Dua Dunia ( Awan – Putih )


Cerpen Dua Dunia (Awan-Putih), 2474 kata

Iklan

sweet_girls_illustration_on_romance_novel_cover_bi1347-tile
pic by : http://www.wallcoo.com

Tanpa Awan, tanpa Putih, apa pelangi akan tetap muncul dari langit sana? Atau malah hujan yang akan mengguyur tubuhku yang sudah tak berdaya ini? Bukan karena sakit, bukan juga karena rapuh, aku hanya merasa kehilangan pegangan tanpa mereka, Awan Putih-ku!

Penat yang kurasakan hampir tiap malam kini semakin menjadi, aku benar-benar sering sakit kepala akhir-akhir ini, aku tak tahu kenapa, ada sedikit ketakutan di hatiku, mama dan juga teman menyarankan untuk di-scan, terkadang mereka menakutiku dengan vertigo, kanker, hipertensi…

Ah, sudahlah, benar-benar tak ingin membahasnya. Aku pasti baik-baik saja, iya kan Tuhan?

Hmmm, harum sekali aroma cokelat ini, ini aroma kesukaanku, up’s tapi ini bukan aroma dari roti atau butter cream, ini aroma handbody lotion-ku, aroma chocolate yang mengingatkanku padanya.

Kalau saja ada Putih, pasti aku… Astaghfirullah, aku ini kenapa masih mengingatnya padahal…

Selang lima belas menit hujan turun tiba-tiba, deras sekali di luar sana, aku bisa melihatnya dari jendela kamar tidurku sekarang, sepertinya Awan sedang memperingatkanku dengan hal yang sangat disukainya, hujan. Ya, mungkin ia juga tak ingin kulupakan.

Awan, mana mungkin aku melupakanmu? Jika ada sebutan sebelum cinta, itulah kau, kau telah tercipta sebelum kata cinta sendiri itu ada.

Awan, Putih, aku terjebak dalam dua dunia, dan aku tak bisa memutuskannya, mungkin kalian bisa membantuku, siapa yang harus kupilih, Awan atau Putih?

***********************************

“Diandra, apa kau yakin ingin menikah denganku? Apa kau tidak akan menyesal?”

Absolutely not!” jawabku tegas.

Putih hanya tersenyum.

“Kenapa hanya tersenyum, harusnya ekspresimu lebih dari itu, harusnya kau bahagia, bilang terimakasih cinta, atau mengecup keningku, atau setidaknya memelukku erat, tapi…” wajahku jadi murung kali ini.

“Apa cinta harus begitu?”

“Hu um! Kadang cinta harus dinyatakan atau diungkapkan dengan perbuatan agar lebih meyakinkan!”

Putih tersenyum lagi, tapi sedikit salah tingkah, kulihat ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal berkali-kali.

“Ya sudahlah kalau tidak bisa, mungkin sudah nasibku punya suami yang tidak romantis, hhhh” aku menghela nafas panjang.

Tapi dasar Putih, ia malah mengacak-acak rambutku.

“Ih jahat!”

“Katanya butuh perbuatan? Itu tadi perbuatan bukti cinta, haha.”

“Putih, awas ya…!”

Aku mengejarnya sambil menimpukinya dengan bantal berkali-kali tapi Putih hanya pasrah saja dengan senyum khasnya.

Putih… Putih, kenapa sih ada lelaki sepertimu? Apa karena namamu Putih, jadi sikapmu juga begitu putih? Rasanya ingin jemu dengan semua tingkahmu itu tapi aku tidak bisa karena kau begitu putih di hatiku, putih sekali.

Seminggu lagi aku akan menikah dengan si Putih, Putih Laksono nama lengkapnya. Ia dokter keluargaku. Namun ada yang aneh dengannya, ia tak seperti calon suami biasanya, maksudku, tak seperti yang kulihat di tv-tv, atau di jalan-jalan itu, ia tak pernah memelukku, mengecup keningku, atau menyandarkan kepalanya padaku ketika penat. Justru aku yang sering begitu padanya, pernah sekali aku ingin memeluknya tapi Putih malah melepaskannya, katanya belum muhrim. Saat aku ingin bersandar di pundaknya, ia juga sering menolak, aku harus membujuknya dan berkata, “aku penat dengan pekerjaanku, butuh tempat untuk bersandar, bolehkah?” barulah Putih membolehkannya, biasanya aku tertidur di sana, di pundaknya yang tegap itu. Putih hanya berani memegang tanganku dan berbisik lirih, “tenanglah, semua ada saatnya.”

Si Putih yang aneh, sikapnya yang tak biasa itu aku yakin karena rasa sayangnya padaku, ia akan menjaga kesucianku hingga kami menikah nanti. Jarang lelaki seperti itu ada di jaman sekarang ini, itulah kenapa aku sangat sayang padanya, sayang dan cinta tentunya.

Apa yang sedang kucari? Apa sebenarnya?
Waktu pernikahan yang semakin dekat kenapa memunculkan sosok lain di kepalaku?
Sudah dua hari ini aku bermimpi, seseorang bernama Awan,
Ia berkata “apa kau sudah melupakanku? Kau itu calon istriku, kenapa kau harus menikah dengannya? Apa salahku, bahkan menengok pusaraku pun kau tidak pernah! Dengarlah Diandra-ku sayang, aku merindukanmu!”

Aku menepuk-nepuk kapalaku sendiri, ternyata Putih melihatnya.

“Kau kenapa Diandra? Kenapa dengan kepalamu? Apa sakit lagi? Apa ada yang bisa kau ingat?” Kulihat mata Putih lebih melebar, ia berharap jawaban lebih dariku.

“Apa yang harus kuingat? Sudahlah Putih, jangan menanyakan hal itu nanti kepalaku sakit lagi, aku sudah tenang sekarang, aku tidak menyesal seandainya aku tidak mengingat apapun karena aku percaya padamu, Putih-ku.”

“Tapi aku akan lebih tenang jika kau mengingat semuanya sebelum kita menikah.”

“Ingat tidak pesan dokter Putih padaku kemarin? Aku tidak boleh mengingat hal-hal yang berat, atau itu bisa menyebabkan kerusakan sistem saraf otakku, apa Putih ingin aku jadi gila?”

“Sssst, jangan berkata begitu!” putih menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.

“Ya sudah, aku jujur pak Dokterku, sudah dua hari ini aku bermimpi, aku bertemu dengan seseorang bernama Awan, ia bilang ia itu calon suamiku, tapi anehnya kenapa ia minta ditengok di pusaranya? Apa ia sudah meninggal? Atau mungkin ia itu seseorang yang sangat mencintaiku lalu aku menolaknya di masa lampau, bisa jadi kan?”

Putih menunduk dengan perasaan aneh, kalau bisa kubaca dari sini, sepertinya itu perasaan bersalah, ia merasa bersalah padaku, tapi kenapa?

“Tapi sudahlah, aku sudah memilihmu Putih, siapapun ia itu tak penting lagi, aku akan tetap menikah denganmu sayang, dan tentang penyakit amnesia-ku ini, insya Allah aku ikhlas, aku percaya, aku akan bahagia hidup denganmu,” lalu aku memeluknya. Tapi kali ini berbeda, ia tak menolak pelukanku, mungkin ia juga butuh ketenangan, syukurlah kalau aku bisa menenangkannya.

Dan tibalah hari ini, ketika kuncup-kuncup bunga bermekaran di kebun kecilku, seperti musim semi di kota Paris, kota paling romantis, bunga-bunga adenium berjejer rapi di jajaran paling depan, euphorbia setelahnya, bunga kertas di setiap sudut, warna merah muda dan putih membuat suasana semakin penuh cinta, anggrek bulan kesukaan mamaku yang menempel di tiap pohon besar, pohon palem botol sebagai pilar-pilar penyangga tenda yang berwarna serba putih, mereka seperti ornament-ornament istana yang mewarnai setiap sudut kebunku. Subhanallah, ini seperti surga. Ya, aku merasa menjadi bagiannya, aku sebagai ratu yang akan menempati singgasana surgaku.

Tuhan, jika setelah ini amnesia-ku tak juga sembuh, sungguh tidak mengapa, aku ikhlas, aku mencintainya, mencintai lelaki sopan dan berbudi pekerti luhur itu.

Kepalaku kenapa tiba-tiba sakit? Ini benar sakit sekali, semuanya berputar-putar seperti mencari satu titik yang telah hilang, sungguh sakit yang tidak tertahan, sayup-sayup kudengar mama, papa, dan Putih bergantian memanggilku. Tapi aku tak tahan lagi hingga semuanya gelap dan menghitam.

***********************************

Di mana ini? 
Kenapa aku bisa melihat diriku? 
Aku dan seseorang itu, seseorang bernama Awan, kami sedang asik-asiknya membicarakan pernikahan yang akan dilangsungkan seminggu lagi. Kami sengaja meluangkan waktu lebih lama karena setelah ini kami akan dipingit, karena terlalu asiknya kami berbicara di dalam mobil, sampai-sampai tak memperhatikan. Di luar mobil hujan sangat deras, petir yang menyambar seolah sebuah pertanda, tapi kami semakin tenggelam dalam dunia romantis kami, ada sebuah cahaya putih, masih tak memperhatikan, tapi cahaya itu semakin lama semakin dekat hingga “bbbbbrrrraaaakkkkkkkkk” suara yang sangat kencang itu mengguncang segalanya, posisiku di mana setelah itu, masih jelas dalam ingatanku, Awan bersimbah darah, mobil kami terbalik, aku mengguncang-guncangkan tubuhnya tapi ia tak juga sadar, kepalaku terbentur keras sekali, sakit sekali rasanya, aku berteriak sekencang-kencangnya, aku minta tolong, lalu datang seseorang, itu… itu wajah Putih, wajah yang juga berdarah dengan baju sobek di lengan sebelah kanannya, Putih mencoba menarikku, ia mengeluarkanku dari dalam mobil kemudian mengeluarkan Awan juga.  “Maafkan aku nona, temanmu sudah tidak bernyawa lagi.”

“ TIDAK… TIDAK… TIDAAAAKKKKKK….!”

“Sayang kau kenapa? Bangunlah sayang, jangan menakutiku, buka matamu sayang, ini aku, Putih-mu, maaf tadi aku terlambat menolongmu, Diandra tidak apa-apa?”

“Putih… kau…”

Seketika duniaku menghilang, aku menemukan dunia yang berbeda, aku dulu juga punya dunia, dunia yang ingin kubangun bersama Awan dan ternyata Putih yang menghancurkannya. Ia membangun dunia baruku di atas sebuah luka, di atas pusara Awan yang sampai sekarang ini belum pernah kutengok dan kudoakan.

“Pembunuh! Pembunuh pergi kau, jangan sentuh aku! Aku membencimu, pembunuh…!”

“Jadi kau sudah mengingat segalanya sekarang? Iya, aku memang orang yang menabrak mobilmu tapi aku tidak sengaja sayang, aku minta maaf, maafkan aku, kau boleh marah, boleh memukul, atau membunuhku jika itu membuatmu bisa memaafkanku, aku rela.”

“PERGI… PERGI, AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAHMU LAGI. PERGI SEKARANG, PERGI!”

11 September 2015,
hari yang akan kuingat selamanya, 
pagi yang begitu cerah melintasi setiap kepingan harapan, 
tangan-tangan langit yang kian menjuntai seolah menawarkan pesona keindahan surga lewat sebuah ikatan suci antara dua anak manusia, 
tapi ketika aku menaikinya menuju istana surga itu, 
kubah langit tiba-tiba tertutup, terkoyak, 
jari-jemarinya menurunkanku dengan paksa, 
meski aku meronta dan minta tolong tapi tak ada satupun yang menolongku, 
semuanya tiba-tiba gelap dan hitam dan duniaku menghilang bersama Awan dan Putih.

***********************************

“Sayang, masih belum tidur?” suara mama dari belakang mengagetkan lamunanku seolah tahu apa yang sedang kurasakan.

“Eh, mama, belum ma.”

“Sudah setahun nak, kamu harus melupakannya, jika ingin mengangis menangislah tapi setelah itu kamu harus ikhlas, agar Awan juga tenang di alam sana.”

Aku memeluk mama tanpa kata, hatiku menangis tanpa bisa mengeluarkan airmata.

Lima belas menit berlalu, aku melepaskan pelukan mama.

“Sudah saatnya diary ini kuserahkan padamu nak, mama menemukannya di tempat sampah belakang rumah di saat hari pernikahanmu, terserah kamu mau membacanya atau tidak.”

Mama pergi setelah menyerahkan diary itu.

Lembar pertama kutemukan,

11 September 2015,
selamat tinggal Sarah, aku harus move-on, kau tidak akan kulupakan selamanya, semoga kau bahagia di alam sana

Lembar kedua, ketiga, sampai seterusnya masih berkisah tentang Sarah yang ternyata adalah istri Putih. Lembar seterusnya masih sama, berkisah tentang kebahagiaan mereka, kurasa yang lainnya juga sama jadi aku putuskan untuk melewatinya saja hingga kubaca empat lembar terakhir…

23 Agustus 2014,
Dalam gelombang cinta yang terlalu dalam, dalam keasyikan dunia kami, aku melakukan kesalahan fatal, tak memperhatikan jalan di depan sehingga aku membunuh dua nyawa sekaligus.
Nyawa orang yang paling kucintai, Sarah dan nyawa orang lain yang baru saja kutahu namanya hari ini, Awan.
Dan satu lagi, seorang gadis bermata sayu, berlesung pipit dan berwajah sendu itu telah kubuat sangat terluka, bagaimana tidak? Aku telah membunuh calon suaminya.
Ya Allah, apa yang harus kulakukan?

Mataku nanar dan tanganku bergetar, kubuka lembar selanjutnya,

31 Agustus 2014,
Alhamdulillah, aku sudah dimaafkan keluarga besar gadis itu, juga keluarga calon suaminya, mereka bilang itu sudah takdir Allah. Ah, padahal dalam takdir Allah itu aku juga kehilangan orang yang paling kucintai, tapi tak perlu kukatakan semua itu, yang penting adalah bagaimana menjaga agar gadis itu bisa segera sembuh dari sakitnya, gadis itu amnesia cukup parah, hasil visum mengatakan akan berakibat fatal jika memaksanya mengingat sesuatu yang berat apalagi kenangan tentang kesedihan. Aku harus merawatnya, itu tekadku. Aku ingin segalanya kembali normal, setidaknya ini bisa menebus kesalahanku pada Awan, semoga ia memaafkanku, aamiin.

Anak sungai ini tiba-tiba berjatuhan dari pipiku, aku tidak menyangka…Lalu kubuka lembar kedua dari paling akhir diary itu,

05 Februari 2015,
Sudah setengah tahun aku tidak menuliskan apapun di sini, maaf ya. Aku sangat sibuk sekarang, Diandra dan aku sudah semakin dekat, aku menyayanginya, ia gadis periang, lucu, dan hangat, tak kusangka hari ini ia menyatakan cintanya padaku hehe, aku senang sekali, aku jatuh cinta untuk kedua kalinya, terkadang takdir itu membingungkan, mungkin ini cara Tuhan, dengan kehilangan aku mendapatkan cinta yang baru. Aku tidak mungkin melupakanmu, Sarah, tapi aku juga butuh perhatian, butuh kehangatan dan kasih sayang yang kini kutemukan di mata sayu berlesung pipit dengan wajah sendu itu.

Dan ini lembar terakhir,

11 September 2015,
Sarah, hari ini aku menikah, maafkan aku, bukan aku melupakanmu sungguh kau selalu ada di hatiku, tapi di sini aku juga butuh cinta, di sampingku kini ada Diandra, gadis yang ingin kulindungi, kucintai dan kusayangi setelah kau pergi. Sarah, sebenarnya aku takut, takut sekali jika hari ini atau setelahnya Diandra akan mengingat semuanya, aku sungguh tak bisa kehilangan lagi, ia seperti lilin kecil yang selalu menghangatkanku, terlihat begitu rapuh meski mencoba kuat, tapi dengan cahaya yang begitu kecil ia bisa mengobarkan semangat di hatiku yang begitu besar, aku sungguh tak berani menyentuhnya karena rasa bersalahku, tapi semoga setelah hari ini aku bisa melupakan rasa bersalahku. Ya Allah, berikanlah Diandra kebahagiaan, jangan biarkan gadis yang paling kucintai itu menderita atau terluka lagi, aamiin.

Kini diary itu lembab oleh airmataku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

Kenapa aku merasa hanya aku yang terluka?
Kenapa aku tidak mau memandang dari sudut pandang yang berbeda?
Kenapa aku egois?
Kenapa aku tidak mau memaafkan?
Kenapa aku bodoh… bodoh… bodoh! Aku bodoh sekali!
Kenapa aku menyia-nyiakan Putih-ku, Putih-ku yang benar-benar putih?

Aku terjerembab di tempat tidur dengan berlinang airmata.

***********************************

Pagi ini aku mau berobat, aku tidak mau kehilangan segalanya. Aku yakin arti dari mimpi semalam, Awan yang menyerahkan tanganku kepada Putih, itu berarti Awan mengikhklaskanmu bersama Putih, terimakasih Awan, aku tidak akan menyia-nyiakan Putih sekarang.  Aku menuju halte bis terdekat, menuju sebuah rumah sakit yang sudah aku kenal betul sebelumnya, setahun yang lalu di mana aku selalu memeriksakan amnesia-ku.

Antrian yang lama harus kutunggu, hatiku tak karuan, berdetak kencang sekali.

Aku mau waktu cepat berlalu, kenapa antrian ini semakin lama saja? Sudah setengah jam. Aku mau segera…

“Ibu Diandra silakan”

“Iya terimakasih suster…”

Kulihat pak dokter sedang mencuci tangannya, “sebentar nona, saya cuci tangan dulu”

“Bahasamu sungguh formal sekali, begitukah cara berbicara dokter pada pasiennya? Kenapa kau tak pernah sesopan itu padaku pak dokter?”

“Di… Di… Diandra.”

Kulihat ia gugup melihatku. “Iya ini aku, kepalaku sering sakit, aku tidak tahu kenapa, mungkin ada kesalahan dalam sel-sel sarafku ini setelah amnesia, dan sebentar lagi aku akan menjadi gila,” telunjuk jariku kutaruh tepat di pelipisku agar ia semakin yakin.

“Diandra, itu tidak lucu!” nada bicaranya lebih tegas sekarang, “mana yang sakit, sebelah mana? Sudah berapa lama? Sudah diberi obat apa saja? Apa masih sering berputar-putar atau pusing seperti dulu? Sudah cek tekanan darahnya belum? Setiap bulan obatnya masih diminum?” sambil memegang pelipisku, bicaranya serius sekali, ia menanyakan pertanyaan begitu banyak sampai-sampai aku bingung mau menjawab yang mana dulu.

Aku melepaskan tangannya dan berdiri di hadapannya, kupandangi ia, wajah yang tidak berubah selama satu tahun ini, ia jadi salah tingkah tapi aku tetap melihatnya dan semakin dalam, sampai wajahnya menunduk, kebiasaan yang tidak berubah dari dulu. Aku tak tahan lagi, kali ini aku memeluknya.

“Aku sakit sudah lama, sejak setahun yang lalu tapi aku putus asa hingga tak ingin berobat kemana pun, aku tak pernah cek ke dokter mana pun dan berharap amnesia lagi agar Putih-ku bisa selalu ada di sampingku, kumohon maafkan aku, aku ini memang anak kecil yang egois, aku menemukan diary-mu, maaf aku telah membacanya, aku mungkin bukan Sarah tapi aku ingin menjadi milikmu, sungguh! Aku ingin sakit kepalaku ini hilang, hanya kau yang berhak jadi dokterku, dokter Putih-ku.”

Putih hanya diam saja, tak berkata apapun di lima menit itu, tapi setelahnya ia memelukku, memelukku erat sekali, Putih yang selama dua tahun ini tak pernah memelukku kini memelukku dengan cinta, aku bahagia sekali, Tuhan terimakasih.

“Insya Allah, lamaran Diandra diterima, seminggu lagi kita menikah, tapi kali ini tak boleh gagal lagi oke?”

“Oke,” bisikku di telinganya.

“Hmm, bau apa ini, chocolate?”

“Iya, ini bau kesukaanmu kan? Aku sengaja memakai parfum rasa chocolate agar kau lebih lama memelukku.”

“Kau ini ada-ada saja!” Katanya sambil tertawa.

Ya…Putih mengacak-acak rambutku lagi, dasar! Tapi tak apalah karena setelah itu ia memelukku lagi lebih lama.

Tuhan,  terimakasih, meski hari ini tak muncul hujan atau pelangi, tapi sudah cukup bagiku… Putih, membuatku menutup mata kepada dunia, mungkin memang beginilah cinta, hingga aku bisa berkata “dengannya aku sudah merasa cukup.”

10 thoughts on “Dua Dunia ( Awan – Putih )

    1. Heee, masa mba Ima? Makasih buat apresisasinya mba Ima sayang 😍😘😊

      Sbnrnya itu sprti sbuah pngharapan mba, memiliki sosok sempurna sprti Putih. Juga ttg introspeksi diri bhwa kita hrs mampu melihat lbh jauh ke dlm hati seseorang, bukan dg egois dan mrsa tahu sndiri tp dg mampu mengerti. 😊

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ea cinta aku orgnya sensitif boro2 baca kisah kyk tulisanmu ini dengerin lagu yg sedih jg bisa nangis…ea pengharapan yg bagus itu cinta 👍 mmg kita hrs menaklukkan EGO melihat sesuatu apapun dari sisi yg berbeda jgn cuma dr satu sisi saja…bepositif terus ya 😉

        Disukai oleh 1 orang

  1. Reblogged this on Cinta1668 and commented:

    Sebenarnya, malam hari berhujan seperti sekarang ini paling nyaman saat menenggelamkan diri di Novelnya Winna Efendi yang melted banget, atau membuat cerpen manis ala-ala romantis.

    Tapi tapi tapi…Cinta ingat pesan mas Shiq4 kemarin sewaktu main dan komen si blognya. Katanya begini “Jangan keterlaluan kalau ngeblog Cinta, nanti jadi kapok loh”

    Iya deh mas Shiq4, makasih nasehatnya. Malam ini Cinta mau belajar dulu buat UAS hari Jumat nanti.

    Dan barusan, Cinta baca ulang cerpen lama ini, sepertinya cocok dibaca saat hujan, hehe.

    Selamat menikmati. 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s