Mendung

rain,umbrella,photography,portraitphotography-b54b2ba304826414d0311356e814f3d7_h

Mendung ini hanya perubahan langit, seperti itu yang scientist kemukakan lewat argument-nya yang terlalu panjang.

Namun aku memaknainya sebagai sendu, isyarat langit yang juga berduka akan kepergian seseorang, kedukaan sebagai sambutan bahwa kalian yang sedih tidak sendirian. Ada sedikit kelegaan tentu di hati mereka para insan ketika alam juga merasai apa yang mereka rasakan.

Tapi lebih jauh ketika mengamatinya, sebenarnya ada kegembiraan yang menanti. Ya, langit nan abu-abu serupa kopi berserak itu sedang berkumpul, partikel-partikel kecilnya sedang menari-nari, seperti embun di ujung lembayung yang jatuh ke tanah di pagi buta “tik tik tik” bunyi lirih yang mungkin hanya di dengar oleh semut dan dedaunan, namun ini adalah musik khas yang kupikir menyatukan partikel-partikel awan tadi.

Satu demi satu semakin banyak dan bersenyawa, mungkin terlalu gembiranya mereka bergerimis, berair kemana-mana. Ini tanda suka-cita, bahwa dalam satu kesusahan terdapat dua kemudahan.

Air yang terus melimpah dari langit itu tercurah, bagai air terjun raksasa yang tidak seorang pun tahu di mana muaranya, suara khasnya mulai menggenangi telinga, shymphony yang tak beraturan namun sungguh indah. Lalu tak lama berselang akan muncul senyum dari langit yang dibiaskan lewat cahaya-cahaya warna berbentuk setengah lingkaran yang sering disebut “pelangi”.

Aku memang tak tahu di mana muara air hujan, tapi aku tahu di mana muara pelangi, itu di matamu. Jika kau mau bersabar, percayalah mendung itu akan segera pergi.

 

 

*pernah diposkan di blogger milik Cinta dengan akun berbeda.