Hujan ( part 5 )


Atas nama kasih sayang, aku memilihmu!

http___www.pixteller.com_pdata_t_l-465134

“Kamu bahkan lebih indah dari aroma edelwaise yang melingkungi ruang tamuku, aroma yang selalu ingin kuhirup tiap hari,Lebih hangat dari danau kecil buatanku di villa. Ya, kamu benar tentang diriku, aku hanyalah pria kesepian yang rindu kehangatan, karena itu aku membuat danau buatan yang penuh dengan suasana hangat, aku berharap kelak bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan seseorang yang hangat sepertimu.

Apa kamu...”

*****************************************************

Nyanyian pagi mulai berbisik, bersautan, bahkan ada yang berteriak-teriak lewat kokokan sang jago di pagi buta. Sepertinya mereka tak ingin melepaskan manusia dari suara indahnya, dan kalau diperhatikan, suara-suara itu akan semakin nyaring saja di telinga. Mungkin itu salah satu cara Tuhan membangunkan kita, melalui ciptaan-Nya.

Mutia, salah satu yang menyadari hal itu, sudah terbangun sejak jam 4 pagi tadi, usai meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, ia sempatkan untuk berjalan-jalan pagi sambil melihat suasana baru di sekelilingnya.

Sendiri tak harus takut, sendiri tak harus kehilangan akal, karena sendiri adalah kebebasan, kebebasan untuk berfikir, bertindak, dan merenungkan segalanya secara dewasa.

Mungkin motto hidupnya itulah yang membuatnya berbeda dari wanita lain seusianya, ia cenderung lebih dewasa dan memahami perasaan orang lain.

Sementara itu di sudut lain, Ridwan sedang cemas memikirkan Mutia, ia mencarinya kemana-mana tapi belum juga ketemu.

“Aduh, pak Budi pak Budi, harusnya pak Budi lebih memperhatikan Mutia, pak Budi kan tahu kalau Mutia masih belum begitu mengenal tempat ini, bagaimana kalau ia tersesat, mana handphone-nya nggak dibawa lagi, ceroboh sekali sih!” kecemasan semakin tersirat di wajah Ridwan.

“Maaf den, tadi itu non Mutia memaksa, ia cuma ingin jalan-jalan sebentar, saya mana tahu den, kalau sampai 2 jam non Mutia belum balik juga…”

“Hhhhhh, ya sudahlah, kita ganti arah saja, aku ke arah sana, pak Budi ke situ, nanti kita ketemu di perempatan dekat masjid ya pak.”

“Iya den.”

Setengah jam waktu berlalu, tapi Mutia masih saja belum terlihat.

“Kakiku sudah mulai lelah, kamu kemana Mutia? Senang sekali sih membuatku panik seperti ini? Bikin cemas saja!” Ridwan bergumam sendiri.

“Tha thaaaaaaa… ! Selamat pagi Ridwan.”

“Astaghfirullah Mutia, kemana saja kamu? Seharusnya kamu bilang dulu sebelum pergi, kamu belum tahu daerah ini, kalau tersesat gimana?”

“Tenang saja Ridwan, aku nggak akan tersesat, kalaupun aku tersesat aku masih bisa bertanya, memangnya kamu, orang aneh, kalau tersesat diam saja, malah muter-muter nggak karuan jadinya,” Mutia terkekeh-kekeh.

Senyum itu, senyum Mutia itu indah sekali. Senyum yang tetap hangat, senyum yang cukup mampu membuat hati Ridwan menjadi tak karuan.

“Kenapa melihatku seperti itu? Waaah, jangan-jangan benar kamu naksir aku,” Mutia yang tersadar dengan tatapan Ridwan mencoba memecah suasana.

“Naksir? Yang benar saja, ada juga kamu yang suka perhatian sama aku, kamu kali yang naksir aku Mutia, hayo ngaku!” Ridwan tak mau kalah.

“Nggak!”

“Iya!”

“Nggak Ridwan!”

“Iya Mutia!”

“Ih, dibilang nggak!”

“Ih, dibilang iya!”

“Apaan sih ngikutin omonganku, nggak lucu tahu, dasar kekanakan.”

“Kalau yang namanya anak-anak itu sukanya marah-marah, dari tadi yang marah-marah siapa hayo?”

“Sudahlah, nggak usah dilanjutin, males banget berdebat sama kamu!”

“Koq males, kan seru bisa membuat Mrs. Judge ngambeg, aku dapet point baru 1-0,” Ridwan tertawa puas penuh kemenangan.

“Ya sudahlah, ganti topik saja,,,,by the way aku ada sesuatu untukmu, tapi nggak tahu juga apakah kamu mau memakainya atau nggak,” kata Mutia sambil menyerahkan bungkusan putih di tangannya.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

“Kaos kaki dan kaos tangan? Untuk apa ini Mutia?”

“Ya untuk dipakailah, masa untuk dilihat? Aku pernah baca artikel, katanya mimpi buruk itu bisa dipacu oleh suasana sekitar, di kamarmu itu AC-nya sangat dingin, kalau kamu mau pakai itu, insya Allah mimpi burukmu akan pergi dan kamu bisa tidur dengan tenang sampai pagi.”

“Iyakah?”

“Iya, cobalah.”

“Terimakasih Mutia, apapun pemberianmu aku suka, aku pasti akan memakainya,” ucap Ridwan sambil tersenyum.

Hadiah seharga 15,000 itu terus saja dipandanginya dengan senyum. Senyum yang seperti anak kecil, anak kecil yang innocence. Ya Tuhan, kenapa aku selalu menemukan senyum itu di wajah Ridwan? Senyum yang membuatku luluh, senyum yang membuatku iba dan tak tega.

 “Ehm, kenapa jadi Mrs. Judge yang sekarang ngelamun?”

“Heee, enggak, ayo kita pulang, sekarang sudah siang, aku nggak mau kak Radith cemas.”

“Aku antar kamu sampai rumah ya, sekalian aku bantu ngomong Radith biar nggak salah paham.”

“Nggak usah.”

“Yakin?”

“Yup’s, aku kenal kak Radith, ia nggak akan betah berlama-lama ngambek sama adik cantiknya ini.”

“Mutia Mutia, ya sudah, tapi kamu hati-hati ya.”

“Sip.”

Perjalanan pulang yang menyenangkan, hadiah yang menyenangkan, hari yang menyenangkan, dan bersama dengan seseorang yang menyenangkan. Itulah yang ada dibenak Ridwan saat ini, saat-saat yang membahagiakan.

“Ketemu juga akhirnya, kemana saja sih non, den Ridwan dari tadi ngomelin saya mulu, katanya saya harus tanggung jawab pula kalau terjadi apa-apa sama non,” kata-kata pak Budi yang tiba-tiba mengangetkan Mutia dan Ridwan.

“Eh pak Budi, maaf pak, tadi saya jalan-jalan, ketemu pasar ya sudah saya masuk saja lihat-lihat sebentar, maaf ya pak, sudah membuat pak Budi repot.”

“Nggak apa-apa non, yang penting non selamat,” kelegaan tersirat di wajah pak Budi.

“Dan terimakasih sudah mencemaskanku Ridwan, thanks a lot yeah?”

“heee… sama-sama Mutia.”

 

*************************************************

Hujan itu tak selamanya menyenangkan, terkadang datang bersama petir yang menyambar, seperti Mutia, meski selalu ingin memberi kesejukan, namun ternyata ia telah melukai hati seseorang tanpa sadar.

“Assalamu’alaikuum, kak Radith, Mutia pulaaaang!”

Hmmm, koq sepi? Kemana kak Radith? Aku cari di kamar ah, siapa tahu di sana.

 Mutia melangkah menuju kamar Radith, tapi bayangannya pun tak terlihat di sana, lalu ke dapur, ruang makan, ke teras, bahkan di depan rumah namun masih, masih saja tak ada Radith di sana.

“Hhhhh, kak Radith kemana sih? Jangan ngambek gini dong kak, Mutia jadi merasa bersalah,” Mutia bergumam lirih.

“Bagus kalau merasa bersalah, karena kamu memang salah.”

Mutia terkejut dengan suara bariton itu, itu suara Radith.

“Kak Radith kemana saja? Dari tadi Mutia cari-cari nggak ada, Mutia sampai takut.”

“Penting aku kemana?”

“Nada bicaranya koq sinis begitu? Penting, kak Radith itu… ”

“Orang paling penting dalam hidupmu, aku bahagia asal kak Radith bahagia… kak Radith udah hafal dengan kata-katamu itu dek, nggak usah diulang-ulang kalau ternyata nggak ada kenyataannya!”

Kali ini Radith benar-benar kesal dengan tingkah Mutia.

“Iya deh, Mutia salah, Mutia minta maaf, tolong jangan marah ya kak, ya… ya ya ya ya ya? Kak Radith cakep deh kalau nggak marah, nanti cakepnya hilang lho kalau marah-marah melulu,” Mutia merajuk.

“Iih, apaan sih Mutia pake narik-narik kaosku segala, udah udah, kalau ditarik-tarik gini kaos kakak bisa kusut nanti!”

“Biarin, Mutia mau tarik-tarik sampai kakak maafin Mutia.”

“Mutia… Mutia, kapan sih jadi gadis dewasa? Kalau sama orang lain selalu bisa dewasa, tapi di depanku manjanya nggak ketulungan! Ckckckckck.”

“Nah, gitu dong senyum, kak Radith cakep banget kalau senyum, silau, Mutia sampai klepek-klepek dibuatnya, udah nggak marah lagi kan kakakku sayang?”

“Iya, tapi ada syaratnya, Mutia harus jawab pertanyaanku, gimana deal?”

“Koq pake syarat segala sih, nggak biasa-biasanya deh kak Radith gini.”

“Mau nggak dimaafkan?”

“Iya iya mau!”

Radith menarik tangan Mutia, membawanya menuju bangku di teras depan. Tiba-tiba saja suasana menjadi serius, tak seperti biasanya.

“Kamu ingat dek, dulu sewaktu kecil, kita sering duduk di depan teras seperti ini sambil melihat matahari terbenam, pernah kutanya padamu, kelak nanti kalau sudah dewasa, adek ingin menikah dengan seseorang yang seperti apa? Dan Mutia selalu menjawab… ”

“Yang seperti kak Radith, yang cakep seperti kak Radith, yang baik seperti kak Radith, yang sayang Mutia seperti kak Radith, aku nggak mau yang lain, aku cuma mau yang seperti kak Radith,” Mutia menimpali.

“Tepat sekali, dan sebenarnya sejak saat itu, mungkin sebelum saat itu jika Mutia mau bertanya hal yang serupa tentang kak Radith, maka jawabannya akan sama. Kak Radith ingin, ingin sekali menikah dengan gadis seperti Mutia, kak Radith tahu seharusnya tidak ada rasa ini, tapiiiiiii… kak Radith nggak bisa menyembunyikannya lagi. Kak Radith nggak bisa tidur semalaman memikirkanmu, kak Radith cemas, takut, takut kehilanganmu dek.”

Kata-kata Radith seperti sambaran petir yang memburu. Membuat langit-langit di hati Mutia menjadi berkilatan, Mutia benar-benar tak bisa berkata apapun, mulutnya tercekat, ia hanya diam seribu bahasa.

Ternyata cinta itu ada. Cinta yang selama ini Mutia pendam akhirnya terbalas juga. Ya, siapa sangka Radith juga mencintainya? Cinta yang sama. Cinta yang tumbuh di masa kecil. Mungkin juga cinta yang begitu kuat. Kuat hingga mampu merobohkan dinding-dinding kefanaan, dan membawanya menuju alam surga kenikmatan.

“Mutia, aku mencintaimu, mencintaimu sejak kecil, sejak kau hadir di rumahku malam itu. Mutia, maukah kau hidup denganku? Aku janji akan berusaha membahagiakanmu. Dan soal ibu, Mutia nggak perlu khawatir, aku sudah membicarakannya dan beliau setuju. Asal kau mau, aku janji, akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia.”

“Kak Radith…”

Mutia tak melanjutkan kata-katanya, ia sungguh tak kuasa, ia hanya bisa membalas semua kata itu dengan sebuah pelukan dan linangan airmata.

Tuhan, benarkah apa yang barusaja kudengar? Apakah ini mimpi? Kak Radith bilang cinta padaku. Kak Radith mencintaiku, Tuhan. Terimakasih… terimakasih membuat penantian ini tak pernah sia-sia, terimakasih telah menjaga hatinya untukku. Ya Robb, aku bahagia, saaaaangat bahagia. Aku ingin… Aku juga ingin hidup bersamanya, Aku ingin memenangkan cintaku. Aku tak ingin kehilangannya Robb. Aku benar-benar mencintainya!

 “Mutia sayang, kenapa menangis? Jawab pertanyaanku Mutia, apa kau mau menikah denganku?” Radith mengulang kata-katanya.

“Mutia… Mu.. tia … Mutia…”

Entah apa yang dipikirkan Mutia saat itu, karena tiba-tiba saja bayangan Ridwan muncul, kembali kata-kata Ridwan terngiang di benak Mutia…

“Andai aku punya seseorang sepertimu, menemaniku menjelang tidur sambil bercerita tentang kisah-kisah kehidupan, memelukku setiap kali aku ketakutan, mungkin aku akan tahu apa arti kasih sayang.”

“Mutia kenapa diam? Jawablah pertanyaanku, kumohon,” Radith masih mengulang pertanyaannya.

Mutia semakin bimbang, pikirannya menjadi galau.

Kak Radith sangat tegar, tapi Ridwan sangat rapuh. Kak Radith pasti bisa hidup tanpaku, tapi Ridwan bagaimana? Kak Radith adalah pembimbingku, tapi aku adalah pembimbing Ridwan. Tuhan, aku harus bagaimana? Haruskah  aku melepaskan cinta ini? Melepaskan tatapanku dari kak Radith saja sepertinya aku tak bisa. Bagaimana aku harus menolaknya? Tuhan tolong aku…

 Mutia melepaskan pelukannya.

“Kak Radith, Mutia… Mutia… Mutia nggak bisa, maaf, maaf kak Radith tapi Mutia nggak bisa.”

Mutia pergi meninggalkan Radith begitu saja.

“Mutia, buka pintunya, kenapa mengurung diri dalam kamar? Keluarlah Mutia.”

Cukup lama Radith menunggui Mutia di depan kamarnya hingga akhirnya memutuskan meninggalkan Mutia sendirian di sana.

“Mutia, maafkan kak Radith, sudah membuatmu bingung, kak Radith pergi dulu, semoga Mutia bisa lebih tenang.”

Hati yang mendung, hanya bisa diobati dengan keikhlasan, karena mendung adalah bentuk kekecewaan.

Mutia masih mencoba menata hatinya yang mendung itu. Di luar sana hujan lebat, mungkin mendung di hati Mutia itu telah sampai ke langit sana, membawanya perlahan-lahan bersama angin yang lambat laun menjadi buih, buih-buih awan yang melahirkan hujan.

Seharian itu hujan lebat. Ketegangan mulai meregang, Radith dan Mutia tak mengungkit lagi soal perbincangan mereka tadi siang, mereka membiarkan semuanya mengalir begitu saja hingga akhirnya malampun tiba.

“Mutia, soal tadi siang, nggak usah dipikirkan, kak Radith janji nggak akan mengungkitnya lagi. Sudah malam, istirahatlah.”

“Makasih kak, Mutia tidur dulu.”

“Tunggu!”

“Kenapa kak?”

“Kalau tidur mukanya manyun gitu pasti jelek! Smile pleeeeease.

“Iya kak,” Mutia mencoba tersenyum sebisanya.

Mutia masuk ke dalam kamarnya.

“Tuuut… tuuuuttttt,” bunyi telepon bordering.

Siapa yang menelepon malam-malam begini?

Hah, Ridwan?

 “Halo assalamu’alaikum Ridwan, ada yang bisa kubantu?”

“Mutia, aku… aku… maaf aku mengganggumu, di sini hujan aku…” suara Ridwan serak dan parau.

“Iya nggak apa-apa, ada yang bisa kubantu?”

“Ada, apa saja boleh, aku takut hujan Mutia, tapi ketika aku ingat kamu rasa takutku jadi hilang makanya aku telepon.”

“Berarti aku ini pawang hujan dong, buktinya bisa membuat seorang Ridwan nggak takut sama hujan?”

“Heee, bisa saja kamu Mutia.”

“Apa sudah pake kaos kaki dan kaos tangannya?”

“Belum.”

“Pakailah, pasti jadi hangat dan rasa takutmu akan berkurang.”

“Iya, ini sudah kupakai.”

“Hangat kan?”

“He em.”

“Mutia…”

“Apa?”

“Bisakah kau bercerita seperti kemarin malam? Aku ingin mendengar ceritamu lagi.”

“Bisa… kamu ingin aku cerita apa?”

“Tentang cinta, cinta dan kasih-sayang, aku ingin tahu dua hal asing itu.”

“Okey, baiklah, aku akan bercerita tentang kisah cinta, judulnya kisah cinta Alif.”

“Kisah cinta Alif? happy ending kan?”

“Pasti dong, mau dengar nggak?”

“Ya sudah, silakan.”

“Alif adalah lelaki penyendiri, dalam hidupnya ia tak pernah mengenal cinta, parasnya sangat tampan, tapi lelaki ini aneh, karena dalam hidupnya hampir tidak ada seorang perempuan.”

“Seperti aku?”

“Mungkin.”

“Terus gimana?”

“Tapi pada suatu ketika ia mengenal seorang perempuan, perempuan yang menurutnya sangat usil, tukang ikut campur, dan selalu ingin tahu urusan orang. Namanya Sofhy.”

“Nama yang lembut, terus?”

“Alif semakin nggak suka dengan perempuan itu karena tanpa sadar rahasia hidup Alif perlahan-lahan terbuka, dan anehnya Sofhy semakin ingin tahu saja dengan kisah hidupnya. Keanehan demi keanehan pun terjadi, entah kenapa Alif mulai suka dengan Sofhy, karena hanya Sofhy yang membuatnya nyaman, Sofhy ternyata penyayang, Sofhy juga seperti hujan yang selalu menyejukan. Tapi sayang, Alif nggak percaya diri, ia hanya bisa menyimpan rasa itu dalam hati, hanya bisa menyimpan foto Sofhy dalam dompet kecilnya. Padahal seandainya Alif berani mengatakan cinta, si Sofhy nggak akan menolaknya.”

“Dari mana kamu tahu Mutia?”

“Aku kan pengarangnya, harus tahu.”

“Iya deh, terus gimana lagi? Aku ingin tahu perasaan Sofhy sama Alif.”

“Tadinya Sofhy hanya merasa iba, tapi anehnya, perasaan itu semakin berkembang, perasaan dibutuhkan, perasaan yang begitu erat di hatinya, perasaan yang membuat ia tak bisa lepas dari Alif, justru setelah tahu kekurangan Alif, Sofhy tak bisa meninggalkannya. Sofhy tak tega melihat wajah yang innocence itu terluka.”

“Lalu bagaimana? Apa mereka jadian atau malah menikah?”

“Cerita itu hanya kamu yang bisa melanjutkannya Ridwan, kamulah penentu cerita itu.”

“Maksudnya apa Mutia?”

“Kejar cintamu dan jangan menyerah ya?! Sudah malam nih, aku ngantuk mau bobok dulu assalamu’alaikum.”

“Mutia tunggu! Aku belum selesai bicara… Mutia.”

Mutia menutup teleponnya.

Ridwan Ridwan, cepatlah katakan cintamu sebelum aku berubah pikiran!

 “Tuuuuuuutttt… tuuuttttttttttt,” telepon kembali berdering.

Telepon saja terus aku nggak akan mengangkatnya wekkksss

Kotak masuk     “Kenapa nggak diangkat Mutia?”

Jawab                   “Orangnya sudah bobok.”

Kotak masuk      “Terus kenapa bisa jawab sms-ku?”

Jawab                   “Ini kan tangannya, bukan matanya wekks :P”

Kotak masuk      “Apa cerita tadi itu tentang kisah kita? Kenapa aku merasa itu seperti kau dan aku?”

Jawab                   “Pikir saja sendiri.”

Kotak masuk      “Sudah malam, aku nggak bisa mikir.”

Jawab                   “Ya sudah kalau nggak bisa mikir mending bobok saja, okey? See you ^_*”

 

“Uk uk uk uuuuukkkkkk

Uk uk uk uuuuukkkkkk

Uk uk uk uuuuukkkkkk”

Udah jam 5 pagi ternyata, hah? Kenapa masih banyak kotak masuk? 8 panggilan tak terjawab? Kubuka dulu ah sebentar.

Kotak masuk      “Aku belum selesai.”

Kotak masuk      “Mutia, beneran bobok ya?”

Kotak masuk      “Tega sekali membuatku berpikir semalaman.”

Kotak masuk      “Mutiaaaaa.”

Kotak masuk      “Hallloooowwwww”

Kotak masuk      “Mrs. Judge @_@ sudah jam 2 pagi.”

Kotak masuk      “Kenapa aku dicuekin? Sekarang sudah jam 3 pagi, aku nggak bisa tidur juga.”

Kotak masuk      “jam setengah 4 pagi ni Hikz 😥 “

Masya Allah, ini anak ckckckck, bikin aku ketawa geli aja. Ridwan Ridwan, tapi kasihan juga, aku balas dulu.

 Jawab                   “Maaf Ridwan, aku semalam ketiduran.”

“Tuuuuttttt… tuuuuuuuttttttt… ”

Ridwan? Angkat nggak ya? Angkat ajalah.

 

“Halo assalamu’alaikum Ridwan.”

“akhirnya dijawab juga, wa’alaikum salam.”

“Kamu nggak tidur semalaman ya?

“Heee, nanti siang bisa ke sini nggak Mutia?”

“Biasanya aku selalu datang, iya kan?”

“Iya sih, aku cuma mau memastikan, pasti datang kan?

“Insya Allah. Kenapa, ada yang mau dibicarakan?”

“Aku mau mengakhiri cerita semalam biar happy ending

“Sudah tahu caranya?”

“Tahulah.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari hati.”

“Owh, ya sudah aku datang”

“Aku jemput boleh?”

“Nggak usah, aku sudah biasa sendiri, nggak enak sama kak Radith”

“Ya sudah, sampai ketemu nanti siang ya, assalamu’alaikum Mutia.”

“Wa’alaikum salam.”

 

*******************************************

“Keberadaanmu tadinya tak penting, sangat tak penting dalam hidupku, kamu wanita menyebalkan, wanita sok tahu dan sok perhatian. Tapi aku salah, kamu bahkan lebih indah dari aroma edelwaise yang melingkungi ruang tamuku, aroma yang selalu ingin kuhirup tiap hari. Lebih hangat dari danau kecil buatanku di villa. Ya, kamu benar tentang diriku, aku hanyalah pria kesepian yang rindu kehangatan, karena itu aku membuat danau buatan yang penuh dengan suasana hangat, aku berharap kelak bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan seseorang yang hangat sepertimu. Apa kamu…”

“Ya, aku mau. Aku mau menjadi apapun untukmu, asal kamu mau berusaha sembuh, asal kamu tidak menyerah dengan trauma kecilmu, asal kamu mencoba meraih semua masa kecilmu yang telah terenggut dulu, aku pasti mau.”

“Aku janji akan berusaha, tapi kamu juga harus janji Mutia, mau menemaniku selamanya.”

“Insya Allah.”

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

Iklan

27 thoughts on “Hujan ( part 5 )

      1. Hadoh sayang, cup cup cup, jangan nangis ya, sini peluk dulu, hug hug.😘

        Coba sj skr mindset nya diubah sdkit, hujan itu kan rahmat dr Tuhan. Pikirkan hal yg menguatkan saat hujan dtg syg, contohnya Linda jd pinter dan mahir berpuisi gara2 hujan, ya kan? 😊

        Disukai oleh 1 orang

  1. koq akunya yang jadi baper… 🙂

    Itu si Ridwan persis banget penggambarannya dari “sifat” laki-laki yang bakal nungguin si cewek ngebalas pesannya. Nunggu berjam-jam padahal si cewe udah enak2nya bobo -,- *pernah ngalemin sih 😀

    Disukai oleh 1 orang

      1. Iyaa..
        Amiin Ya Rabb, cuma sekarang udah capek bermain dengan “cinta” yang semu. *eh itu cinta dalam pengertian yang sesungguhnya ya, bukan kamu 😀

        Disukai oleh 1 orang

      2. Haha, iya, berarti kamu sering kesedek gitu, soalnya namanya Cinta sering disebutin tiap hari.

        Btw kamu itu jenis cinta apa, cinta yang pahit atau cinta yang manis? *eh 😀

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s