Line – Diary Electric


Pict by Google

Sudah lama aku tak menulis diary lagi.

Bukan karena tak suka, sungguh bukan!

Hanya saja, diary bentuk buku itu mudah sekali terbaca…sedangkan si Risha, ponakanku yang masih ABG itu usil sekali, suka sekali mengotak-atik semua benda termasuk gadget milikku, tak ketinggalan handphone-ku pun digeledah olehnya.

Pernah aku gelagapan dengan pertanyaannya yang kritis,

“Tante, ini siapa? Pacar tante ya? Koq kalau Risha buka Google, buka Facebook, IG, WordPress, dan Hangouts pake akun punya tante selalu ada nama ini di pencarian pertama?”

Tuing tuing tuing…o ow owww, pertanyaan simplenya membuatku sedikit gelagapan dan menarik nafas sebentar…lalu berusaha tenang untuk kemudian kujawab dengan senormal jawaban yang aku bisa…

“Owh itu, mmmm, tante punya sahabat, sebut saja si A…si A ini (cewek) suka banget kepoin mantannya, karena takut ketahuan, makanya dia pake akun tante, begono loh ceritanya.”

Ih, tante koq mau-maunya sih dipinjemin akun, itu kan privasi tante, tante sendiri yang kemarin bilang, jangan sembarangan ngasih password ke pacar, nah sekarang, HP malah dibebasin sebebas-bebasnya buat sahabat yang lagi kepoin mantan, nggak boleh lho tan, ini akun tante…rahasia tante, ngerti?

Wadoooohhhhh! Jadi lupa kalau anak ABG udah pinter balikin nasehat dari tantenya sendiri. πŸ˜…

Dalam hati sih ngomong, siapa juga yang mau pinjemin akun privasi buat sahabat, ini kan ceritanya tante lagi bohong, gimana sih, nggak ngerti-ngerti! Sebenarnya tante yang kepoin mantan mulu, tapi kan malu ngomong ke Risha begitu. Ketahuan nggak bisa move-on nya. πŸ˜‚πŸ˜πŸ˜…

Dan karena kekritisan ponakan menjadikan aku, Cinta Nungky Lestari, menjadi lebih waspada.

Tapi…akhir-akhir ini, aku menjadi kangen pengin curhat, pasalnya, ada curhatan yang terlalu pribadi untuk kubagi dengan siapapun.

Dan alhamdulillah-nya, aku menemukan tempat aman untuk curhat.

Dimana itu, Cinta?

Di line, aku buat akun line terkunci jadi tidak seorang pun bisa membukanya…lalu aku seolah mengirim pesan untukmu, masku sayang.

Aku tak peduli meski mungkin kau sudah memblokirnya, atau kau hanya mengubah pengaturan yang entah bagaimana caranya yang aku tak tahu. Kau tak lagi membaca pesanku, jadi biarkan aku tetap menulisnya, menulis semua yang ingin kutulis di sana.

Aku ingin mencari makna dari kata tulus,

Aku ingin berusaha menunggumu dengan sabar,

Lima tahun…itu waktuku untukmu, setelahnya, aku akan mencoba mencari cinta yang baru.

Jika di batas waktu lima tahun itu, aku tak juga melupakanmu, aku akan menunggumu lagi sampai perasaan cinta yang masih basah serupa hujan ini mengering, namun jika ia tak juga mengering, aku akan menunggumu lagi.

Kemungkinan kau membaca diary electric-ku adalah 0,0000001%.

Tapi…aku masih akan menunggu kemungkinan yang sangat kecil itu.

Meski namaku Cinta, tapi aku tak pandai mengatakan cinta, aku tak mudah jatuh cinta, namun padamu, aku sungguh bersedia memberikan seluruh hidupku.

Aku akan menunggumu mas, insya Allah dengan senyum, dengan sabar, seperti yang selalu kau ajarkan padaku…untuk sabar.

Mencintaimu adalah kata lain dari sabar.

Namun, aku akan menambahkan satu kata lagi…tulus…insya Allah, aku mencintaimu karena-Nya, bukan nafsu atau hal lain.

Aku akan menunggumu bersama hujan kesayanganku dan jingga yang membawa pagi dan senja di kotaku, kuharap mereka akan segera sampai ke kotamu dan menyampaikan pesan kerinduanku.

Ya, semoga! 😊

*menunggu hujan reda, di bank Mandiri Ruko Roxy Jababeka II

Iklan

16 thoughts on “Line – Diary Electric

    1. Aneh? Msa sih mas? 😁

      mgkn itu bedanya lelaki dan perempuan, lelaki bisa menyimpan perempuan pujaam hatinya dlm hati, hanya sbg kenangan kecil dan hdup brsama prmpuan lainnya.
      Tp kl prempuan brbeda mas, ia tdk akan hdup brsma yg lain, jika blm bs mlupakan 😊…tdk akan ada yg namanya sepenggal kenangan, ia lbh rela hdup dlm kenangan itu, stidaknya inilah sifat cewek penyuka sastra, Cinta1668 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s