Kotak Pandora ( Part 1 )


Chapter 1 : Sikap Ayah yang Unik

Tahukah kamu apa arti kotak Pandora?

kotak Pandora adalah sebuah kotak (dalam mitologi Yunani) yang berisi segala macam keburukan yang ada di dunia. Ia, si kotak pandora itu berisi : masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka. Tapi, ternyata masih ada satu hal lagi kebaikan yang tersisa di sana, yaitu harapan. Copas artikel dari pemilik blog asli

Dan, di sini, Cinta mau menulis tentang “Harapan”

Harapan apa Cinta?

Harapan menjadi lebih baik,

Harapan belajar setiap waktu, setiap detik di kehidupan Cinta, karena bagi Cinta, belajar itu seumur hidup dan akan berakhir hanya ketika kehidupan itu berakhir.

Harapan bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian, dari pengalaman Cinta yang sangat minim, dari puzzle memory hidup Cinta bersama dengan mereka…

  1. Keluarga ( sikap ayah yang unik )
  2. Sakit menahun yang tak kunjung sembuh
  3. Kehilangan trust di tempat kerja
  4. Sahabat yang menjauh
  5. Cara pandang Cinta tentang cinta dan pernikahan

Semua itu akan terangkum dalam lima chapter, semoga tidak bosan ya guys, dan setelahnya, Cinta harap kalian bersedia sharing pengalaman juga bersama Cinta. ^__^

******************************

tumblr_inline_mugquu1U6M1r4vqpv
Pic by ceritaayah.tumblr.com

 

Umar Faruk, itu nama lengkap beliau.

Jangan bayangkan beliau seperti sosok di gambar ya guys, salah besar! Beliau jauh berbeda dari ayah kebanyakan.

Tahukah kalian arti Faruk?

Yup’s, benar, tepat sekali tebakan kalian, arti nama itu adalah “sang pembeda” yang membedakan yang hak dan yang batil, bisa juga berarti pemberani.

Ya, ayahku memang berbeda, beliau juga pemberani, tidak bisa dipungkiri itu. Tapi… berani di sini lebih ke keras kepala mungkin, beliau sangat keras kepala ketika berdebat, dan itu juga diturunkan ke anaknya, *nunjuk ke diri-sendiri, hehe ^__^>

Kita sering sekali berdebat, bukan berantem atau cek-cok, hanya berdebat dari ringan sampai bersitegang, lalu ibu biasanya yang akan melerai perdebatan kami. Topik yang beliau sukai adalah topik “Agama Islam”. Tapi entah kenapa sekarang Cinta justru merindukannya, merindukan perdebatan itu, kalau dipikir lagi, itu adalah saat-saat yang menyenangkan terlebih kini saat Cinta harus hidup jauh dari beliau.

Ada beberapa puzzle memory tentang beliau yang masih terngiang di ingatan hingga kini.

Ayah yang tidak suka dipeluk

Dari dulu, dari sejak kecil, ibu mengajarkan satu hal pada Cinta. Sebuah “pelukan” adalah tanda sayang dan kasih yang tulus, jadi jangan kaget nanti kalau ketemu Cinta ternyata orangnya suka meluk-meluk gitu ya, anggap saja karena Cinta sayang, up’s tapi sesama cewek loh ya, kalau cowok, no way!

Sudah sering Cinta mencoba, berkali ingin sekali rasanya tahu, bagaimana rasanya memeluk ayah? Tapi setiap kali Cinta mau mencuri-curi pelukannya, selalu saja gagal.

Dulu, sewaktu kelas satu SD, beliau tiba-tiba memanggil Cinta yang sedang asyik-asyiknya bermain.

“Cinta sini sebentar, ayah mau minta tolong.”

Tumben-tumbenan nih ayah mau minta tolong, pikir Cinta waktu itu.

“Kenapa ayah?” penasaran dong Cinta, siapa tahu habis ini dapat pelukannya, haha. *masih ngarep πŸ™‚

“Ayah mau buat dingklik, coba ambilkan alat-alatnya,” intonasi ayah juga agak merendah, kenapa nih? Aneh banget si ayah, nggak kayak biasanya? ( Dingklik adalah tempat duduk yang terbuat dari kayu berbentuk empat persegi panjang yang biasanya dihubungkan dengan beberapa paku untuk menyatukannya )

“Okeh, siap ayah!”

Pede banget nih Cinta cuma bawa gergaji, berat waktu itu, sampai-sampai Cinta harus miring sambil jalan waktu membawanya, tapi nggak apa-apa lah, demi pelukan ayah. Jangan tanya kenapa waktu kelas satu SD Cinta sudah tahu seperti apa itu yang namanya gergaji, soalnya Cinta suka perhatiin ayah waktu membuat dingklik, dan Cinta suka nanya-nanya, akhirnya hafal di luar kepala deh. Up’s tapi ayahku bukan tukang bangunan loh guys, hanya saja salah satu motto beliau adalah “kalau bisa membuat sendiri, kenapa harus membeli?”

“Ni yah, alatnya…”

“Hmmm, cuma ini, yakin?” kata ayah menyelidik dengan tatapan aneh.

“Mmm, iyalah yah, emang apa lagi?” masih Pede Cinta-nya dong, hehe.

“Coba perhatikan lagi, itu kayu masih sepanjang dua meter, karena itu harus digergaji, benar, Cinta bawa gergaji, 30 point buat Cinta.”

“Hah, koq 30 doang yah? Harusnya 100 point dong yah, kan bener!”

“Bener gimana? Itu habis dipotong terus mau diapain lagi kayunya? Udah gitu aja didiemin? Emang bisa jadi dingklik? Bisa untuk duduk?” Ayah mencoba menjelaskan dengan caranya, tapi karena nada bicaranya agak tinggi, Cinta berasa kayak diomelin dan diinterogasi guys, sampai susah mikir waktu itu. @__@

“Mmm…mmm…mmm…oh iya, berarti Cinta harus ambil paku, disatuin dengan paku kan? Pasti pakunya yang gede kan biar bisa masuk ke kayu yang tebal itu, benar kan yah?”

Ayah mengangguk pelan. Maka Cinta seketika itu lari untuk mengambil beberapa paku, bukan beberapa sih sebenarnya, tapi banyak, daripada kurang terus diceramahin lagi, ya nggak?

Sampailah Cinta, lari cuma 2 menit saja bolak-balik. Tapi ayah koq masih belum puas juga, apa lagi sih yah? @__@

“Ini paku buat apa Cinta? Ayah mau masukin pakunya pake tangan, memang bisa?” Nada bicara ayah kelihatan lebih tinggi lagi, ah Cinta takut banget waktu itu, yakin, sueeeeerrrr 1000 rius.

“Ayah, Cinta itu masih kecil, jangan dipaksa mikir begitulah, kasihan yah,” eh si ibu ternyata ngelihatin dan belain Cinta, aaaasiiiiikkk, Cinta bisa kabur nih.

“Eh, tunggu Cinta, mau kemana? Belum selesai kan tadi? Ibu jangan ganggu ayah kalau ayah lagi ngajarin anaknya biar pinter ya,” Yaaaa… si ibu pun nggak berani dan langsung masuk ke dalam rumah ninggalin Cinta.

“Jadi apa tadi yang kurang, Cinta?” Masih lanjut pelajaran tadi nih guys.

“Mmmm…mmm…palu, palu buat masukin itu paku, iya kan yah?”

“Betul sekali, sana cepat ambil!” Akhirnyaaaa, benar juga guys, alhamdulillah. πŸ˜€

“Ni yah, palu nya.”

“Nah, ini baru benar, terimakasih nak.”

“Iya ayah, sama-sama, Cinta main lagi ya,” pudar sudah keinginan buat meluk, takut diceramahin lagi.

“Cinta…kadang-kadang, ada tipe orang yang ingin dimengerti dengan sekali saja bilang, mungkin Cinta belum bertemu dengan tipe ini, tapi kelak, Cinta pasti akan bertemu, misalkan, saat bekerja nanti, atasan Cinta akan berkata, “saya butuh data ini” tanpa bilang detailnya dan Cinta harus memutar otak sendiri, saat itu Cinta baru mengerti pelajaran ayah tadi.”

“Ayah ngomong apa sih? Cinta nggak ngerti.”

“Ya sudah, kalau tidak dimengerti cukup diingat saja, bisa?”

“Okeh yah, bisa!”

“Cinta dapat nilai 100 kan yah untuk pelajaran tadi? Kan benar semua?”

“Siapa bilang? Dapat cuma 90 point, yang 10 point buat ayah karena ayah yang jelasin dari tadi sampai Cinta ngerti.”

“Mmm…kalau ditambah air putih dingin gimana yah?” (salah satu hal yang kusuka dari beliau : karena beliau suka air putih dingin, tidak minum teh atau kopi, dan bukan perokok, jadi semasa kecil Cinta, alhamdulillah bebas dari asap rokok. ^__^)

“Ya sudah, point 100 nya buat Cinta,” hampir aja Cinta mau meluk, tapi ayah udah keburu bilang, “eh jangan peluk! Cium tangan aja” Ya sudahlah, Cinta pasrah, mau gimana lagi? *yaaaahh…penonton kecewa. @__@

Ayah yang suka banget menyiram kepala Cinta dengan air

Dulu, semasa kecil, Cinta susah kalau bangun pagi. Mungkin itu alasannya mengapa ayah sering membangunkan Cinta dengan air.

“Cinta, bangun, sholat subuh, sudah jam 5 pagi” satu kali suara ayah, pelan.

“Hmmm, iya yah, ini mau bangun,” baru kriyep-kriyep ni mata, eh tapi pengin tidur lagi.

“Cinta, sudah jam 5 pagi nak, bangun, sholat,” dua kali suara ayah, masih pelan.

“Iya yah, ini mau bangun,” sudah berhasil duduk, tapi koq berasa dingin sih? Tidur lagi aaaahh.

“Cinta, bangun, subuhan! Baca doa biar nggak merem lagi!” tiga kali suara ayah, udah lumayan tinggi nadanya.

“Eh iya iya, Cinta bangun ni yah,” udah baca doa, tapi koq kayaknya bantal itu…bantal itu kerasa empuk banget yah? Akhirnya tidur lagi. *ketahuan tukang tidurnya.

Tapi kali ini agak berasa aneh juga sih, suara ayah udah nggak kedengaran lagi, ah amaaannn, dan Cinta pun melanjutkan tidur lagi.

“Byuuuuuuurrrrrrrrrr…!”

“Hah, apa ini, apa ini? Air apa ini?” Cinta kaget setengah mati sambil gelagapan, sueeeerrrr! Dingiiin, berasa banget dinginnya kayak air es. @__@

“Masih mau tidur lagi? Masih nggak mau bangun?”

“Ampun yah, iya bangun, beneran bangun ni Cinta.”

“Ayah kenapa musti satu gayung sih? Kenapa nggak dicepretin saja? itu kasur jadi basah semua kan?” suara ibu dari belakang belain Cinta.

“Kalau dicepretin saja nggak bakalan bangun, biar saja satu gayung, biar kapok sekalian!”

Air satu gayung dari bak mandi di kala subuh itu rasanya, beeeerrrrrrrrr banget! Huwaaaaaa..! @__@

Ayah yang menangis ketika nilai Raport Cinta turun.

Dulu, waktu SMP, Cinta pernah turun nilai raportnya, terpaksa dari kelas unggulan pertama pindah ke unggulan dua, pasalnya terlalu tajam juga turunannya. dari rangking 2 ke 9, wow keren ya! Keren turunnya maksudnya hehe.

Sampai di rumah guys, si ayah langsung masuk kamar loh, terus nggak keluar lamaaaaa banget. Ih, kenapa si ayah? Cinta bingung asli, Cinta yang nilainya turun aja masih PD ya nggak? Nah si ayah malah lesu terus masuk kamar nggak keluar-keluar guys. Waktu itu Cinta nungguin aja di depan kamar ayah, jadi ngerasa salah banget sih dan mau minta maaf. Beberapa jam kemudian si ayah keluar dengan mata sembab. Cinta langsung tahu kalau ayah nangis.

“Ayah, Cinta minta maaf, nilai Cinta jeblok nggak kayak kemarin, maaf ayah.”

“Iya nggak apa-apa nak, tapi ayah cuma bisa maafin dengan satu syarat, gimana setuju?”

“Apa itu yah? Setuju setuju, yang penting ayah maafin Cinta.”

“Nilai raport Cinta nanti harus lebih baik dari ini, bisa?”

“Mmm, itu…itu…” Masih garuk-garuk kepala nggak yakin.

“Bisa nggak? Mau dimaafin nggak?”

“Bisa bisa, diusahain ya yah.”

“Okeh, deal ya!”

Lalu kita berdua saling jabat tangan. Ah, padahal, itu janji yang berat! @__@

Selalu ada surprise tak terduga

“Yah, itu si Elin, enak banget yah, tiap hari Minggu diajak ke pantai loh sama ayahnya, terus di sana katanya sering mainan pasir, aaaaahhh Cinta mupeng yah, pengin!” Cinta dari kecil udah pinter ngerajuk loh guys, hihi. πŸ™‚

“Oh, jadi Cinta pengin kayak Elin, ke Pantai juga? Okeh, hari Minggu kita ke pantai!”

“Hah, yang bener yah? Seriusan nih?”

“Iya, serius, tapi jangan pake rok, pake celana aja, pake sepatu juga!”

“Ke pantai pake celana? pake sepatu? Ribet yah!”

“Mau nggak?”

“Mmmm, ya udah deh mau, yang penting ke pantai, aaaaseeeeekkkk!”

Tahu nggak guys, apa yang terjadi setelah itu? Iya sih, kita berdua jadi ke pantai…tapi bukan mainan pasir apalagi mainan air kayak cewek-cewek seumuran Cinta, tapi disuruh lari pagi! Lari pagi menyusuri sepanjang bibir pantai! Halaaaahhhh, ayah bener-bener deh, suka banget ngerjain Cinta!

“Ayo lari, kalau Cinta pengin sambil mainan air, ya kakinya sentuhin air aja sambil lari, sama aja kan?”

“Tapi kalau capek gimana yah?”

“Gampang, ayah tungguin sampai Cinta nggak capek, terus kita lari lagi, deal?”

WOOOOOWWW, ayahku memang keren! Keren banget ngerjain Cinta! @__@

Perihal Pacaran dan Pulang Malam

Ayahku, ayah yang kolot. Mungkin karena kita lima bersaudara cewek semua, jadi ayah agak ketat dalam hal ini. Tapi, ayah tetap memberi ijin anaknya memiliki pacar dengan syarat, nggak boleh diajak jalan-jalan, kalau mau, cowoknya saja yang ngapel ke rumah anak ayah, dan nggak boleh main lewat dari jam 9 malam.

Terus kalau lewat jam 9 malam, gimana Cinta?

Yah, rasain aja sendiri, kayak dulu pacarnya kakak Cinta. Pas jam 9 tepat, si kakak disuruh masuk ke dalam kamar, terus pacar kakak diajak ngobrol sama ayah, lamaaaaa banget, sekitar satu sampai dua jam lah, nggak tahu apa yang diobrolin juga, haha. Kapok kapok deh tuh pacar kakak, hanya satu kata buat dia, KASIHAN. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Eh tapi nggak cuma kakak koq yang kena, Cinta pernah sekali main ke rumah teman dan pulang lebih dari jam 9 malam guys, dan tebak apa yang terjadi? Tha thaaaaaa…!

Si ayah udah di depan pintu, dengan muka paling garang dan bilang,

Cinta, besok, berani pulang jam segini, pintu rumah ayah kunci, silakan Cinta tidur di luar.” Glek glek glek glek… speechless banget Cinta cuma nunduk sambil ngangguk nggak berani natap ayah lagi.

Hikmah sakit, ayah mau dipeluk!

Ada saat dimana Cinta pernah sakit guys, please jangan nanya sakit apa ya, nggak akan dijawab πŸ˜›

Ya, pokoknya gara-gara sakit itu, selama hampir lima tahun, setiap malam, saat penyakit Cinta kumat, ketika Cinta tertidur, ayah akan duduk di sebelah Cinta membacakan ayat-ayat suci Al-quran selama hampir satu jam. Suara beliau begitu indah, begitu syahdu, begitu fasih dan penuh harap, sesekali bacaannya tersendat dan terisak. Ya, ayah menangis…menangis untuk Cinta. Dan pasti setelahnya, ayah akan menyentuh kepala Cinta dan mengelusnya dengan lembut. Cinta tahu, karena pada saat itu, Cinta sebenarnya terjaga, hanya pura-pura tidur saja.

Ah, ternyata, sakit itu menyenangkan! Dengan sakit, Cinta bisa tahu betapa sebenarnya ayah menyayangi Cinta.

Mungkin, doa-doa dan lantunan ayat-ayat suci itu mampu menembus langit, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Alhamdulillah, kini, Cinta bisa bernafas tanpa rasa sakit lagi. So, I think my life is a miracle. Hidup bagi Cinta adalah kesempatan kedua.

Kesempatan untuk apa Cinta?

Mmmm, maunya sih kesempatan untuk lebih baik, kesempatan untuk bermanfaat bagi sesama…tapiiii, ternyata masih jauh dari standard, masih suka selenge’an, masih manja, masih suka becanda, ah pokoknya masih banyak kurangnya hehe.

Ada saat dimana ayah juga pernah sakit, sakit yang hanya akan sembuh dengan operasi. Namun ayah bersikukuh, keras kepala sekali. Beliau tidak suka dan tidak mau dioperasi. Kondisi yang semakin lama semakin memburuk. Kata dokter, ayahku tidak akan tertolong lagi. Mendengar kabar itu, Cinta bingung, kalut, banyak pertanyaan bermunculan satu demi satu di kepala Cinta…

Apa yang harus Cinta lakukan?

Kenapa kemarin rasanya waktu berjalan begitu cepat?

Dimana Cinta waktu itu? Waktu ayah sehat, kemana saja Cinta?

Kenapa tidak berusaha untuk membahagiakannya?

Cinta masih nggak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di atas. Cinta kembali mengingat saat Cinta sakit, selama lima tahun itu, setiap malam, ayah tidak pernah absen membaca kitab-Nya yang Maha Indah hanya untuk Cinta, hanya untuk kesembuhan Cinta…lalu, apa yang bisa Cinta lakukan saat beliau sakit?

Ngerasa…ngerasa banget jadi anak nggak berguna…ngerasa banget nggak bisa berbuat apa-apa…kenapa?

Kerjaan Cinta jadi berantakan, setiap hari mata Cinta sembab, Cinta nggak bisa konsentrasi lagi. Akhirnya, Cinta memutuskan untuk resign dan pulang ke Pekalongan, Cinta nggak mau kehilangan ayah…kalaupun harus demikian, Cinta akan berada di sisi beliau sampai saat terakhir, meski tidak akan sama…tidak akan bisa sama seperti semua yang beliau lakukan untuk Cinta.

Tiga bulan bersama ayah, di rumah, tanpa pekerjaan, ah bodoh amat kalau Cinta udah nggak punya uang. waktu itu cuma kepikiran mau jadi anak terbaik ayah di saat-saat terakhirnya.

“Ayah, boleh cinta bertanya?”

“Boleh”

“Apa yang paling ayah inginkan dari Cinta?”

“Nggak ada..”

“Yakin?”

“Hhhh, sebenarnya ada, sebenarnya ayah ingin sekali menitipkan Cinta kepada suami Cinta kelak, ayah ingin melihat Cinta menikah sebelum ayah pergi nak.”

“Hanya itu saja yah?”

“Iya hanya itu saja.”

Terlihat seperti sinetron yah guys? Tapi itulah yang diinginkan ayah. Saat itu Cinta mikir, ternyata sinetron-sinetron itu ada benarnya juga, kadang-kadang hampir sama dengan kehidupan nyata.

Setelah hari itu, mulailah Cinta mencari suami, mencari suami demi ayah. Jujur, waktu itu nggak ada perasaan ingin menikah, tapi demi ayah, kenapa nggak? Bukankah ayah bisa melakukan semuanya untuk Cinta? Kenapa Cinta nggak bisa melakukan hal sekecil itu untuk beliau?

So, mulailah Cinta minta tolong ke semua teman yang Cinta kenal…

Hari demi hari, Cinta coba ta’arufan, coba kenalan, tapi nggak ada yang nyangkut, entah ada saja halangannya. Sampai Cinta berpikir, mungkin Allah punya rencana lain.

Dan benar guys, DIA punya rencana lain…

Ayahku mau dioperasi, alhamdulillah beliau sembuh. Dan selama beliau sakit, Cinta bisa menggandeng beliau, sambil memeluknya. Jalannya tidak lagi cepat, seusai operasi. Ah tapi bukankah itu menyenangkan? Jadi bisa memapah dan memeluk beliau lebih lama, bukankah itu yang selama ini Cinta inginkan? Akhirnya, Cinta bisa memeluk beliau, sepuasnya. Alhamdulillah. ^__^

Marah karena Cinta tak mau dijodohkan

Suatu ketika, via phone, ayah minta izin untuk memberikan nomor handphone Cinta pada seseorang. Jarang-jarang ada moment ini, jadi Cinta iyakan saja. Eh ternyata, itu si cowok adalah teman SD Cinta dulu. Sepertinya ingin serius ber-ta’aruf dengan Cinta. Jadi, kenapa musti ditolak? Pesan ayah di telepon sih, jalanin aja dulu. Okeh, sebagai anak yang baik, apa salahnya nyenengin ayah, ya nggak?

Tapi karena beberapa alasan, ta’aruf gagal…dan ayah marah besar!

“Kamu maunya yang kayak apa sih? Dia itu baik, rajin sholat, kalau ke masjid, ayah selalu ketemu dia, sholeh orangnya, cakep lagi, pekerjaan juga bagus, kenapa nggak mau?” Dialog ayah sewaktu Cinta pulkam beberapa tahun yang lalu.

“Kalau jawabnya nanti boleh nggak yah? Soalnya Cinta, ada satu pertanyaan buat ayah yang agak mendesak! Janji deh setelah ayah jawab pertanyaan Cinta, Cinta juga akan jawab pertanyaan ayah, gimana, deal?”

“Okeh, mau nanya apa?”

“Ayah, ada seseorang yang kalau bicara selalu tinggi, selalu merasa lebih dari orang lain. Pada saat Cinta berbicara dengannya, istilahnya ni ya, Cinta masih duduk, dia-nya itu udah mencapai atap rumah terus nyangkut lagi sampai di pohon, lama-lama ia ke langit yah sambil ngomong, kira-kira kalau ayah nemuin makhluk unik kayak gini enaknya gimana yah? Apa Cinta harus tetep dengerin ni orang ngomong sampai kepala Cinta pegel karena mendongak terus dari tadi, atau Cinta sudahin saja obrolannya?”

“Ya sudahin saja obrolannya, ayah juga paling males ngobrol sama orang yang kayak gitu.” jawab ayah tegas dan singkat.

“Nah itu dia yah, orang yang ayah jodohin ke Cinta itu sejenis makhluk unik itu. Buat apa cakep, pinter, rajin sholat, taat agama tapi tidak ada dalam prakteknya? Bukankah itu berarti pemahaman akan agamanya masih dangkal? Bukankah ayah pernah bilang, tidak akan masuk ke syurga, orang yang ada dalam hatinya sedikit saja benih-benih kesombongan? Seorang suami yang harusnya membimbing Cinta ke syurga-Nya, kenapa justru menjauhkan Cinta dari syurga-Nya?

“Tapi kan Cinta belum ketemu sama orangnya, mungkin cara berbicaranya akan lain. Sudah pernah ditelepon?”

“Sudah, sering malah, tapi nggak Cinta angkat! Udah pernah mau jemput Cinta sepulang kuliah, udah sampai gerbang kampus malah tapi Cinta malah ngumpet, hehe.”

“Tuh kan, Cinta-nya kali yang under estimate?”

“Gini deh yah, analoginya, orang berdialog via sms itu kan bisa mikir yah, secara, itu kan nulis, butuh waktu dong, bisa kan dipura-purain jadi baik. Nah kalau via sms saja udah sombongnya selangit, gimana nanti kalau ngomong langsung yah? Ah, yakin, Cinta pasti bisa illfill tingkat dewa dibuatnya! @__@

“Ya sudahlah terserah Cinta saja, ayah kapok, Cinta cari sendiri ajalah. Tapi jangan kelamaan, nak, ayah sudah tua.”

“Insya Allah, Cinta akan cari yang terbaik, yang bisa ngalahin ayah kalau berdebat, yang low-profile, sewaktu-waktu ia juga bisa gantiin ayah jadi imam di masjid, jadi ayah nggak perlu terburu-buru atau ngebut lagi di jalan kalau bepergian menjelang adzan.”

“Yakin, bisa nyari yang kayak gitu?”

“Bisalah…kenapa nggak? Kan anaknya ayah hehe.”

“Tadi pagi bangun jam berapa, Cinta?”

“Jam 5 pagi yah, habis kecapean jalan-jalan sama ibu sampai malam,” alasan klasik.

“Tahajjudnya hilang ya?” Ayah menyelidik,”Owh iya, ini hari Senin ya Cinta, puasa nggak?”

“Mmmm, kan bangunnya jam 5 pagi ya, ayah kan tahu kalau Cinta nggak kuat puasa tanpa sahur,” alasan lagi.

“Terus tadi dhuha nggak?” Masih kayak detektif ni ayah.

“Nggak, lupa yah, maaf…”

“Astaghfirullahal’adhiim, kamu mau nyari yang sholeh, yang bisa ngalahin ayah debat, yang low-profile, yang bisa jadi imam, tapi diri-sendiri nya nggak pernah diperbaiki ibadahnya? Jangan mimpi kamu, Cinta!”

Glek glek glek… si ayah ceramah lagi. @__@

“Nggak ada yang instan di dunia ini. Awas ya Cinta, nanti malam nggak bangun lagi, ayah oprak-oprak ( baca : dibangunkan secara paksa ) kamu, kalau perlu ayah guyur pake air segayung lagi!”

“Heee, iya yah, diusahakan, piss yah, Cinta pergi dulu ya yah.” menepi sedikit demi sedikit terus kabuuuuuurrrrrrrrrr…! πŸ™‚

Kalau di rumah, suasana agamis masih terasa, mau nggak mau, suka nggak suka, terpaksa atau nggak, harus ikut aturan beliau. Ah, tapi kapan Cinta nyadarnya? Masih males, masih suka ngeless, masih banyak alesan…hey Cinta wake up, now!

Pesan Cinta untuk Ayah

So guys, begitulah sosok ayah di mata Cinta. Ayah yang unik, ayah yang tidak pandai menunjukkan rasa sayang, ayah yang galak, kadang suka ngerjain, ayah yang tak suka dipeluk, tapi beliau adalah ayah terbaik di dunia.

Beliau bukan orang kaya, juga bukan orang miskin, bukan orang terpelajar, juga bukan orang bodoh, bukan seorang ustad, juga bukan seorang penjahat.

Beliau hanya keras di luar, tapi hatinya seluas samudera, begitu lembut dan penuh kasih.

Terkadang ada seseorang dengan versi ini, tak perlu menunjukkan rasa sayang, tapi sebenarnya, dalam hatinya yang terdalam ada sebuah samudera luas…samudera luas berisi cinta dan kasih sayang untuk kita, dan percayalah, samudera luas itu tidak akan pernah mengering.

Ayah, Cinta tahu..Cinta mengerti kini,

semua pelajaran dari ayah adalah yang terbaik.

Pelajaran yang hanya bisa ditelaah ketika Cinta mulai dewasa.

Entah sekarang Cinta sudah mendewasa, hampir, atau belum sama sekali.

Tapi Cinta janji, akan menjadi anak terbaik ayah, hingga suatu saat nanti ayah akan bangga memiliki Cinta.

Memang, tidak akan pernah bisa mengganti semua yang ayah lakukan untuk Cinta…tapi Cinta akan berusaha, selalu…lewat anak-anak Cinta kelak, Cinta janji akan mendidik anak-anak Cinta menjadi yang terbaik!

Dan, yang sekarang Cinta bisa lakukan adalah, meletakkan nama ayah di belakang nama Cinta, FARUK…hingga nama kita jika digabungkan akan berarti “bercahaya dan berbeda” atau bisa juga berarti “bercahaya dan berani” Insya Allah, Cinta akan menjaga nama itu sebagai amanah untuk menjadi lebih baik lagi, demi ayah! Aamiin.

Iklan

14 thoughts on “Kotak Pandora ( Part 1 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s