Untuk Sahabat

Hai guys, siang ini Cinta ingin membahas tentang sahabat.

Siapa sih di dunia ini yang nggak punya sahabat?

Cinta yakin, kalian para blogger tentu memiliki sahabat. Entah itu sekedar tempat untuk berbagi, mencurahkan uneg-uneg dalam panel-panel syaraf otak yang kian semrawut, atau untuk hang-out bareng ke tempat-tempat yang dianggap kekinian, dan yang jelas, sahabat adalah partner setia untuk selfie, wefie dengan gaya-gaya alay ( gaya kedua tangan ke atas, searah dan menutupi bagian muka persis seperti Pahlawan bertopeng-nya Sincan, atau kedua tangan dikatupkan menutupi muka ) tapi asli kedua gaya ini belum pernah nyoba, malu aja hihihi. ^__^> Lanjutkan membaca “Untuk Sahabat”

Ijinkan aku bertemu dengan kekasihku

2becba3f7cc19827313f55be213fbefdIjinkan aku bertemu dengan kekasihku, kekasih yang auranya berubah menjadi kuning keemasan saat diterpa mentari pagi, kekasih yang berjalan beriringan denganku saat yang lain pergi. Ya, aku tahu, terkadang pun aku khilaf dan terlupa melakukan kesalahan, namun dengan segera ia memperbaikinya dengan tutur kata yang lembut yang ia sematkan ke dalam jantung hatiku, “dinda, itu tidak benar, kau tahu, sesama manusia harus saling memaafkan, mengerti?”

Ijinkan aku bertemu dengan kekasihku, kekasih yang matanya sayu dan penuh kasih, yang mengelus lembut kepalaku dan membiarkanku bersandar di pundaknya yang teduh, lalu seulas senyum akan bertengger di sana, “bagaimana? Apakah sudah merasa baikan sekarang?”

Lanjutkan membaca “Ijinkan aku bertemu dengan kekasihku”

H minus 6

mendengarkan-headseatPic by Google

Ada saat untuk cinta,

Ada saat untuk cita,

Ada saat untuk asa,

Satu demi satu bermunculan ke permukaan, membiaskan sejuta mimpi dan harapan,

Menawarkan bahkan membius dengan rona-rona wajahnya yang rupawan.

Lama harus menyadarinya...

Tapi hari ini,

Ketika mentari lebih bersinar dari biasanya,

Ketika suara burung lebih nyaring dan merdu,

Ketika langit membentuk kawanan domba-domba putih lengkap dengan penggembalanya,

Ketika hujan rintik tiba-tiba muncul dengan sedikit sengatan mentari. Ya, ini pelangiku! Pelangi yang Tuhan ciptakan khusus untukku, untuk menjemputku.

Lanjutkan membaca “H minus 6”

Mendung

rain,umbrella,photography,portraitphotography-b54b2ba304826414d0311356e814f3d7_h

Mendung ini hanya perubahan langit, seperti itu yang scientist kemukakan lewat argument-nya yang terlalu panjang.

Namun aku memaknainya sebagai sendu, isyarat langit yang juga berduka akan kepergian seseorang, kedukaan sebagai sambutan bahwa kalian yang sedih tidak sendirian. Ada sedikit kelegaan tentu di hati mereka para insan ketika alam juga merasai apa yang mereka rasakan.

Tapi lebih jauh ketika mengamatinya, sebenarnya ada kegembiraan yang menanti. Ya, langit nan abu-abu serupa kopi berserak itu sedang berkumpul, partikel-partikel kecilnya sedang menari-nari, seperti embun di ujung lembayung yang jatuh ke tanah di pagi buta “tik tik tik” bunyi lirih yang mungkin hanya di dengar oleh semut dan dedaunan, namun ini adalah musik khas yang kupikir menyatukan partikel-partikel awan tadi.

Satu demi satu semakin banyak dan bersenyawa, mungkin terlalu gembiranya mereka bergerimis, berair kemana-mana. Ini tanda suka-cita, bahwa dalam satu kesusahan terdapat dua kemudahan.

Air yang terus melimpah dari langit itu tercurah, bagai air terjun raksasa yang tidak seorang pun tahu di mana muaranya, suara khasnya mulai menggenangi telinga, shymphony yang tak beraturan namun sungguh indah. Lalu tak lama berselang akan muncul senyum dari langit yang dibiaskan lewat cahaya-cahaya warna berbentuk setengah lingkaran yang sering disebut “pelangi”.

Aku memang tak tahu di mana muara air hujan, tapi aku tahu di mana muara pelangi, itu di matamu. Jika kau mau bersabar, percayalah mendung itu akan segera pergi.

 

 

*pernah diposkan di blogger milik Cinta dengan akun berbeda.

Gara-gara Batik

Cerpen gara-gara batik, 4012 kata

Ini satu-satunya cerpenku yang pernah aku ikutkan lomba ( lomba cerpen kebudayaan 2013 lalu yang diadakan oleh PPI Yaman, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Yaman ), dan hasilnya, tadaaaaaaa! Nggak menang ^__^>. Tapi waktu itu, seseorang yang sudah kuanggap adek berinisial LS bilang, tenang aja ka, meskipun nggak menang, tapi karya kakak dibukukan bersama 29 karya terbaik lainnya. Hihi, syukurlah. Saat aku membuatnya, aku harus melakukan pengamatan langsung, dan perlu nara sumber untuk bertanya perihal kain yang digunakan untuk membatik, apa saja nama yang mereka gunakan untuk setiap gambar yang mereka tulis dengan malam lilin yang menurutku lucu, unik, dan kreatif, juga bagaimana proses pembuatannya.
Semoga yang membacanya nanti bisa mengenal “Batik”, salah satu hasil kebudayaan leluhur dari kota kecilku, Pekalongan. Aamiin.
Langsung saja yuks!

Lanjutkan membaca “Gara-gara Batik”