Hujan ( Part 4 )


That’s what real love is…

cinta

Derai hujan masih belum juga mereda. Hawa dingin mulai menyelusup masuk melalui sela-sela kecil yang bisa terjangkauinya. Seolah-olah hamparan debu yang tertiup angin, mereka berlomba dan saling mengejar ke tempat yang membuatnya paling nyaman. Andai bisa dilukiskan, mungkin begitu juga yang terjadi dengan sel-sel saraf otak Mutia. Mereka sedang berusaha keras memberitahu Mutia tentang apa yang terjadi, semua praduga mulai muncul satu demi satu membuatnya semakin gusar dan tak tenang.

“I can make it through the rain,

I can stand up once again,

On my own and I know that I’m strong enough to mend,

And everytime I feel afraid,

I hold tighter to my faith,

And I live one more day,

And I make it through the rain”

 

Suara lembut Mariah Carey dari ponsel Mutia mengagetkannya.

“Mutia, kamu di mana? Cepat pulang!” suara Radith di telepon tampak gusar.

“Eee..eeee…Mutia…Mutia di rumah Ridwan kak, Mutia pulang besok pagi, kak Radith tenang saja, di sini ada pak Budi, jadi Mutia tidak akan kenapa-kenapa kalau menginap di sini,” bujuk Mutia meyakinkan Radith.

“Kamu itu seorang perempuan Mutia, tidak baik menginap di rumah laki-laki apapun alasannya, kurasa kamu pasti sudah paham dengan hal itu.”

“Mutia tahu kak, tapi ini situasinya mendesak, Mutia tidak bisa meninggalkannya sekarang, Mutia janji ini adalah hari pertama dan terakhir Mutia menginap di rumahnya, boleh ya kak,” kali ini Mutia lebih keras membujuk Radith, tapi sepertinya Radith tak mau mengerti karena seketika itu juga Radith mematikan ponselnya.

Hhhhhh, maaf kak, tapi Mutia sungguh menginginkan masalah ini cepat selesai, rasanya Mutia mulai lelah.

 

“Non cepat ke sini, cepatlah!”

“Kenapa pak Budi, apa yang terjadi?”

“Cepatlah masuk ke kamar den Ridwan.”

Mutia mengernyitkan kening mendengar ucapan pak Budi, ia masih bingung.

“Tenang saja non, saya akan masuk bersama non Mutia,” sepertinya pak Budi menangkap kebingungan Mutia.

Keduanya masuk ke kamar Ridwan perlahan.

“Ridwan kenapa pak? Kenapa tubuhnya menggigil begitu? Bukannya tempat ini sudah dipasang penghangat ruangan? Tapi kenapa ia masih kedinginan seperti itu?”

“Ssssttttt, ngomongnya jangan kenceng-kenceng non, itu sudah kebiasaan den Ridwan kalau hujan lebat seperti ini, ia ketakutan, menggigil, kadang sampai berteriak-teriak dan mengamuk!”

“Tapi kenapa bisa begitu?”

“Saya nggak bisa menjelaskannya non, sekali lagi maaf, coba non Mutia dekati den Ridwan, saya rasa den Ridwan hanya butuh kasih sayang karena den Ridwan selalu sendirian.”

“Tapi saya kan, eeee…”

“Jangan khawatir non, saya nggak akan beranjak sedikitpun dari sini,” tutur pak Budi menenangkan Mutia.

Perlahan Mutia berjalan mendekati Ridwan yang masih membenamkan wajahnya di kedua lututnya, dengan setengah takut ia mendekat dan berbisik pelan pada Ridwan.

“Ridwan, kamu kenapa? Kenapa menggigil seperti ini? Apa yang terjadi padamu?”

“Wanita itu… wanita itu lagi! Tolong aku Mutia.”

Seperti anak kecil yang sedang mengaduh kesakitan, menggigil, menangis, dan ketakutan. Kelopak matanya telah basah, wajahnya mulai kusut dan lelah, seperti lilin kecil yang telah kehilangan cahayanya. Kondisi Ridwan membuat Mutia iba dan kasihan, Mutia segera memeluknya, mengelus punggungnya perlahan, memperlakukannya seperti anak kecil yang haus kasih sayang.

“Wanita itu siapa? Wanita yang mana? Apa kamu mau menceritakannya padaku? Aku janji akan membantumu mambuatnya pergi, pergi dari ingatanmu yang kekal asal kamu mau menceritakannya padaku,” bujuk Mutia perlahan.

“Wanita itu menghapus ingatanku tentang kebahagiaan, wanita itu menyita semua masa kecilku, ia selalu menyiksaku Mutia, ketika aku menangis, ia semakin keras menyiksaku, ketika aku minta tolong dan mengiba padanya, ia memukuliku tanpa ampun! Apa salahku Mutia? Aku selalu menganggapnya ibu, tapi ia memperlakukanku seolah aku ini binatang! Seluruh tubuhku penuh luka, tapi hatiku lebih terluka, saat dia tertawa di atas deritaku, ingin sekali aku membunuhnya, tapi aku tidak bisa, aku terlalu lemah waktu itu, dan setiap kali hujan datang, ingatan tentang rumah tua dekat villa itu selalu datang, ia kerapkali menyiksaku, karena hujan membuat suaraku samar. Aku benci hujan! Karena hujan mengingatkanku padanya, karena hujan membawa kenangan itu kembali! Tolong aku Mutia, aku ingin bayangan itu pergi dariku, tolong aku!”

Kata-kata Ridwan membuncah tiada henti. Kata-kata yang selama ini ditunggu Mutia akhirnya terungkap juga. Kata demi kata itu membuat Mutia kehilangan kata-kata, sarat dan penuh kesedihan.

Ya Tuhan, jadi itu yang selama ini dipendam Ridwan? Aku… aku kasihan sekali padanya. Ridwan kehilangan masa kecilnya yang bahagia oleh ibu tirinya sendiri dan ia juga membenci hujan, betapa kontras warna kehidupanku dengannya, aku yang sangat mencintai hujan karena tiap derainya memberiku kekuatan, aku juga punya ibu tiri, tapi ibu tiriku memperlakukanku seolah aku ini seorang putri. Ternyata dibalik harta benda yang melimpah, ia sangat tersiksa, ia tidak pernah bahagia!

 Tanpa terasa bulir bening jatuh dari mata Mutia yang sayu.

 “Tenanglah Ridwan, cobalah tidur, sini kubantu kenakan selimutmu, jangan menangis lagi. Mungkin Tuhan terlalu sayang padamu hingga Dia memberimu cobaan ini, aku yakin kamu pasti bisa melaluinya, percayalah padaku. Kamu bukan Ridwan yang kecil dulu, kamu adalah lelaki dewasa yang tegar dan kuat.”

“Tapi wanita itu akan datang lagi.”

“Tidak selama ada aku, aku yang akan mengusirnya dari ingatanmu.”

“Benarkah?”

“Iya benar, sekarang cobalah tidur.”

“Kamu tidak akan pergi dari sini kan Mutia?”

“Tidak.”

“Kamu bohong! Setelah aku tidur nanti kamu akan pergi, dan kamu akan membuat wanita itu datang lagi dalam mimpiku.”

“Aku janji tidak akan pergi.”

“Apa aku boleh tidur di pangkuanmu, agar aku tahu kamu tidak akan pergi?”

Sejenak Mutia terdiam, ia mengernyitkan kening dan memandangi Ridwan, lalu berganti arah memandangi pak Budi yang belum beranjak sedikitpun dari tempat ia berdiri sejak tadi. Terlihat dari jauh pak Budi mengangguk pelan, memberikan isyarat setuju pada Mutia.

“Mutia, apa aku boleh?” Ridwan mengulang pertanyaannya, masih dengan tubuh yang menggigil dan ketakutan.

“Boleh.”

Kini, Ridwan ada di pangkuan Mutia dengan selimut tebalnya, perlahan Mutia mulai mengelus lembut kening Ridwan, dan mulailah ia bercerita.

“Ridwan aku punya sebuah cerita, apa kamu bersedia mendengarkannya?”

“Apa?”

“Dulu, tepatnya 23 tahun yang lalu, di depan pintu sebuah rumah yang sederhana, di tengah derasnya hujan, ada seorang bayi perempuan yang sedang menangis, tangisnya semakin lama semakin kencang, tapi karena hujan juga berlomba dengan suaranya, tangis si kecil pun tak terdengar, entah untuk berapa jam ia menangis sendirian di sana, hingga akhirnya ia berhenti juga menangis.”

“Kasihan sekali bayi itu, kenapa tidak ada yang menolongnya?” Ridwan mulai bereaksi.

“Karena waktu itu sudah terlalu malam, semua orang sudah lelap dalam tidurnya.”

“Lalu apa yang terjadi dengan bayi itu?”

“Keesokan harinya, ba’da subuh, ada seorang wanita membuka pintu, ia terkejut kenapa ada bayi kecil di depan rumahnya dan bertambah terkejutnya ketika ia menyentuh tubuh si kecil, karena tubuhnya sangat dingin, dan kepalanya sangat panas!”

“Kasihan sekali, lalu bagaimana? Apa bayi itu selamat? Tega sekali wanita yang meninggalkannya!”

“Alhamdulillah bayi itu selamat dan hidup dengan sangat bahagia sampai sekarang, di tangan seorang ibu yang kata orang ibu tiri yang sangat menyayanginya. Dan setelah hari itu, ia jarang sekali sakit setiap kali kehujanan, mungkin air hujan yang menemaninya semalaman ketika ia masih bayi memberinya kekuatan, karena setelah hari itu ia sangat menyukai hujan.”

“Cerita yang indah, dari mana kamu dapat cerita itu?”

“Ibuku,” jawab Mutia singkat.

“Ibumu? Jadi bayi itu adalah…”

“Aku…akulah bayi itu, aku juga sepertimu Ridwan, aku tak tahu bagaimana wajah ibu kandungku kini dan di mana ia berada, masih hidup ataukah tidak, tapi aku tidak akan menyalahkannya, karena Tuhan telah menggantinya dengan keluarga yang lebih indah, seorang ibu dan kakak yang sangat menyayangiku.”

“Kamu beruntung sekali Mutia, kurasa Tuhan sangat menyayangimu, karena kamu dilimpahi dengan kebahagiaan.”

“Aku hanya ingin membuka matamu Ridwan, bahwa tidak semua wanita di dunia ini jahat, ibuku contohnya, kamu… kamu hanya kurang beruntung, karena kamu punya ibu tiri yang jahat.”

“Mungkin kamu benar, tapi semua sudah terlambat bagiku, aku telah kehilangan segalanya, aku juga tidak tahu seperti apa rasanya disayangi, kata-kata itu terdengar sangat asing di telingaku.”

“Belum, belum terlambat, kamu mungkin telah kehilangan masa kecil, tapi kamu tidak akan kehilangan masa depan, karena kamu bisa mewujudkannya dari sekarang, dengan mencoba melupakan bayangan wanita jahat itu. Dan ayahmu, kamu masih punya ayah kan? Dimana ia?”

“Hhhhh, ia datang setahun sekali, ia tinggal di luar negeri, katanya pekerjaannya lebih menjanjikan di sana, kurasa itu hanya alasan saja untuk menjauhiku. Sudahlah, jangan bertanya tentangnya lagi,” Ridwan menyudahi ceritanya.

“Ya sudah, apa kamu lebih tenang sekarang, sepertinya tubuhmu tidak menggigil lagi.”

“Belum, aku sama sekali belum tenang, kalau kamu pergi, nanti tubuhku bisa menggigil lagi, jadi kumohon jangan pergi,” kali ini tatapan Ridwan seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Mutia mengangguk pertanda setuju.

“Andai aku punya seseorang sepertimu, menemaniku menjelang tidur sambil bercerita tentang kisah-kisah kehidupan, memelukku setiap kali aku ketakutan, mungkin aku akan tahu apa arti kasih sayang, terimakasih Mutia”

“Iya, sama-sama,” Mutia begitu terharu melihat kondisi Ridwan, tetes demi tetes airmatanya kembali berjatuhan.

Dua jam sudah berlalu, Ridwan sudah terlelap dalam tidurnya, perlahan Mutia melepaskan kepala Ridwan dari pangkuannya, menggantikannya dengan bantal. Ia beranjak dari dipan berukuran 200 x 200 cm itu. Tak sengaja tangannya menyentuh sesuatu dan menjatuhkannya.

Up’s apa ini? Dompet kecil berwarna cokelat ini pasti milik Ridwan, aduh, isinya jadi berantakan, lebih baik kurapikan dulu, baru aku taruh di meja lagi. Foto apa ini? Hahhh, fotoku? Kenapa Ridwan menyimpan fotoku?

 “Andai aku punya seseorang sepertimu, menemaniku menjelang tidur sambil bercerita tentang kisah-kisah kehidupan, memelukku setiap kali aku ketakutan, mungkin aku akan tahu apa arti kasih sayang,” kata-kata Ridwan kembali terngiang di benak Mutia.

Ya Tuhan, jadi itu alasan Ridwan menjauhiku? Karena ia menyukaiku? Aku harus segera pergi dari sini, sebelum Ridwan tahu kalau aku menemukan foto ini.

 Setengah berlari Mutia meninggalkan kamar itu, memergoki sendiri kalau seseorang menyukainya membuatnya gemetar, ini perasaan baru untuknya.

Aku harus pulang. Ya, lebih baik aku pulang saja sekarang.

“Non, mau kemana? Sudah malam, menginap saja di sini non, saya sudah menyiapkan kamar tamu untuk non Mutia.”

“Apa ada kuncinya?”

“Non ini aneh-aneh saja, ya ada non, tenang saja non, di sini aman koq, dan soal den Ridwan, saya sudah mengasuhnya sejak kecil, memang sikapnya agak aneh tapi den Ridwan tidak akan berbuat macam-macam.”

Kata-kata pak Budi sedikit melegakan Mutia.

“Baiklah pak, saya menginap malam ini.”

 


 

Mutia berdiri di depan jendela kamar ruang tamu keluarga Ridwan, aneh rasanya di kawasan perumahan elite jam segini masih membuka jendela sambil asyik memandangi langit yang bahkan tak mau menampakkan cahaya sedikitpun untuknya. Hanya temaram, hening bersama desah angin yang mencoba membisikkan kisah-kisah kehidupan manusia seharian tadi.

Disukai seseorang seperti Ridwan, bagaimana rasanya? Itu bukan suatu kebanggaan, tapi aku… apa aku bisa menolaknya jika ia memintaku menjadi miliknya, apa aku sanggup?

Hhhhhhh…

Padahal cinta itu, cinta itu ada di depanku setiap hari, semakin lama semakin besar saja rasa ini, perlakuannya padaku, sentuhannya, kasih-sayangnya, pengertiannya, nasehat-nasehatnya, kedewasaannya, hanya ia! Mungkin ia telah ada sebelum kata cinta itu sendiri ada, kak Radith, aku sangat mencintainya. Aku tak berusaha mencegahnya karena aku tahu perasaan ini tidak terlarang, ia bukan kakak kandungku, apa salah aku mencintainya?

Meski aku berulang kali menghapusnya, tapi tak bisa, kak Radith-lah cinta itu… cinta yang kurasakan setiap hari.

Tapi sepertinya, aku harus menghapus bayangan-bayangan indah itu. Seperti hujan yang menemaniku semalaman waktu aku masih kecil dan memberiku kekuatan, aku juga ingin menjadi kekuatan bagi Ridwan, hidup ini akan lebih indah dengan cinta tapi tidak akan jadi indah jika membiarkan seseorang terluka karena cinta kita, karena cinta baru berharga ketika kita mampu berbagi dengan sesama.

 

“That’s what real love is… Put someone else’s happiness above your own no matter how hard it is and how much it killed you to do so.”

Itulah arti cinta yang sebenarnya…Meletakkan kebahagiaan orang lain di atas dirimu-sendiri meski itu terasa berat dan  hampir-hampir bisa membunuhmu.

 

 

TO BE CONTINUED

Iklan

23 thoughts on “Hujan ( Part 4 )

    1. Ga ada mas, horornya udah pindah tuh ke postingan mas Andik yg kmrin, hantu Valak ( The Conjuring 2 ) yg dibully sm mas Andik smp jd org2an sawah. Kemarin si Valak nangis, ngadu sama Cinta katanya ga terima diperlakuin gtu. 😁

      Btw, yg episode 5 udah ada tuh mas, baca lg ya, nanti comment lg, kl ga nongol jg commentnya tinggal Cinta cr di spam hehe. 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s