Hujan ( Part 1 )


Mission Impossible

hujan-1

“Tuhan, aku tahu…

Semua keindahan ini juga pasti berlalu, tapi seandainya harus berlalu, aku ingin seperti hujan. Membekas indah di bunga-bunga, membasahi tanah kering, dan memberi kesejukan pada bumi setelah dahaga.

Tuhan, jika umur ini tak mampu mencukupi, berilah aku sedikit waktu lagi untuk membuat semua orang di sekitarku bahagia. Biarkan aku membekas di hati mereka…membekas dengan indah! Aamiin.”

 

Doa itu seolah membahana ke angkasa, menjelma menjadi butiran-butiran indah yang muncul ketika bumi mulai basah. Hujan. Ia benar-benar seperti hujan.

Hujan yang menebarkan kesejukan,

Hujan yang membawa kedamaian,

Hujan…hujan yang indah untuk dikenang.

 

“Mutia, kau datang lagi, bagaimana kabarmu sayang? Aku rindu sekali padamu. Apa kau baik-baik saja di sana?” sambil memperhatikan rintik-rintik hujan di dalam ruang kerjanya yang serba mewah, lelaki separuh baya itu terus saja berbicara, seolah sedang bercengkrama dengan sang kekasih, sesekali ada bulir bening yang jatuh dari matanya, sesekali juga ia tersenyum sambil menyeka sisa-sisa airmatanya, bicaranya begitu mesra, membuat siapapun iri dengannya, dengan sang hujan.

Terlihat jelas garis-garis di matanya yang mulai keriput, rambut alis yang separuhnya sudah memutih, juga gurat-gurat di keningnya yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Namun semua itu tak bisa menutupi aura ketampanannya, dengan senyum khasnya yang ramah, hidung mancung, dan sorot matanya yang tajam, lelaki berumur 50 tahun itu masih terlihat menawan.

“Pak Ridwan, meetingnya sudah mulai pak” kata Via, sekretaris muda yang sudah bekerja di kantornya sejak 1 tahun yang lalu.

“Tunggulah sebentar, 10 menit lagi, aku sedang berbicara dengan Mutia-ku”

Via pun mengangguk meninggalkan direktur separuh baya itu sendirian.

Sejenak Ridwan merenung, matanya menerawang ke masa lalu, masih jelas kenangan itu di benaknya, kenangan terindah bersama Mutia, istri yang sangat dicintainya namun tak pernah bisa memberikan cinta untuknya.

 

 

 


 

 

Januari 1986,

 

Bulan yang tidak asing lagi dengan hujan. Ya, Januari memang sangat kental dengan hujannya, dimulai dengan tahun barunya yang kata orang Chinese akan membawa keberuntungan bila semakin lebat hujannya. Begitu pula januari tahun ini, tak luput sedikitpun dari sentuhan sang hujan.

Tak bisa dipungkiri lagi kalau hujan sering menghambat aktivitas kerja, lalu-lintas jadi macet, jalan-jalan jadi licin, becek, dan membuat malas para penikmat dunia.

Tapi tidak dengan Mutia, gadis ini sangat berbeda, ia sangat menyukai hujan, menurutnya hujan adalah hal yang paling murni, menyejukkan, dan selalu mampu meredam amarah dan emosinya.

Hari ini, setelah menempuh perjalanan melelahkan selama hampir 11 jam dari Semarang sampailah ia di Jakarta, bersama dengan seorang lelaki bernama Radith yang berjanji akan memberikan pekerjaan unik untuknya.

Kenapa disebut unik? Karena dalam pekerjaan ini tidak ada batas waktu, terserah Mutia kapan mau memulainya, tapi konsekuensinya jika gagal dalam pekerjaan ini, maka selamanya ia harus bekerja untuk atasannya, dan yang paling unik adalah atasannya itu sangat membenci kaum Hawa, jadi dia benar-benar harus siap menghadapi ketidaknyamanan itu.

Lalu apa sebenarnya pekerjaan itu?

 

“Hujan lagi. Gini nih kalo jalan bareng kamu Mutia, ggak di Semarang nggak di Jakarta, selalu saja apes kena hujan, huftt, jadi basah semua ni bajuku!” gerutu cowok hitam manis berperawakan jangkung itu.

“Hehe, kan Mutia udah bilang, Mutia ini seperti hujan, jadi dimana pun Mutia ada disitu pasti akan turun hujan, lagian ini kan cuma air kak Radith-ku sayang, jadi nggak akan sakit koq meskipun kita kena tumpahannya, nih kalo nggak percaya, biar aku buka payungnya ya?!”

Mutia tiba-tiba saja membuka payungnya dan” Zrrrrrrhhhhhhhhhhhhhhhhh…..” dengan derasnya air hujan itu menyerbu muda-mudi itu.

“Eh eh eh, Mutiaaaa apa-apaan sih, udah deh balikin payungnya, sini cepat balikin!” Radith mencoba mengambil kembali payungnya yang telah dibawa lari Mutia.

Sementara Mutia, seperti tidak ada beban ia berlarian kesana-kemari, mencoba menghindar dari kejaran Radith. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tercengang, ada yang tertawa, ada juga yang berdecak sinis dan berkata “anak muda jaman sekarang, kalo pacaran udah kayak di sinetron aja, pake acara hujan-hujanan segala”

“Tuh kan kita dibilangin lagi pacaran? Nggak malu ya dibilang pacaran sama kakak sendiri?”

“Bodoh amat, yang penting kan aku nggak pacaran sama kakak, weks” kali ini Mutia semakin membuat Radith gemas dengan tingkah kekanak-kanakannya.

Begitulah Radith dan Mutia, meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi hal itu tidak membuat kasih-sayang  di antara keduanya berkurang.

Setelah puas berhujan-hujanan, mereka pun melanjutkan perjalanan, menuju kawasan elite di bilangan Jakarta Pusat.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kita” kata Radith sembari tersenyum lega.

“Wow keren, ini rumah apa istana ya kak? Asli bagus banget, jadi nggak sabar pengin lihat dalemnya, pasti lebih keren, ckckckckck…” celetuk Mutia dengan tiba-tiba.

“Sst…jangan kenceng-kenceng gitu lah dek, entar ketahuan kalo kita ini kampungan, kecilin dikit suaranya”

“Ya memang kita ini dari kampung kan? Kenapa musti malu?”

“Emang susah ngomong sama kamu dek, nggak mau kalah!”

“Eh kak, kenapa ibu itu? Kenapa diomelin seperti itu? Kasihan sekali”.

“Udahlah dek, jangan ikut campur, kan sudah kuceritakan kalau pemilik rumah ini sangat benci dengan wanita, apalagi yang sudah setengah baya seperti itu, ia sangat membencinya dan jangan heran kalau ia juga akan bertindak sewenang-wenang terhadap wanita itu, jadi nggak usah ikut cam…”

Belum sempat Radith melanjutkan kata-katanya, sudah terdengar suara tamparan dari kejauhan sana. Ternyata Mutia sudah menghampiri perempuan tua tadi dan menampar orang yang telah sewenang-wenang membentak-bentak perempuan tadi.

“Astaghfirullahal’adhiiiim, Mutia, ceroboh sekali ia, kenapa pula ia harus menampar Ridwan. Bagaimana ini?”

Setengah berlari Radith menghampiri Ridwan, sahabat lamanya itu.

“Ridwan, ini…ini hanya salah paham, Mutia nggak tahu kalau kamu itu Ridwan, jadi tolong maafkan adekku, ia nggak sengaja, iya kan Mutia?” dengan isyarat mata, Radith membujuk Mutia agar mengikuti perkataannya. Tapi Mutia malah menggelengkan kepalanya, ia merasa jengah dengan tingkah lelaki kasar di depannya itu.

“Owh, jadi kamu yang bernama Ridwan? Dasar keterlaluan! Padahal ibu ini kan cuma memecahkan vas bunga, aku yakin kau nggak akan kekurangan uang untuk membeli 10 buah vas bunga yang serupa. Aku kira kamu cuma membenci wanita muda, tapi yang sudah tua juga masih kamu perlakukan sewenang-wenang, dasar lelaki kasar! Jangan harap aku akan bekerja untukmu, apalagi menyembuhkan trauma-mu! Sembuhkan saja sendiri! Ayo kak, kita pulang saja, aku muak melihat tingkah lelaki kasar ini!”

“Hai nona, kau nggak tahu apapun tentang diriku, jadi jangan sok tahu!”

No…no…no…no…! Aku nggak mau tahu dan aku mau pulang sekarang, selamat tinggal!”

“Mutia, tunggu kakak, kamu jangan seperti itu dong dek, ini sahabat kakak yang mau kakak kenalin ke kamu, tolong hargai kakak…” ucap Radith memelas.

“Maaf kak, Mutia tunggu di luar pagar saja, Mutia nggak bisa bekerja di tempat orang yang nggak bisa menghormati wanita yang lebih tua”

Mutia pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Hhh, Radith…Radith… kenapa kamu bawa wanita seperti itu untuk menyembuhkan traumaku? Aku butuh wanita yang penuh kasih, bukan wanita kasar seperti itu, baru ketemu saja sudah main tampar. Bukannya aku sembuh, malah semakin parah nanti, cari yang lain saja…”  nada Ridwan sedikit kecewa.

“Tunggu dulu Ridwan, itu terjadi karena kamu belum kenal siapa Mutia-ku, ia sebenarnya gadis yang penuh kasih, ia juga sangat lembut, selama ini, aku belum menemukan hal yang belum bisa ia atasi dan aku mengatakan ini bukan karena ia adikku, tapi karena ia memang seperti itu, ia lembut, sejuk, dan penuh kasih”

“Iya tapi kamu lihat sendiri kan, tadi adik yang kamu bangga-banggakan itu menamparku.”

“Aku tahu, tapi aku ingin membantumu, selama ini kamu selalu membantuku dari segi materi sejak aku kuliah sampai sekarang, dan sekaranglah waktunya untukku membuktikan kalau aku bisa berbuat sesuatu untukmu sahabatku. Dalam hatiku ini, aku sungguh nggak rela, kalau kau membantuku lagi tanpa aku melakukan sesuatu untukmu. Aku akan bicara pada Mutia, ia pasti mengerti dan akan membantumu.”

“Ya sudah, kalau kau bersikeras, lakukan saja, tapi tolong ajari adikmu jadi gadis yang lembut ya, terutama saat berbicara denganku, OK?”

“Insya Allah, aku pergi sekarang, assalamu’alaikum.”

“OK, wa’alaikum salam.”

Radith menghampiri Mutia, lalu tak lama mereka pergi meninggalkan rumah Ridwan.

Mereka menempati sebuah rumah kontrakan kecil milik Radith.

Kembali Radith mencoba membujuk Mutia, dalam hatinya, ia akan melakukan segala cara agar Mutia mau bekerja dengan sahabat baiknya itu.

“Dek, apa kamu nggak bisa mempetimbangkan lagi keputusanmu? Sebenarnya Ridwan itu orang yang sangat baik, kan sudah kakak ceritakan, selama kakak kuliah sampai sekarang saat kakak kekurangan, ia yang menolong kakak, apa salahnya kakak menolongnya? Lagipula kita butuh uang untuk biaya berobat ibu di RS, iya kan?”

“Iya sih kak, tapi lelaki itu sepertinya sangat membenci wanita, bagaimana nanti kalau ia tidak bisa sembuh? Bukankah aku akan selamanya bekerja di sana sampai aku bisa mengembalikan jumlah uang sebesar itu? Itu kan perjanjiannya kak?”

“Karena itu berusahalah. Aku yakin Mutia-ku pasti bisa mengatasi apapun. Apalagi hal sekecil itu, ingat tujuan kita dek, agar ibu sembuh, kita sebagai anaknya harus melakukan yang terbaik untuknya.”

“Ya sudah, beri waktu Mutia semalam saja, insya Allah besok akan Mutia putuskan”

“Baiklah adekku sayang, semoga keputusannya besok memuaskan, sekarang pergilah tidur, kakak tidur di luar saja. Selamat tidur Mutia-ku…” ucap Radith sambil mengacak-acak rambut Mutia.

“Iiiiiiih apaan sih kak, selalu saja mengacak-acak rambutku, aku ini bukan anak kecil lagi tahu!”

“Asyik ada yang ngambeg!” Radith terkekeh seraya meninggalkan Mutia.

“huft, dasar kak Radith!”

 

Kini tinggallah Mutia sendirian.

 

“Ya Allah, aku harus bagaimana? Aku sangat membenci lelaki yang tidak bisa menghargai wanita dan sekarang aku di hadapkan pada masalah yang sama, aku harus bekerja padanya dan menyembuhkan trauma masa kecilnya yang sangat membenci wanita, apa aku bisa? Kalau terhadap ibu tadi siang itu saja ia sangat galak apalagi terhadapku? Dan seandainya selamanya ia tidak sembuh, aku akan selamanya ada di situ karena aku tahu aku tidak akan mampu mengganti jumlah gaji yang sangat besar itu.

Tapi jika tidak kuterima pekerjaan ini, bagaimana dengan ibu? Ini kesempatanku satu-satunya, untuk membalas semua kebaikannya yang telah mengasuhku sejak kecil, hanya ini yang bisa kulakukan untuk ibuku, ibu yang sangat kusayang. Ah, lebih baik kuambil air wudhu saja, lalu tidur semoga perasaanku lebih tenang.” Kata Mutia dalam hati.

 

Jam 2 dini hari, Mutia terbangun masih dalam kegalauannya, lalu beranjak mengambil air wudhu dan sholat dua rokaat. Dan seperti biasa, selalu ia temukan kedamaian di sana, kedamaian saat mengadukan semua pada Yang Kuasa.

Dini hari yang mendung dan kelabu, mungkin seperti suasana hati Mutia saat itu, confused, namun ternyata mendung itu tidak lama, karena setelah itu hujan kembali tertumpah di sana.

“Ya Allah, apa ini jawaban yang Engkau tunjukan untukku? Bukankah aku selalu ingin seperti hujan, selalu menyejukkan dan membawa kedamainan? Kalau saat ini aku berhenti, akan jadi apa aku nanti? Tidak seharusnya aku seperti ini, ini hanya kerikil kecil Mutia. Aku yakin kamu pasti bisa melaluinya. Ya Allah, semoga kali ini hamba tidak mengecewakan-Mu, mengecewakan ibu, juga kak Radith, aamiin.”

Iklan

2 thoughts on “Hujan ( Part 1 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s