Rindu

12249798_111586732540742_7639646959381584589_n
Pic by Google

Aku tak pandai menulis puisi,

sungguh pun, jika kutulis akan terkesan cengeng seperti curhat…maaf sebelumnya, maafkan aku.

Tapi…

Aku ingin mengaku,

Aku sudah mencoba menitipkannya pada embun jam 3 dini hari tadi, “wahai embunku…pagi ini kau harus menjelma menjadi udara pagi, masuklah ke celah jendela kamarnya sebagai udara yang hangat lalu bisikan di telinganya dengan syahdu tentang kerinduanku”

Lalu, di sepanjang siang yang penuh hujan, aku juga sudah berbisik indah di derai airnya, kurasa mungkin hujan lupa. Ya, mungkin ia terlalu letih berair seharian tadi, “tak apa hujanku, aku mengerti”

Aku juga sudah merayu jingga untuk berhenti sejenak, kulihat ia begitu pengertian, jingga yang merupa merah saga di langit senja itu menolehku dan berkata, “baiklah, akan kucoba katakan padanya perihal rindumu, Cinta”

Langit! Langit putihku tak kelihatan karena tertutup hujan, jadi aku tak bisa menitipkannya pesan

Dan laut…laut di Cikarang tidak ada, kalaupun ada cuma sebuah danau kecil di kota Deltamas yang aku yakin takkan sampai ke kotamu.

Aku sudah mencoba menitipkannya. Menitipkan perihal rinduku kepada lima hal yang paling kusukai di dunia ini,

Senja,

Langit,

Laut,

Hujan,

Embun…

Duhai kekasih, apa kau sudah menerima pesan rinduku?