingat beliau, terasa sempurna dan hampir tanpa cela.

Waktu itu, ibu dan aku sedang jalan-jalan. Dengan PD-nya kutawarkan kalau hari itu ibuku boleh pesan makanan apapun yang beliau mau, padahal waktu itu budget yang kusediakan untuk makan cuma sekian rupiah saja. Tapi kalau masih tidak cukup, bukankah aku masih bisa mengambilnya lagi di mesin ATM? Yang penting ibuku senang.


“Ibu mau makan apa? Ibu boleh minta apapun yang ibu mau, apapun yang ibu inginkan. Insya Allah, Cinta akan belikan” kataku dengan senyum.


“Nggak usah Cinta, ibu nggak ingin apa-apa” jawab ibu datar saja.


Ah, masa’ sih tidak ingin apapun? Pikirku setengah tak percaya. Hmmm, kenapa tidak kuajak berputar-putar dulu sebentar, melihat semua makakan yang ada di sini, pasti nanti lapar juga dan ingin makan sesuatu. *__*


Seperempat jam berputar-putarlah kami berdua di mall itu.


“Sebenarnya kita mau kemana, Cinta? Ibu capek muter-muter…”


“Ya mau cari makan lah Bu, Cinta masih nunggu ni, ibu pengin makan apa? Ayolaaaaaah….bilang sama Cinta, biar Cinta bisa nyenengin ibu” kataku memelas.


“Owalaaaah, Cinta…Cinta..kan wis tak omongi ket mau, ibu gak pengin opo-opo. Bali wae yuk! Maem neng omah…mengko tak gawekke masakan sing Cinta pengin” sahut ibu dengan logat Jawa yang masih kental.


“Gitu ya? Ya sudahlah…..” jawabku sedikit kecewa karena tak berhasil menyenangkan ibuku hari itu.


Namun, sesaat kemudian, sepertinya ibu menangkap gelagatku, karena akhirnya ibu mau juga beli makanan kecil. Hihihi, asiiiiiiiik aku senang!


“Cinta, itu makanan apa ya?” Koq seperti makanan yang ibu suka ya?”


“Oh iya bu, itu kue-kue basah, ibu mau? Ayo kita beli. Beli yang banyak ya bu, ambil aja yang ibu suka!” jawabku girang.


Akhirnya ibuku mengambil 4 buah kue basah itu, kue basah sebesar kepalan tangan isi kacang hijau bentuk bulat yang ditaburi wijen di seluruh permukaannya. *Coba tebak apa namanya? 🙂


“Koq cuma 4 buah? Ambil lagi bu, ambil yang mana aja…yang banyak sekalian!”


“Nggak ah, ini aja udah cukup , Cinta.”


Karena ibu sudah bilang begitu, akupun tak  mau memaksanya…Akhirnya aku bayarlah 4 buah kue basah itu.


Dan ternyata, cuma Rp 20,000,- saja.
Aku tersenyum di dalam hati, karena uang  yang kukira tak cukup untuk menyenangkan ibuku ternyata hanya berkurang Rp 20,000,- saja.

Ibu, kau benar-benar membuatku JATUH CINTA.

Keesokan harinya, aku dibuat jatuh cinta lagi.


Padahal ibu masih kecapean. Seusai aku mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja, tiba-tiba beliau mendatangiku membawa semangkuk kolak pisang kesukaanku.


“Cinta, ini makan dulu, ibu sudah buatin kolak pisang kesukaanmu, harus dimakan ya dan harus dihabiskan!”


Aku cuma bengong saja melihat kolak pisang itu….jadi tadi jam 5 pagi ibuku pergi hanya untuk membuatkan aku ini? Padahal ibu bilang capek, tapi koq…beneran speechless, Cinta. ^__^>


“Makasih ya bu.”


Aku tersenyum memandangi ibu yang berlalu dari hadapanku. Tinggallah aku bersama semangkuk kolak pisang kesukaanku. Ah, beneran tak tahan jadinya, anak sungai kecil ini mengalir deras di pipiku, tapi bukan karena sedih, karena aku bahagia.

Ya Allah, TERIMAKASIH…aku sungguh-sungguh bahagia memilikinya.

Lagi, aku mencoba mengingat moment bersama beliau lagi satu demi satu.
Tiap kali datang ke Cikarang, ibu selalu membawakan semuanya. Kue apapun yang kuinginkan, masakan apapun yang aku mau, masih ditanya….

”Apalagi yang kurang? Apalagi yang diperlukan?” Subhanallah.


Belum cukup sampai di situ, kata adek bungsuku, Nunuk, di kampung ibu selalu masak kue-kue itu atau masakan-masakan itu sampai malam. Padahal aku selalu mencegahnya, tapi tetap saja ibuku tidak pernah berubah. Rela kecapean demi aku. Sesampainya di Cikarang, ibu selalu masih bisa dan tanpa mengeluh membuat makanan kesukaanku. Senyum itu tak pernah hilang dari wajahnya yang mulai keriput namun masih tetap ayu. Aku selalu memeluknya erat tanpa alasan. Hanya itu caraku menunjukkan rasa sayangku padanya.

Tapi tiap kali dipeluk, ibu malah meledekku,


“Cinta Cinta..mau sampai kapan begini? Manja banget sih! Emang nggak pengin dipeluk suami? Pelukan suami pasti lebih anget lho daripada pelukan ibu” guraunya.


“Ah, siapa bilang? Pelukan ibukulah yang terhangat di dunia!” aku ngeles sejadinya, habis bingung mau jawab apalagi, belum tahu rasanya dipeluk suami, hehe. ^__^>


Aku selalu ingin menjadikan beliau orang terpenting dalam hidupku. Tapi selalu saja sebaliknya, ibu memperlakukan aku seperti itu. Ibu seperti aliran air yang selalu menyejukkan, yang tidak pernah berhenti mengalir….Setiap aku mencoba menghentikannya aliran itu malah semakin deras. Semakin menyejukkan. Semakin melegakan!

Ibuku sayang,
Kau tak akan terganti,
Aku cinta,
Aku sayang,
Aku rindu,
Aku selalu…selalu…selalu… dan selalu ingin membahagiakan ibu.
Aku tak akan pernah bisa membalas semuanya, sungguh takkan pernah bisa
Tapi aku tidak akan berhenti. Tidak akan pernah menyerah menjadikan ibu sebagai hal terpenting di dalam hidupku.
Biarlah semua orang bilang aku anak mami,
Anak mami tak jadi soal,
Kalau yang jadi maminya adalah ibu
Aku jatuh cinta,
Aku selalu cinta,
Selamanya akan mencinta,
Dan tetap cinta!

Kutulis cerita ini dengan linangan air mata bahagia.
Dedicated to all of MOM in the world,
Please…please…please…LOVE HER YEA!

SELAMAT HARI IBU, 22 DESEMBER 2016

^__*

Iklan

15 thoughts on “Untukmu, IBU

    1. heee.. ibuku jarang baca mba Vina.
      tp yg pnting beliau tahu sja prsaannya Cinta, itu sudah cukup.

      Dan ya, beliau selalu mengingat moment hari ibu, Cinta yakin, nanti sore ibu akan menunggu tlp dr Cinta utk ucapan selamat hari ibu 😊

      Disukai oleh 1 orang

  1. Oh i see. Aku tau banget untir-untir ini. Tapi lama nggak makan. Dulu ibuku juga pernah bikin untir-untir. Waktu itu beliau bikinnya cuman pake tangan. Sesederhana itu. Tapi rasanya nikmat dan apalagi kalau tau yang bikin ibu. Duh, jadi kangen ibu deh aku. 😦

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s